nurul atik, Mantan OB yang Jadi Bos Waralaba Ayam Goreng Crispy

Nurul Atik_Cover

Setiap orang punya garis start yang berbeda dalam mencapai kesuksesan. Namun satu hal yang selalu jadi resep rahasia orang sukses adalah kerja keras dalam mencapai apa yang mereka inginkan dalam hidup.

Kali ini saya akan membahas kisah inspiratif dari Nurul Atik, mantan OB yang sekarang merupakan CEO dan pendiri dari Rocket Chicken, gerai waralaba ayam goreng renyah. 

Nurul Atik lahir di Jepara pada tahun 1966. Dia merupakan anak bungsu dari sembilan bersaudara. Orang tuanya sehari-hari bekerja sebagai petani atau tukang batu. Latar belakang ekonomi yang sulit membuat Atik tidak dapat menjalani pendidikan yang baik. Secara akademis pun, prestasi Atik tidak begitu menonjol, bahkan untuk beberapa mata pelajaran nilainya di bawah rata-rata. Hal tersebut membuatnya kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan. Keterbatasan ekonomi keluarga membuatnya tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan pendidikannya berakhir di SMA. Mimpinya untuk menjadi polisi pun sirna karena kenyataan hidup yang berbeda. Dengan ijazah SMA, Atik mulai berusaha untuk mencari pekerjaan. Hingga pada tahun 1989, dia mendapatkan pekerjaan sebagai cleaning service di California Fried Chicken (CFC) cabang Semarang. Rencana awal Atik adalah dengan bekerja sebagai OB, maka dia bisa mengumpulkan uang untuk kuliah. Namun, nasib berkata lain. 

Sumber foto: hits.grid.id

Pekerjaan sebagai OB membuat Atik harus memutar otak agar dia bisa memenuhi kebutuhan ekonomi bulanannya. Karena selama tiga bulan, dia merupakan pegawai dengan status trainee dan hanya dibayar 35 ribu per bulan. Tak jarang juga, saat itu, dia sering meminjam uang kepada rekan kerjanya dan meminta uang tambahan ke orang tuanya. Untuk menghemat biaya hidup, Atik pun terpaksa mencari tempat kos yang lumayan jauh sekitar lima kilometer dari tempatnya bekerja. Bahkan, dia juga seringkali berjalan kaki hingga satu kilometer untuk mengirit biaya ongkos. Apabila sudah lelah, barulah dia naik angkot. Kamar kosnya juga cukup memprihatinkan. Di ukuran 3×3 meter, kamar itu tidak dilengkapi kasur dan perabot lainnya. Kondisi ini dijalani oleh Atik selama kurang lebih lima bulan, hingga akhirnya dia mendapatkan mess dari kantor. Selain itu, ada pengalaman pahit yang dia jalani. Waktu itu, Atik sempat tersinggung kenapa lantai restoran yang sudah dipel hingga bersih, kemudian diinjak lagi oleh teman-teman dari kampus sehingga kembali kotor. Atik pun masih berusaha sabar. Tapi orang tersebut seakan tidak puas, dia lalu mengejek Atik kenapa memakai topi di ruangan ber-AC. Atik pun bilang, kalau berani ambil topi, silahkan ambil, Anda memang jagoan, kalau saya gak pakai topi, saya dikeluarin. Meski marah, Atik berusaha untuk mengendalikan diri dan menjaga kesabaran. Pengalaman ini menjadi motivasi agar berusaha keras untuk meraih kesuksesan. Kerja kerasnya pun terbayarkan. Jenjang karirnya terus merangkak naik. Mulai dari OB, tukang cuci piring, asisten koki, kasir, supervisor, manajer toko, hingga berhasil menjabat sebagai manajer area. Semua ini dijalani oleh Atik dalam waktu tujuh tahun. Dia sebenarnya bisa mendapatkan posisi yang lebih tinggi lagi, cuma sayangnya posisi tersebut memerlukan latar belakang pendidikan yang lebih tinggi. Kenyataan ini membuat Atik mulai berpikir ulang tentang hidupnya. Ditambah lagi, saat itu terjadi krisis keuangan tahun 1998, hal ini yang akhirnya membuat dia memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan yang membesarkannya. Walaupun begitu, Atik mengaku banyak pelajaran dan ilmu yang didapat selama bekerja di sana, mulai dari menghargai hidup hingga pada pengelolaan restoran.

