Kisah Bos AirAsia Membeli AirAsia Seharga 1 Ringgit

Percayalah pada hal yang mungkin sulit dipercaya, mimpilah pada hal yang mungkin terlihat tidak mungkin, dan jangan bilang tidak sebagai sebuah jawaban.

Kali ini saya akan membahas kisah inspiratif dari Tony Fernandes, CEO dari AirAsia Group. Pada tahun 2001, Tony membeli AirAsia yang sedang terlilit hutang seharga 1 ringgit Malaysia. 16 tahun kemudian, AirAsia melayani 56,6 juta pelanggan ke lebih dari 120 destinasi.

Tony Fernandes lahir pada tahun 1964 di Kuala Lumpur, Malaysia. Dari kecil, dia dididik untuk mengikuti jejak ayahnya menjadi dokter. Namun, ternyata Tony punya rencana berbeda. Ketika Tony kecil, dia sering ikut ibunya untuk berjualan tupperware. Itulah yang membuat Tony merasa kalau jiwa marketingnya berasal dari ibunya yang sukses berjualan tupperware di Malaysia. Ketika Tony mulai bersekolah di Inggris ketika usianya 12 tahun, saat itu impiannya hanya bisa pulang ke Malaysia selama libur semester. Namun sayangnya, hal itu sulit terwujud. Tiket pesawat yang mahal membuat Tony kesulitan untuk pulang ke Malaysia. Jadi saat itu, Tony bermimpi kalau penerbangan dari London ke Kuala Lumpur cukup terjangkau sehingga setiap orang bisa bepergian tanpa terlalu memikirkan biayanya. Ini adalah percikan awal dari keinginan terpendamnya untuk membuat penerbangan bisa diakses oleh semua orang. Tony lulus dari London School of Economics dan bekerja sebagai akuntan di Virgin Atlantic dan Virgin Communication. Tidak berapa lama, dia lalu pindah ke Warner Music. Di sana karir Tony sangat cemerlang. Dia bahkan berhasil menjadi Managing Director Warner Music Malaysia termuda. Saat itu, Tony berusaha untuk mendorong digitalisasi di Warner Music, tapi para eksekutif di sana tidak melihat hal yang sama. Mereka berpikir internet akan merusak bisnis musik. Namun, Tony berargumen, kalau kita tidak bisa menghentikan perkembangan teknologi, kita harus menyesuaikan diri. Hingga akhirnya, Time Warner memutuskan untuk merger dengan American Online, itulah yang membuat Tony memutuskan untuk keluar.

Sumber foto: business2community.com

Saat itu, Tony sedang duduk di bar yang ada di London sambil berpikir apa yang ingin dia lakukan kedepannya. Tanpa sengaja, Tony melihat iklan penerbangan dengan tarif murah yaitu EasyJet di TV. Dia lalu teringat kembali pada mimpinya saat kecil dulu. Tony bercerita kalau ketika kecil, dia selalu bilang ke ayahnya kalau dia ingin membeli pesawat, tapi tentu saja saat itu dia tidak tahu bagaimana caranya. Hingga sudah menjadi CEO dari perusahaan musik besar, Tony pun juga masih tidak tahu caranya bagaimana, karena ini adalah area baru yang tidak pernah dimasuki sebelumnya. Walaupun ini terlihat langkah yang sangat berani, Tony akhirnya memutuskan, mungkin inilah saatnya bagi dia untuk memulai bisnis penerbangan. Tony berpikir, hidup cuma sekali, jika saya gagal, ya sudah. Saya bisa cari kerja lagi yang lain. Namun, dia tidak ingin ketika pensiun, menyesal karena tidak melakukannya. Tony pun lalu berusaha untuk mempelajari konsep maskapai penerbangan dengan tarif murah lebih lanjut. Saat itu, dia mempelajari konsep dari RyanAir. Tony pun terkesima dengan model bisnisnya dan bergegas untuk kembali ke Malaysia dan bertemu dengan Perdana Menteri Malaysia pada saat itu. 

Ketika bertemu dengan Dr Mahathir Mohamad yang merupakan perdana menteri Malaysia pada masa itu, Tony mempresentasikan ide bisnisnya. Namun, Dr Mahathir memberikan saran, daripada Tony memulainya dari nol, bagaimana kalau dia membeli maskapai pesawat yang sudah ada. Saat itu, AirAsia adalah bagian dari DRB-HICOM milik Pemerintah Malaysia. Pada musim gugur tahun 2001, itu adalah saat di mana maskapai di seluruh dunia sedang mengalami kesulitan untuk bertahan, imbas dari serangan teroris 9/11 di Amerika Serikat. Walaupun begitu, Tony berani membeli AirAsia seharga 1 ringgit Malaysia. Kondisi AirAsia saat itu sangat memprihatinkan. Maklum saja, saat itu, hutangnya mencapai 11 juta dolar. Tony pun terpaksa menggadaikan rumahnya dan menggunakan tabungan pribadinya untuk membeli AirAsia. Walaupun begitu, Tony merasa itu merupakan waktu yang tepat bagi dia untuk memulai bisnis penerbangan. Saat itu, sebagai imbas dari 9/11, biaya sewa pesawat turun hingga 40%. Selain itu, banyak maskapai juga merumahkan karyawan mereka. 

