Pilih Mana? Jadi Generalis atau Spesialis?

Jangan pernah merasa terlambat untuk memulai. Keahlian kamu di masa lalu akan membantu perkembangan karir kamu di masa depan.

Kali ini saya akan membahas buku Range, Why Generalists Triumph in a Specialized World karya David Epstein. Buku ini membahas soal menjadi orang yang serba bisa ternyata punya keunggulan tersendiri dalam bidang yang sangat spesialis. David telah meneliti atlet yang paling sukses, seniman, musisi, penemu, hingga ilmuwan. Dalam penelitiannya, David menemukan fakta yang menarik. Orang yang serba bisa atau dikenal sebagai generalis malah bisa lebih sukses. Ini mematahkan anggapan lama kalau kamu mau menjadi ahli dalam sebuah bidang, kamu harus mulai dari awal dan menjadi spesialis dalam jangka panjang. David punya argumen yang berbeda. Generalis biasanya menemukan jalannya lebih lama karena di awal mereka mencoba banyak hal daripada fokus pada satu hal. Namun, pengalaman mereka terhadap banyak hal ternyata membuat generalis menjadi orang yang lebih kreatif, lebih fleksibel, dan lebih mudah berkomunikasi dengan orang lain. Keunggulan ini memberikan warna tersendiri hingga mampu mengantarkan seorang generalis ke tangga kesuksesannya sendiri.

Saya merangkumnya menjadi tiga hal penting dari buku ini:

Kenapa menjadi generalis?

Kenapa menjadi generalis?

Apakah kamu seorang spesialis atau generalis? Apakah kamu orang yang serba bisa atau jago di satu bidang? Tentu saja, kita tidak bisa memilih keduanya, karena waktu kita yang terbatas. Ini memang sebuah dilema. Banyak orang beranggapan kalau jadi generalis bukanlah hal yang baik, bahkan ada istilah Jack of All Trade Master of None, artinya kalau kita jadi orang yang serba bisa, kita tidak punya keahlian apapun. Ditambah lagi, kita terbiasa diajarkan kalau di dunia yang serba kompetitif, kita harus menjadi spesialis yang hebat sebagai pembeda dengan orang lain. David punya pandangan yang berbeda. Kita harus mencoba banyak hal dulu, mendapatkan pengalaman yang beragam, dan bereksperimen tanpa henti. Atlet profesional bisa sampai di puncak karirnya karena mereka menghabiskan waktu yang banyak untuk berlatih daripada rekannya yang lain. Namun, ada hal yang menarik ketika para ilmuwan meneliti perkembangan atlet tersebut dari kecil. Ternyata ketika kecil, para atlet profesional tersebut menjalani fase yang disebut oleh para ilmuwan sebagai “sampling period”. Ini adalah fase di mana mereka mencoba berbagai jenis cabang olahraga. Saat itu, mereka mendapatkan berbagai keahlian fisik dan mulai memahami kemampuan mereka masing-masing, hingga akhirnya mereka memilih untuk fokus pada satu bidang. 

Tiger Woods yang merupakan juara dunia permainan golf internasional telah berlatih golf sejak usianya 2 tahun. Namun tidak semua atlet sukses harus seperti Tiger Woods yang merupakan spesialis sejak kecil. Roger Federer yang merupakan salah satu pemain tenis terbaik dunia, punya jalan karir yang berbeda. Pada saat Roger kecil, dia mencoba banyak olahraga dulu sebelum akhirnya jatuh cinta pada tenis. Beberapa olahraga yang Roger kecil tekuni seperti olahraga ski, bola basket, skateboarding, dan bulutangkis. Walaupun ibunya merupakan pelatih tenis, namun dia tidak pernah melatih Roger karena tidak ingin mencampuri pilihan olahraga Roger. Hingga pada akhirnya Roger baru mulai fokus tenis saat dia remaja. Bagi Roger, mencoba berbagai cabang olahraga membantu dia dalam membangun koordinasi yang baik antara mata dan tangannya. Roger dan Tiger memiliki jalan yang berbeda untuk meraih kesuksesan. 

