Kisah Pendiri Aplikasi Telegram, Pavel Durov

Bisnis yang sukses memiliki nilai kuat yang dipegang teguh oleh pendirinya dan diresapi oleh setiap karyawan di dalamnya. Nilai ini akan menjadi kompas bagi perusahaan untuk melangkah di masa depan.

Kali ini saya akan membahas kisah inspiratif dari Pavel Durov yang merupakan pendiri dari Telegram. Durov dikenal sebagai Mark Zuckerberg Rusia karena dia menciptakan Vkontakte, jejaring sosial terbesar di Rusia. Saat ini, Telegram memiliki 400 juta pengguna aktif setiap bulannya.

Pavel Durov lahir pada tahun 1984 di Rusia. Dia lahir dalam keluarga yang cukup terpandang. Ayahnya merupakan penulis buku dan kepala departemen filologi klasik di Universitas Negeri St. Petersburg, sedangkan ibunya bekerja sebagai profesor di universitas yang sama. Durov merupakan anak yang cerdas dan pemberontak. Dia pertama kali belajar coding ketika masih di sekolah. Saat itu ada kejadian yang menarik, Durov mengganti welcome screen pada komputer yang ada di jaringan sekolah untuk menghina guru yang tidak disukai. Bukan hanya dia, saudara laki-lakinya bernama Nikolai merupakan anak yang jenius. Saat berusia tujuh atau delapan tahun, Nikolai pernah diliput oleh televisi lokal di Italia karena mampu menyelesaikan soal matematika yang rumit. Durov belajar banyak hal dari saudaranya, hingga akhirnya di kemudian hari, mereka berdua merupakan partner bisnis dari perusahaan raksasa. Ketika kuliah, Durov merupakan salah satu mahasiswa terbaik dengan level kecerdasan yang tinggi. Durov berulang kali memenangkan lomba di olimpiade bahasa, programming dan desain. Selain itu, dia juga pemegang beasiswa dari pemerintah dan presiden Rusia. Saat di bangku kuliah, Durov membuat situs durov.com yang berisi database materi edukasi yang ditujukan bagi mahasiswa jurusan humaniora. Lalu, dia punya ide lain yang lebih besar, Durov ingin menghubungkan mahasiswa di universitasnya yaitu di Universitas Negeri St. Petersburg agar bisa melakukan komunikasi virtual menggunakan forum online yang bernama spbgu.ru. Di situs ini, setiap mahasiswa bisa memiliki akun pribadi mereka yang berisi nama, fakultas, daftar teman, dan grup yang mereka ikuti. Inilah cikal bakal dari jejaring sosial yang dia ciptakan di kemudian hari. Pada awal tahun 2000-an ketika Facebook mulai populer, teman lamanya yang tinggal di Amerika Serikat memberitahu Durov soal hal ini. Ide ini menarik bagi Durov dan mereka akhirnya bekerja sama untuk mendirikan jejaring sosial dengan bahasa Rusia. 

Sumber foto: mashable.com

Hingga akhirnya pada tahun 2006, Durov membuat situs jejaring sosial yang mirip seperti Facebook bernama Vkontakte dan seringkali juga disebut sebagai Facebook Rusia. Pada awalnya, situs ini hanya dibuka bagi undangan tertentu, namun akhirnya dibuka untuk umum. Situs ini langsung populer di kalangan anak muda di Rusia. Hingga pada tahun pertama diluncurkan, sudah ada lebih dari 3 juta orang yang bergabung dalam jejaring sosial tersebut. Kesuksesan ini membuat Durov mendapat investor pertamanya yang membeli 25% saham dari VK. Jejaring sosial VK bahkan digunakan untuk membuat halaman yang berisi profil politisi yang memperebutkan kursi parlemen pada tahun 2011. Masih di tahun yang sama, Durov bersitegang dengan polisi Rusia karena pemerintah Rusia meminta Durov untuk menutup akses oposisi politisi. Permintaan ini lalu ditolak oleh Durov karena tidak sesuai dengan nilai yang dimiliki oleh perusahaannya. Hingga pada tahun 2012, perusahaan internet besar bernama Mail.ru yang dimiliki oleh Ivan Tarin menawar harga untuk membeli VK dari Durov. Sebagai informasi, Mail.ru punya hubungan yang kuat dengan pemerintah Rusia. Permintaan ini langsung ditolak mentah-mentah. Namun pada akhir tahun 2013, Durov dipaksa untuk menjual 12% saham VK kepada Ivan dan pada tahun berikutnya, dia menjual keseluruhan saham VK kepada Mail.ru. 

