Kenapa Karyawan Millennials sulit Bahagia?

Why-are-young-architects-unhappy
sumber foto: youngarchitect.com

Seringnya karyawan millennials bergonta-ganti pekerjaan dalam waktu singkat merupakan tanda bahwa mereka tidak bahagia. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Deloitte pada tahun 2016, 44% karyawan millennials telah merencanakan untuk keluar dari perusahaan mereka sekarang dalam waktu dua tahun ke depan, sedangkan persentasenya bertambah menjadi 66% dalam waktu lima tahun ke depan. Pada dasarnya, ada beberapa faktor yang menjadi pemicu ketidakbahagiaan karyawan millennials, mulai dari jenjang karir yang tidak jelas hingga harapan yang terlampau tinggi akan masa depannya di perusahaan. Namun, di luar itu semua, media sosial yang memperparah kondisi karyawan millennials sehingga membuat mereka menjadi tidak bahagia.

Lanjutkan membaca Kenapa Karyawan Millennials sulit Bahagia?

Memahami Karyawan Millennials yang “Naif”

millennial-generation-workplace-casual-620px
sumber foto: zdnet.com

Lanskap bisnis mulai berubah secara drastis sejak bursa kerja dibanjiri oleh generasi Millennials. Bagi para senior management dari generasi X, generasi Millenials adalah tipe karyawan yang “malas”, “naif”, dan “tidak mau susah”. Pandangan ini muncul karena seringnya generasi Millennials bergonta-ganti pekerjaan dalam waktu singkat. Di sisi lain, generasi ini tergolong sangat kritis, cerdas, inovatif, dan melek teknologi. Terlepas dari semua label apapun, suka atau tidak suka, 75% dari generasi ini akan mendominasi berbagai posisi kunci di perusahaan pada tahun 2025.

Lanjutkan membaca Memahami Karyawan Millennials yang “Naif”

Pinocchio Effect: Kebohongan Terungkap lewat Hidung

wallup.net
sumber foto: wallup.net

Masih ingat film Pinocchio? Film yang diproduksi oleh Walt Disney pada tahun 1940 ini bercerita tentang boneka kayu yang hidungnya bertambah panjang setiap kali berbohong. Ternyata ini bukan sekadar dongeng, para peneliti dari University of Granada di Spanyol telah menemukan fakta bahwa ketika seseorang berbohong, temperatur di sekitar hidungnya meningkat, inilah yang dinamakan “Pinocchio Effect”. Penemuan ini sangat berguna untuk mendeteksi kebohongan yang tidak bisa dideteksi melalui intonasi suara, raut wajah, dan bahasa tubuh.

Lanjutkan membaca Pinocchio Effect: Kebohongan Terungkap lewat Hidung

Era Digital dan Warganya yang “Pemarah”

social-support
sumber foto: blog.medialabs.in
Internet sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat Indonesia. Berdasarkan data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2014, populasi pengguna internet di Indonesia mencapai 88,1 juta pengguna. Masih dari data APJII 2014; 87,4% mengaku menggunakan internet untuk media sosial. Itulah sebabnya media sosial seringkali dijadikan ruang percakapan isu-isu publik. Menanggapi isu yang beredar, tak jarang netizen sering tersulut emosi dan mengungkapkan kemarahannya. Apabila dulu netizen meluapkan kemarahannya melalui unjuk rasa dan petisi, sekarang melawan ketidakadilan melalui kebaikan (penggalangan donasi).

Lanjutkan membaca Era Digital dan Warganya yang “Pemarah”

Apakah Anak Kecil Sulit Berbohong?

sumber foto: huffingtonpost.com
sumber foto: huffingtonpost.com

Sebagai orang dewasa, kita mengira bahwa anak kecil cenderung jujur dan sulit berbohong, padahal kenyataannya tidak. Ketika anak itu berbohong di usia yang sangat muda, orang tuanya pasti panik karena merasa ada yang salah dari karakter si anak, padahal berbohong adalah tanda bahwa anak tersebut telah memasuki sebuah tahap perkembangan tertentu. Peneliti dari University of Toronto Dr. Kang Lee mengatakan bahwa itu adalah pandangan yang keliru dalam menilai kebohongan anak kecil. Selama lebih dari 20 tahun, Dr. Kang telah melakukan penelitian bagaimana anak kecil belajar berbohong dan hasilnya cukup mengejutkan.

Lanjutkan membaca Apakah Anak Kecil Sulit Berbohong?

