Kenapa Orang suka Berbohong saat Mengisi Survei?

Mayoritas orang tidak jujur atas apa yang mereka katakan, namun pencarian mereka di Google adalah kejujuran yang terpendam. Dalam kolom pencarian, kita bisa mengetahui isi hati seseorang yang sesungguhnya.

Kali ini saya akan membahas buku Everybody Lies karya Seth Stephens Davidowitz. Buku ini membahas soal bagaimana internet bisa memberitahu siapa kita sebenarnya. Ketika menggunakan internet khususnya media sosial, kita menampilkan sisi sempurna dari diri kita di depan follower. Namun, di waktu yang sama, internet juga menyimpan rahasia terdalam kita. Ketika kita sedang berselancar di internet, kita mencari sesuatu hal yang tidak pernah kita katakan sebelumnya. Kita jujur tentang apa yang kita sukai dan apa yang kita butuhkan. Melalui analisa terkait Google Trend dan preferensi orang dalam melakukan pencarian di Google, Seth akan memberikan kita kebenaran yang tersimpan.

Saya merangkumnya menjadi tiga hal penting dari buku ini:

Kenapa mengisi survei tidak jujur?
Sumber foto: bbc.com

Kenapa mengisi survei tidak jujur?

Pada dasarnya setiap orang pasti pernah berbohong. Mereka berbohong soal berapa kali mereka olahraga setiap minggu. Mereka berbohong soal harga sepatu yang mereka beli. Mereka berbohong ketika diminta untuk mengisi survey, dan sebagainya. Kebanyakan orang juga tidak melaporkan perilaku dan pemikiran yang memalukan dalam survei. Mereka ingin terlihat bagus, meskipun sebagian besar survei bersifat anonim. Ini yang disebut sebagai social desirability bias. Ini merupakan bias yang seringkali terjadi dalam survey karena responden ingin menjawab sesuai dengan pandangan baik oleh orang lain. Sebuah survey menanyakan kepada lulusan dari University of Maryland soal pengalaman kuliah mereka, termasuk dengan nilai GPA mereka. Menariknya, ada fakta yang tidak cocok antara GPA yang mereka tulis di dalam survei dengan kenyataannya. Kurang dari 2% menuliskan kalau mereka lulus dengan GPA kurang dari 2.5. Padahal, kenyataannya ada 11% yang nilai GPA-nya di bawah 2.5. Perbedaan ini ternyata juga dipengaruhi lingkungan ketika mengisi survei. Semakin tertutup kondisinya, semakin jujur orang tersebut. Untuk mendapatkan jawaban yang benar, survei internet lebih baik daripada survei telepon, yang lebih baik daripada survei langsung. Orang akan mengakui lebih banyak jika mereka sendirian daripada jika bersama orang lain berada di satu ruangan dengan mereka. Namun, untuk topik sensitif, setiap metode survei akan menimbulkan kesalahan pelaporan yang substansial. Orang tidak punya alasan kenapa mereka harus mengatakan yang sebenarnya.

Namun, bias dalam survei sekarang bisa dikurangi melalui metode big data. Hal sensitif yang sulit diakui apabila ditanya melalui survei, namun akan terlihat jelas dari apa yang mereka cari dalam laman pencarian seperti google. Ada beberapa alasan kenapa data yang berasal dari big data cenderung lebih valid daripada hasil survey. Sebelumnya, kita sudah sempat bahas beberapa hal yang membuat orang lebih jujur. Mereka akan lebih jujur apabila sistemnya adalah online, mereka sendirian, dan tidak ada surveyor yang menanyakan mereka. Pencarian kita di internet akan membuat kita mempelajari orang lain dengan lebih baik, karena hasil pencarian bersifat pribadi sekali bagi setiap orang. Saat seseorang dalam kondisi anonim, maka mereka mampu mencari atau menyampaikan aspirasi mereka tanpa takut dihakimi oleh orang lain. Namun tidak semua big data bisa memberikan kebenaran. Orang cenderung akan berbohong atau melakukan manipulasi di media sosial karena tekanan dari teman, keluarga, atau publik. Mereka akan berusaha tampil lebih baik walaupun tidak semua hal tersebut sesuai dengan kenyataan. 

