Jonathan Sudharta, Pendiri Aplikasi Kesehatan Halodoc

Menjadi anak dari pemilik perusahaan bukan berarti langsung duduk di posisi penting, tapi harus mulai dari bawah. Pengalaman ini akan menempa kamu menjadi pemimpin yang hebat di masa depan.

Kali ini saya akan membahas kisah inspiratif dari Jonathan Sudharta, CEO dan Co-founder dari Halodoc. Buat yang belum tahu, Halodoc adalah aplikasi yang membantu kita untuk bisa berkomunikasi langsung dengan dokter, membeli obat, hingga melakukan pemeriksaan laboratorium hanya lewat smartphone.

Jonathan Sudharta merupakan mahasiswa lulusan jurusan Marketing dan E-Commerce di Curtin University, Perth, Australia. Waktu kuliah dulu, Jonathan bersama belasan rekannya mendirikan sebuah bisnis EO bernama sub production. EO-nya lumayan sukses dan banyak membuat proyek besar dalam bidang entertainment. Bagi Jonathan saat itu, pekerjaan yang dijalaninya sangat cocok dengan passion-nya. Selain itu, dia juga aktif bermain band dan olahraga seperti golf dan permainan hoki es. Bahkan, Jonathan sempat menjadi kapten tim nasional Indonesia untuk kejuaraan permainan hoki es. Namun, sebagai anak dari pemilik bisnis keluarga, Jonathan juga punya tanggung jawab. Dari awal, Jonathan sudah dipersiapkan oleh ayahnya menjadi penerus dari PT Menjangan Sakti atau dikenal dengan nama Mensa Group. Buat yang belum tahu, Mensa Group adalah perusahaan yang fokus utamanya bergerak di bidang kesehatan dan farmasi. Namun, waktu itu belum ada passion dari dirinya untuk bergabung ke dalam bisnis keluarga. Bahkan, orang di lingkaran terdekat ayahnya sempat meragukan Jonathan. Mereka merasa kalau Mensa Group diteruskan oleh Jonathan, masa depan perusahaanya akan buruk. Maklum saja, setiap kali liburan kuliah, Jonathan pulang ke Indonesia dan diharuskan ke kantor untuk mengikuti rapat-rapat penting. Namun, sepanjang rapat, Jonathan kelihatan tidak antusias, tidak jarang juga dia sempat tertidur di dalam rapat. 

Sumber foto: indonesiatatler.com

Ada pengalaman menarik yang mengubah pandangan Jonathan ketika bekerja di Mensa Group. Ketika lulus kuliah, dia awalnya tidak tahu mau bekerja apa, hingga akhirnya Jonathan memutuskan untuk bekerja di Mensa Group. Walaupun begitu, ketika diskusi dengan ayahnya, dia bilang kalau Jonathan harus memulainya dari bawah dan Jonathan setuju dengan pendapat ayahnya. Namun waktu itu belum ada program management trainee di Mensa Group, jadi Jonathan sempat bingung harus mulai darimana. Setelah diskusi lebih lanjut dengan ayahnya, akhirnya diputuskan pekerjaan pertama Jonathan di pelabuhan Tanjung Priok. Di hari pertama Jonathan bekerja, dia sudah sempat kesal karena harus jalan dari rumah jam 5.30 pagi, padahal biasanya dia baru bangun jam 11 siang. Ketika sampai di sana, dia bertemu dengan manajer di sana. Jonathan pun diberikan uang lima juta rupiah dalam nominal seribu rupiah. Tugas dia di hari pertama adalah memberikan tip seribu rupiah kepada buruh yang mengangkat barang di sana. Saat membagikan tip kepada setiap buruh di sana, Jonathan bertemu dengan seorang bapak tua renta berusia 70 tahun. Melihat bapak tersebut, dia tidak tega memberikan seribu rupiah, dia ingin memberikan lima ribu rupiah. Namun, tindakan ini dicegah oleh manajer di sana, karena apabila Jonathan memberikan bapak tua itu lima ribu rupiah sebagai tips-nya, maka keesokan harinya semua orang akan meminta tips yang sama yaitu lima ribu rupiah. Akhirnya, Jonathan memberikan seribu rupiah kepada bapak tua tersebut dan dia melihat sendiri raut wajah bapak tua itu yang tulus mengucapkan terima kasih. 

