rico huang, Drop Out Kuliah, Beli Ferrari Umur 24 Tahun

Rico Huang_Cover

Jangan pedulikan apa yang orang lain katakan tentang dirimu. Fokuslah pada dirimu sendiri, apa yang kamu inginkan dalam hidup, dan bekerja keras untuk mencapainya.

Kali ini saya akan membahas kisah inspiratif dari Rico Huang, CEO dari PT Alona Indonesia Raya. Seorang anak muda yang sempat terkenal karena membeli Ferrari pada saat usianya 24 tahun.

Rico Huang lahir pada tahun 1995. Dia memulai usahanya boleh dibilang dari nol, karena tidak berasal dari keluarga yang kaya raya. Bahkan, keluarganya sempat terkena musibah ketika dia kecil. Rico pun awalnya tidak berniat ingin menjadi pengusaha, motivasi awalnya hanya ingin punya uang jajan saja. Namun, ketika Rico masih duduk di bangku sekolah dasar, rumah orang tuanya terbakar dan semua aset orang tuanya habis terbakar. Kejadian ini lalu membuat orang tuanya menanamkan pemikiran di benak Rico untuk mencari uang sejak kecil. Awalnya dia tidak paham apa maksud perkataan dari ayahnya. Namun sejak kecil Rico harus ikut membantu bisnis keluarga yang bergerak di bidang jam tangan dengan menjaga toko. Masa kecilnya saat itu membuat dia cukup tersiksa, maklum saja, dalam setahun hanya ada dua hari libur yaitu saat Imlek dan Tahun Baru. Melihat kondisi ayahnya yang bekerja keras menjaga toko dari pagi hingga malam setiap hari membuat Rico ingin mengambil jalan yang berbeda. Dia tidak ingin masa depannya dihabiskan dengan menjaga toko setiap hari. Rico pun mulai berbisnis saat dirinya ada di bangku SMP dengan mengambil barang dagangan berupa aksesoris HP dari saudaranya. Modal yang dia gunakan saat itu berasal dari uang jajan dan angpao-nya. Namun sayangnya, bisnis yang dijalankan oleh Rico gagal akibat persaingan harga yang sangat ketat. Dia tidak menyerah dan mencoba bisnis yang lain. Saat duduk di bangku SMA, Rico mencoba bisnis yang beragam, mulai dari berjualan nasi uduk, usaha kredit handphone, hingga berjualan aksesoris handphone. Rico juga sempat berjualan mie ayam, namun usahanya hanya bertahan empat hari saja karena terus merugi dan kehilangan modal 15 juta rupiah. Kegagalan bisnis tidak membuat Rico menyerah. Kemudian saat duduk di bangku kuliah, dia pun sempat di-drop out. Ada dua alasan pertama karena jarak dan kedua karena Rico tidak suka diatur, tidak mengerjakan tugas, dan sebagainya. Dia akhirnya keluar dan melanjutkan usaha yang dikembangkannya. Di momen itu ibaratnya Rico tidak punya pilihan. Karena statusnya sudah drop out, mau tidak mau dia harus melanjutkan usahanya, karena memilih untuk bekerja juga cukup sulit, mengingat hanya lulusan SMA. Keputusan yang diambil oleh Rico memang tidak mudah. Dia merupakan satu-satunya mahasiswa di angkatannya yang tidak lulus kuliah. Ditambah lagi, banyaknya omongan dari orang sekitar yang mencemooh dan meragukan masa depannya karena tidak lulus. Semua hal ini tidak mematahkan semangat Rico untuk mengejar mimpi yang dia inginkan. Rico pun lalu mengikuti banyak pelatihan bisnis sesuai minatnya agar bisa belajar dengan cepat. Berbagai pelatihan telah diikuti oleh Rico sejak jaman dulu, kegiatan ini bukan hanya meningkatkan pengetahuannya tapi juga jaringan komunitas peserta yang mengikuti pelatihan tersebut membuka wawasan Rico. Dia mengaku banyak hal dipelajari soal bisnis ketika dia banyak bergaul dan bertemu banyak orang. 

