Ronny Lukito, Kisah Sukses Pendiri Eiger

Kerja keras tidak akan mengkhianati hasil. Dengan semangat pantang menyerah dan usaha terus menerus, niscaya apa yang diinginkan akan tercapai.

Kali ini saya akan membahas kisah inspiratif dari Ronny Lukito, CEO dari PT Eigerindo MPI dan pemilik dari merek Eiger.

Ronny Lukito merupakan pengusaha asal Bandung, Jawa Barat yang lahir pada tahun 1962. Dia merupakan anak ketiga dari enam bersaudara. Terlahir dalam keluarga yang sederhana, Ronny terbiasa bekerja keras sejak kecil. Keluarganya merupakan penjual tas buatan sendiri dengan merek Butterfly, yang diambil dari merek mesin jahit yang terkenal pada masa itu. Kondisi ekonomi keluarganya membuat Ronny memutuskan untuk bersekolah di STM supaya bisa langsung bekerja ketika lulus. Saat masih sekolah, dia juga sering membantu ayahnya mengambil bahan untuk membuat tas. Bukan hanya itu, sebelum pergi sekolah, Ronny sempat berjualan susu dan ketika selesai sekolah, dia menjadi montir di bengkel motor. Ketika lulus sekolah, belum sempat dia mencari pekerjaan, ada kerabatnya yang menyarankan dia untuk membantu bisnis keluarganya. Ini merupakan salah satu tanggung jawab sebagai anak laki-laki satu-satunya untuk melanjutkan bisnis keluarga. Dari sini, dia belajar bagaimana membuat tas, mulai dari desain hingga proses menjahitnya. Ronny pun sempat membantu untuk memasukkan merek tas keluarganya di Matahari Department Store dan berhasil, walaupun jumlah orderannya juga tidak banyak.

Perjalanan bisnis Ronny berikutnya yaitu membuka toko tas sendiri dengan modal kurang dari satu juta rupiah dengan merek Exxon pada tahun 1984. Di tangan Ronny, bisnisnya pun melesat cepat. Dari yang awalnya dua mesin jahit di garasi rumah, lalu berkembang menjadi 20 mesin jahit. Saking tidak muatnya lagi rumah yang dia tinggali, kamar Ronny terpaksa dijadikan gudang dan dia tidur di ruang tamu. Dia pun lalu berusaha untuk memasukkan produknya ke Matahari Department Store, namun berkali-kali ditolak. Hingga akhirnya, produknya baru diterima setelah pengajuan tiga belas kali. Walaupun begitu, orderannya juga tidak sesuai harapan. Ronny pun tidak kehabisan akal. Dia melihat peluang untuk mendistribusikan sendiri hingga ke tingkat pengecer. Ronny lalu berkeliling daerah dan kota untuk mencari partner yang bersedia menjadi pengecer tas produksinya. Hingga akhirnya, jaringan pemasarannya mulai terbentuk dan merambah ke daerah lain. Namun, masalah baru muncul. Ronny mendapat komplain tentang hak paten dari ExxonMobil Corporation terhadap merek produk tasnya yang bernama Exxon. Itulah yang kemudian membuat Ronny mengubah nama tasnya menjadi Exsport yang merupakan singkatan dari Exxon Sport. Ternyata keputusan ini sangat tepat. Produknya mulai diterima di pasaran luas hingga banyak jaringan toko ritel fashion mulai menjual produknya. 

Sumber foto: eigeradventure.com

Bagi para pecinta alam, pasti tidak asing dengan merek Eiger. Eiger pertama kali diproduksi pada tahun 1989 di bawah naungan PT Eigerindo Multi Produk Industri. Ide awal dalam memproduksi Eiger sebenarnya sudah muncul di benak Ronny sejak lama yaitu tahun 1977 dan 1978. Saat itu, Ronny sering bergaul dengan komunitas pecinta gunung dari anak yang bersekolah di Taruna Bakti. Karena sering bergaul, Ronny jadi sering ikut naik gunung dan itulah yang menumbuhkan kecintaannya terhadap alam. Saat itu, Ronny pun bertekad kalau suatu hari dia akan memproduksi tas outdoor. Merek produknya berasal dari nama gunung di Swiss dengan ketinggian 3,970 mdpi. Eiger masuk dalam kategori gunung ke-3 yang sulit didaki di dunia. Walaupun berasal dari nama gunung di Swiss, hal lain yang lebih penting adalah semangatnya. Eiger sendiri bagi Ronny merupakan singkatan dari Education, Inspiration, Green life, Experiential, dan Responsibility. Semangat inilah yang menjadi kompas bagaimana Ronny menjalankan perusahaan. Sejak awal didirikan, Eiger fokus pada petualangan dan saat ini fokusnya pada petualangan di area tropis. Saat itu, produk pertama Eiger adalah ransel berukuran 55 liter dan dibuat khusus untuk keperluan pendakian, panjat tebing, camping, atau aktivitas outdoor lainnya. Awalnya, Eiger hanya didistribusikan terbatas pada komunitas pencinta alam. Namun, karena animonya yang besar, Eiger juga merambah ke peralatan pendakian gunung lainnya dan dijual secara luas. 

