Category Archives: Sudut Pandang

Jalur Cepat untuk Kaya tapi Tidak Mudah

Jalur cepat untuk jadi miliarder tidak melalui jalur lambat pada umumnya, lulus kuliah, kerja keras, dan pensiun kaya raya. Jalur cepat ini memotong waktu yang dibutuhkan untuk jadi miliarder dan bisa pensiun di usia muda dan kaya raya. Tentu saja walaupun jalur cepat, hal ini tidak mudah.

Kali ini saya akan membahas buku The Millionaire Fastlane karya MJ DeMarco. Walaupun judulnya seperti too good to be true, sebenarnya buku ini tidak bicara soal cara cepat kaya. Marco tidak bicara soal cara jadi kaya lewat pasar saham atau trading, tapi Marco mengambil jalan wirausaha sebagai jalan yang dia sebut sebagai “The Millionaire Fastlane”. Marco beranggapan kalau kita tidak akan pernah menjadi miliarder jika kita masih menukar waktu hidup kita dengan uang. Simpelnya, buat uang bekerja untuk kita dan pada akhirnya bisa memberikan kita kebebasan.

Saya merangkum tiga pelajaran penting yang ada di buku ini:

Feng Yu / Alamy.com

Uang bisa membeli kebebasan

Marco mendefinisikan kekayaan menjadi tiga hal: kesehatan, hubungan yang baik, dan kebebasan. Menggunakan uang dengan bijak bisa memberikan kita kebebasan. Uang tidak akan memberikan kita kebahagiaan apabila kita hanya menggunakan uang untuk membeli barang konsumtif. Marco menceritakan pengalaman hidupnya saat dia menjual perusahaan rental limousine miliknya seharga 1,2 juta dolar. Tapi sayangnya tidak bertahan lama, dia membeli barang konsumtif, investasi yang kurang tepat, hingga akhirnya uangnya hanya tersisa 300 ribu dolar. Kemudian dia membeli kembali perusahaan miliknya, memperbaiki kinerjanya, hingga akhirnya menjual kembali perusahaan tersebut seharga jutaan dolar dan melakukan apa yang dia suka yaitu menulis.

Itulah yang dijelaskan oleh Marco kalau uang bisa membawa kebahagiaan kalau kita bisa membeli kebebasan. Seperti contoh, bos kamu membeli waktu kamu agar dia tidak mengerjakan apa yang kamu kerjakan. Bagi saya, ini adalah konsep yang menarik soal uang. Selama ini, kita hanya melihat uang sebagai alat tukar, tapi sebenarnya jauh daripada itu, uang adalah alat untuk membeli kebebasan.

Jalan cepat untuk menjadi miliarder

Di bukunya, Marco bilang ada jalan cepat untuk jadi miliarder, tapi dia tidak pernah bilang itu mudah. Marco mengibaratkan menjadi kaya itu seperti sebuah perjalanan dan membaginya menjadi tiga jalan: pinggir jalan, jalur lambat, dan jalur cepat. Pinggir jalan adalah jalur finansial yang dialami banyak orang. Jalur ini dimana orang-orang hidup dengan gajinya untuk membayar tagihan saja tiap bulan. Tidak peduli berapa banyak yang mereka hasilkan, mereka akan menghabiskan gajinya dan bahkan meminjam untuk mencukupi kebutuhan bulanannya. Kedua adalah jalur lambat. Ibaratnya menjadi kaya lambat sama dengan menjadi kaya saat tua. Pola pikir ini berarti seseorang bersedia merelakan masa muda mereka selama bertahun-tahun untuk hidup yang lebih baik saat menjadi tua. Bahaya dari pola pikir ini adalah tidak ada yang pasti di masa depan. Ketiga adalah jalur cepat. Di jalur ini, harus ada perubahan mindset dari konsumen menjadi inventor. Jalur cepat ini memang dianggap lebih cepat, tapi tidak mudah. Kita mungkin membutuhkan 5-10 tahun di awal pendirian bisnis, namun setelah itu, kita akan punya kebebasan waktu yang lebih banyak dalam hidup kita. Marco menjelaskan perbedaan antara jalur lambat dan jalur cepat dalam hal pembuatan piramid. Di jalur lambat, orang tersebut berpikir untuk mengangkat batu satu per satu untuk disusun dan dibuat piramid. Tentu saja, cara ini tidak efisien dan membutuhkan waktu yang sangat lama. Namun, di jalur cepat, orang yang ada di jalur ini menghabiskan 1-2 tahun pertama untuk membangun sistem seperti katrol untuk membawa batu dengan jumlah banyak. Awalnya, mungkin keliatan tidak ada progress-nya, tapi setelah katrolnya sudah jadi, orang di jalur cepat akan mampu menyelesaikan piramid dengan waktu yang lebih cepat dan efisien.

