Tips Hidup Minimalis dengan Sedikit Barang

2

Rumah bukanlah museum yang harus kamu isi sebanyak mungkin koleksi barangmu. Tapi, rumah adalah tempat di mana kamu merasa nyaman dan bahagia.

Kali ini saya akan membahas buku Goodbye, Things karya Fumio Sasaki. Buku ini membahas soal perjalanan seorang biasa untuk menjalani gaya hidup minimalis. Fumio bukanlah ahli dalam hal minimalis, dia adalah orang biasa seperti kamu dan saya. Namun suatu hari, Fumio merasa lelah karena selalu membandingkan dirinya dengan orang lain dan memutuskan mengubah hidupnya dengan berpisah pada semua barang yang tidak dia butuhkan. Fumio pun telah melepaskan mindset lamanya kalau nilai seseorang berdasarkan dari berapa banyak barang yang dia miliki. Manusia pada dasarnya punya kecenderungan memiliki mindset ini, mereka punya pendapat tentang seseorang berdasarkan pendapatan mereka atau barang yang mereka miliki. Hal ini lalu menciptakan rasa iri dan lingkungan negatif. Itulah mengapa beberapa orang merasa gaya hidup minimalis adalah sebuah jawaban. Ketika kamu melepaskan dirimu dari keinginan untuk memiliki sebanyak-banyaknya harta duniawi, maka di saat itulah kamu akan merasa benar-benar bebas. Menariknya, karena ditulis oleh orang biasa, buku ini terasa lebih dekat dan sepertinya kita memahami apa yang Fumio rasakan karena dulunya dia juga merasakan apa yang kita rasakan. 

Saya merangkumnya menjadi tiga hal penting dari buku ini:

Kenapa kita punya banyak barang?
Sumber foto: pinterest.com

Kenapa kita punya banyak barang?

Pada dasarnya, setiap orang memulai dengan minimalis. Namun, seiring perjalanan hidup, jumlah barang yang kita miliki juga semakin banyak. Ditambah lagi, seringkali kita suka mengaitkan nilai diri kita dengan jumlah barang yang kita miliki. Fumio menceritakan pengalamannya. Dulu dia selalu membandingkan dirinya dengan orang lain yang memiliki sesuatu yang lebih banyak atau lebih baik. Hal ini yang membuat dirinya merasa sengsara. Fumio tidak tahu bagaimana membuat segalanya lebih baik. Bahkan parahnya lagi, dia tidak bisa fokus pada apa pun dan selalu membuang-buang waktu. Walaupun kondisinya seperti itu, dia tidak mencoba untuk berubah. Fumio pikir semua itu hanya bagian dari dirinya, dan dia pantas untuk tidak bahagia. Saat itu, pikirannya dipenuhi oleh hal yang negatif dan dia terjebak dalam pola pikirnya. Dan ketika barang-barangnya mulai menempati lebih banyak ruang, dia mulai merasa kewalahan, menghabiskan semua energi pada barang tersebut sambil tetap membenci dirinya sendiri karena tidak dapat memanfaatkan semuanya dengan baik. Namun, tidak peduli berapa banyak yang Fumio kumpulkan, perhatiannya masih terfokus pada hal-hal yang tidak dia miliki. Fumio masih cemburu pada hidup orang lain. Semua barang yang tidak dia miliki itulah yang menghalangi dirinya untuk merasakan kebahagiaan. 

Apa yang terjadi? Kenapa kita memiliki banyak barang yang tidak kita butuhkan? Apa tujuannya? Menurut Fumio, jawabannya sangat jelas. Kita berusaha untuk memberitahu orang lain tentang seberapa berharganya diri kita melalui barang yang kita miliki. Kita merasa barang yang kita kumpulkan dengan jerih payah merupakan cerminan dari kesuksesan hidup. Hasilnya, kita menghabiskan banyak waktu, energi, dan uang untuk mengumpulkan dan merawat semua barang tersebut. Hal ini tentu saja berbeda dari apa tujuan sebuah barang. Jika kita berhenti sejenak dan melihat kembali ke zaman batu. Pada zaman itu, setiap barang punya fungsinya dan bermakna bagi hidup. Namun, ketika dunia semakin makmur, barang telah berubah fungsi menjadi sebuah status. Pada akhirnya, kita ibaratnya menjadi budak atas barang yang kita miliki.

