Jangan Takut Mengejar Mimpimu

Rasa takut membuatmu berhenti untuk meraih potensi diri yang maksimal. Jangan biarkan dirimu sendiri menyabotase masa depanmu.

Kali ini saya akan membahas buku The Big Leap karya Gay Hendricks. Buku ini membahas bagaimana kamu bisa mengubah perspektif kamu soal hidup dan tidak membiarkan ketakutan menguasaimu. Pada dasarnya, setiap orang punya mimpi, tapi tidak semua orang berani menjalani hidup sesuai mimpinya. Hidup kita ditentukan oleh perilaku kita, tantangan yang kita ambil, dan alasan yang kita buat. Sayangnya, kita semua memiliki mimpi yang tidak pernah diwujudkan karena alasan yang dibuat terus-menerus. Kita didorong dan dibatasi oleh ketakutan pada hal yang tidak diketahui dan ketakutan akan perubahan. Padahal, untuk menjalani kehidupan yang benar-benar luar biasa, kamu perlu memahami bahwa tidak ada yang pernah menjanjikan atau memberi tahu bahwa hidup ini akan mudah. Keindahan hidup akan muncul saat kamu berusaha keras meraih yang kamu inginkan dan kenikmatan setelah mendapatkan hal tersebut dengan jerih payah.

Saya merangkumnya menjadi tiga hal penting dari buku ini:

Ketakutan menjadi versi terbaik
Sumber foto: verywellmind.com

Ketakutan menjadi versi terbaik

Hidup bisa sulit, dan seringkali kita terjebak dalam masalah. Namun, ketika kamu bertanya pada diri sendiri apakah kamu siap untuk hidup bahagia, dan kamu membayangkan sepanjang hari tanpa mengeluh tentang apa pun, mungkin pandangan kamu tentang hidup perlu diperbaiki. Pada dasarnya, setiap orang memiliki masalah sendiri dengan kebahagiaan, dan menariknya, kita seringkali menolak untuk bahagia. Jika kita berusaha mencari tahu kenapa, ternyata ada ketakutan di sana. Kamu mungkin takut mencapai potensi diri kamu yang maksimal karena jika kamu melakukannya, tidak akan ada lagi alasan jika impian kamu tidak menjadi kenyataan. Kamu mungkin memiliki berbagai mimpi yang kamu simpan untuk dirimu sendiri karena tampaknya tidak realistis atau di luar jangkauan. Di banyak kasus, diri kita pribadi lah yang menahan diri untuk mencapai apa yang kita inginkan dalam hidup. Kita ternyata punya sebuah batasan imajiner tentang bagaimana sebuah hidup yang bahagia. Apabila kita mendekati atau nyaris melewati batasan tersebut, maka kita cenderung menyabotase diri kita sendiri. Hal ini juga berkaitan dengan adanya ketakutan dalam mewujudkan mimpi dan meraih potensi diri yang maksimal. Hendricks menyebutnya sebagai upper limit mindset. Masing-masing dari kita ibaratnya memiliki pengaturan termostat batin yang menentukan seberapa besar cinta, kesuksesan, dan kreativitas yang kita biarkan untuk dinikmati diri kita sendiri. Inilah yang kemudian membatasi potensi diri kita yang sepenuhnya. 

Mengapa hal ini terjadi? Menurut Hendricks, hal ini terbuat dari empat penghalang tersembunyi yang berdasarkan rasa takut. Meskipun kelihatannya benar, itu tidak nyata. Tanpa sadar mempercayai hal tersebut yang menahan potensi kita. Pertama, Feeling Fundamentally Flawed. Ini adalah pemikiran di mana kamu merasa kalau kamu tidak bisa mengembangkan potensi diri kamu seutuhnya karena ada hal mendasar yang salah dengan dirimu. Kedua, Disloyalty and Abandonment. Ini adalah pemikiran kalau kamu tidak bisa meraih sukses yang lebih besar lagi karena dampaknya kamu akan berakhir sendirian, tidak setia dengan apa yang kamu yakini di awal, dan meninggalkan orang dari masa lalu. Ketiga, Believing That More Success Brings a Bigger Burden. Ini adalah pemikiran kalau kamu tidak bisa mengembangkan potensi pribadi, karena merasa akan menjadi beban yang lebih besar daripada sekarang. Kelima, The Crime of Outshining. Ini adalah pemikiran jika saya mengembangkan potensi diri saya sepenuhnya, maka saya akan membuat orang lain terlihat buruk.

