Kisah Pendiri Erigo dari Depok Menuju New York

Sadad Erigo_Cover

Masa sulit akan membuatmu kuat dan mempersiapkan kamu untuk sesuatu yang lebih baik di masa depan. Jangan menyerah dan teruslah bekerja keras meraih mimpi yang kamu inginkan.

Kali ini saya akan membahas kisah inspiratif dari Muhammad Sadad, Founder dan CEO dari Erigo. Beberapa waktu lalu, Erigo sempat heboh di media sosial saat iklannya terpasang di salah satu gedung yang berlokasi di destinasi ikonik Time Square, New York, Amerika Serikat. Berawal dari sebelas orang, sekarang bisa berbangga atas pencapaiannya hingga ke negeri Paman Sam. 

Muhammad Sadad lahir pada tahun 1990. Sejak SMA, Sadad memang sudah tertarik dengan dunia bisnis. Namun, ketika dia berkuliah saat tahun 2010, Sadad baru bisa merealisasikan mimpinya untuk menjalankan bisnis sendiri. Perjalanan bisnis Erigo dimulai pada tahun 2011. Saat itu, Sadad pertama kali merintis usahanya di kamar bertipe studio yang ada di Depok. Di awal merintis, dia melakukan semuanya sendiri ibaratnya dirinya merupakan CEO, Chief Everything Officer. Ini merupakan fase yang banyak dialami oleh pengusaha. Kala itu, dia membuat sebuah merek fashion bernama Selected and Co. Modal awal yang dipakai juga tidak sedikit, yaitu 50 juta rupiah. Namun, karena nama merek tersebut sudah dimiliki oleh pebisnis lain, maka mau tidak mau dia harus menggantinya. Selain itu, persaingan bisnis yang sangat ketat membuat bisnisnya hanya bertahan enam bulan. Barulah pada tahun 2013, nama Erigo dipilih. Lini produk yang diusung juga telah berubah. Di awal, Erigo mengusung konsep yang bertema batik dan ikat, namun sekarang fokus pada fesyen kasual. Sambutan pasar ternyata kurang baik, padahal waktu itu dia sudah berinvestasi untuk melakukan pemotretan hingga ke Singapura. Sadad pun terpaksa harus banting setir setelah konsep fesyen etnik mulai sepi peminat akibat tren yang bergerak sangat cepat.

Sadad pun melakukan berbagai cara agar bisnisnya bisa berkembang. Walaupun awalnya fokus pada penjualan offline, Sadad pun bersiap dan meluncurkan website Erigo Store untuk pembelian online. Sadad boleh dibilang merupakan pebisnis yang berani mengambil resiko. Saat Erigo masih berusia dua bulan, dia berani berpartisipasi di dalam acara offline yang besar seperti JakCloth. Sadad pun turun langsung untuk mengurus bisnisnya. Dia mengenang saat itu, Sadad tidur di mushola mal hingga mandi di pom bensin depan mall selama acara JakCloth demi menekan pengeluaran. Semua ini dilakukan dengan penuh harapan untuk membesarkan Erigo. Pada saat itu, banyak juga yang memandang Sadad sebelah mata. Mereka bilang, buat apa Sadad menjalani bisnis ini. Namun, waktu lah yang menjawab dan membuktikan hasilnya. Sadad percaya, masa sulit akan membawa kamu ke suatu hal besar di masa depan. Jadi, dia selalu berusaha untuk berpikir positif dan percaya kalau hari esok lebih cerah dari hari ini. 

