Mencintai Ketidaksempurnaan dalam Hidup

Hidup penuh dengan ketidaksempurnaan. Tidak ada yang perlu ditutupi atau dihindari, ketidaksempurnaan ini bisa menjadi keindahan yang hanya dimiliki oleh diri kita sendiri.

Kali ini saya akan membahas buku Kintsugi: Embrace your Imperfections and Find Happiness karya Tomas Navarro. Buku ini membahas bagaimana kamu bisa merangkul ketidaksempurnaan dalam hidup. Melalui sebuah seni kuno, Kintsugi master dari Jepang dengan hati-hati memperbaiki barang pecah belah yang rusak dengan perekat emas, sehingga perbaikannya sangat jelas terlihat oleh orang lain. Setiap orang pada dasarnya pasti merasakan penderitaan, namun kuncinya adalah bagaimana mengatasi permasalahan yang kita hadapi dan mengobati luka batin yang kita alami. Menariknya, kintsugi mengajarkan kita kalau tidak perlu malu dengan ketidaksempurnaan, melainkan kita harus dengan bangga menunjukkan ketidaksempurnaan tersebut sebagai bukti dari kekuatanmu.

Saya merangkumnya menjadi tiga hal penting dari buku ini:

Sumber foto: lifegate.com

Apa itu kintsugi?

Legenda mengatakan kalau praktek kintsugi di Jepang dimulai di akhir abad ke-15 ketika shogun Jepang bernama Ashikaga Yoshimasa memecahkan mangkok teh China favoritnya. Dia lalu mengirim mangkok teh-nya ke China untuk diperbaiki. Namun, pengrajin dari China memperbaikinya dengan staples logam yang jelek. Hal ini membuat Ashikaga kesal dengan hasil akhirnya. Kejadian ini lalu membuat pengrajin dari Jepang untuk mencari solusi perbaikan yang lebih estetik. Mereka lalu menggunakan emas cair untuk memperbaiki pecahan yang rusak, hasilnya tanpa diduga ternyata menjadi sebuah karya seni yang indah dan lebih baik dari produk originalnya. Praktek kerajinan tradisional Jepang ini menggunakan emas cair, perak cair atau pernis yang ditaburi bubuk emas. Bagian ini kemudian digunakan untuk menyatukan potongan-potongan barang pecah belah yang rusak dan pada saat yang sama menonjolkan bagian yang rusak dan membuatnya sangat terlihat. Menariknya, setiap barang pecah belah yang diperbaiki memiliki keindahannya masing-masing karena polanya yang tidak beraturan sehingga membuatnya menjadi sebuah seni yang indah. Kintsugi sendiri sebenarnya mengikuti filosofi Zen Jepang tentang wabi-sabi, yang menemukan keindahan bukan dalam standar kesempurnaan, melainkan dalam ketidaklengkapan. Hal ini berarti memiliki penghargaan yang tinggi terhadap sesuatu yang bersifat ketidaksempurnaan, kerusakan, dan asimetri. Filosofi yang mendasari kintsugi dan wabi-sabi adalah memahami bahwa pecah bukanlah akhir dari sebuah mangkuk keramik, melainkan momen penting dalam sejarahnya, karena bisa dibentuk menjadi mangkuk yang lebih indah dari bentuk aslinya. 

Perlu dipahami kalau dalam hidup, pasti ada penderitaan, ada hal yang tidak menyenangkan. Namun, kebanyakan orang cenderung menghindarinya atau berusaha menutupinya. Dengan berlatih tentang kintsugi, kita akan mulai berani mengambil resiko, kita tidak takut terluka di sepanjang jalan kehidupan, karena hal ini tentu saja tidak dapat dihindari. Seperti halnya sebuah mangkuk yang terbuat dari keramik, walaupun kamu memperlakukannya dengan penuh kehati-hatian, tetap saja ada kemungkinan kalau mangkuk tersebut bisa pecah dan itu mungkin berada di luar kendali kamu. Sama halnya dengan hidup, kadang di sepanjang kehidupan, kita kehilangan orang yang kita cintai, jatuh sakit, atau mengalami sebuah kejadian yang penuh trauma. Hal ini tentu saja sulit untuk kita ubah, jadi daripada kita berusaha untuk menghindarinya, bagaimana jika kita berusaha belajar untuk memperbaiki diri kita sendiri setelah menghadapi kejadian yang sulit.

