Harsh Dalal, ANak Muda 19 Tahun yang Jadi CEO Perusahaan Senilai 25 Juta Dollar

harsh-dalal_cover-1

Usia muda seringkali diremehkan oleh orang yang lebih tua. Jangan jadikan ini sebagai alasan kamu untuk berhenti melakukan apa yang kamu sukai.

Kali ini saya akan membahas kisah inspiratif dari Harsh Dalal, seorang remaja berumur 19 tahun yang menjadi CEO dari bisnis startup senilai 25 juta dolar di Singapura.

Harsh Dalal bersama keluarganya pindah dari India ke Singapura saat dia berusia enam tahun. Harsh tumbuh besar berpindah-pindah dari satu flat ke flat lainnya hingga keluarganya membeli sebuah apartemen. Setiap kali pindah rumah, dia kehilangan teman lamanya. Ditambah lagi, Harsh merupakan anak yang boleh dibilang cukup pemalu dan sulit mencari teman baru. Jadi, alih-alih berada di taman bermain, Harsh banyak menghabiskan waktu di rumah di depan laptop. Dia pertama kali mulai coding ketika usianya 11 tahun. Bosan dengan handphone Android-nya yang hanya berisi satu game saja, Harsh berusaha untuk meretas handphone-nya walaupun gagal untuk menginstall operating system baru untuk mendownload game lebih banyak. Setelah dia lulus sekolah dasar, ibunya memberikan dia hadiah berupa iPhone 4. Kali ini, dia berhasil melakukan jailbreak berkat waktu berjam-jam menonton tutorial di Youtube. Pengalaman ini lalu membuat Harsh sangat tertarik dengan sistem dari Apple. Dia pun lalu berusaha mencari informasi lebih lanjut di forum Apple developer dan berteman dengan empat remaja asing yang berusia 14 hingga 17 tahun, berasal dari negara yang berbeda yaitu Amerika Serikat, Rusia, Norwegia, dan Singapura. Karena membahas soal jailbreak, dia pun lalu di-banned dari Apple developer karena hal itu tidak diperbolehkan. Beruntungnya, Harsh menyimpan email teman barunya tersebut sebelum akhirnya mereka di-banned dari forum tersebut. 

Saat berumur 13 tahun, Harsh tidak pernah menyangka kalau aplikasi perekam layar smartphone yang dibuat bersama empat temannya bisa viral. Ide ini berasal dari pengamatan mereka kalau banyak remaja ingin merekam layar iPhone mereka, namun saat itu belum ada aplikasi perekam layar yang bisa digunakan di iPhone yang tidak di-jailbreak. Inilah yang ternyata membuat aplikasinya meledak. Dalam beberapa minggu pertama, aplikasinya diunduh lebih dari lima juta kali. Meskipun viral, ternyata mereka tidak mendapatkan keuntungan sepeserpun. Ini adalah peluang yang terlewatkan, karena mereka tidak tahu caranya melakukan monetisasi aplikasi tersebut. Saat itu, mereka tidak menaruh aplikasinya ke dalam App Store karena tidak sanggup membayar biaya tahunannya sebesar 99 USD. Jadi, mereka hanya meng-upload aplikasinya di hosting provider gratisan. Ternyata, 5 juta unduhan langsung bikin jebol bandwith hosting provider gratisan itu. Harsh dan timnya kaget dan tidak menyangka proyek pertama mereka bisa sesukses itu. Walaupun begitu, kesuksesan mereka ternyata memberikan jalan untuk mulai berwirausaha. Pengalaman ini menunjukkan kalau mereka bisa melakukan hal besar tanpa harus menjadi dewasa dulu. 

Sumber foto: gettingsmart.com

Setelah menciptakan aplikasi perekam layar, Harsh lalu menciptakan alternatif app store bernama iDownload Pro. Di sana, para developer bisa meng-upload aplikasi buatan mereka yang ditolak di App Store. Jadi, ini semacam tandingan dari App Store. Walaupun sudah diunduh lebih dari 3 juta kali, mereka akhirnya menutup iDownload Pro pada tahun 2015, karena biaya operasional yang terlalu besar. Tantangan lainnya juga berasal dari Apple yang saat itu gencar menutup app store tidak resmi. Harsh dan rekan bisnisnya lalu mulai menawarkan jasa pembuatan software dan website mulai dari $99. Jasa tersebut ditawarkan melalui website mereka dan Google Ads. Karena usianya yang terlalu muda, akhirnya salah satu remaja tersebut berhasil menyakinkan ayahnya untuk mendirikan perusahaan mereka di UK dan klien pertama mereka membayar $299 untuk pembuatan website. Harsh dan rekannya harus memasang tarif yang murah karena persaingan yang sangat ketat. Saat itu, margin keuntungan perusahaannya boleh dibilang hampir tidak ada. Harsh mengibaratkan, jika dia memilih untuk bekerja di McDonalds dengan jumlah jam yang sama, mungkin dia akan mendapatkan uang yang lebih banyak.