Sumber foto: log.com.tr

Percepatan menuju miliarder dengan tiga I

Untuk menjadi miliarder, kita harus jadi leader, bukan follower. Marco menyarankan ada tiga I untuk mempercepat seseorang menjadi miliarder. Internet, Innovation, dan Iteration. Di era sekarang, membuat bisnis bisa dengan modal minim, tidak perlu ada lokasi fisik, tapi bisa mulai berjualan via internet. Ini adalah cara yang efisien dalam menjangkau banyak orang. Terkait innovation, saya jadi teringat momen yang mengubah hidup Marco yaitu ketika dia melihat seseorang dari mobil lamborghini. Ketika Marco bertanya kepada orang tersebut, apa yang dia kerjakan? Orang tersebut berkata “Saya seorang inventor”. Hal inilah yang membedakan seorang miliarder dan orang biasa lainnya. Menariknya, inovasi itu bukan hanya berarti menciptakan sesuatu yang benar-benar baru, tapi banyak produk yang sukses di pasar adalah produk yang telah dikembangkan. Produk ini tidak sama sekali baru, tapi merupakan produk yang lebih baik. Iteration adalah pengulangan terus menerus dengan pengembangan terus menerus. Perbedaan mendasar dari orang yang sukses dan orang pada umumnya adalah kegigihan orang sukses untuk terus berusaha dan selalu mengembangkan produknya terus menerus ke arah yang lebih baik.

Untuk versi animasinya, bisa dilihat di:

Manusia dan Imajinasi yang Membuatnya Bertahan

Kemampuan imajinasi membuat homo sapiens mampu berevolusi dan menjadi makhluk superior di dunia. Imajinasi ini menghasilkan mitos kolektif yang membuat homo sapiens mampu bekerjasama dalam kelompok yang besar, bahkan dengan orang asing sekalipun.

Continue reading Manusia dan Imajinasi yang Membuatnya Bertahan

Melihat Dunia dengan Lebih Akurat

Hans Rosling mendedikasikan hidupnya untuk membantu orang melihat dunia berdasarkan fakta. Fakta itulah yang membuat kita sadar bahwa dunia menuju ke arah yang lebih baik.

Kali ini saya akan membahas buku Factfullness karya Hans Rosling. Di buku ini, Hans menjelaskan bahwa kebanyakan orang melihat dunia dengan cara yang kurang tepat, apalagi di era dimana fake news dan hoaks bertebaran dimana-mana. Sebagai contoh, ketika kita ditanya soal tren global, biasanya kita langsung menjawab saat ini dunia keadaan yang semakin buruk. Padahal, jawaban yang kita berikan belum tentu didasarkan pada fakta. Sebagai seorang ahli statistik, Hans mengajak kita untuk berbicara berdasarkan data dan objektivitas. Saking populernya buku ini, bahkan hingga direkomendasikan oleh Barrack Obama dan Bill Gates. 

Dalam bukunya, Hans membahas 10 insting yang membawa seseorang melihat dunia dengan kurang tepat. Saya akan membahas 3 insting yang paling sering saya temui.

Sumber foto: Gapminder.org

Gap Instinct

Gap Instinct adalah kecenderungan seseorang untuk membagi segala sesuatu menjadi dua kubu, hitam putih, negara kaya negara miskin, introvert extrovert. Padahal dunia tidak bekerja se-ekstrim itu, mayoritas akan berada di tengah-tengah bukan di ekstrim kiri atau ekstrim kanan. Sebagai contoh, negara berkembang dan negara maju. Ini adalah mispersepsi yang sering ditemui. Hans berargumen, hal ini sudah tidak relevan lagi. 