Perubahan setelah menjadi minimalis
Sumber foto: mindtransformations.com

Perubahan setelah menjadi minimalis

Ada kebahagiaan tersendiri saat kita memiliki barang yang lebih sedikit. Fumio menjalani hidup yang jauh berbeda dari pengkoleksi banyak barang menjadi orang yang menjalani gaya hidup minimalis. Dia berpisah hampir dengan semua barang yang dia miliki dan menariknya dia juga menemukan perubahan dalam proses tersebut. Sekarang, ketika Fumio telah berpisah dengan harta bendanya, dia tidak lagi membandingkan dirinya dengan orang lain. Padahal, dulu Fumio sering merasa malu ketika membandingkan apartemennya dengan rumah orang lain atau ketika temannya membeli barang yang mereka inginkan dan merasa iri hati. Namun semua ini jadi tidak bermakna lagi setelah dia sudah berpisah dengan dirinya yang lama, Fumio tidak lagi ikut dalam perlombaan tikus untuk membandingkan dan mengumpulkan sebanyak-banyaknya barang. Salah satu pencapaian terbesar Fumio adalah dia berhasil mengurangi jumlah barang yang ada di apartemennya hingga menjadi hanya 5% dari total barang sebelumnya. Perubahan lainnya yaitu, kegiatan sederhana seperti bangun pagi menjadi rutinitas yang menyenangkan, padahal dulunya Fumio sulit bangun pagi. Dia pun rutin membersihkan apartemennya setiap hari, mencuci baju ketika cuaca sedang bagus, dan merapikan tempat tidurnya. Fumio jadi menikmati rutinitas kegiatan merapikan rumah ini yang sebelumnya sangat jarang dia lakukan. 

Cara Fumio berbelanja juga sudah jauh berbeda. Jika barang dipilih dengan sangat baik dan benar-benar kita cintai, maka kita tidak akan butuh barang lebih banyak. Ada beberapa kualitas yang dipilih oleh Fumio saat membeli barang. Pertama, barang tersebut memiliki bentuk yang minimalis dan mudah dibersihkan. Kedua, warnanya yang tidak terlalu mencolok. Ketiga, dapat digunakan dalam waktu yang lama. Keempat, bentuknya yang ringan dan mudah disimpan. Kelima, memiliki multi fungsi. Menariknya, Fumio bahkan menggunakan sabun, shampoo, pencuci muka, dan deterjen dari satu produk yang sama. 

Memulai gaya hidup minimalis
Sumber foto: home-designing.com

Memulai gaya hidup minimalis

Untuk bisa memulai gaya hidup minimalis, penting kita harus punya mindset yang tepat, jangan punya pemikiran kalau kamu tidak bisa membuang atau menjual atau mendonasikan barangmu. Tentu saja, ini butuh keahlian sendiri dan tidak mudah berpisah dengan barang yang kita miliki. Namun, perlu kamu sadari, ketika kamu berpisah dengan barang yang kamu miliki, kamu akan mendapatkan hal yang lebih berharga yaitu kebebasan. Mulailah dengan bertanya dulu, kenapa kamu tidak bisa berpisah dengan barang tersebut? Apa yang membuatmu sangat berat untuk berpisah? Pada dasarnya, kita semua mampu berpisah dengan barang yang kita miliki, kita hanyalah kurang berpengalaman. Kita tidak terbiasa untuk berpisah dengan barang yang kita miliki, itulah yang harus dilatih. Fumio sendiri butuh waktu setahun hingga dia benar-benar menjalani gaya hidup minimalis. Sama halnya dengan kebiasaan atau keahlian lain, kamu tidak akan bisa menguasainya dalam semalam. Fumio bercerita pengalamannya. Di hari pertama, dia membuang semua sampah yang ada di apartemennya. Hari kedua, menjual buku dan CD yang dia miliki. Hari ketiga, menjual peralatan elektronik yang dia miliki mulai dari video game hingga TV. Hari keempat, menjual furnitur yang besar dan tidak bersifat multi fungsi atau mendonasikannya. Seminggu adalah waktu yang kamu butuhkan untuk berpisah dengan barang yang kamu miliki. Dari kegiatan ini yang penting adalah keputusan kamu untuk berubah. Semakin sering kamu melakukannya, maka kamu akan semakin ahli dalam berpisah dengan barang yang kamu miliki. 

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.