Tips Memulai Obrolan Ringan dengan Orang Asing

2

Dalam berbicara dengan orang lain, yang paling penting adalah bagaimana kamu membuat mereka merasa dihargai dan didengarkan.

Kali ini saya akan membahas buku The Fine Art of Small Talk karya Debra Fine. Buku ini membahas bagaimana cara menjadi ahli dalam memulai, melanjutkan, dan mengakhiri percakapan dengan siapa pun, tidak peduli apakah kamu orang yang pemalu atau bukan. Obrolan ringan terjadi di banyak bagian kehidupan, mulai dari naik lift dengan rekan kerja hingga pertemuan dengan orang asing. Meskipun sebagian orang menganggap obrolan ringan sebagai percakapan yang tidak berguna, namun hal ini ternyata perlu untuk membangun hubungan, mengembangkan persahabatan, romansa, dan koneksi bisnis. Selain kelebihannya, bagi sebagian orang, ide untuk ikut serta dalam obrolan ringan bisa membuat mereka menjadi tidak nyaman. Alih-alih melihat percakapan tersebut sebagai peluang, ketakutan ini membuat orang sulit terlibat dalam obrolan ringan sehingga mereka memilih untuk menghindarinya dan kehilangan peluang. Namun, tenang saja, keahlian ini bisa dipelajari oleh semua orang, tanpa melihat apakah kamu orang yang mudah bergaul atau pemalu.

Saya merangkumnya menjadi tiga hal penting dari buku ini:

Mahir dalam obrolan ringan bisa dipelajari
Sumber foto: inenglishwithlove.com

Mahir dalam obrolan ringan bisa dipelajari

Orang yang pemalu kebanyakan berpikir jika mereka tidak lahir secara alami dengan kemampuan komunikasi yang baik, maka mereka tidak akan pernah bisa melakukan percakapan yang lancar dengan seseorang, apalagi orang asing. Namun, perlu disadari, setiap orang tidak mewarisi sifat untuk ahli dalam obrolan ringan. Oleh karena itu, penting untuk mengesampingkan kepercayaan itu dan merangkul pemahaman baru tentang obrolan ringan. Kamu harus sadar kalau obrolan ringan adalah kemampuan yang bisa dipelajari. Tentu saja, setiap orang berbeda dan beberapa orang secara alami dapat beradaptasi dengan keadaan sosial lebih baik daripada orang lain. Namun, kebanyakan orang masih perlu meningkatkan kemampuan berbicara mereka. Ketika Debra masih seorang sarjana yang pemalu dan obesitas, dia memilih untuk berkarir di bagian engineering agar tidak terlalu banyak berkomunikasi dengan orang lain. Namun pekerjaannya masih saja memerlukan Debra untuk ikut dalam meeting dan konferensi. Kejadian ini menimbulkan kecemasan dalam dirinya. Pada situasi tersebut, Debra akan masuk ke dalam mode autopilot, berusaha untuk berkomunikasi dengan orang lain dan menanyakan tentang pekerjaan mereka. Namun, tidak lama kemudian, percakapan itu menjadi garing setelah beberapa menit.

Semua berubah ketika Debra berusia 40 tahun. Dia dan suaminya memutuskan untuk berpisah. Saat itu, Debra baru sadar kalau yang menahannya selama ini adalah berat badan dan persepsi diri negatif. Dia juga sadar kalau dirinya harus berubah apabila dia ingin bertemu dengan orang baru. Itulah yang membuat Debra berkomitmen untuk menjaga kesehatannya dan menurunkan berat badan sekitar 29 kilogram. Dari situ, di dalam dirinya lalu timbul kepercayaan diri. Debra pun lalu berlatih kemampuan sosial dengan berusaha mengamati dan meniru orang yang memiliki kemampuan berbicara yang handal. Di sebuah bar pada suatu malam, temannya meyakinkan Debra untuk mendekati seorang pria yang telah bertukar pandang dengannya tetapi tidak pernah mendekatinya. Pria bernama Rex itu sangat senang saat Debra memperkenalkan dirinya. Percakapan mereka malam itu mengarah pada persahabatan yang erat. Dan pada waktunya, Rex mengungkapkan sesuatu yang mengejutkan kalau dia tidak berani mendekati Debra pada malam itu di bar karena dia terlalu pemalu. Pengakuan ini membuat Debra sadar kalau rasa tidak percaya diri ini bukan hanya ada pada dirinya yang dulu, tapi orang lain juga berjuang hal yang sama. Jika saja Debra tidak berusaha menghampiri Rex, maka tidak akan ada persahabatan yang mereka bangun.

