Tips Berdamai dengan Diri Sendiri

Ketika kita bersikap lebih baik kepada diri sendiri, maka kita baru bisa bersikap lebih baik kepada dunia.

Kali ini saya akan membahas buku Love for Imperfect Things karya Haemin Sunim. Buku ini membahas soal bagaimana kamu bisa menerima dirimu apa adanya di tengah perlombaan dunia yang mencari kesempurnaan. Banyak orang merespon tekanan hidup dengan berpaling ke dalam dan mengabaikan masalah, terkadang hal ini malah membuat kita cemas atau bahkan depresi. Sebagian lainnya bereaksi dengan bekerja lebih keras di kantor, di sekolah, atau di rumah, berharap semua hal ini akan membuat diri kita dan orang yang kita cintai lebih bahagia. Tetapi, bagaimana jika jawaban semua pencarian kita adalah dengan menjadi diri sendiri saja sudah cukup? Sama seperti ketika kita disarankan di pesawat untuk mengambil masker oksigen kita sendiri terlebih dahulu sebelum membantu orang lain, pertama-tama kita harus berdamai dengan diri kita sendiri sebelum kita bisa berdamai dengan dunia di sekitar kita. Pada dasarnya, kita tidak sempurna dan kita hidup di dunia yang tidak sempurna, tetapi kita harus mencoba dan menemukan hal baik dalam segala hal, karena itu ada di luar sana, jika kamu berhenti dan mencarinya. 

Saya merangkumnya menjadi tiga hal penting dari buku ini:

bernard-hermant-bbuTpY447gA-unsplash-scaled-oj7a6anlw0dd13ghg908ye224pq6h8ddh6djjaoazk

Sumber foto: thiswayhere.com

Menjalani hidup yang tidak sempurna

Saat kita mengamati hidup yang sedang dijalani, kita akan melihat banyak hal yang tidak sempurna, seperti misalnya debu yang ada di cermin tua. Ada banyak hal yang membuat kita merasa tidak puas dan tidak bahagia. Kalimat yang kita ucapkan seringkali berbeda dengan tindakan yang kita ambil, hubungan kita yang renggang akibat kesalahan kita, rencana terbaik kita untuk masa depan menjadi kacau, dan sebagainya. Selain itu, dalam perjalanan hidup, kita juga menorehkan berbagai luka pada orang lain, baik sengaja maupun tidak sengaja. Sebagai balasannya, hal ini menyebabkan kita merasa bersalah dan menyesal. Namun, meskipun kita menemukan banyak hal yang tidak sempurna dalam hidup, kita tidak bisa berhenti untuk mencintai hidup yang dimiliki. Hidup kita terlalu berharga jika dihabiskan untuk membenci hal yang tidak menarik bagi kita atau hal yang tidak kita pahami. Saat kita menjadi dewasa secara spiritual, kita secara alami mengembangkan lebih banyak empati dan mencoba melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain. Sebaliknya, pengalaman ini mengajarkan kita untuk menerima ketidaksempurnaan orang lain, dan juga pada diri kita sendiri, seperti seorang ibu yang mencintai anaknya apapun yang terjadi. 

Ada sebuah cerita yang menarik. Ketika kamu duduk di dalam pesawat, pasti sebelum penerbangan dimulai, akan ada penjelasan mengenai keselamatan penerbangan. Ketika dalam kondisi darurat, kamu diminta untuk memakai masker oksigen terlebih dahulu sebelum membantu orang lain, termasuk membantu anakmu sendiri untuk memakai masker oksigen. Apakah ini hal yang salah? Apakah menjadi egois untuk menjaga diri sendiri terlebih dahulu adalah hal yang salah? Perlu dipahami, hanya ketika kamu bahagia, maka kamu bisa membuat orang lain di sekelilingmu bahagia. Ketika kita bersikap lebih baik kepada diri sendiri, maka kita juga bersikap lebih baik kepada orang sekeliling. Haenim menekankan pentingnya, kita harus bisa merawat diri sendiri dengan baik. Bersikap baiklah pada dirimu sendiri dulu, baru kepada orang lain.

