Vincent van Gogh, Seniman Jenius yang tidak Dihargai

Information Template

Jika karya saya berharga di masa depan, maka karya saya juga berharga saat ini. Karena gandum adalah gandum, meskipun awalnya banyak orang mengira itu adalah rumput.

Kali ini saya akan membahas kisah sedih dari Vincent van Gogh, dia merupakan salah satu pelukis jenius, namun semasa hidupnya dia hanya mampu menjual satu lukisan dengan harga yang tidak mahal, tujuh bulan sebelum dia meninggal. Namun, sekarang kita mengenal berbagai karyanya yang mendunia seperti “Starry Night” dan “Sunflowers”.

Vincent van Gogh lahir pada tahun 1853 di Zundert, Belanda. Ayah Vincent merupakan seorang menteri kerajaan, dan ibunya adalah seorang seniman. Tidak banyak yang diketahui tentang tahun awal Vincent selain bahwa dia adalah anak yang pendiam tanpa bakat artistik yang jelas. Walaupun begitu, ketika dia mengenang masa lalunya, maka dia akan melihatnya sebagai pengalaman yang bahagia. Vincent menerima pendidikan di tempat yang berbeda, satu tahun di sekolah desa di Zundert, dua tahun di sekolah asrama di Zevenbergen, dan delapan belas bulan di sekolah menengah di Tilburg. Namun, ketika usianya 15 tahun, keluarganya mengalami kesulitan keuangan dan dia terpaksa harus meninggalkan sekolah dan bekerja untuk mencari uang. Vincent lalu mendapatkan pekerjaan di tempat penjualan karya seni milik pamannya. Pada masa itu, dia sudah fasih dalam empat bahasa yaitu Perancis, Jerman, Inggris, dan bahasa ibunya yaitu Belanda. 

Vincent baru menjadi seorang pelukis selama dekade terakhir dari kehidupannya yang relatif singkat. Sebelum melukis, ia mencoba berbagai karier lain seperti pedagang karya seni seperti saudaranya yang bernama Theo, guru sekolah, dan sebagainya. Namun, Vincent tidak berhasil di bidang pekerjaan tersebut dan mengumumkan akan menjadi seorang seniman dalam sebuah surat kepada Theo pada tahun 1880. Dia kemudian melakukan perjalanan melalui Belgia, Belanda dan Prancis untuk mengejar visi artistiknya. Perjalanan ini dimulai Vincent saat usianya 27 tahun. Usia ini boleh dibilang relatif terlambat dari sebagian besar pelukis yang belajar secara otodidak. Walaupun Vincent tidak punya pendidikan formal untuk menjadi seniman, namun Theo tetap mendukung Vincent secara finansial. Saat mulai belajar soal seni, Vincent langsung jatuh cinta dan hal ini membantu emosinya untuk tetap stabil. Lukisan awal yang dibuat olehnya ternyata tidak penuh dengan warna-warni seperti yang kebanyakan orang kenal. Ketika Vincent mulai melukis, dia menggunakan palet warna yang kusam dan melukis beberapa realitas kehidupan yang keras. Kemiskinan dan kesulitan keuangan adalah tema umum dalam banyak karya awalnya. Barulah di kemudian hari, Vincent menggunakan warna yang lebih cerah yang membuatnya dikenal di seluruh dunia. 

Sumber foto: vangoghmuseum.nl

Pada tahun 1889, Vincent yang sebelumnya sudah mengalami gangguan kesehatan mental selama berbulan-bulan, lalu memutuskan untuk memeriksakan dirinya ke Saint Paul de Mausole, sebuah rumah sakit jiwa di Prancis Selatan. Meskipun pada saat itu, Vincent didiagnosis dengan epilepsi, di masa depan, para peneliti memberikan pendapat kalau gangguan yang dialami oleh Vincent termasuk gangguan bipolar, alkoholisme, dan gangguan metabolisme. Apa pun penyebab masalah medisnya saat itu, Vincent diharuskan untuk mandi dalam waktu yang lama sebagai bagian dari perawatannya di Saint Paul. Selama setahun di rumah sakit jiwa, Vincent melukis pemandangan taman dan pedesaan sekitarnya. Lebih dari 100 lukisan yang dia hasilkan selama periode ini termasuk beberapa karyanya yang paling terkenal, seperti “The Starry Night,” yang diambil alih oleh Museum of Modern Art Kota New York pada tahun 1941, dan “Irises,” yang dibeli oleh seorang Industrialis Australia pada tahun 1987 dengan nilai rekor saat itu sebesar $ 53,9 juta. Sejak tahun 1990, lukisan itu dimiliki oleh J. Paul Getty Museum, yang membelinya dengan harga yang dirahasiakan. Vincent boleh dibilang memiliki kehidupan yang relatif singkat sebagai seniman. Namun selama sekitar 10 tahun, dia berhasil menciptakan sekitar 2.100 karya seni, terdiri dari 860 lukisan cat minyak dan lebih dari 1,300 lukisan cat air, gambar, dan sketsa. Banyak lukisannya justru tercipta dalam dua tahun terakhir hidupnya. Sungguh luar biasa jika dibayangkan saat itu kondisi Vincent berada dalam kesulitan keuangan dan penyakit mental yang dideritanya. Walaupun begitu, dia mampu menciptakan sebuah karya yang jumlahnya lebih banyak daripada mayoritas seniman dalam kurun waktu yang lebih lama.