Sumber foto: lifestyle.kompas.com

Pada tahun 2014, ini merupakan awal kebangkitan dari Erigo. Saat itu, Sadad menggunakan Instagram sebagai medium untuk berpromosi dengan tema travelling. Ternyata, Instagram sangat powerful sekali bagi Erigo, dari yang awalnya hanya 500 followers, kemudian berkembang menjadi ratusan ribu hingga sekarang mencapai jutaan followers. Selain Instagram, keinginan orang untuk tetap gaya saat travelling juga mendorong penjualan dari Erigo. Inilah yang kemudian membuat Erigo fokus pada tema fashion travelling. Pada tahun 2015, Sadad tidak main-main, Erigo meluncurkan country series di mana Erigo akan mengunjungi Jepang, Amerika Serikat dan United Kingdom untuk melakukan pemotretan. Usahanya pun semakin besar hingga mampu mencapai omzet 22 miliar rupiah. Hingga pada tahun 2016, Erigo membuat gebrakan lagi dengan menggandeng artis Lala Karmela dan travel blogger Febrian untuk jadi duta mereknya. Mereka berdua akan berkeliling ke berbagai tempat di Indonesia dan dibagi menjadi 12 episode perjalanan. Cerita perjalanan mereka dengan Erigo lalu akan dibuat dalam bentuk video, foto, dan tulisan di blog. Selain untuk promosi produk Erigo dan meningkatkan asosiasi mereknya dengan travelling, Sadad juga ingin menginspirasi anak muda untuk lebih mengenal aneka ragam wisata dan budaya yang ada di Indonesia. 

Pada tahun 2017, Erigo memanfaatkan euforia konsumen yang mulai menyukai belanja online. Walaupun sudah punya website sebelumnya, kali ini, Sadad membuka official store Erigo di Shopee. Pertumbuhan penjualannya pun semakin lama semakin laris. Hingga pada tahun 2020, Erigo menjadi merek fesyen terlaris pada Shopee 9.9 Super Shopping Day 2020, Top Fashion Brands di Shopee Super Awards, dan sebagainya. Dampak signifikan ini sangat terasa pada penjualan Erigo, bahkan pesanannya tercatat tumbuh lebih dari 10 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Memang ketika awal pandemi COVID-19, penjualan Erigo sempat turun dan terpaksa mengurangi karyawan. Namun, ketika dia mendapatkan banyak penjualan dari e-commerce, maka Sadad harus menambah karyawan lebih banyak lagi. Erigo pun membuka enam toko online resmi di Tangerang, Banjarmasin, Malang, Palembang, Yogyakarta, dan Kendari. Kerjasama Erigo dan Shopee pun berlanjut. Bukan hanya di dalam negeri saja, namun Sadad ibaratnya mendapatkan jawaban atas permintaan konsumen atas produk Erigo di luar negeri. Erigo pun ikut dalam program ekspor dari Shopee yang memudahkan UMKM Indonesia untuk berjualan produk ke luar negeri. Selama setahun, respon yang diterima Erigo cukup positif dan Sadad pun mendapatkan pesanan yang cukup banyak. Ini merupakan sebuah kebanggaan tersendiri di mana merek asli Indonesia dapat berjualan produknya di luar negeri sekaligus mengharumkan nama Indonesia.

Sumber foto: Instagram/Muhammad Sadad

Perjalanan yang dialami oleh Sadad untuk bisa ke titik sekarang juga tidak mudah, bahkan dirinya harus berhenti kuliah untuk fokus melunasi hutang yang menggunung. Di waktu awal berbisnis, bisnis yang dijalankan mengalami pasang surut. Sebagai contoh, saat itu, Sadad mengikuti pameran di Malaysia, biaya operasionalnya cukup bengkak hingga mencapai 25 juta, namun omzet-nya hanya 5 juta rupiah. Sadad pun bercerita beberapa pameran yang dia ikuti, bukannya untung malah merugi, misal saat pameran di Surabaya dan Makassar. Hal ini disebabkan biaya operasional yang tinggi untuk sewa tempat dan diskon untuk menarik pembeli. Di fase terpuruknya, orang tua Sadad sempat harus jual ruko, jual aset yang mereka miliki demi mendukung usaha anaknya. Dorongan material dan doa dari orang tua inilah yang membuat Sadad terus kuat dalam menjalani bisnis hingga bahkan berhasil masuk ke pasar Amerika Serikat pada April 2021 lalu. Ini merupakan bukti bahwa produk lokal Indonesia mampu bersaing dan punya potensi di mancanegara. Bagi Sadad, ini bukanlah pencapaian akhir, namun sebuah titik awal perjalanan untuk terus berkembang dan memperluas bisnis Erigo. Kisah Sadad bisa menjadi inspirasi kita semua yang masih berjuang mengembangkan usaha. Kini produknya tidak hanya dinikmati di dalam negeri, namun juga sudah tersedia di berbagai negara seperti Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand, dan yang terbaru di Amerika Serikat. 

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.