Hans menjabarkan sebuah framework dalam membagi tingkat kekayaan seseorang. Level 1 hidup dengan pendapatan kurang dari $2 per hari. 1 milyar orang di dunia hidup di kondisi tersebut. Jika seseorang berada di level ini berarti dia hidup tanpa alas kaki, memasak makanan di api unggun, dan menghabiskan waktu seharian untuk mengambil air, dan tidur di tanah saat malam hari. Level 2 artinya orang yang hidup dengan pendapatan antara $2 – $8 per hari. 3 milyar orang hidup di level ini yang berarti orang tersebut sudah mampu beli sepatu atau bahkan sepeda, anak mereka sudah bersekolah, memasak dengan kompor, dan tidur di ranjang. Level 3 artinya orang dengan penghasilan $8 – $32 per hari. 2 milyar orang hidup di level ini yang artinya orang tersebut sudah punya kulkas dan air di rumahnya. Mereka juga punya sepeda motor dan anak-anak mereka sudah bersekolah hingga SMA. Sedangkan, di level 4 artinya orang yang hidup dengan pendapatan $32 per hari. 1 milyar orang hidup dalam kondisi ini dengan pendidikan perguruan tinggi, punya mobil, dan bisa liburan. 50 tahun lalu, setengah dari total penduduk dunia hidup di level 1. Saat ini, jumlahnya hanya 13% dari total penduduk dunia.

Sumber foto: iasexpress.net

Straight line instinct

Ini adalah kecenderungan pikiran seseorang bahwa setiap tren akan selalu naik ke atas seperti garis lurus dalam sebuah statistik. Padahal, kenyataannya tidak seperti itu. Sebagai contoh, banyak orang berpikir kalau populasi PBB memproyeksikan populasi penduduk akan mencapai 9,8 milyar orang di tahun 2050. Angka ini hampir dua kali lipat dari tahun 2000 dimana jumlah penduduknya adalah 6,1 milyar orang. Kalau dilihat data historis, pada tahun 1900, jumlah penduduk dunia hanya 1.6 milyar orang dan mengalami peningkatan hampir empat kali lipat selama 100 tahun. Hal ini berarti, ketika taraf hidup seseorang makin meningkat, jumlah anak yang dihasilkan tiap keluarga akan menurun. Hans juga mencontohkan perkembangan anak. Di tahun-tahun awal, bayi atau balita pasti bertumbuh sangat cepat, tapi semakin dewasa pertumbuhannya akan semakin melambat hingga berhenti untuk bertambah tinggi.

Sumber foto: voanews.com

Generalization instinct

Ini adalah kecenderungan kita untuk menggeneralisir dan mengkategorikan sesuatu. Bukan berarti gak boleh, tapi yang tidak boleh adalah menggeneralisir sesuatu dengan kurang tepat. Hal yang sering kita dengar seperti: Mayoritas orang bla bla bla. Padahal kata mayoritas sendiri bisa sangat rancu, apakah 99% atau hanya 51%. Mungkin seperti halnya, menggeneralisir kalau semua wilayah China terjangkit virus Corona, padahal hanya di beberapa kota saja. Hal ini tentu saja tidak tepat.

Untuk versi animasinya, bisa dilihat di:

Cara Membangun Habit dari Hal Paling Kecil

Kunci utama kebiasaan yang baik adalah pengulangan terus menerus, bukan kesempurnaan. Setiap pilihan yang kita lakukan akan menentukan siapa diri kita di masa depan.

Kali ini saya akan membahas buku Atomic Habits karya James Clear. Buku ini membahas kalau untuk mengubah kebiasaan harus dimulai dari menjalankan hal kecil dengan disiplin. Mungkin hal kecil tersebut awalnya kelihatan sepele, tapi apabila dilakukan terus menerus dengan disiplin, kita akan kaget kalau ternyata hal kecil itulah yang berkontribusi pada perubahan besar. Itulah yang menginspirasi judul bukunya, seperti halnya sebuah atom yang merupakan building blocks dari sebuah molekul, atomic habit adalah building blocks untuk hasil yang luar biasa.

Ada tiga hal yang menurut saya menarik dari buku ini:

Sumber foto: Jamesclear.com

1% Lebih Baik Setiap Hari

James percaya bahwa kebiasaan yang baik adalah kumpulan hal baik kecil yang dilakukan terus menerus. Di bukunya, James mencontohkan tim pesepeda dari Inggris. Selama 110 tahun, tim pesepeda Inggris tidak pernah memenangkan satupun pertandingan. Kemudian, mereka merekrut Dave Brailsford sebagai salah satu pelatihnya. Brailsford fokus untuk meningkatkan 1 persen kemajuan untuk timnya secara reguler. Selama 5 tahun, 1 persen kemajuan ini telah terakumulasi menjadi ratusan kemajuan dengan hasil yang luar biasa. Hingga akhirnya, pada tahun 2008, setelah 5 tahun berlatih, tim pesepeda Inggris berhasil membawa pulang 60% medali emas yang ada di pertandingan Olimpiade di Beijing. Empat tahun kemudian ketika Olimpiade diselenggarakan di London, tim pesepeda Inggris berhasil mencatatkan sembilan rekor olimpiade dan tujuh rekor dunia. 

