21 Lessons for the 21st Century book review

2-7

Dunia masa depan butuh pola pikir yang berbeda. Apa yang kita pelajari saat ini, dalam 20 hingga 50 tahun ke depan, mungkin sudah tidak relevan lagi.

Kali ini saya akan membahas buku 21 Lessons for the 21st Century karya Yuval Noah Harari. Buku ini membahas soal masa depan umat manusia dan apa yang bisa dipelajari dari abad ke-21. Pemikiran manusia cenderung suka untuk cemas akan hal masa depan. Tentu saja, di masa kini, kita melihat banyak masalah dunia yang cukup mencemaskan seperti terorisme, perubahan iklim, perkembangan AI, ancaman terhadap keamanan data pribadi, hingga penurunan kerjasama di tingkat internasional. Di tengah semua perubahan yang sangat cepat, kita perlu kritis dan bertanya soal pertanyaan yang tepat. 

Saya merangkumnya menjadi tiga hal penting dari buku ini:

Perubahan dunia yang sangat cepat
Sumber foto: blog.oup.com

Perubahan dunia yang sangat cepat

Umat manusia menjalani perkembangan revolusi yang sangat cepat. Apakah kita bisa memprediksi dunia akan seperti apa pada tahun 2050 atau bahkan pada tahun 2100? Tentu saja, sepanjang sejarah, manusia bukan makhluk yang pandai meramal masa depan. Namun, di masa kini, hal ini menjadi lebih sulit lagi karena perkembangan teknologi yang jauh lebih cepat. Contohnya seperti ini, pada tahun 1018, masyarakat pada masa itu, tentu saja tidak tahu masa depan seperti apa, namun mereka yakin kehidupan mereka secara fundamental tidak berubah. Jika kamu tinggal di China pada tahun 1018, kamu mungkin tidak tahu kalau pada tahun 1050 Dinasti Song akan jatuh dan wabah akan membunuh jutaan orang. Namun tentu saja, kamu tahu kalau pada tahun 1050, mayoritas orang masih jadi petani, penguasa banyak membutuhkan manusia sebagai prajurit dan birokrat, dan sebagainya. Hal ini membuat orang tua pada tahun 1018 masih mengajarkan anak mereka hal yang sama. Jika mereka terlahir dalam keluarga miskin, maka orang tuanya akan mengajarkan mereka bertani atau menenun sutra. Sedangkan, bagi keluarga kaya, maka orang tuanya akan mengajarkan anaknya membaca ajaran konfusius, menulis kaligrafi, dan menunggang kuda. Orang tua mereka masih yakin kalau keahlian ini masih akan berguna pada tahun 1050. Zaman sekarang, semua hal ini 180 derajat berbeda. Kita tidak tahu bagaimana China atau negara di dunia lain seperti apa. Kita tidak tahu hidup kita seperti apa ke depannya. Mungkin saja, beberapa orang hidup lebih panjang daripada ekspektasi hidup masa kini. Mungkin saja, tubuh manusia akan menjalani bioengineering dan sebagainya. 

Pertanyaan berikutnya, apakah kita harus bergantung pada teknologi? Teknologi bisa membuat hidupmu jauh lebih mudah. Namun di sisi lain, ketergantungan pada teknologi malah menyandera hidup yang kamu jalani. Contohnya begini, coba kamu lihat betapa banyak orang yang sibuk melihat layar handphone mereka daripada melakukan aktivitas yang lebih penting. Apakah mereka yang mengontrol teknologi, atau malah sebaliknya, teknologi yang mengontrol mereka? Kita tidak bisa bilang kalau teknologi itu buruk, namun ketika kamu menggunakan teknologi, kamu harus tahu apa yang kamu mau, maka teknologi dapat membantu kamu. Jika kamu tidak tahu, maka akan dengan mudah teknologi yang mengontrol hidup yang kamu jalani. 

Sistem edukasi yang berubah
Sumber foto: digitallearning.eletsonline.com

Sistem edukasi yang berubah

Perkembangan teknologi yang pesat juga mengubah bagaimana sistem edukasi di sekolah. Di masa kini, banyak sekolah bertujuan memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada setiap murid. Jika hal ini dilakukan masa lalu, maka masuk akal karena di masa lalu, informasi sangat terbatas. Contohnya begini, jika kamu tinggal di kota kecil di Meksiko pada tahun 1800, maka tentu saja kamu kesulitan mendapatkan informasi tentang dunia luar. Saat itu, tidak ada radio, televisi, koran, atau perpustakaan umum. Kerajaan Spanyol pada masa itu secara ketat melakukan sensor pada semua hal yang dipublikasikan. Hal yang sama juga terjadi di Rusia, India, Turki, atau China. Sebaliknya, di abad ke-21 di mana informasi sangat sulit untuk disensor. Orang yang tinggal di daerah terpencil, dengan akses internet, mampu belajar banyak hal, mulai dari membaca Wikipedia, menonton Channel Si Kutu Buku, hingga mengambil kelas online. Jadi, sistem edukasi harus berubah, tidak lagi berusaha untuk memberikan informasi kepada murid sebanyak-banyaknya, tapi mengajarkan mereka cara menggunakan informasi tersebut, membedakan mana informasi yang penting atau tidak, hingga bagaimana menghubungkan banyaknya informasi menjadi sebuah gambaran besar. 

