Category Archives: Sisi Djiwa

Latihan Kesadaran: Menengok Sejenak ke dalam Diri

Sumber foto: ritaharvey.counselling.co.uk

Kadang kita perlu duduk sejenak merangkul diam, tidak terperangkap masa lalu, dan tidak mengembara ke masa depan. Pada dasarnya, hidup butuh keseimbangan, seperti dalam filosofi yin-yang atau being-doing. Namun, kebanyakan dari kita lebih ahli di bagian yang, doing. Tapi, masih lemah di bagian yin, being. Timpang, tidak seimbang. Hal ini penting karena hidup tak hanya terus bergerak dalam riuh, tetapi juga butuh diam dalam hening.

Continue reading Latihan Kesadaran: Menengok Sejenak ke dalam Diri

Advertisements

Menghadapi Perpisahan di Kantor

Sumber foto: funny-pictures.picphotos.net
Sumber foto: funny-pictures.picphotos.net

Dalam dunia kerja, karyawan yang masuk dan keluar dari sebuah perusahaan adalah hal yang wajar. Setiap orang yang ingin mengembangkan karirnya, pasti akan mengalami yang namanya pindah kerja. Walaupun begitu, sebagian besar perpisahan tetap saja disertai kesedihan dan butuh waktu untuk menerimanya. Saya mengartikan perpisahan sebagai perubahan kebiasaan, dari yang biasa bertemu, bertukar pikiran, bercanda, kemudian ketika masanya telah usai kebiasaan itu tidak akan menjadi bagian dari keseharian kita lagi.

Continue reading Menghadapi Perpisahan di Kantor

Pentingnya Memberi Hadiah untuk Diri Sendiri

Photo credit: Handi Erawan
Sumber foto: Handi Erawan

Karena kamu begitu berharga. Itu adalah alasan paling dasar kenapa kamu harus memberikan hadiah untuk diri sendiri (self-reward). Memberi hadiah kepada orang lain merupakan hal yang wajar, tapi kenapa kita tidak memberikan hadiah untuk diri sendiri apalagi ketika kita berulang tahun? Saya pribadi telah melakukan ritual memberikan hadiah untuk diri sendiri sejak dua tahun yang lalu. Pakar psikologi juga menyatakan memberikan hadiah untuk diri sendiri merupakan cara yang efektif dalam membentuk kebiasaan positif.

Continue reading Pentingnya Memberi Hadiah untuk Diri Sendiri

Hilangnya Empati di Era Digital

Sumber foto: mashable.com
Sumber foto: mashable.com

Sejak munculnya media sosial, komunikasi menjadi semakin mudah. Sudah sering kita dengar, bagaimana media sosial bisa menghubungkan teman lama, bagaimana media sosial bisa menemukan seseorang dengan kembarannya yang telah terpisah sejak lahir. Di tengah semua keunggulan yang ditawarkan media sosial, secara tidak sadar empati dalam diri kita juga semakin berkurang. Ketika sebuah pelukan hangat saat sahabat kita sedang sedih cukup diganti dengan emoticon *hugs*. Ketika kita lebih memilih mengetik get well soon daripada datang menjenguk teman kita yang sedang sakit. Ketika kita melakukan semua itu, di saat itulah empati kita mulai terkikis. Slowly but sure.

Continue reading Hilangnya Empati di Era Digital

Menjadi Takut itu Baik

Sumber foto: carrickbaptist.ie
Sumber foto: carrickbaptist.ie

Sedari kecil, kita diajarkan untuk menjadi orang yang berani, apalagi anak laki – laki. Lahir sebagai laki – laki berarti harus menjadi pribadi yang pemberani. Padahal, rasa takut bukanlah hal yang buruk. Rasa takut itu adalah hal yang baik, rasa takutlah yang membuat kita masih hidup hingga saat ini. Psikologi modern bahkan menegaskan rasa takut sebagai sumber energi untuk fight or flight — melawan atau melarikan diri. Ketika menghadapi bahaya, rasa takut secara spontan mendorong kita untuk melawan atau melarikan diri.

Continue reading Menjadi Takut itu Baik

Renungan Dua Puluh Dua

Sumber: www.lefthandedlaney.blogspot.com
Sumber foto: http://www.lefthandedlaney.blogspot.com

Dua puluh dua tahun berarti meninggalkan meja kuliah dan beralih ke meja kerja. Dua puluh dua tahun berarti saatnya memulai petualangan hidup yang mengasyikan dan dianggap cukup dewasa untuk melakukan hal tersebut. Dua puluh dua tahun berarti memulai pencarian si partner sejati yang kompatibel. Dua puluh dua tahun berarti memulai bekerja (minimal) 8 jam sehari senin – jumat dan menikmati short break akhir pekan.

Itulah segumpal makna dua puluh dua tahun yang tiba – tiba terngiang ketika saya bangun pada, Sabtu, 11 Januari 2014 lalu, tepatnya ketika saya berumur 22 tahun. Seketika saya merasa sangat takut ketika menginjak 22 tahun, itu berarti saya tidak bisa lagi bermain – main dan harus fokus pada masa depan. Pikiran saya kemudian berkelebat pada momen ketika saya masih di bangku kuliah. Bangku kuliah, bagi saya, merupakan momen tersantai dalam hidup. Momen dimana hanya beberapa jam belajar dan sisanya dihabiskan dengan nongkrong dan bersenang – senang. Continue reading Renungan Dua Puluh Dua

2014, Tahun Baru, Resolusi (yang tidak) Baru

Image

Tahun baru biasanya identik dengan orang – orang mulai membuat serangkaian daftar mengenai apa yang ingin dia lakukan sepanjang tahun. Ada yang ingin mulai nge-gym, nabung, cari kerjaan baru, menghabiskan waktu lebih banyak dengan keluarga dan sebagainya. Bahkan, di salah satu stasiun radio, saya mendengar penyiarnya tidak lagi menyebut resolusi melainkan REVOLUSI! Iya, REVOLUSI! Mungkin penyiarnya sudah capek membuat daftar panjang tapi berakhir hanya sedikit yang dilakukan karena resolusi bersifat santai sepanjang tahun sedangkan REVOLUSI membutuhkan perubahan instan dan cepat.  Continue reading 2014, Tahun Baru, Resolusi (yang tidak) Baru