Inilah kekuatan yang luar biasa dari 1%. Kemajuan 1% suka dianggap sepele oleh banyak orang, karena memang benar-benar tidak terlihat. Tapi, untuk jangka panjang, 1% kemajuan inilah yang mengubah masa depan.

Sumber foto: supplementsfix.com

4 Hukum untuk Merubah Perilaku

James memberikan 4 tips pola untuk membentuk sebuah kebiasaan yang baik: Obvious, Attractive, Easy, Satisfying. Obvious itu artinya harus jelas. Misalnya, kalau kita mau rutin makan buah. Taruh buah di atas meja, untuk mengingatkan kita untuk makan buah. Attractive artinya buat kebiasaan itu menarik. Nah, ini terimplementasi dengan baik di tempat gym. Misalnya, di treadmill biasanya ada TV, jadi apabila orang ingin nonton TV, dia dipaksa untuk berolahraga di treadmill. Easy artinya kita harus ciptakan kondisi dimana melakukan kebiasaan baik adalah hal yang mudah. Misalnya, kalau kamu mau mulai membaca, coba dengan satu hari satu lembar, bikin kebiasaan semudah mungkin, hingga kita tidak ada penolakan dalam melakukan kebiasaan tersebut. Satisfying, berikan hadiah setiap kali kamu berhasil melakukan kebiasaan baik. Misalnya, ini ibarat ketika kita masih kecil, baru boleh main game setelah PR-nya sudah selesai. 

Sumber foto: Jelleke Vanooteghem/Unsplash.com

Jangan Skip Kebiasaan Dua Kali

Jika kamu sulit merubah kebiasaan, masalahnya bukan di kamu. Mungkin selama ini, kamu belum membangun sistem yang benar. Biasanya, kebanyakan orang terlalu fokus pada goal. Padahal, sistem yang baik lebih penting dari goal itu sendiri. Hal sederhana yang bisa kamu lakukan adalah ketika kamu mulai membangun kebiasaan, jangan skip kebiasaan kamu hingga dua kali. Tentu saja, kita gak mungkin setiap saat 100% menjalankan kebiasaan baik, tapi kebiasaan butuh konsistensi untuk bisa berhasil. Jadi, ketika kamu skip kebiasaan baik kamu, jangan sampai kamu skip sampai dua kali. Misalnya, jangan skip dua kali untuk berolahraga, jangan skip dua kali untuk makan sehat. Hal ini memang tidak mudah, tapi akan jauh lebih sulit untuk membangun kebiasaan baik kalau kamu sudah skip dua kali.

Untuk versi animasinya bisa dilihat di:

Ini 3 Rahasia Ide Viral ala Penulis Bestseller Tipping Point

Membuat sesuatu menjadi viral diperlukan orang yang tepat, ide yang nempel, dan konteks yang cocok. Kombinasi ketiganya akan menghasilkan suatu ide atau produk menyentuh tipping point yang kemudian menyebar secara cepat.

Kali ini saya akan membahas buku Tipping Point karya Malcolm Gladwell. Buku ini membahas bagaimana sebuah ide bisa tiba-tiba menjadi viral setelah memenuhi beberapa kriteria tertentu. Saya pribadi sangat suka dengan buku-buku yang ditulis oleh Gladwell. Tipikal buku Gladwell ditulis berdasarkan riset ilmu sosial yang biasanya melawan mitos atau kepercayaan pada umumnya. Ditambah lagi, penulisannya dibuat ringan sehingga sangat mudah dipahami.

Tipping Point merupakan buku pertama yang diterbitkan oleh Gladwell pada tahun 2000. Sesuai dengan pembahasan di buku ini, Tipping Point merupakan buku best seller dan menurut saya, beberapa poin dari buku ini masih relevan di jaman sekarang.
Di buku ini, ada tiga hal yang membuat sebuah ide bisa viral:

Sumber foto: slideplayer.com

The Law of the Few

Gladwell menjelaskan ada tiga tipe orang yang berkontribusi sebuah ide bisa viral. Tiga tipe orang itu adalah: Mavens, Connectors, dan Salesmen. Mavens ibarat adalah data bank, sumber informasi. Connectors adalah social glue, orang yang punya jejaring yang luas. Sedangkan, Salesmen adalah persuaders, orang yang punya kharisma dan mempengaruhi orang lain. Tiga tipe orang ini, yang menurut Gladwell, berperan besar pada tren yang ada di dunia.

