Benny Santoso, Pengusaha Muda Tempe Sukses di Bali

Menjadi pengusaha harus kreatif dan jeli melihat peluang. Barang yang kelihatannya biasa saja, bisa diberikan nilai tambah sehingga menjadi produk yang menarik.

Kali ini saya akan membahas kisah inspiratif dari Benny Santoso, pengusaha muda olahan tempe dengan merek IniTempe di Bali. Produknya juga sangat digemari oleh para turis di Bali dan sering dijadikan oleh-oleh.

Benny Santoso dulunya merupakan mahasiswa kuliner dan manajemen yang berasal dari Surakarta, Jawa Tengah. Saat kuliah dia merantau dan merupakan lulusan dari Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali. Waktu masih duduk di bangku kuliah, Benny diberikan tugas akhir untuk membuat olahan baru dari tempe. Dari tugas kuliah tersebut, dia jadi melakukan riset yang mendalam soal tempe. Benny pun sampai datang ke pabrik tempe untuk mempelajari sendiri cara buatnya bagaimana hingga akhirnya dia berlatih sendiri di rumah untuk membuat tempe sampai jadi. Pada awalnya, Benny dan teman-temannya mencoba untuk membuat tempe rasa keju dan tempe rasa bawang putih. Setelah bereksperimen berkali-kali, Benny pun bersama temannya akhirnya berhasil membuat tempe rasa keju. Idenya berasal dari guru biologinya dulu pernah buat tempe rasa cabe, jadi tempenya pedas. Dari situ, Benny pun lalu punya ide kalau tempe saja bisa dibuat pedas, berarti bisa dong dibuat tempe rasa keju, karena mayoritas orang Indonesia suka dengan rasa keju. Lalu, Benny mencampurkan kedelai, keju Italia, dan ragi tempe dan jadilah tempe rasa keju. Jadi, ketika digoreng dan dimakan, teksturnya tempe tapi ada rasa kejunya. Namun, beda halnya dengan tempe rasa bawang putih, walaupun sudah dicoba berkali-kali, ternyata masih gagal terus. Benny pun akhirnya sadar kalau bawang putih itu mengandung anti bakteri sehingga mengganggu proses fermentasi kedelai menjadi tempe. 

Sumber foto: initempebali.co.id

Setelah lulus kuliah, Benny sempat bekerja di bagian dapur sebuah restoran. Hingga suatu hari, Benny teringat pada memori masa kecilnya saat menikmati tempe goreng, inilah yang kemudian menimbulkan kecintaanya pada tempe. Jika di Jepang ada sushi sedangkan di Italia ada pizza, maka bagi Benny, Indonesia bukan hanya dikenal atas nasi gorengnya, tapi juga tempe. Ini adalah makanan yang hampir seluruh orang Indonesia pasti pernah mencicipinya. Berbekal pengalamannya saat mengerjakan tugas kuliah dulu, Benny pun mantap untuk fokus berkarir sebagai pengusaha tempe pada tahun 2016 dengan mendirikan IniTempe. Jalan yang diambil Benny sebagai pengusaha tempe boleh dibilang cukup unik, karena biasanya ini bukan bisnis anak muda. Perjalanan bisnis pertama Benny juga tidak mudah. Pertama kalinya dia coba membuat tempe dari 25 kilogram kedelai, namun sayangnya hasilnya gagal total. Pengalaman ini tidak membuat Benny berkecil hati. Dia mencoba lagi dan terus belajar, hingga akhirnya berhasil membuat tempe. 

Pelanggan pertama Benny adalah tetangganya. Dia menjual tempe ke tetangganya yang kebetulan bule seharga 10 ribu rupiah. Namun, tetangganya menyarankan kepada Benny jangan hanya menjual tempe polosan saja, tapi juga kreasi tempe yang lain. Dari situ, Benny mulai berpikir inovasi tempe olahan apa ke depannya. Dia pun teringat kalau ibunya suka membuat kue kering. Inilah yang kemudian membuat Benny punya ide untuk membuat kue kering tapi menggunakan tempe sebagai bahan dasarnya. Tetangganya tersebut kemudian menjadi pencicip produk yang dibuat oleh Benny. Setelah dicoba, tetangganya memberikan saran kalau kue keringnya masih memiliki rasa pahit tempe yang kuat. Hingga akhirnya, Benny pun berhasil membuat cookies dari tempe. Pengalaman ini membuat Benny makin pede untuk menjual produk olahan tempenya dan benar saja produknya langsung laku di pasaran. Maklum saja, biasanya kita hanya tahu kalau olahan tempe itu dalam bentuk digoreng, dibacem, direbus, dan sebagainya. Dalam proses pembuatannya, Benny butuh waktu enam hari. Lima hari pertama digunakannya untuk membuat tempe dan satu hari khusus  untuk mengolah tempe menjadi cookies. Menariknya, cookies-nya juga punya banyak rasa yaitu daun kelor, rosella, kelapa,  jahe, dan sebagainya. Selain itu, semua produknya vegan, gluten free, dan natural. 

