Cara Bangkit dari Kegagalan dan Belajar dari Kesalahan

Dalam hidup, kadang kamu berhasil, tapi kadang kamu belajar dari kesalahan. Kemampuan belajar dari kesalahan adalah kualitas orang sukses di dunia.

Kali ini saya akan membahas buku Sometimes You Win, Sometimes You Learn karya John C. Maxwell. Buku ini membahas soal pelajaran terbaik di dunia berasal dari kesalahan hidup. Bagi John, kesalahan hidup adalah kesempatan untuk bertumbuh. Namun tidak semua berpikir seperti itu. Ada orang yang tanpa sadar mengkaitkan kesalahan dengan harga dirinya, ini yang membuat orang tersebut kesulitan ketika melakukan kesalahan. Dia merasa dirinya tidak cukup baik. Padahal yang jauh lebih penting adalah apa yang kamu pelajari setelahnya. John berargumen, tidak ada namanya kita kalah selama kita punya mindset yang benar untuk belajar dari kesalahan di masa lalu.

Saya merangkumnya menjadi tiga hal penting dari buku ini:

Kesalahan bukan berarti gagal
Sumber foto: tlnt.com

Kesalahan bukan berarti gagal

Banyak orang diajarkan sejak kecil kalau membuat kesalahan adalah hal yang buruk. Kenyataannya, kita baru bisa belajar ketika kita membuat kesalahan. Kesalahan menunjukkan hal yang tidak kita ketahui dan ketika kamu berbuat kesalahan, maka pada akhirnya kamu telah mengetahuinya. Namun ada tipe orang yang berbeda. Orang yang tidak sadar kalau mereka lahir dalam sebuah sekolah kehidupan. Jika kita tidak belajar atas kesalahan kita pertama kali, maka kita mungkin akan mengalami kesalahan yang sama berulang kali dengan bentuk yang berbeda. Sejarah membuktikan, banyak penemuan dan pencapaian besar berasal dari orang yang belajar dari kesalahannya. Mungkin analogi yang lebih tepat untuk hal ini adalah kisah Thomas Alva Edison. Suatu hari ada seorang reporter yang bertanya kepada dia, “Bagaimana rasanya gagal 1.000 kali?” Edison lalu menjawab, “Saya tidak gagal 1.000 kali. Bola lampu adalah penemuan dengan 1.000 langkah.” “Sukses besar dibangun di atas kegagalan, frustasi, bahkan malapetaka.” Inilah orang yang melihat kegagalan bukan sebagai jalan buntu, tapi sebuah peluang untuk bisa belajar dari kesalahan agar tidak mengulanginya di masa depan. Menariknya, melakukan kesalahan bisa dilakukan oleh siapa saja, tanpa melihat seberapa lama pengalaman yang kamu miliki atau seberapa tua kamu. Sebagai contoh, John bercerita kalau di umurnya ke-67 tahun, dia masih membuat kesalahan pada buku ke-71 nya. Hal ini menunjukkan di usianya yang tak lagi muda dan pengalamannya yang banyak sekali dalam membuat buku, John masih melakukan kesalahan. Bedanya adalah dia sekarang punya keahlian untuk belajar dari kesalahan tersebut dan move on lebih cepat. 

Belajar dari kesalahan bukanlah kemampuan yang memang dari sananya, fakta kalau kamu melakukan kesalahan, bukan berarti kamu pasti belajar dari kesalahan tersebut. Ketika kamu mulai menerima dan belajar dari kesalahan tersebut, itulah awal mula perkembangan kamu secara pribadi dimulai. John pernah bilang kalau pengalaman bukanlah guru terbaik, tapi mengevaluasi pengalaman itu baru guru terbaik. Sederhananya, kamu mulai bertanya kenapa salah? Apa yang bisa dipelajari dari kejadian ini? Kedua pertanyaan ini merupakan sangat penting dan menjadi penentu kesuksesan dan kegagalan kamu di masa depan. Jika kamu berkomitmen untuk melakukan hal yang berbeda di masa depan ketika kesalahan yang sama muncul, maka kamu berarti sudah selangkah di depan.

