Kisah Inspiratif Pendiri samsung

Di dunia ini tidak ada yang pasti dan beradaptasi adalah syarat untuk bertahan. Dari sebuah bisnis toko grosir, kini bisa menjelma menjadi perusahaan dengan teknologi termaju di dunia.

Kali ini saya akan membahas kisah inspiratif dari Samsung, perusahaan dari Korea Selatan yang merupakan salah satu produsen perangkat elektronik terbesar di dunia.

Apakah kamu tahu, bagaimana awal mula Samsung berdiri? Ada fakta yang sangat menarik. Samsung didirikan pada tahun 1938 oleh pengusaha asal Korea Selatan bernama Lee Byung-Chull. Saat pertama berdiri, Samsung merupakan toko grosir yang menjual mie, ikan kering, buah-buahan, dan sayuran. Bukan hanya menjual langsung kepada konsumen, Samsung juga melayani ekspor ke China. Lee berasal dari keluarga pemilik tanah yang kaya raya. Usaha ini didirikan oleh Lee setelah drop out dari kuliah. Bisnis berjalan lancar dan Lee membuka Samsung Mulsan yang sekarang dikenal sebagai Samsung Corporation pada tahun 1948. Namun sayangnya, kejayaan bisnis Lee hanya berlangsung singkat. Dia terpaksa harus meninggalkan perusahaannya di Seoul saat kota tersebut diserang oleh Korea Utara. Saat itu, Lee hampir kehilangan segalanya dan kisah Samsung hampir selesai. Setelah Perang Korea pada awal 1950-an, Lee memperluas bisnis perdagangan bahan makanan menjadi tekstil dan membuka pabrik wol terbesar di Korea. Pada saat itu, Korea adalah salah satu negara termiskin di dunia dan Lee membantu membangun kembali ekonomi negaranya dengan berfokus pada industrialisasi.

Dalam kondisi keuangan yang sulit, pemerintah Korea Selatan memutuskan untuk mendukung perusahaan domestik besar yang dimiliki oleh para konglomerat. Di kemudian hari, mereka akan dikenal sebagai chaebol yang merupakan perusahaan besar yang dikendalikan keluarga konglomerat di Korea Selatan yang ditandai dengan hubungan yang kuat dengan lembaga pemerintah. Mereka mendapatkan banyak kemudahan dalam berbisnis misalnya pembiayaan yang mudah dan dilindungi dari kompetisi. Samsung merupakan salah satu perusahaan Korea Selatan yang termasuk dalam chaebol sejak tahun 1960-an dan berhasil mengamankan beberapa pinjaman dan dukungan bisnis lainnya. Dukungan inilah yang akhirnya membantu Samsung dalam mendirikan bisnis peralatan elektronik pada tahun 1969. Produk pertamanya yaitu televisi hitam putih. Dari situ, peralatan elektroniknya berkembang menjadi kulkas, AC, dan kipas angin listrik. 

Sumber foto: techcrunch.com

Tidak butuh waktu lama bagi Lee untuk menyadari kalau permintaan yang meningkat untuk barang elektronik konsumen dari semua lini berpotensi menjadi sesuatu yang sangat besar bagi Samsung di masa mendatang. Namun, di sisi lain, Lee juga sadar kalau banyak komponen yang digunakan di dalam produk Samsung berasal dari luar negeri, khususnya dari Jepang. Inilah yang membuat Lee akhirnya memutuskan untuk masuk ke bisnis semikonduktor pada tahun 1974. Di masa depan, bahkan banyak iPhone yang diproduksi oleh Apple menggunakan memory chips dari Samsung. Walaupun Samsung sudah merambah ke bisnis elektronik, permasalahan utama saat itu adalah kualitas. Produknya dikenal sebagai barang murah, desain yang buruk, dan cepat rusak. Ini adalah masalah yang sangat serius. Lee punya mimpi Samsung Electronics menjadi raja dalam bisnis perangkat elektronik, namun apabila mereka tidak segera berubah, ini hanya akan menjadi mimpi belaka. Namun, pada tahun 1987, Byung-Chull Lee yang merupakan pendiri dari Samsung meninggal karena kanker paru-paru. Kerajaan bisnis ini lalu diteruskan oleh anak ketiganya yaitu, Kun-Hee Lee. Di tangannya, Samsung menjelma menjadi perusahaan kelas dunia. Pada tahun 1993, Kun-Hee Lee sangat geram atas kualitas produk Samsung yang buruk. Dia lalu mengumpulkan 200 eksekutif di Samsung dan memberikan pesan untuk mengubah segalanya kecuali istri dan anakmu. Peringatan keras dari Kun-Hee Lee memaksa para eksekutif untuk berubah dan Samsung menjalani transformasi besar-besaran. Dua tahun kemudian, Kun-hee Lee menjabat sebagai chairman dari Samsung dan melakukan hal kontroversial lainnya. Dia mengumpulkan 150,000 handphone di satu tempat dan membakarnya di depan 2,000 karyawan. Kejadian ini membuat banyak karyawan menangis, karena kerja kerasnya menjadi sia-sia. Dalam sehari, Samsung membakar produk senilai 50 juta dolar. Setelah itu, Kun-Hee Lee bilang ke karyawannya, kalau kalian masih membuat produk dengan kualitas rendah seperti ini, maka saya akan melakukan hal ini lagi. Mungkin kalau diterapkan di zaman sekarang, hal ini cukup kejam, namun pada masa itu, hal ini berhasil dan memotivasi semua orang. Kun-Hee Lee ingin menekankan kepada semua karyawan mereka betapa pentingnya memberikan produk terbaik bagi konsumen. Bukan hanya itu, Samsung juga berinvestasi dua kali lebih besar untuk bagian riset dan pengembangan produk untuk mencapai ambisi yang lebih besar lagi.

