Kepribadian Diri Dapat Diubah

2

Sepanjang hidup, kepribadianmu bisa berubah. Dirimu sekarang pasti berbeda dengan dirimu 15 tahun yang lalu. Kamu punya kendali untuk menciptakan siapa dirimu di masa depan.

Kali ini saya akan membahas buku Personality isn’t Permanent karya Benjamin Hardy. Buku ini membahas kalau kepribadian bukanlah sesuatu yang permanen dan kita bisa menulis siapa diri kita sebenarnya. Siapa yang tidak suka dengan tes kepribadian? Ini merupakan tes yang menarik dan seringkali memberikan kita gambaran tentang siapa diri kita yang bahkan tidak kita sadari. Namun sayangnya, banyak orang merasa tes kepribadian itu adalah diri mereka yang sebenarnya dan tidak akan berubah. Hal ini malah menjadi belenggu dari sebuah kepercayaan yang membatasi diri untuk mencapai apa yang kita inginkan dalam hidup. Padahal, kita bisa menciptakan diri kita sendiri seperti apa dan mencapai tujuan yang diinginkan. Seiring bertambahnya usia dan pengalaman hidup, tentu saja kepribadian kita bisa saja berubah dan ini adalah hal yang wajar. Intinya jangan membatasi dirimu dari belenggu masa lalu dan cobalah untuk menciptakan masa depan yang kamu inginkan.

Saya merangkumnya menjadi tiga hal penting dari buku ini:

Kepribadianmu bisa berubah
Sumber foto: greatergood.berkeley.edu

Kepribadianmu bisa berubah

Jika kamu pernah mencoba tes kepribadian, pasti kamu tahu kalau di akhir tes, kamu akan dikelompokkan ke dalam tipe tertentu. Bahayanya, kebanyakan orang merasa tipe tersebut merupakan gambaran utuh tentang diri mereka. Contohnya begini, seringkali orang melabeli diri mereka sebagai introvert dan ekstrovert. Hal ini lalu membatasi diri mereka berdasarkan kepercayaan mereka sebelumnya. Padahal, jika saja mereka terbuka dan tidak membiarkan tipe kepribadian mendikte siapa mereka sebenarnya, tentu saja hidup mereka berisi kemungkinan dan peluang tanpa batas. Perlu dipahami, tipe kepribadian adalah pembentukan sosial atau mental tertentu, bukanlah realita yang sebenarnya. Dengan kata lain, kepribadian adalah pola dan perilaku konsisten kamu selama periode tertentu. Ini merupakan cara kita berinteraksi dengan dunia. Situasi yang berbeda akan menghasilkan sikap yang berbeda. Selain itu, siapa kamu sekarang kemungkinan besar berbeda dengan kamu 15 tahun yang lalu, sama halnya juga dengan kepribadian. 

Hidup bukanlah soal menemukan siapa dirimu, tapi merupakan soal penciptaan diri yang kamu inginkan. Ini merupakan sebuah kutipan yang menarik dari seorang pembuat drama bernama George Bernard Shaw. Sejak dulu, kita telah dituntut untuk percaya bahwa kita adalah apa adanya dan tidak dapat berubah. Kita perlu menghabiskan waktu untuk mengungkap siapa jati diri kita yang sebenarnya. Sayangnya hal ini kurang tepat. Kepribadian kita tidak tertanam dalam DNA atau diberikan saat lahir. Saya bisa berubah, kamu bisa berubah, semua orang bisa berubah. Kepribadian kita dapat diubah, siapa kita saat ini telah dibentuk melalui pilihan kebiasaan, dilatih oleh lingkungan, dan ekspektasi kita. Kita menjadi diri kita sendiri melalui tujuan yang kita tetapkan dan pengalaman yang membentuk kita. Tujuan kita menentukan kepribadian kita, bukan sebaliknya. Jadi kenapa tidak menetapkan tujuan ambisius yang akan membuatmu bisa bergerak jauh melampaui diri kamu saat ini, dan memungkinkan untuk membentuk diri yang benar-benar kamu inginkan?