Sumber foto: artvision360.com

Filosofi Kintsugi dan kehidupan

Ketika dihadapkan pada kenyataan hidup, setiap orang punya pilihan. Tomas memberikan sebuah cerita yang menarik. Ada dua orang sedang berjalan di sebuah hutan yang indah. Orang pertama menatap ke bawah dan hanya melihat batu di jalan yang dia jalani. Sedangkan orang kedua melihat ke atas, ke puncak pohon dan langit yang indah. Dua orang tersebut berada di hutan yang sama, berjalan di jalan yang sama, namun mereka berdua merasakan pengalaman yang berbeda. Sama halnya dengan menghadapi tantangan hidup. Ada orang yang memilih untuk menghindari masalah, namun ada orang yang realistis dan mempersiapkan dirinya untuk menghadapi masalah tersebut. Karena pada dasarnya, setiap orang pasti pernah mengalami masa-masa sulit sebelumnya, ketika kita berusaha merangkulnya dan menjadikan hal tersebut sebagai salah satu bagian terindah dalam hidup kita. Maka hal ini akan menjadi kekuatan dalam menjalani hidup.

Melalui kintsugi, kita akan belajar ketidaksempurnaan harus dirayakan atau ditonjolkan, bukan sesuatu yang harus ditutupi dan memalukan. Filosofi yang sama dapat kita terapkan dalam kehidupan. Kita semua tentu saja menginginkan kehidupan yang indah, penuh dengan kebahagiaan, kemakmuran, kesuksesan, dan tentunya kesempurnaan. Namun, kenyataannya tidak seindah itu, segala sesuatu tidak pernah mudah atau sempurna. Hidup itu penuh dengan kesuksesan dan kegagalan, meski terkadang dalam perjalanannya kita bisa merasa hancur, rusak dan tidak sempurna. Namun, jika kita melihatnya dari perspektif lain, sebenarnya pergumulan dan tantangan seperti itulah yang membuat hidup layak dijalani. Mengikuti filosofi kintsugi, kita akan belajar bagaimana menangani situasi yang tidak berjalan sesuai keinginan kita. Kita tidak boleh menyembunyikan atau mencegah pengalaman ini menjadi bagian dari diri kita. Sebaliknya, kita harus merangkul hal tersebut dan membiarkannya membuat kita menjadi pribadi yang lebih kuat. Hidup tidak akan pernah sempurna. Segalanya tidak berjalan sesuai rencana dan waktu kita di dunia ini penuh dengan lika-liku. Apa yang bisa kita lakukan adalah mengontrol bagaimana kita bereaksi terhadap perjuangan dan tantangan kita. Rangkullah ketidaksempurnaannya. Sadarilah bahwa mereka sama pentingnya dengan yang lainnya. Lagipula, tanpa rasa pahit, rasa manisnya tidak akan semanis itu.

Sumber foto: lifehack.org

Bertanggung jawab atas hidupmu

Dalam menghadapi masalah, kamu harus bisa mengambil alih kontrol atas hidupmu sendiri dan perasaan yang kamu miliki. Hal ini akan membantu kamu saat pemulihan dan membangun kepercayaan atas dirimu sendiri dan kemampuan yang kamu miliki. Nanti akan ada saatnya lagi, kamu belajar untuk menjalani hidup yang berbeda, bernafas dengan bebas, dan memilih arah hidup yang kamu inginkan. Itu adalah saat ketika kamu membangun hidupmu kembali. Ada kalanya kamu bisa melakukannya sendiri, namun ada saatnya juga kamu butuh bantuan orang lain. Apapun yang terjadi, lakukan apapun yang bisa membuatmu melepas beban yang kamu rasakan sekarang, nikmati pengalamannya, dan teruslah mencari. Hidup kamu tidak akan sembuh dengan sendirinya, namun semua tergantung dari apa aksi nyata yang kamu ambil. Tomas menekankan ini semua berakar pada kekuatan emosional. Perbedaan antara orang yang percaya diri dan bahagia dengan orang yang tidak, terletak pada kekuatan emosionalnya. Ini adalah kemampuan kita saat menghadapi masalah. Namun, jangan berkecil hati. Kemampuan ini bisa dipelajari. Salah satu caranya yaitu melihat masalah bukan sebagai masalah tapi sebagai tantangan. Tidak ada masalah, hanya situasi yang kurang mendukung saja. Jika kamu merasa masalah yang kamu hadapi sangat besar dan kamu kewalahan, maka hal ini akan mengurangi kemampuan kamu dalam menghadapinya. Namun, ketika kamu melihat masalah hidup hanya sebagai situasi yang kurang mendukung dan kamu melihat dirimu sebagai orang yang punya kemampuan untuk mengatasinya, maka semuanya akan berubah.

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.