Menyusun Prioritas dalam Hidup

2

Dalam hidup, kita harus membuat pilihan. Bukan cuma soal pilihan yang lebih sedikit, tapi memilih prioritas yang mampu memberikan hasil paling besar bagi hidup kita.

Kali ini saya akan membahas buku Essentialism karya Greg Mckeown. Buku ini membahas bagaimana menjadi disiplin untuk fokus pada tugas yang lebih sedikit, namun memberikan hasil yang besar. Apakah kamu pernah merasa pekerjaan kok seperti gak ada habisnya? Kamu sibuk tapi kok tidak produktif? Kenapa 24 jam saja rasanya tidak pernah cukup? Jika kamu merasakan hal tersebut, mungkin kamu bisa mencoba gaya hidup esensialisme. Jadi, esensialisme bukanlah soal strategi manajemen waktu atau teknik untuk jadi produktif, tapi merupakan disiplin yang sistematis dalam menentukan hal apa yang paling penting, lalu menghilangkan sisanya yang tidak penting, sehingga kita bisa fokus pada hal yang benar-benar penting. Gaya hidup esensialisme membuat kita jadi punya kontrol atas hidup yang kita jalani. Kita tidak lagi melakukan sesuatu karena terpaksa situasi atau kondisi, tapi kita memilih apa yang kita kerjakan. 

Saya merangkumnya menjadi tiga hal penting dari buku ini:

Apa itu essensialisme?
Sumber foto: clemmergroup.com

Apa itu essensialisme?

Gaya hidup esensialisme berarti hidup berdasarkan hal yang kita tentukan sendiri, bukan hanya mengikuti alur saja. Alih-alih mengambil pilihan secara reaktif, kita dengan sadar membuat pilihan yang penting daripada banyak pilihan yang kurang penting. Coba sesekali, kamu berhenti untuk melakukan semua hal, berhenti untuk bilang iya kepada setiap orang, maka dengan begitu, kamu baru bisa fokus memberikan hasil yang besar. Mungkin kita sering dengar atau bahkan kita yang melakukan sendiri yaitu kegiatan pamer kesibukan. Kita merasa apabila kita menjadi orang yang sibuk, maka kita adalah orang yang produktif. Padahal, kesibukan adalah ukuran yang buruk. Hal yang jauh lebih penting yaitu menentukan prioritas pekerjaan yang memberikan hasil paling besar. Kita harus berani membuat pilihan yang sulit dan bersedia mengorbankan banyak hal yang kurang penting, demi sedikit hal penting dalam hidup. Ingat, jika kita tidak secara sadar memilih untuk memusatkan fokus energi dan waktu kita, maka orang lain entah itu bos kita, rekan kerja, atau bahkan keluarga, yang akan memilihkannya untuk kita. Tentu saja, hal ini tidak baik, karena yang paling tahu mana prioritas terbaik untuk hidup kita, ya diri kita sendiri, bukan orang lain. 

Memang, kita tidak selalu punya kontrol atas pilihan dalam hidup, tapi kita selalu punya pilihan bagaimana untuk memilih dari pilihan yang ada. Kadang, apa yang tidak kita kerjakan sama pentingnya dengan apa yang kita kerjakan. Kenapa begitu? Setiap pilihan yang kita buat pasti ada konsekuensinya. Jika kita fokus mengerjakan semua hal, apakah hasilnya akan sesuai dengan harapan? Atau lebih baik, kita memilih prioritas terbaik dan fokus menjalankan prioritas itu sebaik-baiknya? Ini merupakan fondasi berpikir dasar yang kita harus pahami dulu, jangan terjebak dalam semua pilihan yang banyak, tapi kehilangan waktu untuk mengerjakan prioritas utama yang kita inginkan dalam hidup. Pendekatan esensialisme bisa dibagi menjadi tiga bagian. Pertama, Eksplorasi dan Evaluasi. Di tahap ini, kamu menghabiskan waktu sebanyak mungkin untuk mengeksplorasi, mendengarkan, berdebat, bertanya, dan berpikir. Eksplorasi merupakan cara untuk membedakan mana kegiatan prioritas dan tidak. Tahap kedua adalah Hilangkan. Kita secara aktif memilih untuk menghilangkan aktivitas dan upaya yang tidak memberikan kontribusi tinggi dalam hidup. Tahap ketiga adalah jalankan. Investasikan waktu yang sudah kamu hemat ke dalam sebuah sistem untuk menghilangkan rintangan dan membuat eksekusi semudah mungkin. Ketiga tahapan ini tidak berdiri sendiri, namun merupakan proses siklus yang bergantung satu sama lain. 