Kerja keras mereka akhirnya terbayarkan. Mereka berhasil menang tender dari sebuah proyek senilai $100,000 untuk membuat aplikasi marketing untuk sebuah perusahaan multinasional. Mereka berlima lalu mengambil masing-masing $10,000 dan menaruh sisanya ke dalam kas perusahaan. Saat itu usia Harsh baru 16 tahun dan dia tidak pernah melihat begitu banyak angka nol di tabungannya selama dia hidup. Seperti kebanyakan remaja, dia juga menghabiskan uangnya ke permainan komputer. Selain itu, Harsh juga membeli tiga bitcoin masing-masing seharga $400 dan di kemudian hari dijualnya untuk mendapatkan keuntungan lima digit dan diinvestasikan lagi ke dalam perusahaannya. Harsh boleh dibilang menjalani dua kehidupan yang berbeda. Di satu sisi, dia adalah seorang murid, di sisi lain dia adalah founder dari sebuah startup. Kesibukannya yang sangat menumpuk membuat Harsh kesulitan untuk menjaga hubungan pertemanan. Sangat sulit bagi dia untuk bisa meluangkan waktu bersama teman, seperti kebanyakan anak seusianya. 

Sumber foto: teamlabs.io

Walaupun bisnisnya berjalan lancar dan menghasilkan uang yang lumayan banyak, Harsh tidak suka diperintah oleh klien. Maklum saja, saat itu, perusahaannya merupakan software dan website developer, jadi klien adalah raja dan kepuasan klien merupakan hal nomor satu. Harsh merasa dirinya dikekang dan tidak ada kebebasan sama sekali. Pada tahun 2017, dia memutuskan untuk merubah arah perusahaannya menjadi fokus pada pengembangan software. Awalnya, Harsh dan tim sedang menciptakan tool internal untuk dipakai karyawannya untuk berkolaborasi dengan lebih baik, karena saat itu karyawannya tersebar di berbagai negara dan di zona waktu yang berbeda. Pengalaman ini membawa mereka untuk menciptakan platform software pertamanya yang bernama Xenon. Jadi, ini adalah platform yang membantu developer untuk berkolaborasi dan telah memiliki jumlah pengguna mencapai lebih dari 70,000. Untuk bisa mewujudkan ambisinya dalam merubah arah perusahaan, Harsh harus mendapatkan pendanaan untuk mendukung perkembangan perusahaannya. Dia pun mengirimkan ratusan email kepada venture capitalist. Namun, hanya sebagian kecil memberikan respon. Salah satu venture capitalist bahkan bilang kalau Harsh terlalu muda untuk perusahaannya bisa dipertimbangkan dalam hal pendanaan. Kenyataan ini sangat membuatnya sedih. Walaupun begitu, Harsh tidak menyerah. Hingga suatu hari, dia mendapatkan telepon dari sebuah perusahaan penanam modal dari Amerika Serikat. Saat itu ada kejadian yang cukup menarik. Jadi, Harsh ditanyakan soal berapa annual recurring revenue dari perusahaannya? Ini adalah salah satu metrik yang disukai oleh para investor, karena berarti ada pendapatan rutin yang diterima oleh perusahaan tersebut. Saat itu, dia tidak tahu apa itu annual recurring revenue, tapi supaya calon investornya tidak ilfil, Harsh lalu pura-pura ada kendala teknis. Padahal, di waktu yang bersamaan, dia sedang googling dan mencari tahu pengertian dari annual recurring revenue. Maklum saja, dia hanya remaja biasa dan belum berpengalaman. Pada saat itu, Harsh berhasil mengumpulkan 9,8 juta dolar dalam pendanaan seri A perusahaannya. 

Saat ini, Harsh merupakan CEO dari perusahaannya bernama Team Labs dengan jumlah karyawan mencapai 120 orang dan tersebar di delapan kota dari negara yang berbeda. Startup pengembangan software-nya berhasil menggaet banyak perusahaan besar seperti Coca-Cola, Google, dan Hilton. 

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.