Cara Menciptakan Tempat Kerja yang Bebas dari Orang Menyebalkan

Perilaku orang yang menyebalkan tidak boleh ditolerir dan dimaklumi. Walaupun mereka adalah karyawan terbaik, perusahaan harus berani bertindak tegas pada perilaku yang buruk.

Kali ini saya akan membahas buku The No Asshole Rule karya Robert I. Sutton. Buku ini membahas bagaimana menciptakan lingkungan kerja yang bebas dari orang menyebalkan atau Robert menyebutnya sebagai assholes. Secara evolusi, manusia pernah melalui fase di mana orang yang paling kuat dan kasar, biasanya menjadi pemimpin di jaman dulu. Itulah yang membuat otak kita sering mengasosiasikan sifat agresif sebagai hirarki sosial yang lebih tinggi. Namun, di era sekarang, sifat agresif dan kasar pada posisi yang lebih tinggi malah kontraproduktif. Produktivitas sulit tumbuh pada lingkungan yang penuh dengan perilaku agresif. Selain itu, karyawan terbaik dapat dengan mudah memutuskan untuk keluar dari lingkungan kerja yang buruk. 

Saya merangkumnya menjadi tiga hal penting dari buku ini:

Tipe orang yang menyebalkan
Sumber foto: aconsciousrethink.com

Tipe orang yang menyebalkan

Asshole atau orang yang menyebalkan ada di mana saja. Bahkan, kadang kita juga bersikap menyebalkan, seperti misalnya ketika kita menjalani hari yang buruk. Robert mendefinisikan asshole sebagai orang yang suka menghina pribadi, mengintimidasi verbal atau non-verbal, lelucon sarkastik, mempermalukan orang lain di depan umum, memotong pembicaraan orang lain, bermuka dua, dan memperlakukan orang lain seolah orang tersebut tidak ada. Ini adalah beberapa perilaku dari seorang asshole yang bisa kamu identifikasikan. Kamu mungkin pernah melakukan hal ini, tapi ada orang yang melakukan hal tersebut sebagai sebuah kebiasaan. Robert membaginya menjadi dua, temporary asshole behavior dan certified assholes. Temporary asshole behavior adalah orang yang kadang menjadi menyebalkan ketika suasananya kurang mendukung, misal seperti tadi, mengalami hari yang buruk. Sedangkan, certified assholes adalah orang yang menyebalkan karena dia terbiasa melakukan hal tersebut. Mereka sering mengintimidasi karyawan lainnya, memotong pembicaraan orang lain, dan tidak memperdulikan rekannya. Menariknya, certified assholes seringkali karirnya cepat naik. Apa rahasianya? Ternyata assholes merupakan orang yang cukup pintar dan tahu kepada siapa mereka harus berlaku menyebalkan. Mereka selalu sopan dan hormat pada atasan atau klien, tapi memperlakukan rekan kerjanya dengan buruk. Ini yang membuat banyak perusahaan tidak sadar kalau karyawan yang mereka promosikan merupakan certified assholes, karena selama ini interaksi bos dan karyawan tersebut sangat baik. Tapi, perilaku certified assholes ini sangat buruk bagi organisasi, apalagi ketika mereka menduduki posisi yang penting. Salah satu indikatornya adalah moral karyawan yang buruk. Hal ini tentunya akan berdampak buruk pada produktivitas karyawan, karena karyawan lebih fokus bagaimana agar tidak dipermalukan oleh certified assholes daripada fokus bekerja dengan lebih baik. Lebih buruknya lagi, karyawan dengan moral yang buruk cenderung akan mengundurkan diri karena hal ini menyedot energi mereka. 

Seringkali, perusahaan memberikan toleransi kepada assholes. Perilaku mereka yang buruk dimaklumi karena mereka adalah karyawan yang berbakat, cerdas, dan sulit digantikan. Ini adalah pandangan yang salah. Walaupun seorang asshole adalah top performer, perusahaan harus berani memberikan peringatan tegas terhadap orang tersebut. Hal ini karena perilaku buruk satu orang, bisa membuat produktivitas seluruh tim terganggu. No Asshole Rule harusnya bukan hanya ditulis semata, tapi jadi pedoman perusahaan dalam merekrut dan menilai karyawan. 

