Sejarah Gelap Penghargaan Nobel

Alfred Nobel_Cover

Ketika kamu meninggal, bagaimana kamu ingin dikenang dan diingat? Warisan apa yang akan kamu tinggalkan untuk generasi masa depan? Jawaban dari pertanyaan ini akan mengarahkan hidupmu ke masa depan yang kamu inginkan.

Kali ini saya akan membahas sisi gelap dari pendiri penghargaan Nobel yaitu Alfred Nobel. Sebagai informasi, Nobel adalah seorang ahli kimia Swedia abad ke-19 yang kesuksesannya berasal dari penemuan dinamit. Dia tidak pernah secara eksplisit mengatakan sebuah penyesalan, namun beberapa bukti dari catatannya menunjukkan kalau Nobel tidak ingin diingat sebagai penemu dinamit. Itulah yang kemudian mendasari Nobel menciptakan salah satu penghargaan tahunan internasional paling bergengsi di dunia. Sebelum kita mulai, saya mau mengucapkan terima kasih buat Via, Batiksulmit.com, satu orang anonim yang telah memberikan 10 es krim stroberi. Selain itu, terima kasih juga buat puluhan pendukung yang sudah memberikan es krim stroberi ya. Kalau kamu mau dukung Si Kutu Buku, cek link-nya di komentar ya. 

Alfred Nobel lahir pada tahun 1833 di Stockholm, Swedia. Dia merupakan anak keempat dari delapan bersaudara. Nobel kecil dikenal sebagai anak yang sering sakit, namun punya kepribadian yang selalu gembira dan penasaran terhadap hal apapun di sekelilingnya. Ayahnya merupakan seorang insinyur dan penemu. Dia membangun jembatan dan bangunan menggunakan beberapa bahan yang berbeda. Namun, di tahun Nobel lahir, bisnis keluarganya dalam kondisi yang buruk dan terpaksa harus ditutup. Pada tahun 1837, ayahnya terpaksa harus membangun bisnis di tempat lain, meninggalkan ibu dan anak-anaknya. Kondisi keuangan keluarga mereka yang buruk membuat kakek Nobel memberikan uang kepada ibunya untuk membuka toko kelontong. Di tempat baru tersebut, ayahnya bekerja untuk menyediakan peralatan untuk pasukan Rusia. Bisnisnya berjalan lancar hingga beberapa tahun kemudian, keluarganya lalu mengikuti ayahnya untuk pindah ke St. Petersburg, Rusia. Ekonomi keluarga yang semakin baik membuat anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang baik, termasuk juga Nobel. Dia mendapatkan guru privat yang membantunya untuk belajar banyak hal, mulai dari kimia, bahasa, hingga literatur. Pada usianya ke 16 tahun, Nobel ingin menjadi penulis. Setelah menguasai bahasa Inggris, dia lalu menjadi fans berat dari pertunjukkan Shakespeare dan mulai menulis puisi. Ayahnya menghargai pentingnya literatur, namun tidak ingin anaknya berkecimpung di bidang tersebut. Dia lalu menawarkan kepada Nobel sebuah kesempatan untuk berkeliling Amerika dan Eropa jika Nobel berjanji untuk meninggalkan mimpinya untuk menjadi penulis dan fokus membantu bisnis keluarga. Nobel pun setuju dan fokus belajar soal bisnis keluarganya. Padahal pada umur 17 tahun, Nobel sudah menjadi poligot yang bisa menguasai 5 bahasa yaitu Rusia, Perancis, Inggris, Jerman, dan bahasa ibunya yaitu Swedia. 

Sumber foto: minews.id

Di Paris, Nobel bekerja di laboratorium pribadi Profesor T. J. Pelouze, seorang ahli kimia terkenal. Dia juga bertemu dengan seorang ahli kimia muda dari Italia bernama Ascanio Sobrero. Tiga tahun sebelumnya, Sobrero telah menemukan nitrogliserin, cairan yang sangat mudah meledak dan dianggap terlalu berbahaya. Namun, Nobel menjadi sangat tertarik dengan nitrogliserin dan cara penggunaannya dalam pekerjaan konstruksi. Ketika dia kembali ke Rusia setelah studinya, dia bekerja sama dengan ayahnya untuk mengembangkan nitrogliserin sebagai bahan peledak yang memiliki nilai komersial. Namun, pada tahun 1859, beberapa tahun setelah perang berakhir, maka kebutuhan untuk peralatan perang juga berkurang sehingga bisnis ayahnya bangkrut. Mereka sekeluarga pun terpaksa harus kembali ke negara asalnya yaitu Swedia pada tahun 1863. Di sana, Nobel memusatkan perhatiannya untuk mengembangkan nitrogliserin sebagai bahan peledak. Sayangnya, eksperimen ini mengakibatkan kecelakaan yang menewaskan beberapa orang, termasuk adik Nobel sendiri bernama Emil. Pemerintah Swedia lalu memutuskan untuk melarang eksperimen ini di dalam batas kota Stockholm. Tragedi ini tidak mematahkan semangat Nobel untuk terus bereksperimen untuk menciptakan bahan peledak yang aman. Bahkan dia sampai memindahkan eksperimennya ke perahu di tengah danau Malaren. Tiga tahun kemudian, pada tahun 1867, Nobel tanpa sengaja berhasil menciptakan sebuah penemuan yang membuatnya terkenal. Kunci sukses Nobel berada pada kejeniusannya dan didukung kerja keras yang luar biasa. Dorongan ini berasal dari pengalaman pahit masa lalunya yang miskin. Sebagai gambaran, walaupun Nobel tidak memiliki tubuh yang kuat, namun dia bekerja 18 jam sehari untuk melakukan ratusan eksperimen. Inilah yang membawanya pada kesuksesan dan kekayaan yang luar biasa.

