Review Buku Everything is F*cked Bahasa Indonesia

Harapan memberikan orang semangat untuk menjalani masa sulit, namun harapan juga yang membuat seseorang depresi atau cemas. Itulah sebabnya, kita harus melihat harapan dengan lebih bijaksana dan menjalani hidup apa adanya.

Kali ini saya akan membahas buku Everything is F*cked karya Mark Manson. Buku ini membahas soal pendekatan kita yang kurang tepat soal hidup bahagia. Setiap orang pada dasarnya punya harapan. Berharap hidup sukses. Berharap kesempatan kedua. Atau hanya berharap bisa makan besok. Tidak peduli apapun kondisi yang kita jalani, kita semua berharap hidup yang lebih baik. Namun sayangnya, cara kita melihat sebuah harapan, cenderung kurang tepat. Bagaimana jika hidup yang kita jalani malah tidak bisa mencapai impian tersebut? Kita hidup dalam dunia yang cenderung jauh lebih baik daripada generasi sebelumnya, jumlah perang yang sedikit, makanan cenderung berlimpah, dan sebagainya. Walaupun begitu, tingkat kecemasan dan depresi semakin meningkat. Manson berargumen, semua hal ini ada kaitannya dengan harapan, bagaimana kita menghubungkan harapan dengan masa depan yang sulit dicapai. 

Saya merangkumnya menjadi tiga hal penting dari buku ini:

Apa itu harapan?
Sumber foto: psiloveyou.xyz

Apa itu harapan?

Ada sebuah kenyataan tidak menyenangkan. Kamu dan semua orang yang kamu kenal suatu hari akan meninggal. Semua hal yang sedang kamu pikirkan dan pusingkan, dalam cakupan yang lebih luas, cenderung tidak berarti. Ini adalah kenyataan dalam hidup. Namun, tidak semua orang menyadarinya dan mereka perlu diingatkan. Namun, bukan berarti jika semua hal pada akhirnya tidak berarti, maka kita tidak perlu melakukan apapun, ini juga tidak benar. Sepanjang zaman, harapan selalu menjadi pendorong bagi banyak orang untuk menjalani hidup dan bertahan dalam kondisi sulit. Entah itu untuk masa depan kita sendiri, orang lain, atau orang sekitar kita, harapan adalah dorongan kuat bagi manusia. Sebagai contoh, Witold Pilecki. Dia merupakan anggota militer Polandia. Selama hidupnya, dia punya satu harapan besar yaitu kemerdekaan Polandia. Harapan itu mendorong dia untuk mendaftar sebagai anggota gerakan perlawanan dan bahkan dia menjadi sukarelawan agar ditangkap oleh pasukan Nazi untuk bisa membebaskan tahanan di penjara yang ada di Auschwitz. Setelah perang dunia kedua, perlawanan Witold masih berlanjut, kali ini melawan pasukan komunis. Hasilnya, dia ditangkap dan kemudian disiksa selama dua tahun sebelum akhirnya dibunuh pada tahun 1948. Walaupun dalam kondisi yang sangat suram, dia bilang kalau dia sudah bisa meninggal dengan bahagia karena dia sudah melakukan segalanya untuk kemerdekaan Polandia. Cerita Witold menjelaskan betapa hebatnya sebuah harapan. 

Namun anehnya, ketika kondisi dunia saat ini setidaknya jauh lebih baik saat Witold hidup, kenapa tingkat kecemasan dan depresi terus meningkat. Kenapa banyak orang merasa tidak punya harapan? Ternyata untuk membangun sebuah harapan, ada tiga hal penting yaitu rasa kontrol, nilai yang dianut, dan komunitas yang mendukung. Kontrol berarti kita merasa kalau memiliki kendali atas hidup yang kita jalani dan kita bisa mempengaruhi jalan hidup kita kedepannya. Nilai yang dianut berarti kita memiliki sesuatu yang cukup penting dan menjadi tujuan kemana kita melangkah. Terakhir adalah komunitas yang mendukung, ini adalah sekumpulan orang yang memiliki nilai yang sama dengan kita dan bersama-sama menuju tujuan tersebut.

Apakah hidup harus rasional?
Sumber foto: blogs.scientificamerican.com

Apakah hidup harus rasional?