Kejadian ini sangat membekas di benak Jonathan. Dia masih ingat kalau saat pagi tadi, dia kesal karena harus bangun pagi ke pelabuhan, namun saat itu dia masih naik mobil dan hidup yang enak. Namun, di satu sisi, dia iba melihat bapak tua ini dan ingin membantu, namun situasi tidak memungkinkan. Kejadian ini membuat Jonathan sangat bersyukur atas hidup yang dia miliki dan menyadari kalau dia tidak boleh menyia-nyiakan privilege yang dia miliki saat itu. Jonathan pun akhirnya melihat hidup dengan cara berbeda. Dia menganggap pekerjaan yang dia jalani saat itu sebagai kegiatan bukan lagi hanya sekadar pekerjaan, inilah yang membuat dia akhirnya memiliki passion atas apa yang dilakukan. 

Sumber foto: saleshacker.com

Pekerjaan berikut Jonathan adalah menjadi sales medical representative untuk produk farmasi di salah satu anak perusahaan dari Mensa Group. Namun menariknya, dia di sana tidak bergabung sebagai anak dari pemilik Mensa Group, tapi berusaha berbaur dengan sales yang lain, bahkan dia sampai mengganti namanya saat di sana. Saat itu, dia belajar bagaimana menjadi seorang salesman dari perusahaan farmasi untuk mempromosikan obat perusahaanya kepada dokter. Bayangkan saat itu, mayoritas medical representative adalah lulusan SMA dan mereka harus bisa berinteraksi dengan dokter yang notabene tingkat pendidikannya jauh lebih tinggi. Inilah tantangan yang dipelajari oleh Jonathan. Dia masih ingat ketika hari pertama menjadi salesman di Garut, Jonathan menunggu janji ketemu salah satu dokter di sana hingga jam 2 pagi. Selain jam kerja yang panjang, di hari pertama, dia juga mengalami mejanya digebrak oleh dokter karena dokternya komplain kenapa Jonathan menemui dia jam 2 pagi padahal dokter tersebut sudah capek melayani pasien sampai subuh. Kejadian ini tidak membuat Jonathan menyerah, dia terus datang setiap hari ke tempat praktek dokternya. Hingga suatu hari, dia berhasil mendapatkan janji bertemu dengan dokter tersebut. Ini adalah sesuatu yang bisa didapat hanya melalui pengalaman, tidak bisa hanya melalui pengetahuan saja, dia harus mengalaminya sendiri. Selain itu, dia merasakan sendiri bagaimana rekan-rekannya yang lain mengatur keuangan pribadi mereka karena mereka hidup dari hari ke hari. Ini merupakan sebuah pengalaman yang berharga dan sebelumnya tidak pernah dirasakan oleh Jonathan. Dari situ, karirnya kemudian naik hingga jabatan terakhirnya menjadi managing director di Mensa Group. Hingga akhirnya, setelah 15 tahun bekerja di perusahan keluarga, Jonathan memutuskan untuk mendirikan usaha sendiri.

Ide awal Halodoc berasal dari pengamatan Jonathan kalau ada ketimpangan akses layanan kesehatan di Indonesia, khususnya bagi mereka yang tinggal di luar kota besar. Hal ini disebabkan jumlah dokter dan jumlah penduduknya masih jauh dari seimbang. Jonathan memberikan data kalau hanya ada 3 dokter per 10.000 populasi orang. Bahkan, kalau tinggal di luar kota besar, pasien akan sangat sulit bertemu dengan dokter spesialis. Contohnya saat dia menunggu untuk bertemu dokter sampai jam 2 pagi. Saat itu, dia juga bertemu dengan pasien yang juga menunggu waktu bertemu dengan dokter hingga larut malam. Bagi warga yang tinggal di kota besar, mereka juga punya masalah yang berbeda. Ada banyak kendala seperti kemacetan lalu lintas, antrian panjang di rumah sakit, hingga antrian panjang saat menebus obat di apotik. Bagi Jonathan, ini adalah peluang untuk memberikan solusi atas permasalahan yang ada dengan bantuan teknologi. Itulah awal mulanya muncul Halodoc pada tahun 2016 sebagai perusahaan teknologi yang melayani di bidang telekonsultasi kesehatan.

Sumber foto: cnbcindonesia.com

Walaupun idenya sangat solutif, saat itu belum ada model bisnis seperti itu di Indonesia. Jonathan lalu pergi ke Kementerian Kesehatan untuk mempresentasikan idenya. Awalnya, dia mendapat penolakan dari staf kemenkes di sana, namun beruntungnya direktur jenderal pada masa itu sangat open minded dan memberikan Jonathan kesempatan untuk menjelaskan lebih detail cara kerja model bisnisnya sehingga pemerintah dapat membuat regulasi yang tepat. Hingga akhirnya, saat ini Halodoc sudah menjadi mitra pemerintah dalam bidang telemedicine penanganan COVID-19. Sehingga, akses layanan kesehatan dapat lebih merata di Indonesia, khususnya untuk masyarakat di daerah terpencil.

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.