Kisah Pendiri Zoom, Eric Yuan

Perusahaan yang sukses adalah mereka yang memprioritaskan kebahagiaan konsumen di atas segalanya. Konsumen yang bahagia akan membuat perusahaan bisa tumbuh dan berkembang pesat.

Kali ini saya akan membahas kisah inspiratif dari Eric Yuan, pendiri dari Zoom dan merupakan salah satu dari 400 orang terkaya di Amerika Serikat.

Eric Yuan lahir dalam keluarga kelas menengah di Shandong, China. Ayahnya merupakan insinyur pertambangan. Eric memiliki gelar sarjana dalam matematika terapan dan gelar master di bidang teknik. Dia pertama kali memimpikan Zoom saat masih menjadi mahasiswa baru di China. Saat itu, dia hanya bisa bertemu dua kali setahun dan naik kereta selama 10 jam untuk mengunjungi pacarnya, yang sekarang sudah jadi istrinya. Eric sangat tidak menyukai perjalanan menggunakan kereta tersebut dan mulai bermimpi kalau di masa depan ada cara dia bisa melihat dan berbicara dengan pacarnya tanpa harus bepergian. Maklum saja, saat itu, perjalanan itu membuat dia sangat lelah, bahkan tidak jarang Eric tertidur sambil berdiri di kereta. Lamunan Eric di kemudian hari merupakan basis dari aplikasi Zoom. Ketika lulus kuliah, dia lalu menghabiskan empat tahun bekerja di Jepang. Namun, setelah mendengarkan pidato Bill Gates soal gelembung dot-com, Eric memutuskan ingin menjadi gelombang pertama yang ikut dalam revolusi internet. Ini hanya bisa dicapai Eric apabila dia bekerja di Silicon Valley, Amerika Serikat. Hingga akhirnya, pada tahun 90-an, Eric memutuskan untuk pergi ke Amerika Serikat karena perkembangan teknologi dan internet sudah sangat maju di sana. Dia sadar kalau internet adalah masa depan. Namun, ini tidak mudah. Pertama kali, Eric mengajukan visa ke Amerika, visanya ditolak. Namun, dia tidak menyerah. Eric terus mengajukan visa ke Amerika selama dua tahun ke depan, hingga akhirnya pada tahun 1997, visanya diterima setelah percobaan ke sembilan kali. 

Sumber foto: bbc.com

Ketika Eric baru sampai di Amerika Serikat, dia awalnya ingin melamar pada posisi sales atau marketing, namun karena dia belum begitu lancar berbicara dalam bahasa inggris dan yang dia kuasai sangat baik saat itu hanya menulis kode komputer, itulah yang membuat dia mendapatkan pekerjaan pertamanya di sana. Saat di Silicon Valley, Eric berhasil mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan bernama WebEx Communications. Walaupun tidak pandai berbicara dalam bahasa Inggris, Eric masih ingat pelajaran hidup dari ayahnya yaitu kerja keras, jangan sombong, dan suatu saat kamu akan baik-baik saja. Dari awal, dia sudah menjadi salah satu karyawan kunci dalam mengembangkan aplikasi video conference. Maklum saja, saat itu WebEx hanya berisi puluhan karyawan. WebEx kemudian menjadi salah satu pilihan yang pertama untuk video calls dan sangat sukses hingga mampu IPO dalam beberapa tahun. Pada tahun 2007, WebEx kemudian diakuisisi oleh Cisco. Karirnya di WebEx juga cemerlang, hingga dia berhasil menjabat Vice President of Engineering. Walaupun WebEx merupakan terobosan yang canggih, namun tidak sempurna. Saat itu, muncul beberapa masalah seperti koneksi yang tidak stabil, audio dan video yang lag, serta proses pemasangannya yang sangat rumit. WebEx bisa bertahan hanya karena jumlah kompetitornya pada masa itu hanya sedikit. Eric pun sadar dengan kendala tersebut dan membawa diskusi itu ke manajemen WebEx, namun saran Eric tidak didengar. Hingga akhirnya, dia memutuskan untuk keluar. 