Lingkungan belajar yang berbeda
Sumber foto: sites.tufts.edu

Lingkungan belajar yang berbeda

Ada sebuah teori dari seorang psikolog bernama Robin Hogarth. Dia membagi situasi pembelajaran seseorang menjadi kind learning environment dan wicked learning environment. Kind learning environment adalah kondisi di mana pola pembelajaran sudah jelas dan yang paling penting, setiap kali kamu melakukan sesuatu, umpan baliknya sudah jelas seperti apa. David mencontohkan kind learning environment seperti catur dan golf. Di dua cabang olahraga ini, aturannya sangat jelas dan langkah apa yang kamu ambil, maka kamu bisa langsung melihat umpan baliknya dalam sebuah pola, kamu hanya perlu menyesuaikannya. Di kondisi ini, kamu pasti bisa menjadi pemain yang lebih baik apabila kamu melakukannya terus menerus sehingga kamu lebih memahami pola yang ada. Kedua adalah wicked learning environment. Nah ini adalah kondisi yang 180 derajat berbeda. Kadang informasi yang kita terima tidak 100% kita ketahui, umpan baliknya juga terlambat atau bahkan tidak akurat. Di kondisi seperti ini, kita butuh kemampuan yang lebih luas bukan hanya di satu bidang saja. Di awal saya sempat membahas soal Tiger Woods dan Roger Federer. David berargumen mereka berdua mencapai kesuksesan dengan cara yang berbeda karena perbedaan lingkungannya. Golf, catur, dan pemadam kebakaran, menurut David tergolong dalam tipe kind learning environment karena kegiatan tersebut tidak terlalu dinamis dan terbatas pada pola tertentu. Oleh karena itu, orang yang telah mengulangnya ratusan hingga ribuan kali memiliki kemampuan yang lebih unggul. Di sisi lain, tenis, prediksi keuangan, dan inovasi teknologi adalah kegiatan yang tergolong wicked learning environment. Kegiatan ini sangat dinamis dan memiliki pola yang tidak menentu. Jadi, pengalaman di berbagai area akan membantu kamu untuk mengambil keputusan yang lebih baik.

Perjalanan karir tidak seperti garis lurus
Sumber foto: Perjalanan karir tidak seperti garis lurus

Perjalanan karir tidak seperti garis lurus

Pengembangan keahlian dan peningkatan karir jarang sekali berbentuk linear dari point A ke B. Namun, dalam perjalanannya kita akan menghadapi masalah, putar balik, dan penuh eksperimen. Bagi David, pembelajaran yang paling baik berjalan lambat dan menyeluruh. Hal ini membutuhkan waktu bagi seseorang untuk mencoba bidang yang lain. Itulah sebabnya kita tidak perlu merasa ketinggalan. Apalagi ketika kita melihat orang yang lebih dulu memulai di bidang yang kita jalani sekarang. Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain yang usianya lebih muda dari kamu, tapi bandingkan dengan dirimu sendiri di masa lalu. Yang paling penting jangan takut untuk bereksperimen dan mencoba berbagai pengalaman sebelum akhirnya kamu memutuskan bidang mana yang kamu tekuni. 

Mungkin ada anggapan kalau berpindah keahlian adalah hal yang sia-sia, misalnya kamu awalnya bekerja sebagai akuntan, dua tahun kemudian kamu pindah profesi menjadi marketing. Kamu mungkin merasa kok sayang ya waktu yang saya habiskan menjadi akuntan malah jadi tidak bermanfaat karena sekarang saya menjalani profesi sebagai marketing. Coba kalau dari awal saya mulai menjadi marketing, pasti karir saya lebih cepat. Apakah ini benar? Belum tentu. Pengalaman kamu sebelumnya bukan berarti tidak berguna, namun akan membantu kamu dalam profesi yang kamu jalani sekarang. Saya jadi teringat kisah Steve Jobs, dia bilang dulu saat masih kuliah, dia mengambil kelas kaligrafi. Mungkin banyak orang melihat itu tidak ada gunanya bagi perkembangan karirnya. Namun, ternyata kelas kaligrafi tersebut membantu Steve Jobs dalam mendesain huruf yang ada di Apple sehingga sekarang kita punya font yang bagus di komputer. Jadi, tidak benar apa yang kamu pelajari sebelumnya tidak berguna, semua hal itu akan membantu kamu di masa depan karena memberikan perspektif yang baru.

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.