Kisah yasa singgih, Pengusaha Muda Indonesia yang Masuk Forbes 30 Under 30 Asia

Modal awal dalam berbisnis, kamu harus berani melangkah. Inilah yang akan membuat pintu peluang terbuka di hidupmu. Namun, berani saja tidak cukup, kamu butuh ilmu dan ketekunan agar sebuah bisnis bisa bertahan dalam jangka panjang.

Kali ini saya akan membahas kisah inspiratif dari Yasa Singgih yang merupakan pendiri dari Men’s Republic. Yasa juga sempat masuk dalam jajaran Forbes 30 under 30 di Asia pada tahun 2016. Menariknya, saat itu dia merupakan pengusaha termuda karena usianya baru 20 tahun.

Yasa Paramitha Singgih lahir pada tahun 1995 di Bekasi. Dia bukan berasal dari kalangan pengusaha dan lahir dalam keluarga yang sederhana. Ayah dan ibunya merupakan karyawan swasta dan Yasa merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Dua orang kakaknya bekerja sebagai karyawan kantoran, hanya Yasa yang memutuskan untuk menjadi pengusaha. Ketika ditanya mau jadi apa saat Yasa masih di bangku sekolah, dia menjawab ingin menjadi karyawan kantoran yang sukses. Namun, ketika umurnya 15 tahun, ada perubahan besar dalam keluarga mereka. Ayah Yasa jatuh sakit dan terkena serangan jantung. Saat itu, ayahnya harus segera operasi pasang ring karena ada penyempitan pembuluh darah. Ada satu kalimat yang masih diingat oleh Yasa hingga sekarang, ayahnya bilang ke keluarganya, kalau dia sakit berkepanjangan, jangan gunakan semua uang keluarga untuk penyakit yang dideritanya. Utamakan uang tersebut untuk biaya pendidikan Yasa dan kakaknya dulu. Waktu itu, Yasa baru naik ke kelas 1 SMA dan dia mulai berpikir apa yang mau dia lakukan ke depannya agar tidak membebani keluarganya. Hingga akhirnya, Yasa bilang ke orang tuanya kalau mulai dari kelas 1 SMA, dia tidak usah diberikan uang jajan lagi. Jadi, orang tuanya hanya membiayai uang sekolahnya selama SMA dan ketika Yasa melanjutkan kuliah dari S1 hingga ke S2, dia mampu membiayai pendidikannya sendiri. Alasan utama Yasa menjadi pengusaha, bukan karena cita-cita ingin jadi pengusaha, tapi dia tergerak dengan pengorbanan orang tuanya yang mati-matian demi pendidikan semua anaknya.

Sumber foto: startupnation.com

Perjalanan Yasa untuk menjadi pengusaha pun dimulai. Karena sudah tidak ada uang jajan lagi, Yasa pun berpikir keras untuk mencari peluang usaha. Hingga suatu hari, dia terpikir untuk membuat kaos. Awal mulanya sangat sederhana yaitu dia mendesain sendiri kaosnya dengan menggunakan microsoft word dan kemudian mengirimnya kepada konveksi. Hasilnya ternyata sangat buruk, karena tentu saja microsoft word tidak diperuntukkan untuk desain kaos. Ibunya yang melihat hasil kerja keras anaknya, menjadi tidak tega dan kemudian membeli satu kaosnya. Itu adalah pelanggan pertama Yasa. Dari kegagalan awalnya membuat kaos sendiri, dia mulai berpikir peluang usaha yang lain. Ketika masih di bangku SMA, dia pulang pergi naik angkot dari rumah ke sekolah. Yasa pun sering bercerita kalau dia mau usaha karena tidak menerima uang jajan lagi. Banyak orang memberikan nasehat kepada Yasa apabila dia ingin berusaha, maka dia harus pergi ke Tanah Abang, karena itu adalah pusat grosir terbesar se-Asia Tenggara. Saat itu, dia belum pernah sekalipun datang ke Tanah Abang. Hingga suatu hari, ketika pulang sekolah, Yasa mampir ke Tanah Abang untuk membeli barang di sana. Dia masih ingat, dulu modal dia pertama kali adalah 700 ribu rupiah untuk membeli barang di Tanah Abang. Kemudian, keesokan harinya, dia pergi ke sekolah dengan tas yang berisi barang yang dia beli di Tanah Abang untuk dijual lagi ke teman-temannya di sekolah. Dari situ, Yasa kemudian mencoba-coba untuk menjajakan barangnya di forum jual beli di platform Kaskus, ternyata produknya laku juga di sana. Itulah asal mula bisnisnya. Awalnya, Men’s Republic itu bukan sebuah merek fashion, tapi merupakan nama toko online yang dimiliki oleh Yasa. Namun, ketika bisnisnya mulai berkembang, Yasa tidak lagi menjual produk fashion dari supplier, tapi membangun merek sendiri dengan nama Men’s Republic. Hingga yang terbaru, Men’s Republic fokus lini produknya ke sepatu. Perubahan strategi bisnisnya dari baju ke sepatu, ternyata adalah keputusan yang tepat. Ini yang membuat Men’s Republic menjadi besar. 