Ada pelajaran berharga yang didapat oleh Eric selama dia bekerja di WebEx. Sebelum dia memutuskan untuk mengundurkan diri, Eric banyak menghabiskan waktu untuk berbicara dengan konsumen dari WebEx. Namun, setiap kali selesai meeting, dia merasa malu, karena tidak ada konsumen yang puas atas kinerja dari WebEx. Kejadian ini mengajarkan Eric kalau fokus utamanya haruslah membuat konsumen bahagia. Dia yakin kalau impian dia dulu soal komunikasi jarak jauh dengan pacarnya bisa menjadi kenyataan. Hingga akhirnya, Eric mendirikan perusahaan baru bersama 40 orang engineer lainnya dan meluncurkan Zoom pada tahun 2012. Sejak awal mendirikan Zoom, Eric sadar bahwa masa depan adalah video bukan audio. Berbeda dengan perusahaan lain yang awalnya fokus pada audio, baru kemudian disesuaikan dengan membuat videonya, dari awal Zoom sudah fokus pada video. 

Sumber foto: merdeka.com

Beberapa tahun berikutnya, Zoom bertumbuh pesat hingga memiliki lebih dari 1,700 karyawan dan pendapatannya meningkat dua kali lipat pada tahun 2018 menjadi lebih dari 330 juta dolar. Pencapaian ini tidak bisa dibilang mudah. Pada waktu awal Zoom diluncurkan, Eric berada dalam kompetisi yang ketat dengan Skype, Google, dan Cisco. Namun, dua tahun kemudian, Zoom telah memiliki lebih dari 40 juta pengguna. Kesuksesannya tidak lepas dari kalau Eric menggratiskan layanannya, sedangkan kompetitornya seperti Skype tidak. Zoom menggunakan konsep freemium artinya kamu bisa menggunakan layanannya secara gratis, namun ada tambahan fitur apabila kamu berlangganan. Sebagai contoh, apabila kamu menggunakan layanan Zoom secara free, maka kamu bisa mengadakan pertemuan virtual selama maksimum 40 menit dengan jumlah maksimum 100 pengguna. 

Sebagai pendiri Zoom, Eric mempraktekkan apa yang perusahaannya lakukan. Setelah mempekerjakan ratusan engineer di China, dia hanya mengunjungi mereka tiga tahun sekali. Ketika Eric bertemu dengan para pemodal besar, dia hanya muncul satu kali secara fisik untuk memastikan setiap orang di sana sudah men-download aplikasi Zoom. Untuk roadshow IPO-nya, Eric melakukan perjalanan sejauh 50 mil dari kantor pusatnya di San Jose ke San Francisco untuk makan siang bersama seorang investor.. Selain itu, semua orang lainnya, manajer investasi besar atau kecil, hanya bertemu dengannya secara virtual, melalui Zoom. Saat Eric terbang ke New York untuk IPO, itu hanya perjalanan kerjanya yang kedelapan dalam lima tahun. Dengan aplikasi Zoom, maka Eric dapat menghemat banyak waktu dan uang dari perjalanan bisnisnya karena semuanya bisa dimudahkan dengan teknologi. Seringkali, konsumen bilang ke Eric kalau mereka ingin bertemu langsung dengan dia. Eric lalu bilang oke, tapi kita Zoom Call dulu sebelum bertemu. Biasanya, dalam satu Zoom Call saja sudah cukup tanpa Eric harus datang mengunjungi mereka secara langsung. 

Sumber foto: latimes.co

Kesuksesan Zoom disebabkan karena dia memberikan solusi bagi dunia agar orang bisa bertemu tatap muka walaupun terpisah jarak. Penelitian membuktikan bahasa tubuh dan ekspresi wajah menyumbang 70% komunikasi antar manusia. Inilah yang membuat perusahaannya menjadi sangat populer apalagi di tengah kondisi pandemi COVID-19. Tweet dari Boris Johnson yang merupakan perdana menteri Inggris mengubah segalanya. Di tweet itu, Boris membagikan fotonya memimpin pertemuan kabinet secara virtual. Inilah yang membuat kepopuleran Zoom menjadi tak terkendali. Dari yang awalnya hanya untuk keperluan bisnis, kini Zoom menjadi bagian yang penting dalam kehidupan masyarakat, mulai dari sekolah, kegiatan ibadah, pernikahan, dan bahkan pemerintah. Hal ini tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Eric. Walaupun pandemi COVID-19 membuat kekayaannya meningkat dan Eric masuk dalam jajaran 400 orang terkaya di Amerika Serikat, hal ini tidak membuat dia bahagia. Karena pada bulan April 2020 lalu saat kasus COVID-19 mulai meningkat di berbagai belahan dunia, itu adalah waktu paling sibuk dan stress dalam hidupnya. Saat itu, Eric hanya melakukan tiga hal: Zoom, makan, dan tidur. Bahkan, tak jarang juga dia begadang untuk menyelesaikan beberapa persoalan Zoom, termasuk dalam hal keamanan. 

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.