Nathan Handryan Lim, Kisah Sukses Bos Sandal Panama

Bisnis itu tidak hanya selalu untungnya saja atau manisnya saja, namun kamu juga akan mengalami banyak kegagalan sebelum akhirnya bisa menjadi pengusaha yang sukses.

Kali ini saya akan membahas kisah inspiratif dari Nathan Handryan Lim, CEO dan Founder dari sandal Panama. Buat yang belum tahu, sandal Panama merupakan salah satu sandal jepit yang cukup besar di Indonesia. Saat ini, sudah tersedia lebih dari 30 gerai yang tersebar di Indonesia. 

Nathan Handryan Lim adalah seorang pengusaha sandal yang sukses. Awal bisnis sandalnya berasal dari kebangkrutan usaha dan ini adalah usaha keempat Nathan. Setelah lulus kuliah pada tahun 2012 lalu, dia sudah beberapa kali mencoba bisnis. Mulai dari bisnis F&B, penyedia barang untuk supermarket, dan bisnis kentang goreng bernama Frite Fries. Di bisnis terakhirnya sebelum sandal Panama, Nathan rugi hingga miliaran. Saat itu, dia terlalu cepat buka cabang sehingga tidak terlalu memperhatikan cash flow-nya. Kejadian itu membuat Nathan sangat depresi dan merupakan titik terendahnya. Saat itu, dia memendam masalahnya sendiri, karena dia tidak mau menceritakan hal tersebut kepada orang tuanya. Hampir setiap malam, dia tidak bisa tidur dan ketika saat subuh bangun tidur, dia menangis karena tidak tahu harus apa. Tabungannya hanya tersisa dua juta rupiah. Jika dibandingkan dengan kondisi hidupnya dulu, tentu saja seperti bumi dan langit. Sebelum berhutang, dia terbiasa punya uang milyaran, namun setelah kejadian tersebut, walaupun dia naik BMW, namun uangnya tidak ada sama sekali. Dalam kondisi yang sangat terpuruk, ada sebuah peluang muncul. Waktu itu ketika Nathan sedang menyuplai barangnya ke Foodhall, tim dari Foodhall bertanya kepada Nathan kenapa dia terlihat cukup stress. Nathan lalu bercerita kalau dia sedang stress karena pusing hutangnya yang banyak. Tim dari Foodhall tersebut menawarkan dia untuk mencari tenant di salah satu bagian Foodhall Plaza Senayan. Setelah dihitung-hitung, ternyata prospek ini cukup menjanjikan. Nathan pun lalu mencari tenant yang mau membuka toko di Foodhall. Jadi, sistemnya begini, pemilik merek hanya menyetorkan barangnya saja untuk dijual kepada Nathan, nah dia yang mengurus operasionalnya, mulai dari renovasi booth, bekerja sama dengan pihak Foodhall, dan mencari karyawan. Nathan mendapatkan 15 juta dari pemilik merek sebagai biaya untuk masuk ke Food Hall dan 50% keuntungan sebagai jasa operasional toko. Uang ini masuk langsung sebagai pendapatan Nathan. Sedangkan dengan pihak Foodhall, Nathan tidak perlu membayar biaya sewa tenant tersebut, namun sistemnya adalah pembagian hasil keuntungan. Kejadian ini merupakan titik balik Nathan untuk bangkit kembali. Dalam waktu tiga bulan, dia berhasil mengumpulkan 1 miliar dan uang tersebut digunakan untuk membayar semua hutangnya. Pekerjaan ini dijalani oleh Nathan selama tiga tahun.

Sumber foto: rbastaffing.com

Lalu pada tahun 2016, Nathan mulai berpikir bisnis apa yang bisa dijalankan selanjutnya. Hingga akhirnya, dia melirik bisnis sandal. Dengan modal 20 juta rupiah, Nathan tertarik dengan Fipper, merek sandal dari Malaysia. Awalnya, dia ingin menjadi distributor dari Fipper, namun ditolak, karena setelah di-review oleh Tim Fipper, Nathan tidak memiliki kualitas yang mumpuni. Mereka menyarankan Nathan untuk membeli Fipper dari toko mereka yang ada di Bali. Dia pun lalu membeli 200 pasang sandal dan berusaha menjual kembali produk tersebut. Berbagai usaha dilakukan Nathan pada masa itu, mulai dari jualan lewat media sosial seperti Instagram hingga keliling toko di mangga dua untuk menitip jual produknya di toko yang ada di sana. Namun saat itu, dia mengalami banyak penolakan. Maklum saja, saat itu pasar belum teredukasi dengan baik dan sandal harga 90 ribu rupiah sulit diterima, karena mayoritas orang membeli sandal dengan harga yang jauh lebih murah. Nathan tidak berkecil hati. Dia pun aktif mengikuti bazar dan pameran untuk menjual sandalnya. Saat itu, Nathan masih melakukan semuanya sendiri, bahkan dia juga menjaga booth-nya dari pagi sampai malam. Akhirnya, kerja keras Nathan terbayarkan. Dalam dua tahun, dia mampu mengambil sandal dari Fipper hingga mencapai 15 miliar. Ternyata di balik kesuksesannya, Nathan bercerita kalau merek Fipper digemari oleh anak muda, karena dia menggunakan SPG yang berasal dari anak kuliahan. Waktu itu, dia bersedia membayar gaji per harinya cukup besar yaitu 200 ribu per hari. Di luar gaji harian, SPG-nya juga mendapat komisi penjualan dari setiap sandal yang berhasil mereka jual. Inilah yang menjadi diferensiasi merek Fipper dengan merek sandal yang lain. 