Ada cerita menarik di balik pembuatan Telegram. Pada tahun 2011, pasukan khusus anti huru hara tiba-tiba berada di depan pintu rumahnya karena jejaring sosialnya yaitu VK saat itu digunakan untuk menggalang dukungan protes anti pemerintahan di Moskow. Kejadian ini mengejutkan Durov dan merasa kalau saat itu tidak ada jalur komunikasi yang aman, apalagi bila dia ingin berkomunikasi dengan keluarganya. Inilah yang menjadi ide dasar pembuatan Telegram. Selama dua tahun ke depan, Durov dan saudaranya fokus mengembangkan enkripsi unik yang menjadi fitur dasar aplikasi pesan Telegram. Fitur ini membuat para pengguna bisa berkomunikasi dengan tingkat keamanan yang sangat tinggi. Hingga akhirnya, pada tahun 2013, aplikasi Telegram resmi diluncurkan di iOS, lalu di Android, dan versi desktop-nya, hingga yang terbaru yaitu versi web browser. 

Sumber foto: callbell.eu

Pada tahun 2014, Durov menolak untuk memberikan akses kepada pemerintah Rusia untuk mengakses pesan terenkripsi penggunanya di aplikasi Telegram. Posisi Durov membuat pemerintah Rusia marah, mereka memberikan Durov dua pilihan, patuh pada aturan atau aplikasinya dilarang di Rusia. Durov pun tetap pada pendiriannya sehingga berdasarkan putusan pengadilan di Rusia, aplikasi Telegram diblokir. Perselisihan antara Durov dan pemerintah Rusia membuat Durov memutuskan untuk meninggalkan Rusia dengan kekayaan mencapai 300 juta dolar. Dia merasa aturan di Rusia tidak jelas sehingga sulit untuk membuat bisnis online di sana. Menariknya, blokir itu bisa dibilang tidak efektif karena pengguna aplikasinya di Rusia pasti akan menemukan cara untuk mengakses aplikasi tersebut. Menyadari hal tersebut, akhirnya pemerintah Rusia menghapus blokirnya pada tahun 2020 setelah Telegram mengklaim kalau aplikasinya sekarang sudah mampu mendeteksi dan menghapus grup ekstrimis. Hingga akhirnya, sekarang kurang lebih ada 30 juta pengguna aktif bulanan Telegram di Rusia. Maklum saja, beberapa tahun yang lalu, Telegram sempat dibuat heboh karena merupakan aplikasi pesan favorit grup teroris dan ekstrimis. 

Durov boleh dibilang adalah tipe orang yang unik, dia sangat menyukai kebebasan dan privasi. Dia jarang sekali menerima wawancara media, selain itu, dia hidup nomaden dan rutin berpindah negara. Tim developer-nya juga ikut berpindah-pindah, mulai dari awalnya di Berlin, kemudian pindah ke London, lalu ke Singapura, hingga terakhir sekarang berada di Dubai. Ini bukan merupakan tempat terakhir mereka dan Durov menyatakan kalau dia siap berpindah lagi apabila regulasi di negara tersebut tidak mendukung ekosistem digital, terutama fokus di bidang privasi pengguna. Menariknya, setelah pengumuman perubahan aturan privasi di Whatsapp, jumlah pengguna Telegram meningkat drastis hingga menyentuh lebih dari 500 juta pengguna. Kesuksesan Telegram tidak lepas dari konsistensinya dalam menjaga privasi pengguna. Bahkan, Durov pernah mengadakan kontes bagi siapa yang bisa meretas pesan instan di Telegram maka dia akan memberikan hadiah pemenangnya sebesar 300 ribu dolar. Ini menunjukkan seberapa percaya dirinya Durov atas keamanan Telegram. Namun dengan jumlah pengguna yang semakin banyak, tentu saja di satu sisi ini hal yang membahagiakan bagi Durov, tapi juga menjadi masalah baru. Hal ini disebabkan model bisnis Telegram bukanlah sebagai perusahaan untuk mencari profit sebanyak-banyaknya, dari awal Durov sudah menekankan kalau fokus utama Telegram bukan untuk mencari profit. Bahkan, hampir sepanjang sejarah Telegram, Durov membiayai operasional Telegram dari kantongnya sendiri. Sebagai informasi, dia menghabiskan 1 juta dolar setiap bulannya untuk menjaga agar Telegram bisa beroperasi, karena tidak menghasilkan profit sama sekali. Namun, tahun ini, Telegram akan melakukan monetisasi agar mereka mampu menutup biaya operasional yang semakin membengkak, misalnya untuk penyewaan server dan penambahan sumber daya. Walaupun begitu, Durov berjanji kalau monetisasi yang dilakukan akan sesuai dengan nilai yang dianut oleh Telegram sejak awal yaitu privasi pengguna selalu menjadi prioritas utama, karena ini adalah diferensiasi kuat yang membedakan antara Telegram dan kompetitornya.

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.