Memilih siapa diri kita di masa depan
Sumber foto: theladders.com

Memilih siapa diri kita di masa depan

Kamu bisa memilih siapa diri kamu di masa depan. Hal ini disebabkan kepribadian kamu bersifat fleksibel bukan tetap. Kamu telah berlatih untuk menjadi diri kamu saat ini dan dengan demikian, kepribadian kamu dapat berubah seiring dengan perubahan dalam perspektif hidup yang kamu jalani. Contohnya begini, kamu merupakan orang yang sabar karena kamu telah mengembangkan kebiasaan untuk bersabar. Sama halnya jika kamu adalah orang yang percaya diri karena kamu telah mengembangkan kebiasaan untuk percaya diri. Fakta ini tentu saja membuat diri kita menjadi lebih bebas dan tidak terikat oleh tipe tertentu. Bagi sebagian orang, kemampuan untuk memilih hidup seperti apa merupakan sebuah kebebasan, tapi bagi sebagian lainnya, hal ini justru menakutkan, mereka lebih suka apabila hidup mengikuti alur saja karena membuat pilihan berarti ada konsekuensi. Itulah yang membuat orang seringkali tidak ingin mengambil keputusan dan akhirnya membatasi potensi diri mereka sendiri. 

Ada hal menarik yang bisa kita renungkan bersama. Apa yang membuat orang hebat seperti Mahatma Gandhi atau Mother Teresa memiliki peran besar bagi dunia? Apakah karena kepribadian atau pilihan yang mereka ambil? Tujuan akan selalu mengalahkan kepribadian. Ini merupakan salah satu cara yang membantu kamu untuk merubah hidup. Nantinya hal ini akan membantu kamu mengarahkan siapa kamu di masa depan. Perlu diingat, tujuan adalah faktor penentu dalam apa yang dapat kamu capai dalam hidup, bukan kepribadian. Idenya sederhana, buatlah sebuah tujuan yang begitu besar dan menginspirasi yang pada akhirnya dapat mengubah hidupmu secara keseluruhan. Dari tujuan itu, lalu kamu kembangkan kepribadian apa yang dibutuhkan. Perlu diingat, ketika kamu menentukan tujuan yang kamu capai, jangan terlalu fokus pada pencapaian yang ingin kamu raih tapi fokus pada perubahan dirimu setelah melalui proses untuk mencapai tujuan tersebut. 

Terjebak dalam masa lalu
Sumber foto: medium.com

Terjebak dalam masa lalu

Trauma adalah pengalaman negatif yang membatasi diri. Ben bercerita tentang seseorang yang berusia delapan puluhan dan memiliki passion untuk menulis dan mengilustrasikan buku anak-anak. Namun, orang tersebut tidak pernah melakukannya, karena ada pengalaman buruk yang dialaminya saat di kelas menggambar sehingga kejadian itu merampas kepercayaan apa pun dari penulis buku anak-anak pemula ini pada keterampilan menggambarnya. Jadi, meski memiliki passion di dalam hatinya, dan 50 tahun berusaha meningkatkan keterampilan menggambarnya, orang tersebut tidak pernah menulis buku yang dia impikan untuk ditulis. Sama halnya dengan hidup, dalam perjalanan, mungkin kita juga pernah merasakan pengalaman buruk. Namun, kita punya pilihan apakah hal tersebut menjadi penghalang kita untuk mencapai tujuan atau tidak. Banyak orang memiliki pengalaman negatif serupa dalam belajar matematika. Hal ini membuat Jennifer Ruef, seorang profesor pendidikan matematika, menciptakan ungkapan “identitas matematika yang rapuh”. Orang yang menderita ini menjadi takut pada matematika, menghindari kegagalan dengan tidak mengambil kelas atau soal yang cukup sulit. Dampaknya, hal ini lalu membatasi peluang mereka untuk menjadi lebih baik dalam mata pelajaran tersebut.

Ketakutan akan kegagalan membuat seseorang menjadi takut dalam mengambil risiko, tidak fleksibel, dan kemudian menghindari tantangan yang dapat membantu pertumbuhannya secara pribadi. Langkah penting dalam mengatasi trauma adalah mempertimbangkan kembali orang-orang yang ada di dalam hidupmu. Kamu harus bisa berbicara secara terbuka tentang perjuangan dan pengalaman masa lalu. Hal ini bisa dilakukan dengan mengelilingi dirimu dengan lingkaran pertemanan yang mendukung. Jika orang tersebut belajar untuk menghadapi pengalaman dan ingatan yang sulit, biasanya dengan bantuan orang lain, maka akan terbuka kemungkinan untuk menafsirkan kembali pengalaman masa lalu dan belajar darinya. Hal ini mungkin terjadi melalui persahabatan, terapi, atau keduanya. Orang tersebut kemudian dapat belajar menjadi lebih fleksibel secara emosional dan mampu membayangkan masa depan mereka, bertumbuh secara pribadi, dan lebih menikmati hidup.

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.