Fenomena Hoax Babi NGepet dan Tetangga Julid

Babi Ngepet_Cover

Tidak semua informasi yang kamu baca itu benar. Penting untuk selalu mencari bukti, mengajukan pertanyaaan yang tepat, dan berpikir kritis saat menerima informasi.

Kali ini saya akan membahas tentang fenomena yang lagi hangat banget minggu kemarin yaitu soal babi ngepet, tetangga julid, dan mudahnya kita termakan oleh hoax.

Pada Selasa 27 April lalu, warga Bedahan, Sawangan, Depok, Jawa Barat dihebohkan dengan temuan babi hutan yang diklaim sebagai babi ngepet. Bahkan seorang oknum tokoh masyarakat berinisial AL yang menyebarkan hoax tersebut karena ingin menjadi terkenal di kampungnya. Dari kisah tersebut, saya jadi penasaran, kenapa masyarakat Indonesia percaya dengan babi ngepet? Menurut sejarawan yang bernama Christopher Reinhart yang dikutip dari voi.id, mitos babi ngepet dimulai dari masyarakat pertanian, khususnya bagi para petani yang hidupnya boleh dibilang miskin dan hanya mampu mencukupi kebutuhan dasar saja. Namun saat itu, ada salah satu petani yang tiba-tiba kaya dan langsung menimbulkan kecurigaan dari sesama petani. Hal ini disebabkan adanya ketakutan sekelompok petani pada tetangganya yang kaya. Mereka takut petani kaya itu akan menjadi tengkulak dan mengendalikan hidup petani yang lain. Akhirnya, sekelompok petani ini lalu menyebarkan isu pesugihan untuk melindungi diri. Jadi, mereka melabeli si petani kaya dengan orang yang menggunakan pesugihan, punya tuyul, jadi babi ngepet, dan menjual jiwanya kepada setan. Harapannya untuk menakuti-nakuti semua petani di sekitar dan tidak ada yang berurusan dengan si petani kaya. 

Sejarawan Asep Kambali menjelaskan adanya kaitan kepercayaan mistis dengan aspek ekonomi sosial masyarakat. Dikutip dari MNC Portal Indonesia, Asep menjelaskan, praktik pesugihan itu tidak terlepas dari tradisi yang kental di Jawa. Terlebih, saat agama belum masuk dan penduduk Indonesia masih menganut paham animisme dan dinamisme. Kedatangan VOC menandai paham ini ada di Indonesia. Di saat itu, banyak priyayi yang sengsara. Penduduk Indonesia hanya bisa hidup enak kalau mereka bisa dekat dengan penjajah. Karena itu, banyak warga yang terasingkan dan terbelakang baik secara pemikiran, pendidikan, hingga ekonomi. Jadi, kalau boleh dibilang, kondisi ekonomi dan sosial pada masa itu, membuat masyarakat percaya pada hal yang tidak masuk akal dan berusaha mencari cara keluar dari kondisi yang mereka hadapi sekarang. 

Sumber foto: liputan6.com

Menariknya lagi, fenomena babi ngepet di Depok merupakan sebagai bentuk frustasi sosial. Menurut Kepala Pusat Studi Desentralisasi dan Pembangunan Partisipatif FISIP Universitas Padjajaran (Unpad), Dr Ahmad Buchari yang dikutip dari Tribunnews.com, frustasi sosial ini muncul karena kejenuhan dan kebuntuan masyarakat terhadap orientasi ke depan atau hari esok ditengah kondisi himpitan dan ketidakpastian ekonomi. Hal ini wajar saja, mengingat Indonesia masih berada dalam kondisi pandemi COVID-19 dan tidak semua orang punya privilege bekerja dari rumah. Banyak juga yang terpaksa kehilangan pekerjaan sebagai dampak dari pandemi COVID-19. Hal ini lalu membuat masyarakat menjadi irasional dan menjadi percaya pada hal yang mistis seperti babi ngepet, tuyul, dan sebagainya. 

