Rahasia Menjadi perusahaan Hebat

2

Disiplin akan memberikanmu hasil, data akan memberikanmu kepercayaan, dan rasa takut akan memberikanmu kewaspadaan.

Kali ini saya akan membahas buku Great by Choice karya Jim Collins. Buku ini membahas bagaimana sebuah perusahaan bisa menjadi hebat karena pilihan yang mereka ambil. Dalam perjalanannya, pasti setiap perusahaan mengalami turbulensi dan disrupsi. Ketidakpastian merupakan hal yang tidak bisa dihindarkan dalam sebuah bisnis. Jim dan timnya menyeleksi 20,400 perusahaan dan akhirnya mendapatkan 7 perusahaan. Jim menyebut perusahaan pilihan ini sebagai kasus 10x karena perusahaan ini mampu mengalahkan rata-rata kenaikan industri mereka sebanyak 10 kali lipat dalam jangka waktu 15 tahun. Perusahaan ini tidak bergerak dengan mental penjudi di mana berani mengambil resiko besar dan banyak bergantung pada keberuntungan. Namun, ada serangkaian mindset dan disiplin yang mereka lakukan sehingga membuat perusahaannya bisa bertahan dalam jangka waktu yang lama.

Saya merangkumnya menjadi tiga hal penting dari buku ini:

Menjadi fanatik dalam disiplin
Sumber foto: digitalclassworld.com

Menjadi fanatik dalam disiplin

Saya menemukan frasa yang menarik: fanatic discipline. Ternyata ini merupakan salah satu resep rahasia dari orang yang sukses. Mereka adalah orang yang berpegang teguh pada nilai-nilai tertentu, tujuan jangka panjang atau standar kinerja, dan bersedia mengambil tindakan yang konsisten untuk mencapai hasil tersebut. Pada saat terjadi perubahan atau ketidakpastian, kekuatan disiplin ini bertindak sebagai jangkar, menjaga perusahaan tetap pada jalurnya dan mencegahnya mengikuti kompetitor lain hingga kehilangan jati dirinya. Namun selain disiplin, faktor utama adalah persiapan. Ini yang membuat sebuah perusahaan bisa bertahan di tengah ketidakpastian. Hal ini sering disepelekan, apalagi bagi sebuah perusahaan yang sudah berusia tahunan atau dekade. Mereka merasa sudah berpengalaman, namun yang mereka tidak sadari, tidak ada yang bisa memprediksi apa yang terjadi bulan depan, tahun depan, 10 tahun lagi. Sama halnya, tidak ada yang bisa memprediksi tahun 2020 lalu, kita akan mengalami pandemi COVID-19 dan tidak ada yang menyangka juga pada akhir tahun 2020, orang pertama di UK sudah mendapatkan vaksin COVID-19 pertamanya.

Ada sebuah kisah yang menarik. Dua tim penjelajah bersaing untuk mencapai Kutub Selatan dan memulainya bersamaan pada tahun 1910. Tim yang pertama berhasil mencapai Kutub Selatan duluan dan juga bisa kembali pulang dengan selamat. Sedangkan, tim yang kedua, bukan hanya kalah dalam perlombaan, tapi juga tidak kembali dengan selamat karena semua anggota timnya meninggal kedinginan. Tim yang pertama dikomandani oleh seseorang bernama Roald Amundsen dan rahasianya terletak pada satu aturan yang selalu mereka pegang teguh. Tim itu akan selalu bergerak 20 mil setiap hari, tanpa peduli kondisi cuaca apapun yang mereka hadapi. Di hari di mana cuaca buruk, mereka harus berjuang keras untuk mencapai 20 mil. Sedangkan, di hari di mana cuaca baik, mereka menahan diri untuk tidak bergerak melebihi 20 mil. Dengan cara ini, mereka mampu menyimpan energi, mengatur sumber dayanya dengan baik, dan selalu ada progress. Beda hal yang dilakukan oleh kompetitornya. Mereka berusaha untuk berlayar secepat mungkin sehingga awak kapalnya menjadi kelelahan dan ketika kondisi buruk menerpa, mereka tidak selamat. Cerita ini kemudian menjadi sebuah istilah 20 miles march dan inilah yang dilakukan oleh sebuah perusahaan yang hebat. Mereka berusaha untuk menciptakan tujuan jangka panjang yang besar, namun mereka konsisten melakukan apa yang harus dilakukan untuk mencapainya setiap hari tanpa gagal. 