Merelakan yang Lama, Menyambut yang Baru

new boss
sumber foto: lifehacker.com
Di perusahaan manapun akan selalu ada karyawan yang masuk dan keluar, entah itu kamu, rekan kerja, atasan, atau bawahan kamu yang memutuskan untuk pergi. Namun ketika atasan kamu memutuskan untuk pergi, kamu harus mampu bekerjasama dengan atasan yang baru. Tidak peduli kamu senang atau sedih dengan kepergian atasan lama kamu, menerima atasan baru dengan pemikiran terbuka adalah hal yang paling penting. Di masa transisi inilah, diperlukan adanya kedewasaan untuk merelakan atasan lama dan menyambut atasan baru sebagai bagian dari dinamika dunia kerja.

Lanjutkan membaca Merelakan yang Lama, Menyambut yang Baru

Kamu Cemburuan? Waspada Gejala Othello Syndrome

Sumber foto: lovepanky.com
Sumber foto: lovepanky.com
Apakah kamu merasa pasanganmu tidak setia? Apakah kamu suka menuduh pasanganmu selingkuh walaupun tidak ada bukti? Apakah kamu berusaha mencari-cari bukti bahwa pasanganmu tidak setia? Apabila kamu menjawab iya dari beberapa pertanyaan di atas, mungkin kamu mengalami gejala Othello Syndrome atau bahasa awamnya dikenal dengan ‘cemburu buta’. Bagi sebagian orang, cemburu mungkin merupakan tanda cinta. Tapi sebenarnya, cemburu adalah pikiran negatif, rasa takut, dan kecemasan akan kehilangan sesuatu.

Lanjutkan membaca Kamu Cemburuan? Waspada Gejala Othello Syndrome

4 Rahasia Presentasi Ala TED Talk

24508072954_9d463a839e_o
Sumber foto: TED Flickr

Dua kali dalam setahun, ribuan orang berpengaruh dan populer berkumpul dalam sebuah konferensi yang cukup bergengsi di dunia bernama TED. Dalam konferensi tersebut, berbagai ide mulai dari sains, bisnis, hingga isu global menginspirasi hingga mampu mengubah dunia. Apa rahasianya sebuah presentasi bisa sangat menginspirasi? Chris Anderson, kurator TED Talk selama lebih dari 12 tahun, memberikan empat tips bagaimana menyampaikan sebuah ide agar mampu menyentuh dan mengubah perilaku jutaan orang di dunia.

Lanjutkan membaca 4 Rahasia Presentasi Ala TED Talk

Percayalah, Pengalaman Pertama tidak Seburuk itu!

WHERE-THE-MAGIC-HAPPENS-1000x642
sumber foto: stephaniedauphin.com
Mencoba hal baru dan keluar dari zona nyaman memang tidak mudah. Bahkan di saat kita tahu bahwa hal baru tersebut akan membawa dampak positif, tetap saja ada bagian dari diri kita yang berteriak,”JANGAN LAKUKAN! ITU BERBAHAYA!” Ya, itu adalah rasa takut (fear). Beruntungnya, bukan cuma teriakan itu yang muncul, ada lagi teriakan yang lain,”AYO LAKUKAN! ITU MENYENANGKAN!” Ya, itu adalah kegembiraan (excitement). Dalam banyak hal, saya memilih mengikuti kegembiraan daripada ketakutan. Bagaimana dengan kamu?
Lanjutkan membaca Percayalah, Pengalaman Pertama tidak Seburuk itu!

5 Tips untuk Komunikasi yang Lebih Baik

sumber foto: marketingnv.com
sumber foto: marketingnv.com

Sejak munculnya media sosial, setiap orang berlomba-lomba untuk ‘berbicara’. Kita bisa bebas mengekspresikan diri kita melalui status, foto, video, dan tulisan. Namun, di era ini setiap orang rasanya perlahan-lahan mulai kehilangan kemampuan untuk mendengarkan. Padahal, percakapan yang baik memerlukan keseimbangan antara berbicara dan mendengarkan. Penelitian yang dilakukan oleh Pew Research kepada 10.000 orang dewasa di Amerika menemukan fakta bahwa saat ini kita semakin terpecah belah dan sulit untuk menerima pendapat orang lain dibandingkan hubungan kita di masa sebelumnya. Artinya, sekarang ini kita sulit untuk mendengarkan satu sama lain.

Lanjutkan membaca 5 Tips untuk Komunikasi yang Lebih Baik