Cara memulai obrolan ringan
Sumber foto: thecadenceteam.com

Cara memulai obrolan ringan

Apa kabar? Bagaimana pekerjaanmu hari ini? Pertanyaan ini pasti seringkali kita dengar atau bahkan kita tanyakan kepada orang lain. Namun, ternyata pertanyaan ini akan cepat membuat percakapan selesai karena kurang lebih respon lawan bicara mayoritas seperti ini, “Baik. Bagaimana kabarmu?” Untuk memiliki percakapan yang erat, kamu perlu menggali lebih dalam dan tidak terjebak pada pertanyaan sehari-hari. Cara terbaiknya yaitu dengan mengajukan pertanyaan terbuka. Pertanyaan terbuka menunjukkan kepada lawan bicara kalau kamu benar-benar peduli dengan apa yang mereka katakan. Misalnya seperti ini,”Apa pendapat kamu tentang film ini?” Kalau dia bilang bagus atau jelek, lanjut lagi ke pertanyaan,”Bagian mana yang kamu suka atau tidak sukai?” Dengan pertanyaan ini, maka kamu akan membuat percakapan tidak cepat garing dan menjadi dinamis. Namun, perlu diingat, ketika berbicara, kamu juga harus perhatikan bahasa tubuh mereka. Apakah mereka nyaman atau tidak dengan pertanyaan yang kamu ajukan. Apabila mereka tidak nyaman, maka kamu harus menghargainya dan berbicara topik yang lain. 

Saat melakukan obrolan ringan, pasti akan ada saat di mana percakapan berubah menjadi keheningan yang canggung. Namun, jika kamu menunggu orang lain memikirkan sesuatu untuk dikatakan, maka hal ini akan berisiko percakapan akan menjadi garing. Sebaliknya, ketika mulai muncul keheningan yang canggung, maka ambil kendali dan kembalikan percakapan ke alur yang nyaman. Selain menggunakan pertanyaan terbuka, Debra memberikan saran formula FORM yaitu family, occupation, recreation, dan miscellaneous. Kamu bisa bicara soal keluarga, pekerjaan, hobi, atau kategori yang lain. Di kategori miscellaneous, kamu bebas berkreasi apa yang ingin kamu tanyakan tergantung di mana kamu berada dan dengan siapa kamu bicara. Misalnya, kamu ikut dalam grup pertemanan yang baru, kamu bisa bertanya bagaimana mereka saling kenal. 

Mendengar secara mendalam
Sumber foto: ccl.org

Mendengar secara mendalam

Pernah gak kamu lagi cerita, lalu merasa kalau lawan bicara kamu tidak mendengarkan? Jika pernah, kemungkinan besar hal ini akan membuat kamu merasa frustasi dan bahkan mungkin tersinggung. Agar percakapan berjalan lancar, kedua belah pihak perlu merasa dipahami, dihargai, dan yang terpenting, didengarkan. Artinya, selain harus aktif berpartisipasi dalam percakapan, kamu juga perlu menjadi pendengar yang aktif. Terkadang walaupun secara alami kamu mendengarkan dengan cermat, tapi kamu harus memastikan bahwa lawan bicara kamu merasakan hal yang sama, merasakan kalau dia didengarkan. Salah satu caranya yaitu dengan menggunakan bahasa tubuh. Hindari menyilangkan lengan, membungkukkan bahu, atau mengutak-atik pakaian, rambut, atau perhiasan saat orang lain bicara. Sebaliknya, condongkan tubuh ke depan, mengangguk, tersenyum, dan mempertahankan kontak mata. Ini adalah contoh bahasa tubuh yang bisa dipraktekkan sebagai penanda kalau Anda terlibat dalam percakapan 100%. Debra mencontohkan sebuah kisah dari seorang anak berumur delapan tahun bernama Nicholas. Suatu hari, ketika pulang sekolah, Nicholas bercerita kepada ayahnya tentang apa yang dia jalani seharian. Dia bercerita kalau dirinya menggambar gunung di kelas seni, mencetak gol saat kelas olahraga, dan makan pizza. Tapi, Nicholas kesal karena ketika dia bicara, ayahnya mendengarkan sambil membaca koran. Walaupun ayahnya berhenti membaca dan mengulang isi pembicaraan Nicholas, tetap saja dia kesal. Ini yang harus kita pahami, ketika kita bicara dengan orang lain, kita tidak hanya ingin agar pembicaraan kita didengar sepenuhnya, tapi kita juga ingin adanya hubungan yang nyata saat percakapan itu terjadi.

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.