Sumber foto: money.kompas.com

Pada tahun 2011-2012, Rico mulai berjualan aksesoris handphone online di Tokobagus dan Kaskus. Jadi, dia mengambil barang dari supplier yang hanya punya toko offline, kemudian memasarkan barangnya melalui platform online. Dari situ, dia pun mulai merambah ke Tokopedia, Bukalapak, dan sebagainya. Itulah awalnya Rico mendapatkan modal untuk usaha. Saat itu, masih banyak orang yang merendahkan usaha online, karena ini merupakan sesuatu yang baru bagi mereka. Hasil keuntungan yang didapat lalu digunakan oleh Rico untuk membeli delapan akun twitter seharga 50 juta rupiah. Ini merupakan strategi dari dia untuk mengiklankan usaha aksesoris handphone-nya. Rico bercerita, dalam sehari dia bisa mendapatkan 200 hingga 500 leads. Sebagai informasi, leads adalah seseorang yang sudah tertarik terhadap sesuatu yang kita tawarkan. Nah, ketika animo pengguna Twitter sudah turun, Rico melakukan strategi yang sama dengan Instagram yaitu membeli akun dengan followers tinggi. Sebagai contoh, dia membeli akun Instagram dengan 140 ribu followers dengan harga 105 juta rupiah. Walaupun harganya cukup mahal, namun imbal baliknya cukup pantas, barangnya laku keras dan Rico pun membuat banyak akun Instagram lain untuk dijual kembali. 

Walaupun bisnisnya sudah berkembang cukup besar, Rico tidak berpuas diri. Dia lalu mulai berkenalan dengan iklan di Facebook dan memulai membangun citra diri. Hal ini ternyata sangat membantu bisnisnya. Hingga pada umurnya 21 tahun, Rico membeli mobil Mercy sebagai bagian dari personal branding-nya. Dia mengaku, selama bekerja sebelumnya, Rico tidak pernah menikmati hasil usahanya, dia hanya menerima gaji sebagai direktur dari perusahaannya. Barulah kemudian dia menggunakan uang bagi hasil dari usahanya untuk membeli Mercy. Maklum saja, bisnis yang dia jalani sangat erat dengan kepercayaan. Jadi, dengan hadirnya mobil mewah, secara otomatis meningkatkan kredibilitas Rico sebagai pengusaha. Sama halnya, ketika dia membeli mobil Ferrari. Selain meningkatkan citra dirinya, mobil ini juga membantu Rico untuk masuk ke dalam lingkungan yang baru, misalnya ke komunitas mobil Ferrari. Dari situ, dia jadi kenal banyak orang baru, dan tidak menutup kemungkinan adanya peluang bisnis di masa depan. Ada cerita yang menarik. Dulu ketika kecil, Rico pernah mencetak gambar mobil Ferrari dan kemudian menempelkan gambar tersebut di dinding kamarnya. Hingga akhirnya, ketika berusia 20-an, impian yang awalnya hanya ada di kertas, kini menjadi kenyataan. Mobil mewah bagi Rico adalah investasi karena ini merupakan bagian yang cukup penting dalam menunjang bisnis yang dijalankan. Walaupun sukses, Rico merupakan orang yang cukup rendah hati. Dia tidak segan memberi tahu kalau mobil Mercedes yang dibeli merupakan mobil bekas dengan harga 400 juta rupiah dan mobil Ferrari yang dibeli merupakan tipe yang paling terjangkau di kelasnya. 

Sumber foto: digitalentrepreneur.id

Bisnis Rico pun tidak selalu berjalan mulus. Dia pernah mengalami tantangan bisnis yang cukup berat hingga harus meminjam uang kepada orang tuanya. Waktu itu, Rico berjualan aksesoris handphone dan memberikan hutang kepada orang lain. Namun, hutang dari orang tersebut ternyata tidak dibayar ke Rico, malah digunakan untuk membeli narkoba. Inilah yang membuat keuangan bisnisnya menjadi macet. Hingga akhirnya, Rico terpaksa harus meminjam uang ayahnya untuk membayar ke supplier. Kejadian ini memberikan pelajaran yang berharga. Sejak saat itu, dia tidak mau lagi memberikan hutang kepada orang lain dan hanya menerima uang tunai di depan. Bagi Rico, berbisnis itu sama saja seperti orang yang sedang melatih ototnya. Awalnya, pasti terasa sakit dan badannya pegal semua. Namun, lama kelamaan, hal ini malah sudah menjadi kebiasaan dan dinikmati. Saat ini, Rico membangun kerajaan bisnis online-nya di bawah PT Alona Indonesia Raya. Jadi, usahanya bukan hanya untuk memberikan peluang usaha bagi orang lain melalui bisnis dropship. Tapi, juga memberikan pelatihan dan fasilitas penunjang yang dapat membantu mereka dalam berbisnis. Bisnis yang dijalani oleh Rico memiliki lebih dari 200 karyawan, 100.000 reseller, dan 1 juta anggota komunitas bisnis anak muda.

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.