Kisah Inspiratif Ajik Krisna, Pemilik Krisna Oleh-Oleh Bali

ajik-krisna_cover-1

Nasib orang tidak ada yang tahu. Ajik telah membuktikan dengan kerja keras dan kegigihan, dari yang awalnya tukang cuci mobil sekarang bisa menjadi pengusaha sukses.

Kali ini saya akan membahas kisah inspiratif dari Gusti Ngurah Anom atau biasa dikenal dengan Ajik Krisna, pemilik dari toko Krisna, pusat oleh-oleh terbesar di Bali. 

Gusti Ngurah Anom atau dikenal dengan nama Ajik merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara. Dia berasal dari keluarga petani dan hidup sederhana di sebuah desa kecil bernama Tangguwisia, Buleleng, Bali. Ajik kecil boleh dibilang berbeda dengan para kakaknya. Dia dikenal sebagai anak yang hiperaktif, bandel, agresif, dan berwatak keras. Tidak jarang juga, Ajik sulit mengikuti aturan, mulai dari tidak pernah belajar di rumah atau mengerjakan PR hingga melawan guru. Beruntungnya, dia selalu naik kelas hingga SMP. Saat itu, Ajik punya cita-cita untuk bisa bekerja di industri perhotelan. Maklum saja, saat itu, bekerja di hotel merupakan salah satu profesi yang membanggakan dan dianggap menjanjikan. Namun, ketika SMA, ayahnya memanggil Ajik dan memberitahu kalau dia harus berhenti sekolah karena usia ayahnya sudah semakin tua dan tidak bisa lagi melanjutkan untuk mencari nafkah. Kenyataan ini membuat Ajik sangat marah dan terluka. Dia merasa masa depannya seolah tampak gelap dan mendapat perlakukan berbeda dari semua saudaranya yang lain. Kekecewaan ini lalu membuat Ajik pergi dari rumah dan naik truk ke Denpasar. Setelah sampai di sana, dia lalu melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki. Saat itu, dia tidak tahu harus ke mana dan harus melakukan apa, maklum saja, dia merantau ke Denpasar tanpa sanak keluarga. Setelah berjalan hingga puluhan kilometer, dia lalu berhenti sejenak karena kakinya yang sangat letih. Ajik berhenti di pos satpam Hotel Rani di Sanur. Di sana, dia beristirahat sebentar sambil berpikir masa depannya. Saat itu, dia dalam kondisi lapar dan mulai berpikir apa yang bisa dia lakukan. Ajik pun lalu memungut sampah dan membersihkan halaman taman di sekitar gardu pos. Dia tidak berharap banyak, dia hanya ingin agar kehadirannya di sana dianggap bermanfaat dan berguna sehingga siapa tahu nantinya akan ada kesempatan. 

Sumber foto: krisnabali.co.id

Nasib baik lalu menghampiri Ajik, perbuatannya saat itu tanpa sengaja dilihat oleh pemilik hotel Rani dan menghampirinya. Ajik pun lalu memperkenalkan diri dan menceritakan kisah perantauannya dari Buleleng hingga tiba di Sanur. Pemilik hotel Rani lalu memberikan kesempatan kepada Ajik. Dia pun berusaha menjaga kepercayaannya dengan bertugas untuk menjaga keamanan dan kebersihan di sekitar pos satpam. Sebagai gantinya, Ajik diizinkan untuk tinggal menumpang di pos satpam. Ini merupakan momen yang melegakan bagi Ajik, dia tidak perlu bingung lagi harus tinggal di mana. Keesokan harinya, tanpa disuruh, Ajik lalu mencuci mobil pemilik hotel Rani sampai bersih. Tidak berhenti sampai di sana, dia pun lalu menawarkan jasa cuci mobil kepada para tamu pemilik mobil sebelum mereka berangkat untuk wisata. Pekerjaan ini menghasilkan uang yang cukup lumayan buat Ajik sekitar 2,000 hingga 5,000 rupiah per hari. Jumlah saat itu tergolong besar mengingat harga sebungkus nasi lauk dan kopi hanya 75 rupiah. Ajik pun semakin bersemangat dan giat bekerja, saat itu, bukan hanya di hotel Rani saja, namun dia juga menawarkan jasanya ke hotel lain yang ada di sekitar hotel Rani. Pekerjaan ini terus dijalankan oleh Ajik dengan semangat selama dua tahun. Hingga suatu hari, dia terpaksa harus berhenti mencuci mobil karena fisiknya tidak mampu lagi. Ajik terkena serangan rematik akut akibat terlalu lama bergumul dengan air. Dalam kondisi sakit dan menganggur, dia lalu menumpang di rumah pamannya, yang merupakan pengusaha konveksi kecil-kecilan. Saat masih tinggal di pos satpam, Ajik sering mampir ke rumah pamannya karena di sana ada teman masa kecilnya dulu yaitu Ketut Mastrining, gadis yang membuat Ajik jatuh cinta.