Big Data untuk mencari kebenaran
Sumber foto: bigdataframework.org

Big Data untuk mencari kebenaran

Buat kamu yang belum tahu, big data berarti jumlah data yang sangat banyak, oleh karena itu diperlukan sebuah mesin untuk memprosesnya. Hal ini sebenarnya bukan hal yang asing bagi kita, namun seringkali kita menggunakan intuisi dalam memproses data yang banyak. Seth memberikan contoh percakapan dia dengan neneknya. Suatu hari, neneknya yang berusia 88 tahun memberikan saran kepada Seth kalau istri ideal bagi Seth adalah wanita yang cerdas, baik, lucu, pandai bergaul, dan cantik. Saran ini berasal dari puluhan tahun pengamatan neneknya terhadap hubungan percintaan yang berhasil dan gagal. Ini yang disebut sebagai intuisi, namun ini bukan data sains. Data masa lalu ini harus diperiksa ulang apakah sesuai dengan kenyataan atau tidak. Neneknya juga bilang kalau pasangan yang punya banyak teman yang sama akan punya peluang lebih tinggi untuk pernikahan yang langgeng, berdasarkan pada pernikahannya sendiri. Namun, sebuah studi yang menggunakan data Facebook berkata sebaliknya. Orang akan cenderung mengubah status mereka dari “in a relationship” menjadi “single” ketika mereka punya banyak teman yang sama. 

Big data berguna, bukan karena banyaknya data yang dikumpulkan tapi kegunaan dari data tersebut. Dengan kata lain, data ini dapat membuat sebuah pola atau prediksi. Seorang profesor dari Harvard University bernama Raj Chetty ingin mengetahui apakah American Dream masih ada atau tidak? Lebih spesifiknya, dia ingin tahu, seberapa besar kemungkinan orang yang terlahir miskin kemudian menjadi kaya raya? Chetty lalu menggunakan data pelaporan pajak dari Ditjen Pajak Amerika Serikat. Hasilnya ternyata tidak begitu bagus. Bagi orang yang terlahir miskin di Amerika Serikat, dia punya kesempatan 7.5% untuk menjadi kaya. Sedangkan, untuk warga Denmark dan Kanada, kesempatan mereka lebih tinggi yaitu 11.7% dan 13.5%. Bukan hanya berhenti disitu, Chetty juga bisa melihat lebih detail lagi di wilayah Amerika mana yang punya kesempatan lebih tinggi dan rendah. Di San Jose, California, seorang warga Amerika yang miskin punya kesempatan 12.9% untuk menjadi kaya, angka ini lebih tinggi daripada rata-rata warga Denmark. Namun, di sisi lain, bagi warga yang lahir di Charlotte, North Carolina, kesempatan mereka hanya kecil sekali yaitu 4.4%. Data ini akan memberikan kita gambaran yang lebih utuh tentang dunia dan membantu kita untuk membuat keputusan di masa depan.

Etika menggunakan big data
Sumber foto: eweek.com

Etika menggunakan big data

Dalam menggunakan big data, ada etika yang yang harus dipahami. Etika tersebut adalah data tersebut sebaiknya tidak digunakan untuk menyasar secara individu. Contohnya seperti ini, misalnya ada yang melakukan pencarian soal bunuh diri. Apakah pencarian tersebut langsung dilaporkan kepada pihak berwajib? Tentu saja tidak. Sebagai gambaran, ada 3.5 juta pencarian soal bunuh diri di Amerika Serikat. Namun, jumlah kasus bunuh diri jauh lebih rendah yaitu 4,000 per bulan. Apabila setiap pencarian kemudian dilaporkan, maka tentu saja menjadi tidak efektif. Namun, selain itu, ada etika yang harus dipahami soal penggunaan data pribadi, ini tentunya harus dilindungi. Jadi, apa yang sebaiknya dilakukan? Pemerintah bisa menggunakan data soal pencarian bunuh diri untuk membuat program pencegahan yang spesifik di wilayah tertentu, misalnya di provinsi atau kota tertentu. Pemerintah juga bisa menggunakan iklan di media massa untuk memberikan informasi soal nomor yang bisa dihubungi apabila ada orang yang membutuhkan bantuan. 

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.