19BRODY_SPAN-tmagArticle

Sumber foto: well.blogs.nytimes.com

Membuat keputusan dalam hidup

Ada pepatah di Korea: “Pertimbangan yang lama sering kali mengarah pada keputusan yang buruk.” Jika kamu terlalu banyak berpikir dan khawatir sebelum melakukan sesuatu, “Perahu yang kamu tumpangi akan pergi ke gunung, bukan ke laut.” Ini adalah sebuah perumpamaan agar kamu tidak terlalu banyak berpikir dan sesekali perlu mempercayai intuisi dan terus maju ke arah yang menurut kamu tepat. Apa yang terjadi bila ada sebuah keputusan penting yang harus kamu ambil tapi kamu tidak yakin? Berhentilah sejenak dan dengarkan suara hatimu. Pergilah sejenak ke taman atau ke tempat yang indah, atau mungkin kamu bisa bertemu teman yang kamu percayai dan berdiskusi dengannya tentang apa yang kamu pikirkan. Tanpa kamu sadari, ternyata hati kamu jauh lebih bijaksana daripada pemikiranmu dan kamu sebenarnya sudah tahu jawabannya. Ketika pikiranmu bilang iya, tapi kok rasanya ada hal yang kurang pas ya, coba berikan waktu lebih dan jangan terburu-buru untuk memberikan jawaban. Ada kalanya intuisi lebih tepat daripada pemikiran yang rasional. Jika kamu memberikan waktu dirimu untuk mencari tahu kenapa kamu ragu, alasan itu akan terlihat semakin jelas. 

Apakah kamu pernah mengalami satu hari yang buruk? Capek seharian bekerja, diomelin bos, kemudian pas pulang ke rumah, masih saja banyak permintaan dari keluargamu. Semua hal ini membuat kamu menjadi mudah kesal dan marah. Jika hal itu terjadi, jangan buru-buru menyalahkan dirimu kalau emosi kamu tidak stabil. Melainkan, kamu berikan waktu untuk dirimu sendiri, pergilah ke tempat yang kamu sukai, jalan santai untuk menikmati suasana, atau mendengarkan lagu yang kamu sukai. Kesendirian ini akan membuatmu merasa dunia berhenti sejenak dan membantu untuk memperbaiki keselarasan dalam hidup.

Man-on-a-bike

Sumber foto: tinybuddha.com

Menjaga pikiran untuk bahagia

Pikiran yang berlebihan tidak akan menyelesaikan masalah. Daripada mencoba memperbaikinya dengan berpikir lebih keras, bagaimana kalau kamu menenangkan dirimu dulu? Tanpa kamu sadari, sebuah solusi akan muncul ke permukaan karena pada dasarnya, kebijaksanaan berasal dari keheningan. Di saat itu, kamu akan bisa membedakan antara hal yang dapat kamu kendalikan dan tidak bisa. Misalnya, masa lalu yang tidak bisa diulang. Kamu juga tidak bisa mengontrol apa yang orang lain pikirkan tentang kamu. Tetapi, kamu dapat mengontrol apa yang kamu lakukan sekarang. Kamu hanya bisa bebas dari rasa khawatir dan cemas, ketika kamu fokus untuk hidup saat ini. Ketika muncul emosi yang sulit seperti kesepian, kesedihan, dan ketakutan, hal paling berani yang dapat kamu lakukan adalah menghabiskan waktu dengan emosi tersebut. Daripada mencoba melarikan diri dengan menonton TV atau mengobrol dengan teman, perhatikanlah emosi itu dengan baik, perlahan-lahan emosi itu akan berubah bentuk dan menghilang, atau malah kamu akan melihat emosi itu sudah tidak menakutkan lagi.

Pada dasarnya, emosi itu seperti tamu yang tak diundang. Mereka datang kapanpun mereka mau dan pergi begitu kamu mengakui kehadiran mereka. Meskipun emosi lahir di dalam dirimu, jangan berasumsi kalau emosi itu adalah milikmu sendiri, itulah kenapa emosi jarang mendengarkanmu. Jika kamu ingin melepaskan sesuatu, terimalah apa adanya. Hanya ketika kamu sadar, kalau hal ini hanya akan membawa penderitaan, maka kamu baru bisa melepasnya. Bahkan jika kamu memiliki semua yang kamu inginkan, kamu tidak akan bahagia jika kamu selalu berusaha mencari yang lebih banyak atau lebih baik. Ingat, kebahagiaan hanya datang saat hati kita damai dan puas, serta saat kita belajar menghargai apa yang sudah kita miliki.

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.