Arsip Kategori: Sisi Djiwa

Mengubah Kebiasaan Buruk dengan Rasa Penasaran

break bad habits
sumber foto: youtube.com

Seperti halnya sebuah pepatah:”Ada banyak jalan menuju Roma”, begitu pula dengan metode untuk mengubah kebiasaan buruk. Apabila kamu sudah mencoba beberapa metode tersebut dan tidak berhasil, mungkin kamu bisa mencoba metode yang dikembangkan oleh psikiater sekaligus ahli terapi adiksi dari Amerika Serikat, dr Judson Brewer. Metode ini menggunakan ‘rasa penasaran’ kita untuk mengubah kebiasaan buruk dan memperbaiki kualitas hidup kita menjadi lebih baik.

Lanjutkan membaca Mengubah Kebiasaan Buruk dengan Rasa Penasaran

Menikmati Kesendirian

sumber foto: theodysseyonline.com
sumber foto: theodysseyonline.com
Bagi kebanyakan orang, sendiri itu sama dengan tidak bahagia. Kita berpikir dengan adanya kehadiran orang lain, maka kita akan bahagia. Pola pikir inilah yang membuat kita menjauhi kesendirian dan selalu berusaha mendekatkan diri pada keramaian. Sehingga, lama-kelamaan kita jadi lupa caranya menikmati kesendirian. Apabila kita tidak menikmati waktu yang kita habiskan bersama diri kita sendiri, bagaimana mengharapkan orang lain akan menikmati kebersamaannya dengan kita?

Lanjutkan membaca Menikmati Kesendirian

3 Mitos yang Salah soal Introvert dan Ekstrovert

Vector Extraversion-introversion Infographics In Flat Style
sumber foto: skipprichard.com

Kalau bicara soal kepribadian, kita terbiasa membagi manusia menjadi dua kelompok besar: introvert dan ekstrovert. Kelompok yang suka menyendiri dan kelompok yang suka keramaian. Kelompok yang pemalu dan kelompok yang ekspresif. Tapi sejatinya, tidak ada satupun manusia yang pure introvert atau pure extrovert. Bahkan, menurut studi dari Dr. Grant, psikolog  dari University of Pennsylvania, hanya sepertiga populasi dunia yang memiliki kepribadian introvert dan ekstrovert yang dominan. Bagaimana dengan sisanya?

Lanjutkan membaca 3 Mitos yang Salah soal Introvert dan Ekstrovert

‘Bermain’ dengan Rasa Takut dan Mencoba Hal Baru

sumber foto: shermanwealth.com
Hampir keseluruhan dalam fase hidup manusia dipengaruhi oleh rasa takut. Entah karena takut ketinggalan jaman, takut tidak punya uang, takut dibilang bodoh, dan sebagainya. Sehingga, kita terbiasa hidup berdasarkan pengakuan dari orang lain dan terperangkap di dalam zona nyaman. Perubahan sebisa mungkin kita hindari, karena kita takut apabila mencoba hal yang baru malah kita gagal dan dianggap aneh oleh orang lain. Sebagai orang yang ‘sering gagal’, seorang komika Adriano Qalbi bercerita tentang pengalamannya ‘bermain’ dengan rasa takut dari soal tujuan hidup hingga soal hubungan percintaannya.

Lanjutkan membaca ‘Bermain’ dengan Rasa Takut dan Mencoba Hal Baru

Bersyukur Sebelum Membuat Resolusi Tahun Baru

670px-Teach-Gratitude-to-Kids-Step-6
Sumber foto: wikihow.com
Awal tahun baru merupakan momen spesial untuk merangkai resolusi yang akan dicapai di tahun tersebut. Walaupun terdengar mainstream, saya pun termasuk orang yang suka membuat resolusi. Namun, sebelum melangkah lebih jauh, saya ingin berhenti sejenak, mengucap syukur dan terima kasih atas segala hal baik yang telah terjadi selama tahun 2015 lalu.