Permintaan yang terus meningkat membuat Ronny membangun pabrik Eiger pertama di jalan Cihampelas, Bandung pada tahun 1998. Namun di tahun tersebut juga, Ronny sempat mengalami kebangkrutan. Saat itu, bisnis intinya cukup bagus, namun dia mencoba untuk diversifikasi masuk ke bisnis properti. Namun, kondisi bisnis barunya itu terlalu cepat berekspansi tanpa melalui perhitungan studi kelayakan yang matang. Lalu datanglah krisis moneter yang membuat Ronny kesulitan untuk menjual properti, hingga mengganggu keuangan bisnis intinya. Bagi Ronny, kejadian ini merupakan kesalahan dirinya, kesombongan dan kelalaiannya, sekaligus ambisi yang berlebihan. Kondisinya waktu itu cukup memprihatinkan. Bisnis properti yang gagal, bahkan pabrik bisnis intinya sudah disita oleh bank. Saat itu, mau tidak mau Ronny harus berhutang banyak kepada bank, supplier, dan sebagainya. Ini merupakan pelajaran berharga bagi Ronny. Dalam waktu empat tahun, dia berusaha keras untuk membayar semua hutang hingga lunas dan mengembalikan kondisi perusahaannya seperti semula. Ronny kembali fokus pada bisnis intinya lagi, melakukan efisiensi, dan meluncurkan terobosan produk terbaru. Hingga akhirnya, perusahaannya dapat kembali bangkit dan sukses.

Sumber foto: merdeka.com

Bukan hanya di dalam negeri, Eiger pun sempat melebarkan sayapnya ke luar negeri. Waktu itu, Eiger pertama kali diekspor ke Brunei Darussalam. Kemudian, pada tahun 2010, Eiger membuka showroom pertamanya di Dortmund, Jerman. Produknya juga sempat merambah ke Malaysia dan Singapura. Namun, sejak tahun 2015, Ronny mengubah arah bisnisnya dan fokus memenuhi kebutuhan dalam negeri. Saat ini, produk Eiger boleh dibilang cukup lengkap mulai dari tas, pakaian, sepatu, penutup kepala, aksesoris, hingga jam tangan. Bukan hanya itu, produknya juga tersedia untuk pria, wanita, dan anak-anak. Ada tiga kategori utama produk Eiger yaitu Mountaineering untuk keperluan pendakian gunung, penjelajahan sepeda motor atau kategori riding, dan terakhir adalah Authentic 1989 yang merupakan gaya klasik untuk para pecinta alam terbuka dengan desain kasual dan stylish. Saat ini, Eiger juga sudah tersedia di lebih dari 350 toko offline di Indonesia.

Setelah diteliti, ada beberapa hal yang membuat konsumen cinta pada produk Eiger. Pertama karena desainnya cocok dan sesuai dengan selera konsumen. Menariknya, banyak yang tidak tahu tentang Eiger saat awal membeli. Mereka menyangka Eiger ini merek luar negeri. Padahal terbuat dari 100 persen lokal. Ada tiga tahapan dalam membuat produk Eiger yaitu design, develop, dan testing. Jadi, di tahap awal, Ronny akan melihat dulu fungsi produk untuk menjawab kebutuhan konsumen. Lalu, masuk ke dalam development, di fase inilah, timnya lalu membuat prototype. Hingga akhirnya, masuk ke tahap testing, di mana produk tersebut dicoba terlebih dahulu dari soal kualitas dan estetikanya sebelum dipasarkan. Kedua adalah kualitas. Ronny tidak pernah bermain-main dengan kualitas. Karena Eiger merupakan produk yang digunakan di alam bebas, maka kualitas merupakan hal yang tidak bisa dikompromikan. Ketiga adalah harganya. Dia menjelaskan kalau Eiger merupakan produk yang value for money artinya harganya sesuai dengan nilai yang diberikan oleh produk tersebut. Saat ini, Ronny berhasil membawahi empat perusahaan besar yaitu PT Eksonindo Multi Product Industry yang memproduksi ransel dan tas kasual dengan merek dagang Exsport. Berikutnya PT Eigerindo Multi Product Industry yang memproduksi produk Eiger, PT Eksonindo Multi Product Industry Senajaya yang memproduksi produk dengan merek dagang Bodypack, dan CV Persada Abadi.

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.