Robin Boe, Kisah Pendiri Fore Coffee

Kecintaan terhadap suatu hal akan membantu kamu meraih kesuksesan. Kecintaan ini akan menghasilkan sebuah inovasi produk yang unggul.

Kali ini saya akan membahas kisah inspiratif dari Robin Boe yang merupakan CEO dan Co-Founder dari Fore Coffee. Buat yang belum tahu Fore Coffee, jadi itu adalah gerai kopi yang memadukan teknologi dan kopi. Jadi, setiap pemesanan minuman di Fore Coffee didorong untuk memanfaatkan aplikasi atau versi websitenya. 

Robin Boe bukan lahir dari keluarga pebisnis kopi. Ayahnya merupakan pengusaha properti di Medan dan ibunya berbisnis konveksi. Setelah lulus kuliah, Robin lalu membantu usaha orang tuanya. Di situ, kepekaan Robin soal bisnis diasah. Secara pribadi, Robin pun pada dasarnya bukan pecinta kopi. Bahkan dia sempat bilang kalau dia tidak ngopi sama sekali, bahkan untuk kopi sachet sekalipun. Robin pertama kali bertemu dengan kopi saat perjalannya ke Sibisa, Medan sekitar tahun 2009. Di sana, untuk pertama kalinya Robin melihat tanaman kopi. Awalnya, berkunjung ke kebun kopi bukanlah tujuan utama Robin, saat itu dia sedang ada tugas berkunjung ke kebun jagung. Namun, karena sepanjang perjalanan dia melihat kebun kopi, hal ini membuat Robin penasaran. Dia lalu berbicara dengan petani kopi yang ada di sana dan akhirnya ketika dia pulang, petani kopi tersebut memberikan dia oleh-oleh berupa biji kopi yang harus dia jemur sendiri, proses sendiri, digongseng sendiri, baru kemudian diseduh. Ritual ini menumbuhkan kecintaan Robin dengan kopi.

Sumber foto: lifehack.org

Dari situ, Robin lalu mencoba-coba untuk membeli satu kilogram kopi dari petani yang sama dan mulai bereksperimen. Sebelum digoseng dan diseduh, dia kupas satu per satu biji kopi dengan tangan. Proses ini Robin tekuni, hingga kopinya siap untuk dijual. Namun, ketika pertama kali menjual kopinya, Robin mendapatkan protes dari pembeli karena kualitas kopinya tidak sesuai. Robin pun belajar untuk lebih memperhatikan proses pemilihan dan pengolahan bijinya. Pengalaman ini membuat Robin makin yakin untuk berbisnis kopi skala kecil walaupun pengerjaannya masih manual. Dari situ, Robin lalu mulai fokus mendalami biji kopi asal Sumatera dan serius menjalankan ekspor kopi. Hingga akhirnya, produk kopi Robin berhasil diekspor ke Australia, Malaysia, Singapura, Korea, Jepang, dan negara-negara di Afrika. Kemudian pada tahun 2012, Robin lalu membuka kedai kopi di Kruing, Medan dengan merek Otten. Selain menjual kopi dan menyangrai biji kopi sendiri, Otten Coffee juga melego alat-alat perkopian seperti penggiling, mesin espresso, dan penyeduh. Keputusan ini ternyata tepat dan membuat Otten Coffee berbeda dengan kedai kopi yang lain. Hingga tahun 2013, Robin membuka toko online untuk memperluas jangkauannya. Dari situ, pesanan soal biji kopi dan mesin kopi semakin meningkat. Bahkan, dua tahun berjalan, pendapatan Otten meningkat hingga 300 persen dan mendapatkan tawaran investasi dari perusahaan modal ventura bernama East Ventures. Kesuksesan Otten pun terus berkembang. Enam tahun setelah berdiri, Otten sudah menghasilkan belasan ton kopi biji panggang yang dikirim per bulan. Bukan hanya itu, Robin pun telah membuka cabang Otten di Senopati, Jakarta. Dia mengibaratkan Otten itu seperti disneyland bagi pecinta kopi.

Salah satu keunggulan Otten dibandingkan pesaingnya adalah hubungannya yang kuat dengan para petani, terutama di daerah Sumatera Utara. Robin menjelaskan kalau kopi yang mereka beli itu langsung dari petani bukan trader. Walaupun begitu, dia mengaku kalau Otten membelinya dengan harga tinggi sehingga para petani semangat untuk menanam kopi karena mereka yakin kalau permintaan kopi selalu ada setiap bulan. Robin mencontohkan ada sejumlah kebun di Kerinci dan Jawa yang mampu menghasilkan kopi yang enak karena petani di sana memiliki kemampuan yang baik dalam menanam kopi. Bukan hanya membeli kopi dari petani, apabila produksi petani sedang rendah, Robin pun memberikan bibit yang unggul kepada petani. Hubungan yang erat ini membantu Robin dalam memastikan persediaan kopi yang unggul dan berkualitas. 