Sumber foto: initempebali.co.id

Tantangan awalnya dalam berbisnis tempe adalah edukasi pasar. Karena produk olahan tempe yang dijual oleh Benny boleh dibilang unik dan tidak biasa dimakan orang pada umumnya. Selama tiga bulan, Benny keliling area turis di Bali untuk memberikan sampel produknya ke jalanan. Target pasarnya saat itu adalah ke orang asing, orang lokal, restoran, ritel, dan hotel. Jadi, Benny meminta feedback kepada orang-orang tersebut atas produknya dan responnya sangat bagus, bahkan ada beberapa orang ingin produk Benny dijual di toko mereka. Bukan hanya menjual produk olahan tempe, Benny juga membuka master class cara mengolah tempe dan mayoritas pesertanya adalah turis. Ini merupakan pengalaman yang sangat menarik di mana mereka bisa belajar cara mengolah makanan asli Indonesia. Di akhir sesi, setiap peserta akan membawa pulang hasil olahan tempe mereka sendiri. Ada pengalaman menarik ketika menjelaskan apa itu tempe kepada orang asing. Bagi orang asing yang tidak tahu apa itu tempe, Benny pun lalu menunjukkan wujud tempe dan menganalogikan kalau tempe itu adalah saudaranya tahu. Biasanya setelah itu, mereka penasaran mencoba olahan tempe dari IniTempe dan lalu membawa pulang ke negara asalnya sebagai oleh-oleh dari Indonesia. 

Produk unggulan IniTempe yaitu tempe mentah dan sederet olahan tempe misalnya cookies, chips, hingga produk terbarunya yaitu tempe protein. Ini merupakan produk yang menarik karena tempe protein bisa dijadikan sebagai energy ball dan cocok bagi konsumen yang mengkonsumsinya setelah berolahraga. Kini rata-rata omzet Benny sebulan mencapai hingga 50 juta rupiah, bahkan pernah paling besar mencapai 100 juta rupiah dalam sebulan. Ke depannya, Benny ingin punya pabrik tempe sendiri yang lebih besar dan distribusinya bukan hanya di Bali tapi di seluruh Indonesia. Dia pun punya mimpi besar agar tempe bisa semakin dikenal dunia dan menjadi representasi bangsa Indonesia. 

Sumber foto: initempebali.co.id

Dalam berbisnis, Benny juga belajar banyak hal. Bagi dia, modal dalam berbisnis bukan hanya soal uang, namun ada empat. Pertama, modal mindset. Jika mau usaha, jangan selalu mikirnya cari untung. Tapi, di awal, fokusnya cari kenalan, pelanggan, membuat sistem, inovasi produk, dan sebagainya. Kedua, modal ilmu. Dalam memulai usaha, mulainya dari ilmu yang kamu kuasai dulu. Misalnya, Benny memulai bisnis IniTempe karena sebelumnya dia sudah membuat tempe pada saat tugas akhir kuliahnya. Bukan hanya itu, latar belakangnya juga dari jurusan kuliner dan anak sains di SMA. Ketiga ilmu ini menjadi modal dasar Benny dalam mendirikan bisnis. Ketiga, modal networking. Sebagai pengusaha, kita harus bertemu dengan banyak orang dan menambah perspektif baru. Pengalaman ini bisa memberikan warna baru saat kita menjalankan usaha. Keempat, modal keuangan. Bagi Benny, modal usaha tidak perlu besar di awal, sehingga kita tidak akan menderita kerugian besar di awal bisnis. Benny bercerita dulu ketika membangun IniTempe, dia mengeluarkan modal sebesar lima juta rupiah untuk membeli mesin kedelai dan membeli kedelai mentah. 

Kondisi pandemi COVID-19 yang berkepanjangan juga memberikan pelajaran berharga bagi Benny. Walaupun pendapatan perusahaannya terus menurun, namun dia masih bersyukur karena masih bisa menutup biaya operasional perusahaan. Bagi dia, kondisi pandemi mengajarkan dirinya untuk banyak bersyukur. Dari yang awalnya, terlalu banyak waktu bekerja, sekarang jadi punya waktu untuk diri sendiri. Selain itu, momen ini digunakan oleh Benny untuk terus memperbaiki diri, misalnya public speaking, internet marketing, membuat konten video, dan sebagainya.  

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Satu komentar pada “Benny Santoso, Pengusaha Muda Tempe Sukses di Bali”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.