Di buku ini, Gladwell mencontohkan kisah klasik Paul Revere sebagai connector pada era revolusi Amerika tahun 1775. Pada suatu hari, seorang anak laki-laki mendengar pembicaraan tentara Inggris tentang serangan dari Inggris ke Concord. Saking takutnya, anak laki-laki langsung melapor kepada Paul. Kemudian, Paul melakukan perjalanan “midnight ride” dari Boston ke Lexington untuk memperingatkan serangan dari Inggris. Berita ini menyebar seperti virus dari satu kota ke kota lainnya yang dilewati oleh Paul. Di cerita ini, bukan hanya pesannya saja yang penting, tapi juga kehebatan jejaringnya Paul yang mampu menyampaikan berita ini dengan sangat baik sehingga idenya berkembang seperti virus.

sumber foto: brilio.net

The Stickiness Factor

Untuk membuat sesuatu menjadi viral, ide tersebut harus bisa nempel atau sticky. Tidak peduli seberapa besar budget iklan atau promosi, kalau idenya sendiri tidak menarik dan tidak nempel, juga tidak akan berhasil. Gladwell mencontohkan bagaimana Blue’s Clues menjadi tontonan anak terfavorit pada masanya.

Sebelumnya, produser TV telah berhasil dalam penayangan program anak Sesame Street. Namun, kali ini mereka ingin membuatnya berbeda, dengan lebih sederhana dan lebih to the point. Tentu saja, perbedaan yang dibuat sudah berdasarkan riset panjang yang telah dilakukan. Risetnya telah dilakukan pada anak preschool dan masing-masing anak diberikan teka-teki untuk melihat bagaimana perilaku mereka. Hasilnya, Blue’s Clues menjadi program anak yang fokus pada penyelesaian teka-teki dan banyak pengulangan. Mungkin bagi orang dewasa pengulangan semacam itu sangat membosankan, tapi ternyata hal itu disukai oleh anak-anak, dimana itu merupakan bagian dari proses pembelajaran mereka.

sumber foto: Getty Images

The Power of Context

Konteks atau lingkungan seseorang berpengaruh lebih besar dibandingkan dengan kepribadian orang tersebut. Konsep ini juga menganut perubahan kecil yang memicu perubahan yang besar. Gladwell mengutip broken window theory, teori kriminologis yang menjelaskan bahwa kejahatan serius seperti pembunuhan, pemerkosaan, dan perampokkan didorong oleh pelanggaran yang kelihatannya sepele seperti grafiti dan kaca jendela yang pecah.
Gladwel mencontohkan, pada pertengahan 90an di New York, tingkat kriminalitas di sana menurun secara tajam. Ternyata dibalik itu ada dua orang yaitu walikota dan kepala polisi pada masa itu yang menerapkan broken window theory. Mereka menindak tegas pelanggaran minor seperti grafiti, kencing di sembarang tempat, dan sebagainya. Dalam beberapa tahun, kejahatan serius di New York telah berkurang secara signifikan.

Untuk versi animasinya, bisa dilihat di:

Ini yang Tidak Kamu Pelajari di Harvard Business School

Belajar di sekolah bisnis populer tentu saja merupakan hal yang bagus. Tapi, itu saja tidak cukup. Untuk menjadi sukses, kita perlu belajar hal-hal di luar kurikulum sekolah. Kita harus bisa merasakan sendiri dan berkembang bersama bisnis kita sendiri.

Continue reading Ini yang Tidak Kamu Pelajari di Harvard Business School

Berani untuk Jadi Orang yang Tidak Disukai?

Sumber foto: Mohammad Faruque / Unsplash.com

Keberanian untuk bahagia dimulai dengan berani untuk menjadi orang yang tidak disukai. Jangan pernah hidup hanya untuk memuaskan harapan orang lain. Jika mereka tidak suka dengan dirimu, itu adalah urusan mereka. Bukan urusanmu.

Continue reading Berani untuk Jadi Orang yang Tidak Disukai?

Tips Menghadapi Perubahan ala Buku Who Moved My Cheese?

Sumber foto: Vectorstocks.com

Kesuksesan masa lalu tidak akan berarti apa-apa apabila kita berhenti untuk bertumbuh dan berkarya. Seperti kata ilmuwan Charles Darwin,”Bukan spesies paling kuat yang bertahan, bukan juga yang paling pintar. Namun spesies yang akan bertahan adalah yang siap menghadapi perubahan.”

Continue reading Tips Menghadapi Perubahan ala Buku Who Moved My Cheese?