Sumber foto: maxmanroe.com

Setelah keluar dari pekerjaannya, ada temannya yang mengajak Atik untuk membuka bisnis kuliner. Restoran makanan cepat saji yang menjual ayam goreng memang sedang tren di masyarakat. Berbekal pengalamannya, Atik pun mantap untuk coba berbisnis. Dia bertugas di bagian pengembangan bisnisnya dan temannya di bagian permodalan. Saat itu, mereka mencoba untuk menyasar pasar menengah atas dan sudah berkembang hingga 86 cabang. Namun sayangnya, bisnis ini tidak bertahan lama. Waktu itu, Atik mendapuk posisi sebagai direktur dengan penghasilan yang cukup tinggi. Saat menjalani bisnis tersebut, dia merasakan ketidakcocokan karena perbedaan pandangan dan akhirnya memilih untuk mengundurkan diri. Dari posisinya sebagai direktur, akhirnya Atik terjun bebas dan menjadi pedagang kaki lima. Atik pun sampai harus menjadi tukang gorengan di daerah Yogyakarta untuk menghidupi keluarganya. Hingga akhirnya, kehidupannya berubah setelah dia memutuskan untuk memulai usaha kulinernya sendiri dengan modal nekad. 

 

Pada tahun 2010, Atik membangun bisnis restoran cepat saji yang menjual ayam goreng bernama Rocket Chicken di Semarang. Dia menggandeng kakaknya sebagai pemilik franchise padahal waktu itu investasi bisnis yang ditawarkan masih di awang-awang. Kali ini, Atik menyasar pangsa pasar yang berbeda yaitu pasar menengah ke bawah. Selain ceruk pasarnya yang lebih besar, segmen ini belum tersentuh oleh restoran cepat saji lokal maupun internasional. Nama Rocket Chicken juga baru muncul setelah dua kali nama sebelumnya yang dianggap tidak bagus. Awalnya, Atik ingin menggunakan nama Royal Chicken, namun berdasarkan berbagai masukan, nama ini dinilai kurang menjual. Lalu, dia mencoba mengajukan nama Real Chicken, namun lagi-lagi ditolak karena dianggap sebagai filosofi rel kereta yang selalu dibawah. Akhirnya, karena sudah pusing, tanpa disangka, Atik mendapat ilham nama Rocket Chicken saat sedang mandi. Hingga akhirnya, nama itu yang dipakai sebagai merek bisnisnya. Antusias masyarakat terhadap Rocket Chicken boleh dibilang cukup menggembirakan. Rahasianya ternyata dari bumbu yang berasal dari rempah-rempah dan semuanya berasal dari Atik sendiri. Melalui waktu yang tidak sebentar, Rocket Chicken mulai dari kabupaten dan kota, kemudian merambah ke daerah provinsi seperti di Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Mungkin pepatah ini cocok menggambarkan perjalanan bisnis Atik. Dimulai dari seorang OB, Atik mampu membangun hidupnya menjadi pebisnis ayam goreng krispi dan pemilik waralaba. Dengan sistem ini, Atik mampu meningkatkan bisnisnya tanpa mengeluarkan modal sepeserpun. Bagi dia, awalnya semua berdasarkan kepercayaan saja. Kebanyakan mitra awal merupakan orang yang mengenal Atik secara pribadi dan yakin akan kemampuannya dalam berbisnis ayam goreng krispi. 

Setiap orang memiliki garis start yang berbeda saat awal berbisnis, ada yang sudah ada sokongan modal di awal, namun ada juga yang memulainya dari nol. Satu hal yang selalu ada di setiap resep orang sukses adalah konsistensi. Mereka fokus dan terus bekerja keras mencapai apa yang mereka impikan hingga akhirnya konsistensi ini terbayar lunas sehingga mereka memiliki hidup yang lebih baik. Atik selalu menekankan untuk menjalankan bisnis dengan kerja keras, tekun, dan jujur. Jika landasan itu dijalankan secara taat, maka usaha yang dijalankan akan membawa amanah bukan hanya bagi karyawan tapi juga pemilik bisnisnya. Dalam waktu dua tahun, Atik mampu memiliki 143 mitra kerja cabang Rocket Chicken yang tersebar di seluruh Indonesia. Sedangkan, pada tahun 2012, Atik menerima penghargaan Leader Market dari Menteri Perindustrian. Penghargaan ini dia raih berkat hasil jerih payahnya dalam membesarkan usaha bersama dengan tim. Hingga akhirnya, sekarang Rocket Chicken sudah tersedia di lebih dari 650 outlet.

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.