Sumber foto: expertvagabond.com

Ketika membeli AirAsia, Tony pun sadar dia harus bergerak cepat. Beruntungnya, Tony berhasil menemukan beberapa hal yang bisa mendukung perkembangan AirAsia. Pertama yaitu menggunakan model bisnis Low Cost Carrier yaitu menjadi maskapai penerbangan dengan tarif murah. Ada beberapa perbedaan mendasar yang menjadi trade off dari tarif tiket yang murah yaitu tidak ada makanan dan minuman gratis di pesawat, tidak bebas memilih kursi, dan tidak ada refund. Selain itu, AirAsia juga menekan waktu utilisasi pesawatnya, sehingga pesawatnya dapat segera terbang. Selain itu, ada fakta yang menarik. Saat itu, hanya 6% dari warga Malaysia yang bepergian, ini adalah peluang besar bagi AirAsia untuk membesarkan pangsa pasarnya ke 94% lainnya. Ditambah lagi, Tony berani membuka rute penerbangan yang sebelumnya tidak ada. Maklum saja, dengan struktur biaya maskapai dengan tarif murah, hal ini akan mendorong banyak orang untuk beralih moda transportasi menggunakan pesawat. Ini adalah salah satu penyumbang terbesar dari keuntungan AirAsia. Faktor terbesar lainnya yang menjadi pembeda antara AirAsia dan maskapai lainnya yaitu digitalisasi. Pada tahun 2001, belum banyak orang menggunakan internet. Namun, Tony percaya kalau internet adalah masa depan. Sejak awal, AirAsia sudah berani berinvestasi pada teknologi digital, khususnya pada penjualan tiket online dan call center. Hingga ketika masyarakat sudah familiar dengan internet dan menggunakannya, AirAsia sudah berada jauh di depan dibandingkan kompetitornya. Berkat tangan dingin dari Tony, dalam dua tahun, keadaannya berubah 180 derajat. AirAsia terbebas dari hutang dan pada tahun 2017, valuasi AirAsia mencapai 1,5 miliar dolar. Salah satu pencapaian terbesar Tony lainnya yaitu kerjasama udara terbuka atau open sky. Pada pertengahan tahun 2003, Tony berhasil meyakinkan Dr Mahathir untuk membawa ide tersebut kepada negara tetangga yang lain. Hasilnya, Indonesia, Singapura, dan Thailand berhasil menandatangani perjanjian kerjasama udara terbuka dengan Malaysia.

Walaupun sebagai CEO dari perusahaanya sendiri, Tony tidak keberatan untuk terjun ke bagian operasional. Dia merasa kalau dia sangat hijau di industri penerbangan. Jadi, Tony harus secepat mungkin belajar dari timnya yang berpengalaman seperti para insinyur, pilot, kru kabin, dan sebagainya. Setiap dua bulan sekali, dia merupakan salah satu awak kabin di salah satu pesawatnya atau di bagian counter check in atau di bagian loading dan unloading barang. Ini adalah cara Tony untuk terus memahami gambaran realita yang terjadi di lapangan. Dia bercerita caranya yang seperti ini bisa memahami bagaimana menjalankan bisnis yang berbeda di tiap negara. Tony mengambil contoh, ketika dia di Thailand, saat itu para pilot protes apabila mereka satu bus dengan para pramugari. Hal yang sama tentu saja berbeda dengan di Malaysia, para pilot justru tidak masalah apabila mereka bersama dengan para pramugari, malah mereka senang. Perbedaan budaya inilah yang hanya bisa diketahui apabila Tony terjun langsung ke lapangan. 

Sumber foto: traveller.com.au

Bagi Tony, hidup bukanlah perlombaan lari jarak pendek, tapi merupakan marathon. Oleh karena itu, kamu tidak perlu terburu-buru dalam menjalaninya. Saat bekerja di Warner Music, Tony diberikan nasehat oleh bosnya itu jangan terlalu terburu-buru dalam hidup. Kondisinya saat itu, Tony baru dipromosikan, tapi dia sangat berambisi untuk naik jabatan lebih tinggi lagi. Bosnya memberikan saran kepada Tony untuk bersabar dan tidak perlu terburu-buru. Tidak ada hal yang lebih baik daripada pengalaman. Bosnya juga mengingatkan kalau semakin cepat kamu naik, maka semakin juga dia akan turun. Bagi Tony, ini adalah pelajaran yang sangat berharga. Dia menyadari, semakin dia tua, dia semakin belajar untuk bersabar dan ini membantu dalam menjalankan bisnisnya. 

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.