Selain informasi yang terlalu banyak, hal lain yang harus berubah adalah penekanan pada kemampuan teknis. Kebanyakan sekolah fokus mempersiapkan muridnya pada keahlian teknis seperti menyelesaikan soal matematika yang rumit, menulis kode komputer, belajar bahasa asing, dan sebagainya. Namun, karena kita tidak tahu tahun 2050 seperti apa, kita tidak pernah tahu keahlian teknis apa yang harus dikuasai. Coba bayangkan, jika kita terlalu banyak mengajarkan murid untuk menulis kode komputer, tapi ternyata pada tahun 2050 ada AI yang mampu menulis kode komputer jauh lebih hebat daripada manusia. Hal ini lalu membawa kita pada pertanyaan, apa yang harus diajarkan kepada para murid? Banyak ahli yang memberikan saran kalau sekolah harus lebih fokus pada keahlian hidup yang umum daripada kemampuan teknis. Sederhananya ada empat keahlian utama yaitu berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan kreativitas. Bukan hanya itu, kemampuan masa depan yang paling penting adalah kemampuan untuk beradaptasi pada lingkungan yang cepat berubah dan situasi yang tidak pasti.

Terorisme dan ketakutan manusia
Sumber foto: istockphoto.com

Terorisme dan ketakutan manusia

Teroris adalah seorang yang ahli dalam mengontrol pikiran manusia. Mereka membunuh orang dengan jumlah yang sedikit dibandingkan hal lain, namun mampu menciptakan teror untuk menakuti jutaan orang di dunia termasuk negara di Uni Eropa dan Amerika Serikat. Sejak peristiwa 9/11, setiap tahunnya, teroris membunuh sekitar 50 orang di Uni Eropa, sekitar 10 orang di Amerika Serikat, sekitar 7 orang di China, dan 25,000 secara global, kebanyakan di Irak, Afganistan, Pakistan, Nigeria, dan Syria. Sebaliknya, kecelakaan lalu lintas membunuh 80,000 orang Eropa, 40,000 orang Amerika, 270,000 orang China, dan 1.25 juta orang di dunia. Sama halnya juga dengan diabetes dan tekanan gula darah tinggi yang membunuh 7 juta orang. Jadi, kenapa rasa takut kita lebih besar kepada terorisme daripada dengan gula? Kenapa pemerintah memberikan tindakan tegas kepada terorisme daripada memerangi tekanan gula darah tinggi? Ada perspektif yang menarik. Terorisme itu ibarat sebuah lalat yang menghancurkan sebuah toko yang berisi barang pecah belah. Lalat itu sangat lemah dan tidak mampu menghancurkan toko tersebut. Namun, ternyata dia bisa. Apa yang lalat itu lakukan? Lalat itu ternyata mencari seekor banteng dan berdengung di telinganya. Kejadian ini membuat bantengnya marah, menjadi liar, dan menghancurkan toko yang berisi barang pecah belah. Lalat dan banteng itu adalah analogi teroris dan pemerintah. Inilah yang menggambarkan banyak negara adidaya melakukan agresi militer untuk menenangkan rasa takut jutaan warga di negaranya. 

Dalam menghadapi teror yang dijalankan oleh teroris, Harari memberikan beberapa tips yang mungkin berguna. Pertama, dalam menghadapi terorisme, lebih baik pemerintah fokus pada aksi senyap memberantas jaringan terorisme. Hal ini untuk mencegah informasi yang berlebihan. Kedua, media juga berperan untuk menyiarkan fakta sewajarnya. Pemberitaan yang terlalu masif malah menciptakan teror di masyarakat, padahal banyak hal lain yang lebih menakutkan seperti diabetes atau dampak perubahan iklim. Namun, tentu saja hal tersebut kurang menarik. Ketiga, setiap orang juga harus ikut berperan. Seperti yang sudah dijelaskan di awal, teroris ahli dalam memanipulasi ketakutan dalam diri manusia. Maka, ini juga merupakan tanggung jawab setiap orang untuk memahami seberapa bahayanya terorisme.

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.