Mencari zona jeniusmu
Sumber foto: lifehack.org

Mencari zona jeniusmu

Apakah kamu pernah bekerja sangat fokus sampai lupa waktu? Saking menikmatinya pekerjaan tersebut, kamu sampai tidak sadar kalau kamu telah menghabiskan berjam-jam untuk mengerjakannya. Untuk merubah hidup, kita harus menemukan zona jenius kita sendiri. Ada empat zona yang harus kamu ketahui. Pertama, Zone of Incompetence. Zona ini terdiri dari semua aktivitas yang tidak kamu kuasai dengan baik. Kalau sudah begitu, delegasikan pekerjaan ini kepada orang lain atau temukan cara kreatif untuk menghindarinya. Kedua, Zone of Competence. Zona ini terdiri dari semua aktivitas yang kamu kuasai dengan baik, tapi juga bisa dikerjakan oleh orang lain. Kebanyakan orang berhenti di sini dan tidak berusaha untuk eksplorasi dirinya lagi. Ketiga, Zone of Excellence. Zona ini terdiri dari semua aktivitas yang bisa kamu lakukan dengan sangat baik. Kamu merupakan seorang yang ahli di bidang tersebut, tapi hal ini tidak memberikanmu kebahagiaan dalam mengerjakannya. Di satu sisi menjadi ahli merupakan hal yang baik, tapi di sisi lain, ini adalah jebakan yang membuatmu berhenti untuk mengembangkan potensi unikmu dengan maksimal. Keempat, Zone of Genius. Zona ini terdiri dari semua aktivitas yang memberikanmu kebahagiaan dan merupakan potensi unik dirimu. Ketika kamu mengerjakan hal ini, bukan hanya hal ini akan membawamu kesuksesan tapi juga kebahagiaan batin. 

Pertanyaannya sekarang seperti ini, bagaimana untuk bisa masuk ke dalam zona jenius? Kebanyakan orang mungkin tidak tahu apa zona jenius mereka. Ada beberapa pertanyaan yang bisa membantu kamu untuk menemukan zona jeniusmu. Pertama, aktivitas apa yang saya suka lakukan? Aktivitas atau pekerjaan apa yang bisa membuat saya mengerjakannya selama berjam-jam tanpa merasa bosan? Kedua, pekerjaan apa yang saya lakukan tapi tidak seperti bekerja? Ketiga, pekerjaan apa yang memberikan saya kepuasan saat mengerjakannya? Pertanyaan ini akan membantu kamu untuk mencari tahu apa zona jeniusmu. Memang ini butuh waktu untuk eksplorasi diri dan tidak semua orang bisa punya kesempatan untuk menjalani zona jenius dalam hidupnya. Namun, jika kamu setia dalam mencari apa zona jeniusmu, maka suatu saat akan ada momen di mana kamu akhirnya menemukan apa yang kamu cari.

Tips menjalani hidup yang utuh
Sumber foto: lifehack.org

Tips menjalani hidup yang utuh

Banyak orang merasa tidak punya waktu, tapi, apakah itu benar? Setiap orang punya waktu 24 jam yang sama, namun cara mereka menjalaninya, tentu saja sangat berbeda. Jika kamu ingin sukses, maka kamu harus mulai dengan bertanggung jawab atas waktu yang kamu miliki. Tidak perlu cemas atas hal yang tidak bisa kamu kontrol dan fokus pada hal yang bisa kamu kerjakan. Namun, kadang kala, kita juga sering tidak mengerjakan tanggung jawab yang seharusnya kita kerjakan. Seiring berjalannya waktu, hal ini akan menghasilkan stress yang tinggi apabila masalah ini tidak kita kerjakan. Selain fokus pada hal yang bisa kita kontrol, tips lain untuk mengatur waktu yaitu dengan berhenti mengeluh. Perlu kamu ketahui, mengeluh adalah sebuah tindakan yang membuang waktu dan sangat berbahaya apabila dilakukan berlebihan. Ada satu latihan yang menarik. Coba catat pembicaraan yang kamu lakukan dengan orang lain sekitar selama seminggu. Lalu, perhatikan betapa sering orang lain atau bahkan kamu sendiri mengeluh atas hal yang tidak bisa kamu kontrol. Ketika kamu atau rekan kerja sedang mengeluh, tentu saja butuh seseorang untuk mendengarkan. Namun, selain itu, ada pertanyaan yang harus dijawab, apakah hal ini berada di dalam kendali saya atau tidak? Jika iya, apa yang bisa saya lakukan? Jika tidak, kenapa saya selalu mengeluh? Pertanyaan ini akan menjadi refleksi diri tentang hal apa yang akan kita lakukan di masa depan.

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.