Kemampuan untuk memilih
Sumber foto: searchengineland.com

Kemampuan untuk memilih

Jika ada dua pekerjaan yang muncul di hadapan kita, biasanya orang bertanya, bagaimana saya bisa menyelesaikan semuanya? Tapi, orang dengan mindset esensialisme bertanya, tantangan mana yang ingin saya pilih? Berkorban satu hal demi hal lain akan membuka peluang yang besar bagi kita. Jika kita selalu melihat pilihan dengan kacamata yang lebih kritis, maka peluang kita untuk mencapai hasil yang diinginkan akan semakin besar. Memilih apa yang harus dikorbankan adalah bagian dari hidup. Ini bukan soal menyerah pada pilihan yang lain, tapi menentukan pilihan mana yang ingin kamu fokuskan untuk mencapai hasil yang besar. Ada perspektif yang menarik. Tidak mengerjakan apa-apa atau mengerjakan semuanya merupakan tanda kalau kamu tidak berdaya. Pernah gak dengar kalimat, saya harus kerjain atau semuanya penting atau saya bisa kok menyelesaikan semuanya. Mungkin sekilas tidak ada yang salah dari kalimat ini, namun jika kita membedah lebih lanjut, ini merupakan asumsi yang salah. Coba kalimat di atas kita ganti jadi seperti ini. Dari saya harus kerjain menjadi saya memilih untuk mengerjakannya. Dari semuanya penting menjadi hanya sedikit hal yang penting. Dari saya bisa mengerjakan semuanya menjadi saya bisa mengerjakan apapun tapi tidak semuanya. Ini adalah kekuatan dari sebuah pilihan yang terkadang kita lupakan. Di kondisi apapun, kemampuan seseorang untuk memilih tidak akan bisa direnggut dari dirinya, kemampuan itu hanya bisa dilupakan. Kadang, kita merasa tidak punya pilihan, tapi yang terjadi sebenarnya, kita lupa caranya memilih, hingga akhirnya kita menjadi tidak berdaya, merasa kewalahan, atau merasa lelah dalam hidup. 

Ada eksperimen yang menarik untuk dicoba. Daripada selalu berusaha ada setiap saat, bagaimana kamu menciptakan ruang untuk dirimu sendiri. Buat kamu yang selalu merasa hidup terlalu sibuk atau 24 jam rasanya tidak pernah cukup, ini merupakan eksperimen yang menarik. Kita butuh ruang untuk keluar dari rutinitas yang padat dan memilih mana prioritas penting dalam hidup. Sayangnya, di era di mana kesibukan dianggap sebagai hal yang baik, kita tidak punya ruang itu secara otomatis, namun kita yang harus bisa menciptakan ruang itu sendiri. Pertama, space to design. Kita butuh ruang untuk keluar dari semua rutinitas dan melakukan eksplorasi hidup. Ini merupakan ruang untuk berpikir dan fokus, sehingga kita bisa melihat hidup dengan lebih jernih dan menyusun prioritas dalam hidup di tengah ratusan atau bahkan ribuan kesempatan. Kedua, space to concentrate. Tidak peduli seberapa sibuk aktivitas yang kamu jalani, kamu tetap bisa meluangkan waktu dan ruang untuk berpikir. Ingat, kamu tidak perlu harus memenuhi semua jadwal kamu setiap hari, jika itu terjadi, maka kamu harus juga memasukkan waktu hanya untuk berpikir. Ketiga, space to read. Ada contoh yang menarik. Ketika masih aktif di Microsoft, Bill mengambil waktu satu minggu penuh tanpa diganggu untuk berpikir. Kegiatan ini diberi nama think week dan dijalankan dua kali setahun. Bill akan tiba di kabin tersembunyi di tengah hutan dengan helikopter atau pesawat amfibi, dan menghabiskan seminggu untuk membaca makalah yang ditulis oleh karyawan Microsoft soal inovasi baru atau investasi potensial. Dia juga membaca koran sebanyak mungkin, terkadang melakukannya 18 jam sehari, dan begadang sampai larut pagi. Bill menciptakan lingkungan di mana dia bisa fokus tanpa gangguan siapapun hanya untuk berpikir dan membaca. 

Berlatih berpikir esensialisme
Sumber foto: theblissfulmind.com

Berlatih berpikir esensialisme

Mungkin definisi yang paling cocok untuk esensialisme adalah sedikit tapi lebih baik. Kita ibaratnya menjadi editor bagi hidup kita, artinya kita menambahkan, tapi seringkali melepaskan bagian dalam hidup kita yang kurang penting. Ada aturan yang menarik yaitu 90% rule dan bisa kamu gunakan untuk setiap saat pengambilan keputusan atau dilema. Saat kamu mengevaluasi sebuah pilihan, pikirkan tentang satu kriteria paling penting dalam keputusan itu, lalu berikan skor pada pilihan tersebut antara 0 dan 100. Jika kamu memberi nilai lebih rendah dari 90 persen, maka secara otomatis tolak saja. Latihan ini membuat kita sadar soal adanya trade off. Kadang kita harus menolak pilihan yang tampaknya sangat baik dan yakin bahwa pilihan yang sempurna akan segera datang. Mungkin saja kita benar atau kadang kita salah, tetapi intinya adalah bahwa tindakan menerapkan kriteria selektif memaksa kamu untuk memilih opsi yang tepat untuk menunggu, daripada membiarkan orang lain memilih untuk kamu.

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.