Mengambil keputusan berdasarkan data
Sumber foto: sunstone-rtls.com

Mengambil keputusan berdasarkan data

Perusahaan yang hebat bukanlah perusahaan yang inovatif dengan membabi buta, namun mereka mengambil keputusan berdasarkan data. Konsistensi mereka dalam meluncurkan produk yang inovatif bukan berasal dari intuisi, tapi didukung dari data yang membuktikan kalau produk tersebut punya potensi untuk sukses. Jim memberikan analogi yang menarik soal peluru dan bola meriam. Coba bayangkan sebuah kapal kecil berusaha untuk melawan kapal besar. Di cerita pertama, kapal kecil itu hanya punya senjata satu bola meriam yang besar, jika tembakannya meleset, maka habislah sudah. Tapi, bagaimana bila yang terjadi sebaliknya, kapal itu berisi banyak peluru kecil. Jadi, si penembak bisa berlatih untuk menembak terus menerus. Dalam waktu yang tepat, barulah bola meriam ditembakkan ke kapal besar. Ini yang dilakukan oleh Steve Jobs di Apple. Mungkin kita melihatnya Apple adalah perusahaan inovatif yang sangat berani mengambil resiko. Namun, ada hal berbeda yang mereka lakukan. Pada tahun 2001, Apple pertama kali meluncurkan iPod pertamanya. Tapi, iPod yang waktu itu diluncurkan, bukanlah seperti yang kita kenal sekarang. Itu merupakan produk tes awal dan hanya tersedia bagi pengguna komputer Mac. Ketika pengguna komputer Mac suka dengan produk tersebut, Steve mencoba lagi mengirimkan peluru dengan meluncurkan iTunes untuk mereka. Ternyata, produk ini sangat disukai. iTunes memberikan pelanggan mereka kesempatan untuk mendengarkan lagu secara resmi dan murah. Barulah, setahun kemudian, iTunes dan iPod diperkenalkan ke pengguna yang lebih luas yaitu non pengguna komputer Mac. Peluru dan bola meriam bisa diartikan seperti ini. Peluru adalah sebuah eksperimen yang rendah biayanya, rendah resikonya, dan tidak perlu banyak menggunakan sumber daya perusahaan. Sedangkan, bola meriam adalah sebuah proyek atau aktivitas yang membutuhkan perusahaan harus banyak berinvestasi dari sisi waktu, tenaga, uang, dan sumber daya. Dengan memulainya dari peluru, kamu akan mendapatkan banyak insight dan pengalaman berharga. Barulah, di kemudian hari, kamu siap untuk menembak dengan bola meriam. 

Rasa takut yang produktif
Sumber foto: businessinsider.com

Rasa takut yang produktif

Perusahaan hebat tidak pernah merasa nyaman. Mereka selalu membuat diri mereka tidak nyaman dan selalu cemas akan masa depan. Bahkan, di masa emas sekalipun, mereka selalu bertanya,”Apa yang bisa saya lakukan apabila industri saya berubah?” “Bagaimana perusahaan saya bisa menghadapi perubahan tersebut?” “Kompetitor masa depan saya seperti apa?” Mereka menggunakan sesuatu yang disebut oleh Jim sebagai productively paranoid atau rasa takut yang produktif untuk memastikan kalau mereka siap untuk situasi apapun. Salah satu contohnya adalah bagaimana perusahaan hebat selalu berusaha untuk menjaga arus kas keuangan mereka. Bahkan, rasio antara kas dan aset mereka mencapai tiga hingga 10 kali lebih besar daripada kompetitornya. Rasa takut ini membuat mereka selalu waspada tentang adanya perubahan yang mempengaruhi bisnis mereka, entah itu kompetitor baru, kebijakan hukum baru, atau kondisi keuangan yang berubah. Perusahaan hebat selalu melakukan persiapan sebaik-baiknya. Contohnya begini, pada tahun 2001, semua industri penerbangan di Amerika Serikat mengalami dampak yang besar atas peristiwa 9/11. Banyak perusahaan penerbangan terpaksa harus menutup bisnisnya. Namun, Southwest Airlines berhasil bertahan dalam krisis tersebut dan bahkan mencetak keuntungan. Southwest Airlines mampu mengembangkan bisnisnya, menawarkan rute dan layanan baru. Walaupun Southwest Airlines pasti tidak akan bisa mengira akan adanya tragedi 9/11, namun persiapan keuangan mereka membuatnya mampu bertahan dalam kondisi yang berat dan pemahaman mereka tentang pasar membuat mereka bisa melihat peluang baru di tengah krisis.

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.