Lanjutkan membaca Bersyukur Sebelum Membuat Resolusi Tahun Baru

Cintai Dirimu dengan Self Compassion

Sumber foto: spotlight.com
Sumber foto: spotlight.com
Apa yang kamu lakukan ketika temanmu sedih? Kebanyakan dari kita akan berusaha menghibur, memeluk, memberikan pukpuk, mendengarkan, dan sebagainya. Tapi, apa yang kita lakukan apabila diri kita sendiri yang sedang sedih? Kita malah bersikap keras, menyalahkan diri sendiri atas keadaan, dan menyudutkan diri kita. Bukannya menyembuhkan, hal ini justru memperparah luka yang ada di hati kita.

Lanjutkan membaca Cintai Dirimu dengan Self Compassion

Latihan Kesadaran: Menengok Sejenak ke dalam Diri

Sumber foto: ritaharvey.counselling.co.uk

Kadang kita perlu duduk sejenak merangkul diam, tidak terperangkap masa lalu, dan tidak mengembara ke masa depan. Pada dasarnya, hidup butuh keseimbangan, seperti dalam filosofi yin-yang atau being-doing. Namun, kebanyakan dari kita lebih ahli di bagian yang, doing. Tapi, masih lemah di bagian yin, being. Timpang, tidak seimbang. Hal ini penting karena hidup tak hanya terus bergerak dalam riuh, tetapi juga butuh diam dalam hening.

Lanjutkan membaca Latihan Kesadaran: Menengok Sejenak ke dalam Diri

Menghadapi Perpisahan di Kantor

Sumber foto: funny-pictures.picphotos.net
Sumber foto: funny-pictures.picphotos.net

Dalam dunia kerja, karyawan yang masuk dan keluar dari sebuah perusahaan adalah hal yang wajar. Setiap orang yang ingin mengembangkan karirnya, pasti akan mengalami yang namanya pindah kerja. Walaupun begitu, sebagian besar perpisahan tetap saja disertai kesedihan dan butuh waktu untuk menerimanya. Saya mengartikan perpisahan sebagai perubahan kebiasaan, dari yang biasa bertemu, bertukar pikiran, bercanda, kemudian ketika masanya telah usai kebiasaan itu tidak akan menjadi bagian dari keseharian kita lagi.

Lanjutkan membaca Menghadapi Perpisahan di Kantor

Pentingnya Memberi Hadiah untuk Diri Sendiri

Photo credit: Handi Erawan
Sumber foto: Handi Erawan

Karena kamu begitu berharga. Itu adalah alasan paling dasar kenapa kamu harus memberikan hadiah untuk diri sendiri (self-reward). Memberi hadiah kepada orang lain merupakan hal yang wajar, tapi kenapa kita tidak memberikan hadiah untuk diri sendiri apalagi ketika kita berulang tahun? Saya pribadi telah melakukan ritual memberikan hadiah untuk diri sendiri sejak dua tahun yang lalu. Pakar psikologi juga menyatakan memberikan hadiah untuk diri sendiri merupakan cara yang efektif dalam membentuk kebiasaan positif.

Lanjutkan membaca Pentingnya Memberi Hadiah untuk Diri Sendiri

Hilangnya Empati di Era Digital

Sumber foto: mashable.com
Sumber foto: mashable.com

Sejak munculnya media sosial, komunikasi menjadi semakin mudah. Sudah sering kita dengar, bagaimana media sosial bisa menghubungkan teman lama, bagaimana media sosial bisa menemukan seseorang dengan kembarannya yang telah terpisah sejak lahir. Di tengah semua keunggulan yang ditawarkan media sosial, secara tidak sadar empati dalam diri kita juga semakin berkurang. Ketika sebuah pelukan hangat saat sahabat kita sedang sedih cukup diganti dengan emoticon *hugs*. Ketika kita lebih memilih mengetik get well soon daripada datang menjenguk teman kita yang sedang sakit. Ketika kita melakukan semua itu, di saat itulah empati kita mulai terkikis. Slowly but sure.

Lanjutkan membaca Hilangnya Empati di Era Digital