Ada satu momen yang membuat Nathan berhenti menjual Fipper dan akhirnya membuka sandal Panama. Walaupun membeli dalam jumlah banyak, pemilik merek Fipper tidak ingin memberikan lisensi distributor resmi Fipper-nya di Indonesia kepada Nathan. Bahkan, bukan hanya itu, apabila ingin menjadi distributor resmi di Jakarta, Nathan harus membayar 1 miliar sebagai biaya lisensi. Kejadian ini membuat Nathan merasa diperlakukan tidak adil dan tidak dihargai kerja kerasnya. Karena selama ini, dia sudah berjuang untuk melakukan edukasi pasar dan mempromosikan merek Fipper di Jakarta. Nathan merasa, kalau model bisnisnya seperti ini, ketika merek Fipper semakin besar, maka mereka bisa memutuskan kontrak dengan Nathan sewaktu-waktu. Dia pun akhirnya banting setir untuk memproduksi sandal sendiri dengan merek Panama, berbekal pengalamannya saat membangun merek Fipper di Indonesia. Walaupun sudah punya pengalaman menjual sandal Fipper, hal ini tidak lantas menjadi mudah. Nathan harus belajar cara membuat sandal. Itulah yang membuat dia harus berkeliling ke pabrik sandal untuk belajar cara membuatnya, mengetahui jenis bahan sandal, dan sebagainya. Akhirnya, Nathan boleh berbangga hati, produk sandalnya sudah dikenal luas dan dia mampu menjadi salah satu pemain sandal yang cukup berpengaruh di Indonesia.

Sumber foto: panamaonline.id

Selama lebih dari tujuh tahun berbisnis, Nathan membagikan beberapa tips dalam berbisnis. Pertama, terbuka dengan kondisi yang dihadapi. Jika kamu punya masalah, jangan dipendam. Ini yang Nathan pelajari ketika dia harus berhutang lebih dari 1 miliar. Jika saja dia tidak cerita kepada tim Foodhall pada masa itu, mungkin saja dia tidak menemukan sebuah kesempatan untuk menyewakan unit kios di dalam Foodhall. Kita tidak akan pernah tahu, ternyata mereka bisa membantu masalah yang sedang kita hadapi. Kedua, percaya kepada orang lain. Ketika masa pandemi COVID-19 seperti sekarang, Nathan sadar kalau tidak semua hal bisa dikerjakan sendiri, dia harus bisa belajar mendelegasikan pekerjaan. Apabila ternyata hasilnya tidak sesuai, itu merupakan proses pembelajaran timnya. Sama halnya ketika Nathan mencari partner, setiap orang harus punya kontribusi dan bersama-sama membantu membesarkan bisnis yang dibangun. Ketiga, jangan suka membandingkan. Misalnya, ketika Nathan membandingkan dirinya dengan pengusaha lain, orang lain punya cabang yang lebih banyak, mereknya lebih terkenal, dan sebagainya. Hal ini tidak ada gunanya, karena dia dan orang lain adalah dua orang yang berbeda. Ketika Nathan selalu membandingkan dirinya dengan orang lain, dia sadar kalau hal ini malah membuatnya tidak bisa menghargai dan mensyukuri apa yang dimilikinya saat ini. Keempat, mulai dulu aja. Dalam berbisnis, tidak perlu terlalu idealis. Maksudnya begini, jangan tunggu semuanya sempurna dulu, baru mulai jualan. Misalnya harus punya packaging bagus dan sebagainya. Beda cerita kalau packaging adalah bagian penting dan menjadi alasan kenapa kamu menjual produk tersebut dengan harga premium. Namun, apabila kamu misalnya berbisnis makanan, fokuslah ke hal yang paling penting, yaitu rasanya yang enak. Karena kalau kamu terlalu idealis, maka yang terjadi adalah kamu tidak pernah memulai. Kelima, pengusaha itu kerja bukan hanya untuk diri sendiri. Ada sebuah kejadian yang membekas dalam diri Nathan. Suatu hari, dia ngobrol dengan salah satu SPG-nya dan bertanya alasan mereka bekerja di Panama. SPG-nya lalu cerita, kalau pekerjaan ini untuk membantu ekonomi keluarga, karena saat itu ayahnya sakit dan ibunya hanya berjualan kue. Hal ini sangat membekas sekali dan Nathan jadi ingat lagi visi awalnya dalam berbisnis yaitu untuk membantu anak muda agar bisa mandiri dan bekerja keras. 

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.