Assholes berdampak buruk bagi bisnis
Sumber foto: askmen.com

Assholes berdampak buruk bagi bisnis

Studi menjelaskan orang dengan status yang lebih tinggi, cenderung berperilaku seperti assholes. Mereka cenderung menggunakan orang lain untuk tujuan pribadi mereka. Ada penelitian yang menarik tentang beberapa grup murid. Peneliti membagi para murid menjadi grup yang berisi tiga orang untuk mendiskusikan berbagai topik. Satu orang di setiap grup secara acak dipilih untuk menilai argumen mereka satu sama lain. Hasilnya, murid yang dianggap lebih berkuasa cenderung lebih sering melanggar konvensi sosial. Hal ini diukur dari sepiring kue yang diberikan kepada setiap grup. Murid yang lebih berkuasa cenderung akan mengambil kue terakhir, mengunyah dengan mulut terbuka, dan tidak merapikan remah-remah kuenya yang berantakan. Hal yang sama juga terjadi di dunia kerja. Semakin lebar perbedaan antara atasan dan bawahan, maka atasan akan cenderung memperlakukan bawahannya dengan semena-mena. Oleh karena itu, menurut Robert, aturan utama untuk mengurangi jumlah assholes adalah mengecilkan jarak antara atasan dan bawahan. Dia berpendapat, jarak yang terlalu besar antara atasan dan bawahan cenderung membuat atasan tidak menghargai karyawan berpangkat rendah. Beberapa cara yang bisa dicoba yaitu dengan mengurangi perbedaan status dan jenjang organisasi, hingga mengecilkan jarak perbedaan gaji antar karyawan. Cara ini bertujuan untuk menciptakan posisi yang lebih seimbang di tempat kerja, karena pada dasarnya semakin seimbang maka jumlah asshole-nya akan semakin sedikit.

Ada fakta menarik soal assholes. Ternyata menjadi orang yang menyebalkan itu menular. Apabila kita sering berada dengan orang yang suka marah dan agresif, maka tanpa kita sadari hal itu akan mempengaruhi mood dan perilaku kita. Memang betul, kompetisi bisnis itu sangat ketat. Bahkan, seringkali, persaingan bisnis itu sangat agresif dan kasar. Sayangnya, perilaku ini sering terbawa ke dalam internal perusahaan. Apabila sudah begitu, perilaku ini tidak hanya bisa mempengaruhi kita saat bekerja, tapi juga bisa berpengaruh pada kehidupan pribadi. Robert mengakui kalau dia mulai memperlakukan istrinya dengan buruk ketika dia sering berinteraksi dengan orang yang menyebalkan. Tapi, tentu saja, menghindari asshole tidak mudah, apalagi asshole itu adalah atasan kamu atau rekan kerja kamu. Namun, kamu bisa mengurangi interaksi kamu dengan mereka seminim mungkin. Sebisa mungkin hindari asshole, atau kamu malah bisa jadi salah satunya.

Menciptakan lingkungan kerja yang kondusif
Sumber foto: thriveglobal.com

Menciptakan lingkungan kerja yang kondusif

Secara alamiah, persaingan yang sehat antar karyawan bisa berdampak positif bagi perusahaan. Ambisi adalah hal yang baik untuk memotivasi karyawan untuk mencapai hasil yang lebih besar, mengambil resiko, dan menciptakan inovasi terbaru. Ini juga akan mempermudah atasan untuk mengetahui karyawan mana yang potensial. Namun sayangnya, persaingan antar karyawan bisa kontraproduktif. Persaingan ini malah meningkatkan gesekan antar karyawan. Itulah sebabnya, perusahaan yang sukses mengambil jalan lain. Mereka mempromosikan budaya perusahaan kolaboratif, sederhananya dengan mengganti kata saya menjadi kami. Ini adalah contoh untuk mempengaruhi alam bawah sadar karyawan kalau mereka berada di satu tim yang sama sehingga mendorong mereka untuk berkolaborasi daripada berusaha menjatuhkan karyawan yang lain. Ini adalah lingkungan kerja yang beradab. 

Pada akhirnya, semua akan berakhir di kamu. Bagaimana bila kita tidak bisa menghindari interaksi dengan seorang asshole? Yang paling penting, kita tidak boleh membiarkan asshole mempengaruhi kita. Ini memang tidak mudah, tapi kita harus tetap tenang dan jangan membalas sifat agresif mereka dengan sifat agresif juga. Robert menyarankan kita untuk mencoba menjalani interaksi kita dan asshole dengan pikiran positif. Kita harus menyadari ketika seseorang adalah asshole, itu masalah mereka, bukan masalah kamu. Semua ini adalah sementara. Jangan biarkan asshole mempengaruhi kamu.

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.