Ada asumsi kuno yang bilang kalau setiap orang harus rasional, emosi dan perasaan adalah kekurangan manusia. Dan seringkali, kita menghakimi seseorang berdasarkan hal tersebut. Contohnya seperti ini, ketika kita melihat orang yang obesitas, kita menganggap orang tersebut punya kontrol diri yang rendah sehingga mereka terlalu banyak makan. Jadi, apakah kita lebih baik menjadi orang yang sangat rasional? Ada sebuah kisah dari seorang pria bernama Elliot yang tumor di bagian lobus frontalnya diangkat. Dampaknya, dia kehilangan kemampuan untuk memproses perasaan. Kita berpikir kalau ini adalah hal yang baik. Tapi, ternyata sebaliknya. Elliot cenderung tidak peduli pada hal apapun. Sebagai contoh, dia tidak mengikuti pertemuan yang penting dan memilih untuk pergi membeli staples. Dia juga tidak datang ke permainan baseball anaknya dan memilih untuk menonton TV. Setelah diteliti lebih lanjut, awalnya dokter tidak tahu apa yang terjadi, hingga mereka mengecek respons emosionalnya.

Ada fakta lain yang unik. Kamu mungkin berpikir kalau kamu hanya punya satu otak, tapi menurut Manson, sebenarnya kamu punya dua jenis otak: Thinking Brain dan Feeling Brain atau dikenal dengan otak berpikir dan otak perasa. Otak berpikir mewakili kesadaran kamu, kemampuan kamu berpikir secara rasional, dan kemampuan untuk mengetahui suatu hal bekerja. Sedangkan, otak perasa mewakili emosi, intuisi, dan keinginan kamu. Dua jenis otak ini punya kekuatan dan kelemahannya masing-masing. Sebagai contoh, otak berpikir tentu saja membantu kamu dalam menyelesaikan tugas matematika, namun dia tidak akan bisa membantu kamu untuk meyakinkan seorang wanita untuk kencan dengan kamu. Sebaliknya, otak perasa mampu membantu kamu menginspirasi orang lain, namun dia tidak akan bilang untuk berhenti makan coklat. Dari kedua jenis otak ini, otak perasa adalah bosnya dan merupakan kapten kapal, sedangkan otak berpikir hanya sebagai anggota. Tentu saja, kamu perlu membujuk otak perasa ini untuk menuruti otak berpikir untuk mencapai apa yang kamu inginkan. contohnya seperti ini, kamu perlu membujuk otak perasa kamu untuk mulai berolahraga, namun apabila melakukan satu sesi olahraga penuh, pasti otak perasa kamu menolak. Maka, kamu bisa membujuknya dengan membuatnya merasa lebih baik setelah berolahraga, betapa bangganya punya badan yang bagus ketika sedang ke pantai, atau betapa senangnya kamu ketika dipuji oleh orang lain atas badan kamu yang semakin bugar. Inilah kemudian membuat otak berpikir dan otak perasa berjalan seirama dan menuju satu tujuan. Dengan begini, maka kamu bisa mencapai hal yang kamu inginkan.

Harapan dan menjalani hidup
Sumber foto: dorsetthotels.com

Harapan dan menjalani hidup

Dalam hidup, kita harus bisa menjalaninya apa adanya. Contohnya begini, saya tidak bahagia dengan hidup yang saya jalani sekarang dan saya berharap hidup saya berubah. Walaupun terlihat kalau harapan ini memberikan makna, namun di sisi lain malah membuat kita tidak bahagia. Inilah yang bermasalah dengan harapan dan menjadi dasar bagi filsuf Jerman bernama Friedrich Nietzsche menyebutnya Amor Fati atau mencintai takdir yang kamu jalani. Filsuf yang lain bernama Immanuel Kant juga menyarankan bagaimana seharusnya kita menjalani hidup. Bagi kamu yang tidak mengenal Immanuel Kant, dia adalah filsuf yang pernah memberikan masukan kalau perdamaian dunia hanya tercipta apabila ada pemerintahan global, ini yang menjadi inspirasi dari pendirian Perserikatan Bangsa-Bangsa atau dikenal dengan nama PBB. Bukan hanya itu, Kant juga membahas konsep soal kemanusiaan, dia bilang jangan berperilaku transaksional dalam berbuat kebaikan. Jadi, ketika kita berbuat baik kepada seseorang, jangan berharap kalau orang itu akan membalas kebaikan yang kita lakukan, tapi berbuat baik karena itu adalah hal yang benar. Contoh lainnya seperti ini, ketika kecil, kita tidak mencuri karena kita takut ketahuan, namun ketika dewasa kita tidak mencuri karena itu tidak sesuai dengan nilai yang kita anut. Ini adalah cara orang dewasa bertindak.

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.