Kisah Inspiratif Pendiri Sampoerna, Lim Seeng Tee

Membangun bisnis itu harus siap jatuh dan berusaha bangkit kembali. Kerja keras dan visi yang jelas membuat perusahaan tidak kehilangan arah harus bergerak kemana.

Kali ini saya akan membahas kisah inspiratif dari keluarga Sampoerna yang mampu menjaga kerajaan bisnis selama lebih dari 100 tahun.

Sejarah keluarga Sampoerna dimulai di China tempat kelahiran Liem Seeng Tee pada tahun 1893. Nantinya di kemudian hari, nama keluarganya yaitu Liem terpaksa harus diubah karena adanya anjuran dari pemerintah dan kemudian berubah menjadi Sampoerna. Seeng Tee lahir dalam kondisi ekonomi yang sulit. Pada tahun 1897, ibunya tiba-tiba meninggal dunia pada kondisi musim dingin. Ayahnya lalu memutuskan kalau mereka sekeluarga, Seeng Tee dan anak perempuannya meninggalkan China untuk mencari kehidupan yang lebih baik dan terbebas dari kemiskinan, perang, kemarau, dan kelaparan. Dari China, mereka sekeluarga lalu tiba di Penang melalui jalur laut via kapal. Namun sayangnya, kondisi di Penang juga tidak stabil dan tidak aman bagi para imigran. Mau tidak mau, mereka terpaksa harus meninggalkan Penang dan kembali naik kapal ke arah Selatan yaitu Jawa Timur. Namun sayangnya, uang ayahnya saat itu sudah habis dan tidak bisa membeli tiket kapal untuk mereka sekeluarga. Kondisi ini memaksa ayahnya untuk membuat keputusan sulit yaitu membiarkan anak perempuannya untuk diadopsi keluarga Hokkien yang ada di sana demi sejumlah uang agar ayah dan anak ini bisa melanjutkan perjalanan ke Jawa Timur. Sesampainya di pelabuhan Surabaya, mereka memulai hidup yang baru. Namun, enam bulan setelah mereka tiba di sana, ayahnya meninggal dunia karena terjangkit kolera. Sebagai pesan terakhirnya sebelum meninggal, ayahnya menitipkan Seeng Tee yang berumur lima tahun kepada keluarga Hokkien lokal sederhana yang tinggal di Bojonegoro.

Tinggal dalam keluarga asuh yang baru, Seeng Tee belajar banyak hal. Mulai dari belajar bahasa hokkien dan mandarin, selain itu, dia juga belajar soal sistem dagang yang diajarkan keluarga China melalui bisnis sederhana keluarga mereka yaitu usaha kecap. Ketika usianya sudah menginjak umur 11 tahun, Seeng Tee meninggalkan rumah orang tua asuhnya dan pergi bekerja di sebuah restoran kecil yang ada di Surabaya. Di sana, dia bekerja tanpa dibayar, namun diberikan kompensasi berupa makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Seeng Tee bekerja dengan giat selama di sana. Hingga suatu hari, Seeng Tee bilang ke bosnya kalau dia ingin berhenti dan mencari pekerjaan lain supaya mendapat upah. Boss-nya lalu melepasnya pergi dan memberikannya sedikit uang. Seeng Tee lalu menggunakan uang tersebut untuk membeli sepeda bekas dan mulai menjual arang di jalanan Surabaya. Dari situ, Seeng Tee lalu mencoba bisnis lain yaitu menjual makanan untuk penumpang kereta api. Selama 18 bulan tanpa sehari pun libur, Seeng Tee berpindah dari satu kereta ke kereta lainnya antara Surabaya dan Jakarta, dengan bungkusan yang berisi roti untuk dijual di bahu kiri dan bungkusan yang berisi baju dan barang miliknya di bahu sebelah kanan. 

Sumber foto: houseofsampoerna.museum

Seeng Tee pertama kali bersentuhan langsung dengan pembuatan rokok saat usianya 19 tahun. Waktu itu, dia baru menikah dan ada tawaran pekerjaan untuk meracik dan menggulung rokok dari sebuah pabrik rokok di Lamongan. Walaupun lokasi kerjanya sangat jauh dari tempat tinggal Seeng Tee di Surabaya dan harus bolak balik naik kereta, dia menjalaninya dengan sepenuh hati selama enam bulan. Di sana, Seeng Tee mendapatkan bayaran yang cukup tinggi dan belajar cara berdagang rokok. Seeng Tee dan istrinya lalu bahu membahu untuk menghidupi keluarga mereka. Istrinya membuka toko di depan rumahnya menjual bahan kebutuhan pokok, sedangkan Seeng Tee berkeliling dengan sepeda menawarkan rokok ke warung dan toko grosir. Pada tahun 1913, usaha kecil tersebut didirikan di bawah nama Handel Maatschappij Liem Seeng Tee. Ini merupakan awal dari bisnis keluarga yang akan bertahan lebih dari 100 tahun hingga sekarang. Perlahan-lahan usahanya terus meningkat karena cita rasa rokoknya yang unik dan beragam. Dari awal, Seeng Tee punya mimpi besar untuk jadi raja rokok. Dia terus bereksperimen dengan berbagai campuran dan saus hingga akhirnya berhasil menciptakan rokok Dji Sam Soe, yang akhirnya dikenal sebagai raja kretek di kemudian hari.