Sebab membuat kesalahan
Sumber foto: reasonstreet.co

Sebab membuat kesalahan

Setiap orang punya cara yang berbeda dalam menghadapi kesalahan atau kegagalan. Beberapa orang bisa bangkit dari kesalahan mereka, namun ada juga yang gagal. Apa yang membedakan mereka? Menurut John, hal itu terletak pada kerendahan hati. Orang yang sombong sulit menerima kegagalan dan hal ini membuat mereka tidak bisa maju. Mereka lebih suka mencari pembenaran dan menyalahkan orang lain. Ada kalimat yang menarik di buku ini. Orang yang membuat kesalahan, lalu mencari alasan atas kesalahan mereka, maka orang tersebut sudah melakukan kesalahan dua kali. Ini yang perlu kita cermati bersama. Ada ungkapan lain yang menarik. Zaman batu tidak berhenti karena orang pada zaman itu kehabisan batu. Zaman batu berhenti karena mereka terus belajar dan berkembang. Itulah beda pola pikir orang yang berhasil dan tidak. Mereka tidak melihat kesalahan atau kegagalan sebagai hal yang tabu, tapi mereka mengakuinya dan belajar agar tidak mengulangi hal yang sama.

John menjelaskan, kita membuat kesalahan biasanya disebabkan oleh dua hal. Pertama, kita membuat kesalahan karena ketidaktahuan artinya kita tidak memiliki informasi yang cukup. Kedua, kita membuat kesalahan karena kebodohan artinya kita punya informasi yang cukup tapi tidak memanfaatkannya dengan baik. Kita harus memahami ketika kita melakukan kesalahan, apa sebab utamanya? Apakah karena ketidaktahuan atau karena kebodohan? Hal ini penting untuk menyadari kesalahan yang dibuat sebelumnya dan akan lebih mudah bagi kita untuk menerima dan belajar dari kesalahan tersebut. Tentu saja, kesalahan dan kegagalan adalah hal yang menyakitkan. Tapi, apabila kamu tahu kalau kamu tidak mungkin gagal maka artinya kamu tidak pernah mengambil resiko. Perlu kita pahami kalau kesuksesan yang bertahan dalam jangka panjang berasal dari kegagalan dan belajar dari kegagalan tersebut. Ini adalah perbedaan yang sangat besar antara orang sukses dan tidak. Orang sukses paham kalau kadang mereka akan berhasil, tapi kadang mereka juga belajar dari kesalahan yang mereka buat.

Belajar dari kesalahan
Sumber foto: insperity.com

Belajar dari kesalahan

Orang yang sukses dalam hidup tidak berusaha untuk lari dari kegagalan atau kesalahan. Mereka menghadapinya, menerimanya, dan bergerak maju. Ketika kamu menjalani masa yang sulit, kamu harus ingat kalau hidup akan jauh lebih sulit apabila kamu berhenti belajar. Oleh karena itu, langkah paling awal untuk belajar dari kesalahan adalah dengan menerima. Kamu harus bilang kalau kamu bertanggung jawab atas apa yang kamu bisa kontrol dan melepaskan hal yang tidak bisa kamu kontrol. Menurut saya, ini poin yang cukup penting. Ketika kamu menerima tanggung jawab atas kesalahan yang kamu buat, maka di saat itulah kamu baru bisa belajar. Jika tidak, maka kamu akan mengulangi kesalahan yang sama lagi dan lebih parahnya lagi berpikir kalau dirimu adalah korban. Ini adalah hal yang berbahaya. Di fase ini, kamu bisa sibuk menyalahkan orang lain atau keadaan, dan melupakan hal yang paling penting yaitu mengakui kesalahan yang sudah dibuat dan belajar dari situ. 

Salah satu tips yang menarik yaitu kamu harus punya beginner’s mindset yang artinya pola pikir pemula. Kamu berhenti berpikir kalau kamu tahu segalanya, kamu selalu terbuka hal baru. Pola pikir ini akan membuat kamu mencoba hal yang berbeda dan melihat semua orang yang kamu temui sebagai kesempatan untuk belajar. Analogi yang paling mudah dipahami yaitu bayangkan kamu seperti anak kecil yang penuh rasa penasaran. Anak kecil itu pasti penuh dengan pertanyaan atas banyak hal di dunia. Anak kecil pada dasarnya memiliki kemampuan ini secara naluriah, namun ketika kita dewasa, kita seakan telah melupakannya. Inilah yang harus kamu pelajari kembali untuk membuat pola pikir kamu kembali lagi menjadi pemula dan terbuka atas semua kemungkinan dalam hidup.

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.