Pada tahun 2008, HTC Dream diluncurkan, ini merupakan smartphone android pertama. Samsung pun lalu bersiap untuk meluncurkan smartphone pertamanya yaitu Galaxy S Series pada tahun 2010. Smartphone ini bertujuan untuk bersaing dengan iPhone. Ini merupakan keputusan yang tepat dan menjadi langkah awal Samsung untuk merajai bisnis smartphone di dunia. Pada tahun 2011, Samsung kembali mengeluarkan terobosan yang unik yaitu Galaxy Note. Produk tersebut cukup unik karena memiliki stylus yang disebut sebagai S pen dan ukuran layar yang lebih besar dari ukuran layar smartphone pada masa itu yaitu 5.3 inch. Hal ini membuat banyak orang menyebut Galaxy Note sebagai phablet yang merupakan perpaduan antara smartphone dan tablet. Sebagai perbandingan, pada masa itu, ukuran layar iPhone adalah 3.5 inch dan ukuran layar Samsung Galaxy S2 adalah 4.3 inch. Karena ukuran layarnya yang sangat besar, banyak pengamat ragu kalau Galaxy Note bisa sukses di pasaran, mereka merasa ukuran layarnya terlalu besar bagi konsumen. Tapi, prediksi mereka meleset, siapa yang menyangka kalau Galaxy Note merupakan awal dari sebuah tren smartphone dengan layar yang besar. Tren ini bahkan memaksa Apple me-design ulang iPhone 5-nya pada tahun 2012 menjadi 4 inch dan selanjutnya iPhone 6 dan iPhone 6 plus dengan ukuran layar 4.7 inch dan 5.5 inch. Hingga akhirnya, smartphone era modern sudah familiar dengan ukuran layar yang besar. 

Sumber foto:entrepreneur.bisnis.com

Dalam strategi bisnis, Samsung memilih jalan yang berbeda dengan Apple. Ketika Apple fokus pada segmen smartphone premium, Samsung selalu berusaha untuk menawarkan produk untuk segmen konsumen yang beragam. Inilah yang membuat Samsung sangat sukses dan mampu merajai pasar smartphone dunia, khususnya di segmen pasar yang sensitif dengan harga. Contohnya begini, pada tahun 2018, merek smartphone dari China seperti Oppo, Xiaomi, RealMe, dan sebagainya mulai naik dan menargetkan pasar middle low. Samsung lalu memperkuat posisinya di segmen ini dengan meluncurkan Galaxy M series dan Galaxy A series. Sedangkan, untuk bersaing di pasar premium dengan Apple, Samsung mempertahankan posisinya dengan Galaxy S series. Menariknya, walaupun Samsung bukan perusahaan pertama yang mengeluarkan smartphone dengan operating system Android, namun Samsung berhasil menjadi juara pasar smartphone, berbeda nasib dengan HTC. Strategi Samsung yang selalu berinovasi dan beradaptasi sesuai tren menjadi kunci sukses dominasi Samsung di pasar smartphone.

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.