Pada tahun 1890, Vincent bunuh diri dengan menembakkan peluru ke bagian perut dan meninggal dua hari kemudian. Menurut saudaranya, kata-kata terakhir dari Vincent adalah kalau kesedihan akan bertahan selamanya. Namun, pada tahun 2011 dalam biografi Vincent, salah satu penulis bukunya punya teori yang berbeda. Vincent secara tidak sengaja ditembak oleh seorang remaja laki-laki yang diketahui telah mengejek Vincent, tetapi pelukis yang kesepian itu mengatakan bahwa lukanya disebabkan oleh dirinya sendiri karena dia merasa remaja itu malah membantunya dengan menarik pelatuk, karena ini mengakhiri hidup Vincent yang tidak bahagia dan memastikan kalau dirinya tidak lagi menjadi beban keuangan bagi Theo. Para penulis mengklaim bahwa teori mereka didukung oleh berbagai bukti, termasuk fakta bahwa pistol, bersama dengan perlengkapan melukis yang konon dibawa oleh Vincent ke ladang gandum, tidak pernah ditemukan. Selain itu, jika Vincent menembak dirinya sendiri, tentu saja akan sulit bagi seseorang dalam kondisi tersebut untuk pergi dari ladang gandum dan kembali ke penginapan. Catatan lain yaitu seorang pria melaporkan mendengar suara tembakan yang datang bukan dari ladang gandum tetapi dari sebuah lokasi yang berjarak sekitar setengah mil dari penginapan Vincent, sehingga jarak ini lebih masuk akal. Namun, tentu saja, tidak ada yang benar-benar tahu apa penyebab kematian dari Vincent.

Sumber foto: vangoghmuseum.nl

Mungkin pertanyaanya, kenapa karya Vincent sangat terkenal sekarang? Dalam dua tahun terakhir hidupnya, Vincent telah mendapatkan pengakuan di kalangan seniman dan karyanya mulai dipamerkan dalam pameran di Paris dan Brussel. Setelah Vincent meninggal, Theo berusaha untuk meningkatkan profil karya saudaranya. Namun sayangnya enam bulan kemudian, Theo juga meninggal dunia. Setelah keduanya meninggal, Johanna yang merupakan mantan istri dari Theo ditinggalkan olehnya seorang anak bayi laki-laki dan sebuah apartemen yang berisi semua karya Vincent. Johanna lalu menjual beberapa karya Vincent, meminjamkan yang lain untuk pameran dan menerbitkan surat Vincent kepada Theo. Ini merupakan kerja keras Johanna untuk menyusun dan mengedit semua suratnya. Mayoritas surat itu lalu diterbitkan pada tahun 1914. Sebagai informasi, hidup Vincent terdokumentasikan dari banyaknya surat yang dia tuliskan untuk saudara dan koleganya. Surat-surat ini adalah sumber informasi terlengkap yang tersedia tentang kehidupan Vincent dan memberikan gambaran bagaimana dia melihat dunia. Ada lebih dari 600 surat antara Vincent dan Theo. Surat-surat ini menceritakan kisah persahabatan seumur hidup mereka serta pandangan dan teori artistik Vincent. Theo menyimpan semua surat Vincent kepadanya dan Vincent juga menyimpan beberapa surat yang dia terima. Kisah hidup Vincent yang menarik adalah salah satu alasan mengapa karyanya secara bertahap menghebohkan seluruh dunia. Namun perlu dicatat juga, tanpa dedikasi dari Johanna, semua hal ini tidak akan mungkin terjadi.

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.