Dari video heboh di Sawangan, Depok, lalu muncul di berita seorang tetangga julid yang menuduh tetangganya merupakan babi ngepet di wilayah yang berbeda. Ibu itu beralasan kalau dia sudah memantau tetangganya yang pengangguran, tapi punya uang yang banyak. Walaupun sudah melakukan klarifikasi minta maaf, namun ibu itu tetap diusir oleh warga sekitar karena dianggap mencemarkan nama baik kampung. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil juga memberikan komentar di Instagramnya dan bilang kalau saat awal menjadi arsitek, selama dua tahun bekerja dari rumah untuk mengerjakan proyek dari luar negeri. Memang fenomena bekerja dari rumah masih belum begitu familiar di telinga masyarakat Indonesia. Jadi, ketika ada orang yang di rumah saja, tapi uangnya banyak. Lalu menimbulkan kecurigaan dan kemudian dihubungkan kepada hal yang berbau mistis. Padahal, dengan kemajuan teknologi khususnya internet, banyak pekerjaan bisa dikerjakan dari rumah. Jika dulu, banyak pekerjaan didominasi oleh pekerja gig economy, namun sekarang, banyak pekerja perusahaan juga bekerja dari rumah sesuai dengan anjuran pemerintah untuk mengurangi penyebaran dari virus COVID-19. Sebagai informasi, gig economy adalah kondisi perekonomian di mana terjadi pergeseran dari pekerja tetap menjadi pekerja kontrak, pekerja independen, atau pekerja tidak tetap. Perusahaan dan pekerja juga mendapatkan manfaat dari kegiatan ekonomi ini. Di satu sisi, perusahaan hanya mempekerjakan karyawan dengan keahlian tertentu saat dibutuhkan saja. Di sisi lain, pekerja lepas memiliki fleksibilitas dan kemudahan dalam bekerja, tidak perlu harus datang ke kantor setiap hari.

Sumber foto: express.co.uk

Dari fenomena babi ngepet dan tetangga julid, saya juga penasaran, apa yang membuat banyak orang termakan hoax? Sebagai informasi, hoax adalah informasi yang direkayasa untuk menutupi informasi sebenarnya. Fenomena hoax ini sebenarnya dari dulu sudah ada, namun di jaman digital seperti sekarang, penyebarannya menjadi sangat masif dan berlangsung sangat cepat. Lalu, kenapa orang mudah percaya pada informasi yang belum diketahui kebenarannya? Menurut Laras Sekarasih, PhD, dosen Psikologi Media dari Universitas Indonesia yang dikutip dari Kompas.com, orang lebih cenderung percaya hoax jika informasinya sesuai dengan opini atau sikap yang dimiliki. Misal, seseorang memang sudah tidak setuju terhadap kelompok tertentu, produk, atau kebijakan tertentu. Ketika ada informasi yang dapat mendukung opini dan sikapnya tersebut, maka dia mudah percaya. Kembali lagi ke fenomena babi ngepet, saya rasa, pada dasarnya mayoritas warga yang ada di sana sudah percaya kalau ada fenomena babi ngepet. Jadi, ketika informasi itu disebarkan oleh tokoh masyarakat, maka membuat warga di sana menjadi semakin percaya. Laras menambahkan, secara natural, perasaan positif akan timbul di dalam diri seseorang ketika ada yang mendukung apa yang dipercayai. Perasaan tersebut juga menjadi pemicu seseorang dengan mudahnya meneruskan informasi hoax ke pihak lain. Inilah yang kemudian video penangkapan babi ngepet menjadi viral di grup media sosial. Selain itu, biasanya penyebar hoax menggunakan kalimat, dari grup sebelah. Hal ini untuk memberikan kesan kalaupun informasi itu salah, bukan tanggung jawab si penyebar, karena dia hanya sekedar menyebarkan saja. Alasan lain karena terbatasnya pengetahuan. Orang yang mudah percaya pada hoax karena mereka tidak memiliki informasi pendukung sebelumnya. Kembali ke kasus babi ngepet, kejadian ini bermula saat ada laporan dari salah satu warga yang kehilangan uang satu juta rupiah selama dua kali. Kejadian yang dialami oleh warga sulit dijelaskan sehingga langsung dikaitkan dengan dengan hal yang berbau mistis. Kondisi ini lalu membuat warga berjaga di rumahnya masing-masing. Hingga akhirnya, ada beredar informasi kalau babi ngepetnya berhasil ditangkap oleh seorang tokoh masyarakat. 

Mungkin kita tertawa saat melihat ada orang yang termakan hoax babi ngepet, tapi sebenarnya, tidak ada yang imun terhadap hoax. Mungkin saja kita tidak termakan hoax babi ngepet, tapi bisa termakan hoax yang lain. Ingat tadi sudah dijelaskan dua alasan utama seseorang termakan hoax, ketika kita mendapatkan informasi yang sesuai opini atau sikap yang kita miliki dan keterbatasan informasi. Jadi, seharusnya kita menjadi lebih kritis dalam menerima informasi, apalagi kalau informasi itu mendukung apa yang kita percayai atau malah informasi yang tidak kita pahami sebelumnya. 

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.