Selama hampir seribu tahun, bubuk mesiu merupakan bahan peledak premium di dunia. Bubuk mesiu diminati karena sifatnya yang stabil dan aman, bahan yang ideal untuk amunisi. Tetapi setelah revolusi industri pada abad ke-19, aktivitas seperti pertambangan membutuhkan daya ledak yang jauh lebih besar. Lalu pada tahun 1847, terobosan datang dengan pengembangan nitrogliserin, senyawa yang sangat kuat, namun sangat berbahaya. Bagian yang berbahaya adalah ketidakstabilan senyawa tersebut yang memberinya kekuatan tetapi bisa menyebabkan kecelakaan yang mematikan. Tantangan bagi para penemu saat itu adalah mengawinkan kekuatan nitrogliserin dengan stabilitas bubuk mesiu. Nobel merupakan orang yang berhasil menciptakan penemuan tersebut. Nobel lalu menyebutnya sebagai “dinamit” dari bahasa Yunani dynamis, yang berarti “kekuatan”. Penemuan ini langsung membawa kekayaan dan pengakuan yang luar biasa. Sementara orang lain mungkin telah berpuas diri, Nobel terus menyempurnakan penemuannya agar lebih efektif. Pada tahun 1875, Nobel berhasil membuat improvisasi sehingga membuatnya lebih tahan air dan bahkan lebih kuat daripada formulasi dinamit aslinya. Inilah yang membuat nama Nobel semakin besar. Di satu sisi, dia menghasilkan kekayaan yang luar biasa, tapi di sisi lain, Nobel bahkan dijuluki pedagang yang membawa kematian atas penemuannya. Niat utamanya dalam menciptakan dinamit adalah untuk menghasilkan perdamaian dunia dengan cepat, namun tidak semua orang melihat hal tersebut dari kacamata yang sama. 

Sumber foto: nobelprize.org

Pada tahun 1888, saudara laki-laki Nobel bernama Ludvig meninggal saat berada di Prancis. Sebuah surat kabar Perancis keliru menerbitkan obituari Nobel, bukan Ludvig, dan mengutuk Nobel atas penemuan dinamitnya. Ditambah lagi, suatu hari, Nobel sakit keras dan satu-satunya orang yang mengunjunginya hanyalah seorang karyawan. Memang, Nobel merupakan tipe orang yang penyendiri, dia tidak menikah, dan jadwal bepergiannya yang padat membuat Nobel juga tidak dekat dengan keluarga. Beberapa kejadian ini lalu membuat Nobel melakukan refleksi tentang dirinya dan bagaimana dia ingin dikenang saat tutup usia. Pemberitaan buruk dari surat kabar Perancis ini juga menyadarkan Nobel tentang bagaimana persepsi masyarakat atas penemuannya dan kecewa jika nanti ketika meninggal, dia hanya diingat dalam persepsi yang negatif. Nobel pun lalu mengambil langkah yang drastis, dia menyisihkan sebagian besar harta miliknya untuk mendirikan Penghargaan Nobel untuk menghormati pria dan wanita atas pencapaian luar biasa mereka dalam bidang fisika, kimia, kedokteran, sastra, dan usaha menuju perdamaian. 

Ketika dia meninggal pada tahun 1896, Nobel meninggalkan dana dalam wasiatnya untuk menciptakan penghargaan Nobel yang pertama kali diberikan pada tahun 1901. Penghargaan itu termasuk hibah bagi orang yang berhasil memberikan kontribusi luar biasa pada lima bidang yaitu kimia, literatur, fisiologi atau pengobatan, fisika, dan perdamaian. Tidak semua orang senang atas isi surat wasiatnya. Permintaan terakhir Nobel ditentang oleh kerabatnya dan dipertanyakan oleh otoritas dari berbagai negara. Butuh empat tahun bagi Ragnar Sohlman, seorang insinyur muda yang namanya ditulis di surat wasiat Nobel untuk meyakinkan semua pihak agar menghormati keinginan dari Nobel. Pada tahun 1901, Penghargaan Nobel pertama di bidang fisika, kimia, kedokteran, dan sastra pertama kali diberikan di Stockholm, Swedia dan Penghargaan Perdamaian di Oslo, Norwegia.

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.