Terjebak Nostalgia di Film Stand by Me Doraemon (2014)

Sumber foto: otakumode.com
Sumber foto: otakumode.com

Bagi kebanyakan orang termasuk saya, Doraemon bukan hanya seekor robot kucing dalam sebuah anime dan manga populer, Doraemon adalah ‘teman masa kecil’. Selama kurang lebih 80 tahun, Doraemon berhasil membuat jutaan anak percaya kehidupan yang canggih di abad ke-22 dan seekor robot kucing yang bukan hanya bisa melakukan apa saja tetapi juga merupakan teman terbaik. Alhasil, film yang mulai dirilis di seluruh bioskop Blitz Megaplex dan Cinemaxx pada tanggal 10 Desember 2014 sukses membuat masyarakat rela mengantri panjang demi nostalgia singkat selama 95 menit.

Lanjutkan membaca Terjebak Nostalgia di Film Stand by Me Doraemon (2014)

TEDx Jakarta: New Endings (2014)

Sumber foto: TEDxJakarta Google+
Sumber foto: TEDxJakarta Google+

Akhir sebuah kisah selalu menjadi momok bagi semua orang tapi tidak bagi 10 pembicara yang tampil pada acara TEDx Jakarta: New Endings. Walaupun memiliki latar belakang dan masalah yang beragam, masing – masing pembicara bercerita bagaimana mereka bisa survive dari keadaan dan tampil sebagai “pemenang” atas kisah hidup mereka sendiri. Acara ini memberikan saya perspektif baru dalam memandang berbagai hal mulai dari lingkungan, makanan, musik, udang, sejarah, komunitas sosial hingga animasi.

Lanjutkan membaca TEDx Jakarta: New Endings (2014)

5 Keunikan Kota Padang

Sumber foto: Flickr.com
Sumber foto: Flickr.com

Selama ini, kita mengenal kota Padang hanya dari masakannya yang menggugah selera dan meruntuhkan iman (dalam kondisi diet). Namun, perjalanan tiga hari kemarin (16 – 18 November lalu) dalam acara OT Tradnovation 2014, bukan hanya sukses membuat lingkar pinggang saya bertambah, selain itu banyak keunikan yang saya temui soal kota Padang. Mulai dari ternyata orang Padang sayang mama hingga ramuan penambah semangat hidup. Berikut adalah lima keunikan kota Padang.

Lanjutkan membaca 5 Keunikan Kota Padang

Chef (2014): Passion, Keluarga, dan Makanan

Sumber foto: dailytelegraph.com.au
Sumber foto: dailytelegraph.com.au
Di satu sisi, saya ingin melakukan apa yang saya suka dengan menambah variasi di beberapa hal. Di sisi lain, bos saya ‘memaksa’ untuk mengikuti tradisi lama. Di satu sisi, saya mencintai keluarga saya. Di sisi lain, saya tidak punya waktu untuk mereka. Masalah yang mungkin kelihatannya kecil, tapi dalam jangka panjang mampu membuatmu kehilangan segalanya. Pergumulan batin sang aktor utama digambarkan sangat baik oleh Jon Favreau, sehingga menjadikan film Chef (2014) tidak hanya soal koki, makanan dan komedi. Lebih jauh lagi, film ini mengajarkan kita untuk memperhatikan diri dan keluarga dengan lebih baik.
Lanjutkan membaca Chef (2014): Passion, Keluarga, dan Makanan

LINE dan Nostalgia Ada Apa Dengan Cinta? (2014)

Sumber foto: kapanlagi.com
Sumber foto: kapanlagi.com

“Saya akan ke Jakarta besok, selama dua hari. Bisa ketemu?,” pesan LINE Rangga kepada Cinta dalam Ada Apa Dengan Cinta? (2014) (mini drama). Sejak diunggah 6 November lalu di kanal youtube LINE Indonesia, video tersebut telah ditonton lebih dari satu juta orang dalam waktu kurang dari dua hari. Euforia film “Ada Apa dengan Cinta?” (AADC) yang tayang 12 tahun lalu, dimanfaatkan dengan baik oleh LINE Indonesia sebagai media untuk memperkenalkan fitur terbarunya: Find Alumni.

Lanjutkan membaca LINE dan Nostalgia Ada Apa Dengan Cinta? (2014)

Presiden Kita tidak “Sehebat” Dulu

Sumber: presidenri.go.id
Sumber: presidenri.go.id

Setelah hampir 15 tahun Indonesia telah memasuki masa reformasi, banyak hal yang sudah berubah. Khususnya adalah Presiden di era reformasi tidak “sehebat” ketika era otoritarian. Meski kita masih menganut sistem pemerintahan presidensial, namun era kuat eksekutif telah berakhir. Dulu di era otoritarian, parlemen konon hanya sebagai “tukang stempel” dan mengamini apa saja yang dikatakan oleh pemerintah. Kini situasi yang terjadi malah sebaliknya. Parlemen bisa saja menyandera bahkan memupuskan apa yang menjadi kebijakan pemerintah, termasuk kebijakan dan perencanaan pembangunan.

Lanjutkan membaca Presiden Kita tidak “Sehebat” Dulu

Hilangnya Empati di Era Digital

Sumber foto: mashable.com
Sumber foto: mashable.com

Sejak munculnya media sosial, komunikasi menjadi semakin mudah. Sudah sering kita dengar, bagaimana media sosial bisa menghubungkan teman lama, bagaimana media sosial bisa menemukan seseorang dengan kembarannya yang telah terpisah sejak lahir. Di tengah semua keunggulan yang ditawarkan media sosial, secara tidak sadar empati dalam diri kita juga semakin berkurang. Ketika sebuah pelukan hangat saat sahabat kita sedang sedih cukup diganti dengan emoticon *hugs*. Ketika kita lebih memilih mengetik get well soon daripada datang menjenguk teman kita yang sedang sakit. Ketika kita melakukan semua itu, di saat itulah empati kita mulai terkikis. Slowly but sure.

Lanjutkan membaca Hilangnya Empati di Era Digital

Hanya Cinta yang Menguatkan Aku

 

Sumber foto: Istimewa
Sumber foto: Istimewa

21 Juli 2014 lalu, saya mendapat pelajaran yang sangat berharga. Saya tercerahkan oleh lagu “Karena Cinta” karya Joy Tobing. Jujur saja, sebelum tanggal 21 Juli lalu, menurut saya lagu ini agak lebay. Masa karena cinta, masih bisa tegar sampai saat ini? Tapi, semua berubah ketika saya mendengar adik – adik penderita kanker dari Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) beserta orang tuanya menyanyikan lagu ini ketika kunjungan kami kesana.

Lanjutkan membaca Hanya Cinta yang Menguatkan Aku