Keputusan Yasa untuk mengubah fokus produknya ke sepatu, tidak lepas dari pengaruh keluarganya juga. Sebagai informasi, ayahnya merupakan pegawai kantoran dari perusahaan sepatu dan Yasa kecil sering diajak ke toko sepatu setiap kali dia pergi ke pusat perbelanjaan. Secara tidak sengaja, dari kecil Yasa sudah sangat familiar dengan sepatu. Antara tahun 2013 dan 2014, ayahnya pensiun dari perusahaan sepatu tempat dia bekerja. Ini membuat Yasa memutuskan untuk mencoba berbisnis sepatu karena ayahnya sangat kompeten di bisnis sepatu, maklum saja ayahnya bekerja di perusahaan sepatu sekitar 25 tahun. Dengan berbekal pengalaman dan koneksi ayahnya, Yasa bisa bertemu dengan pabrik sepatu untuk memproduksi bisnis sepatu pertamanya. Beruntungnya, berkat hubungan baik dengan ayahnya, para pabrik sepatu memberikan hutang bagi Yasa sehingga bisa sangat membantu arus kas perusahaannya. Penjualannya sepatunya pun terus naik, hingga puncaknya pada tahun 2016 dan 2017. Saat itu, dia bisa menjual 2,500 hingga 3,000 pasang sepatu per bulan. Yasa merasa timing-nya juga sangat tepat, karena waktu itu Instagram sedang booming dan gaya sepatu boots kulit juga sedang booming. 

Sumber foto: bisnis.com

Ada beberapa pelajaran bisnis dari kisah Yasa bagi kamu yang ingin mulai berusaha. Pertama, berani melangkah. Ini adalah tagline bisnis Men’s Republic. Tagline ini membekas sekali di benak Yasa. Ketika dia melihat ke belakang, semua keberhasilannya berasal dari satu kata yaitu keberanian, mulai dari bikin kaos sendiri dengan microsoft word, pergi ke Tanah Abang untuk mencari barang, hingga berani mengutang kepada pabrik sepatu. Keberanian inilah yang membuat banyak peluang terbuka di hidupnya. Yasa juga menekankan, mungkin dia bisa ada di titik sekarang karena dia berani melangkah. Kedua, jangan takut salah. Yasa mengakui kalau dirinya tipe orang yang melangkah dulu, baru kemudian berpikir bagaimana ke depannya. Hal inilah yang membuat dia banyak membuat kesalahan. Walaupun begitu, bagi Yasa, ini adalah pelajaran berharga bagi dirinya. Yasa bercerita, dulu ketika dia memutuskan untuk berbisnis sepatu, bukan karena dia cinta banget dengan sepatu, namun karena dia merasa ayahnya bisa membantu dia untuk bisnis sepatu. Sepanjang perjalanannya, Yasa juga belajar banyak hal, mulai dari bagaimana memecat karyawan, nego ke supplier, dan sebagainya. Ketiga, bisnis itu butuh kolaborasi. Ini merupakan sesuatu yang baru disadari oleh Yasa. Selama ini, dia selalu berpikir, kalau kita bisa menjalani semuanya sendiri, kenapa harus punya partner? Ternyata, setelah menjalani bisnisnya selama lima tahun, dia baru sadar, kalau untuk membuat bisnisnya lebih besar dari yang sekarang, dia harus berkolaborasi. Keempat, pengusaha harus paham keuangan. Yasa baru menyadari hal ini ketika bisnisnya terhantam pandemi COVID-19. Saat itu, bisnisnya turun hingga 80%. Kondisi ini membuat Yasa harus mengambil keputusan berat yaitu restrukturisasi karyawan, menunda kegiatan pemasaran, dan sebagainya. Fokus bisnisnya juga berubah dari bagaimana caranya untuk menjadi besar, sekarang jadi bertahan hidup. Selain itu, Yasa pun jadi rutin mengecek kondisi arus kas perusahaannya. Dia baru sadar, selama ini, perusahaannya punya omzet yang besar, tapi ternyata kas yang ada di tangan sangat sedikit, karena banyak uangnya telah digunakan untuk membeli stok barang. Padahal, dalam kondisi bertahan hidup, uang segar merupakan indikator utama yang menjaga perusahaan bertahan. Pelajaran ini membuat Yasa harus memperhatikan ketersediaan dana darurat bagi perusahaannya. Dia menyadari, bisnis yang dibangun bertahun-tahun, bisa hancur dalam beberapa bulan bila tidak punya dana darurat ketika kondisi bisnis tidak kondusif. Kelima, pengusaha harus terus belajar. Dulu, ketika masih SMA, Yasa sempat terpikir tidak ingin kuliah karena sudah keasyikan mencari uang. Namun, semakin dijalani, dia menyadari kalau dia kurang ilmu dalam menjalankan bisnis dan pendidikan merupakan hal yang sangat penting untuk membantu dia meningkatkan skala bisnis yang dijalaninya. Itulah yang membuat Yasa memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya hingga S2. Bahkan ketika kuliah S2, dia mengambil kelas eksekutif, agar dia bisa sekelas dengan orang yang usianya jauh di atas dirinya. Yasa sengaja melakukan hal ini agar selain dia belajar di kelas, dia juga bisa belajar dari teman sekelasnya yang sudah lebih berpengalaman. 

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.