Sumber foto: homegrounds.co

Dari Otten, Robin melihat ada peluang yang sedang berkembang di dalam negeri. Kopi bukan hal yang baru bagi Indonesia. Sebagai informasi, Indonesia merupakan negara keempat penghasil kopi terbesar di dunia. Selain itu, bisnis kopi di dalam negeri semakin bergeliat. Perilaku masyarakat juga berubah, mereka makin teredukasi untuk mulai menaruh perhatian pada jenis kopi yang mereka minum. Ditambah lagi, peminum kopi instan mulai beralih ke fresh brew dan kalau sudah begitu, mereka akan mulai mencoba specialty coffee. Permintaan soal kopi yang berkualitas juga menyuburkan sektor ritel kopi. Di tahun 2018, beberapa gerai kopi mulai mendapatkan pendanaan dari investor. Inilah yang kemudian membuat Robin memutuskan untuk mengembangkan bisnis baru bernama Fore Coffee. Sebagai informasi, nama Fore berasal dari kata Forest yang berarti hutan. Dengan nama ini, Robin bertujuan agar Fore Coffee mampu tumbuh cepat, kuat, dan memberikan nilai bagi lingkungan sekitar, termasuk juga pada para petani kopinya. Model bisnis Fore Coffee ternyata terinspirasi dari Luckin Coffee di China. Sebagai informasi, Luckin Coffee menjalankan operasinya dengan mengawinkan kopi dan teknologi. Dengan gerai yang kecil, Luckin hanya menerima penjualan lewat aplikasi mobile dan ditujukan untuk grab and go. Walaupun begitu, jumlah gerainya mencapai 6,500 gerai di China. 

Sejak diluncurkan, Fore Coffee mengambil posisi sebagai specialty coffee yang menggabungkan bisnis kopi dan teknologi sebagai sarana distribusinya. Kopi yang digunakan oleh Fore Coffee adalah 100% arabica fresh roasted dan diracik oleh Barista yang berpengalaman untuk memastikan kualitas kopinya. Soal kopi tentu saja Robin sudah sangat berpengalaman karena sudah lebih dulu mengembangkan Otten. Biji kopi yang digunakan oleh Fore Coffee merupakan specialty dan asal usul kopinya bisa ditelusuri. Keunggulan Fore Coffee yang lain yaitu gaya futuristiknya dan ramah lingkungan. Robin menggunakan mesin pembuat kopi yang berteknologi tinggi untuk setiap gerai Fore. Kesan nature dan ramah lingkungan juga terlihat dari desain interior gerainya yang serba putih dan dipenuhi berbagai dekorasi tanaman dan vertical garden. Perkembangan Fore Coffee didukung oleh infrastruktur teknologi untuk pemesanan kopi secara online yang sudah mulai terbentuk. Sebelum Fore Coffee berdiri, konsumen sudah mulai terbiasa memesan makanan dan minuman melalui Gojek atau Grab. Ditambah lagi, sejak tahun 2019, banyak orang sudah mulai familiar untuk menggunakan beragam dompet digital sehingga konsumen merasa nyaman bertransaksi melalui ponsel mereka. Inilah yang membuat perkembangan Fore Coffee boleh dibilang cepat, karena tidak perlu terlalu sulit mengedukasi konsumen untuk menggunakan aplikasinya dalam memesan sebuah kopi. Robin mengklaim 70% dari pemesanan Fore berasal dari aplikasi Fore dan sisanya berasal dari ojek online dan walk-in. 

Sumber foto: play.google.com

Jika dilihat dari persebaran gerainya, lokasi gerai Fore Coffee menyasar pada perkantoran dan wilayah dekat pemukiman. Gerainya juga memiliki tiga konsep yang beragam yaitu dine in, grab and go, dan drive-thru. Robin menargetkan pelanggan dengan usia aktif 18 hingga 55 tahun yang aktif mengkonsumsi kopi. Fore Coffee juga menggunakan data pembelian konsumen dari aplikasinya untuk menciptakan nilai tambah bagi konsumen. Ada dua hal penting yang dipelajari oleh Fore Coffee yaitu menu kopi apa yang disukai oleh konsumen dan di mana lokasi pembelian mereka. Walaupun sudah banyak merek kopi yang menggunakan aplikasi sebagai cara mereka mengenal konsumen dengan lebih baik, Fore mengklaim kalau mereka adalah yang pertama di Indonesia. Saat ini, Fore Coffee berhasil mempunyai lebih dari 100 gerai dan tersebar di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Medan. Target Fore Coffee berikutnya adalah merealisasikan 1,000 gerai Fore Coffee atas kerjasama strategis dengan Airy, perusahaan Accomodation Network Operator (ANO) di Indonesia.

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.