Saat tinggal bersama pamannya, Ajik ikhlas bekerja tanpa dibayar. Waktu itu, diberikan tempat tinggal dan bisa bertemu Mastrining sudah membuat dia bahagia. Namun, gadis itu selalu menolak Ajik, maklum saja, Mastrining masih ingat kalau Ajik adalah anak yang nakal saat sekolah dan ketika bertemu lagi, kondisi Ajik merupakan pemuda yang luntang lantung tanpa masa depan yang jelas. Kenyataan ini membuat dia geram dan bertekad untuk berusaha keras merubah nasibnya. Ajik pun lalu memberanikan diri untuk mendatangi Sidharta yang merupakan pemilik konveksi besar dan seringkali memberikan pesanan untuk pamannya. Saat bertemu Sidharta, Ajik pun menunjukkan kesungguhannya kalau dia adalah pria yang pekerja keras. Melihat kesungguhannya, Sidharta lalu memberi dia kesempatan untuk bekerja menjadi pegawainya. Tugas pertama Ajik di sana yaitu mengambil dan mengantar keperluan jahitan. Kerja keras Ajik pun terbayarkan, dia menjadi salah satu pegawai kepercayaan dari Sidharta dan seringkali diberikan motivasi dan arahan olehnya. Inilah yang kemudian menambah wawasan Ajik dan mempunya pemikiran yang lebih luas jauh daripada orang lain seusianya. 

Sumber foto: krisnabali.co.id

Setelah berhasil menikah dengan Mastrining, Ajik pun lalu membuka usaha konveksi sendiri. Perlahan-lahan usaha konveksinya mulai berkembang dan menerima pesanan dari pabrik garmen, kantor, serta hotel. Hingga akhirnya, dia berhasil pindah ke tempat yang lebih besar lagi pada awal tahun 1990-an. Kesuksesan ini tidak membuat Ajik cepat puas, dia pun lalu melirik pasar yang lebih luas. Pada tahun 1992, Ajik membuka toko baju dengan merek dagang Cok Konfeksi yang berlokasi di area Gedung Art Centre sebagai pusat kegiatan seni dan budaya Bali. Ajik pun gesit dalam membangun jaringan kerja dan menggali pesanan dari berbagai lini pangsa pasar. Tak lama kemudian, Cok Konfeksi berhasil menjadi salah satu industri besar di Bali. Dari bisnis konveksi, Ajik pun melanjutkan ekspansi usahanya. Kali ini, dia punya ide cemerlang dengan melihat adanya peluang dari jumlah wisatawan yang semakin banyak di Bali. Dalam benaknya, Ajik punya niat untuk membangun sentra oleh-oleh yang menyediakan semua pernak-pernik khas Bali, mulai dari cemilan, kaos anak-anak dan dewasa, batik, aksesoris, kerajinan kayu, dan sebagainya. 

Hingga akhirnya, pada tahun 2007, Ajik berhasil membuka pusat oleh-oleh bernama Krisna Oleh-Oleh Khas Bali di Nusa Indah, Denpasar. Dia juga punya ide lain yaitu merintis sendiri produksi kaos dengan karikatur unik sebagai cinderamata khusus Bali. Ternyata, intuisi bisnisnya tepat. Kaos khas Bali-nya sangat diminati oleh para wisatawan ditambah lagi jenis barang yang dijual di Krisna Oleh-Oleh Khas Bali cukup lengkap, sehingga para wisatawan makin betah belanja disana. Selain itu, lokasinya yang mudah dijangkau dan harga yang bersaing merupakan poin penting lain yang mendorong banyak wisatawan berbelanja di sana. Belajar dari pengalaman yang pertama, kali ini Ajik mempersiapkan outlet kedua Krisna Oleh-Oleh Khas Bali dengan lebih serius. Dia menggandeng rekanan pemilik properti di kawasan Nusa Kembangan, Denpasar. Di sini, Ajik sudah mempersiapkannya dengan lebih matang, mulai dari area parkir yang luas, sarana belanja yang lapang, hingga sebuah rumah makan yang sudah dikonsep dengan baik. Hingga akhirnya, pada tahun 2008, berdirilah outlet kedua Krisna Oleh-Oleh Khas Bali di Nusa Kembangan. Di balik kepopuleran nama Krisna Oleh-Oleh Khas Bali, Ajik bekerja keras untuk membangun bisnisnya di belakang layar. Dia menjalin kerjasama yang baik dengan para pelaku pariwisata, mulai dari biro perjalanan, Himpunan Pramuwisata Indonesia, hingga pengemudi jasa angkutan wisata, taksi, dan sebagainya. Hingga akhirnya, Krisna Oleh-Oleh Bali sudah tersedia di 10 outlet yang tersebar di Bali, Surabaya, dan Jakarta. Kesuksesan ini tidak membuat Ajik berpuas diri. Krisna yang awalnya hanya merupakan toko oleh-oleh khas Bali, telah bertransformasi ke berbagai lini bisnis, mulai dari restoran, wahana wisata, hingga properti. 

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.