Pada tahun 1920, pelabuhan di Surabaya berkembang pesat dan Seeng Tee berhasil mendistribusikan produknya hingga ke seluruh penjuru kota. Suami istri bahu membahu untuk membesarkan usaha keluarga mereka. Istrinya bertugas untuk bekerja di toko dan Seeng Tee bertugas untuk keliling mencari sumber bahan baku yang cocok untuk campuran Dji Sam Soe. Pada tahun 1932, Seeng Tee membeli sebuah bangunan bekas panti asuhan milik Belanda dan diubah menjadi sebuah kompleks besar yang terdiri dari auditorium teater di tengah dan di sisi kiri dan kanan merupakan tempat tinggal keluarga dan pabrik. Kompleks ini dikenal dengan nama Taman Sampoerna. Ini merupakan mimpi dari Seeng Tee untuk tinggal dekat dengan pabrik agar dia bisa dengan mudah mengawasi setiap aspek bisnisnya dan anak laki-lakinya untuk belajar bisnis. Tradisi ini terus dipertahankan hingga 100 tahun kemudian, di mana tempat tinggal keluarga Sampoerna berada di lokasi yang sama di tempat operasional perusahaannya berada. 

Sumber foto: houseofsampoerna.museum

Pada tahun 1942, kerja keras keluarga Sampoerna yang dibangun puluhan tahun hancur dalam sehari saat tentara Jepang menyerang Surabaya dan kekuasaan telah beralih dari penjajahan Belanda ke penjajahan Jepang. Semua harta keluarga Sampoerna habis dirampas oleh tentara Jepang. Seeng Tee lalu dipenjara di kamp pengasingan. Tak lama kemudian, kedua anak laki-lakinya juga dipenjara di kamp pengasingan yang berbeda. Anaknya dituduh sebagai mata-mata pemerintah Belanda yang tentu saja tidak benar. Hingga akhirnya, pada tahun 1945, Seeng Tee baru bisa bebas dan berkumpul lagi bersama keluarganya di Taman Sampoerna saat Indonesia merdeka. Kondisi rumah dan pabriknya saat itu sungguh memprihatinkan. Beruntungnya, pada tahun 1949, Seeng Tee berhasil merenovasi Taman Sampoerna dan teaternya sehingga bisa mulai beroperasi. Pesanan Dji Sam Soe juga mulai meningkat. Ini merupakan awal kebangkitan bisnis keluarganya yang sempat hancur. Kerajaan bisnis Sampoerna lalu berlanjut ke anak keduanya yang bernama Swie Ling saat Seeng Tee meninggal pada tahun 1956. Walaupun secara tradisi biasanya bisnis keluarga dilanjutkan oleh anak pertama, namun kondisinya saat itu tidak memungkinkan. Karena anak pertama Seeng Tee sudah punya usaha sendiri dan secara keuangan lebih baik daripada Sampoerna. Jadi, di tangan Swie Ling atau nantinya berubah nama menjadi Aga Sampoerna akibat regulasi pemerintah, kondisi bisnis Sampoerna kembali bersinar berkat penguatan merek dari Dji Sam Soe. Hingga akhirnya pada tahun 1977, anak ketiganya yang bernama Putera Sampoerna masuk dalam jajaran direksi. Kontribusi Putera yang utama adalah modernisasi Sampoerna dari segi produksi hingga distribusi. Pada bagian produksi, dia berhasil meningkatkan kecepatan, keteraturan, dan kualitas dari sigaret kretek tangan. Sedangkan pada bagian distribusi, Putera membangun jaringan distribusi produknya secara mandiri dengan mendirikan anak perusahaan distribusi. Hal ini merupakan solusi dari berbagai masalah distribusi mulai dari pengantaran produk yang terlambat, barang rusak, hingga keengganan agen untuk mengambil produk baru dari Sampoerna. Perusahaan yang semakin besar membutuhkan modal yang besar sehingga Putera akhirnya memutuskan Sampoerna untuk masuk ke Bursa Efek Indonesia pada tahun 1990. Dana segar ini lalu digunakan untuk pengembangan bisnis Sampoerna ke depannya. Kerajaan bisnis ini lalu berlanjut ke generasi berikutnya. Pada tahun 2001, Michael Sampoerna yang merupakan generasi keempat menjabat sebagai direktur utama dan Putera menjabat sebagai presiden komisaris. Selanjutnya, pada tahun 2005, Putera membuat keputusan besar dengan menjual kepemilikan Sampoerna kepada Philip Morris International. Padahal saat itu, kondisi Sampoerna sedang sangat bersinar dan pangsa pasarnya secara nasional meningkat dari 18% hingga ke 25%. Namun, Putera merasa ini adalah keputusan yang tepat dan penjualan ini akan memberikan keluarga mereka kebebasan untuk diversifikasi investasi bisnis ke bidang yang lain di masa depan seperti agrikultur, properti, keuangan, dan infrastruktur.

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.