Strategi Investasi dari Buku Beating The Street

Untuk mengalahkan kinerja pasar saham tidak perlu pemikiran yang rumit. Semuanya berakar pada pemikiran sederhana yaitu investasi lah di perusahaan yang kamu pahami luar dalam.

Kali ini saya akan membahas buku Beating the Street karya Peter Lynch. Buku ini membahas soal strategi investasi dan bagaimana membangun portofolio investasi yang sukses. Bagi Peter, hal yang paling penting sebelum kita investasi adalah kita harus memahami kalau kode saham bukanlah tiket undian. Ada sebuah perusahaan di balik kode saham dan juga ada alasan kenapa performa harga sahamnya naik dan turun. Fokus utamanya adalah buy what you know, belilah sesuatu yang kamu tahu. Selama 13 tahun, Peter menjadi Manajer Keuangan di Fidelity’s Magellan Fund, perusahaannya berhasil mencapai imbal balik keuntungan 29% per tahun. Hasil ini sangat tinggi, bahkan kinerja indeks S&P 500 atau seperti LQ45 di Indonesia hanya bisa mencapai setengahnya di periode yang sama yaitu pada tahun 1977 hingga 1990. 

Saya merangkumnya menjadi tiga hal penting dari buku ini:

Beli saham yang kamu ketahui
Sumber foto: medium.com

Beli saham yang kamu ketahui

Ini adalah mantra yang selalu diulang oleh setiap value investor. Walaupun terdengar klise, banyak orang suka menyepelekannya. Mereka terbiasa memilih saham berdasarkan hasil rekomendasi para ahli, bukan hasil riset yang mereka lakukan sendiri. Dampaknya, bukannya meraup keuntungan, mereka malah rugi. Hal ini bukan berarti rekomendasi ahli tidak berguna, tentu saja penting sebagai second opinion. Namun, jauh lebih penting lagi adalah kamu harus tahu dulu saham apa yang kamu beli dan menganalisanya. Peter bercerita soal sekelompok anak kelas tujuh yang belajar investasi sebagai bagian dari mata pelajaran di kelasnya. Anak-anak tersebut kemudian diminta riset dulu untuk memilih perusahaan mana yang ingin mereka investasikan. Setelah mereka sudah memilih, nantinya mereka harus mempresentasikan pilihannya di depan kelas dan memberitahu alasan kenapa memilih perusahaan tersebut. Mereka memilih perusahaan dari produknya yang mereka kenal dan gunakan misalnya Wal-Mart, Disney, Nike, dan PepsiCo. Ternyata, pilihan anak kelas tujuh tersebut sangat bagus dan mampu mengalahkan indeks S&P 500 secara signifikan. Sebagai gambaran, dalam dua tahun, portofolio murid tersebut mendapatkan keuntungan hingga 70%, sedangkan imbal hasil pasar hanya sekitar 26%. Cerita ini menjelaskan kalau anak kelas tujuh saja bisa sukses berinvestasi asalkan mereka memilih perusahaan yang mereka pahami dan melakukan riset sebelumnya. 

Ada mitos yang bilang kalau jadi investor itu enak, kerjanya santai, uang yang bekerja untuk kita. Hal tersebut tentu saja ada benarnya, namun yang luput dari pandangan orang lain adalah untuk bisa mengetahui saham dengan baik, kamu perlu kerja keras. Suatu hari, Peter pernah ditanya oleh salah satu TV nasional soal resep suksesnya, dia menjawab kalau dia mengunjungi 200 perusahaan dan membaca 700 laporan tahunan setiap tahun. Untuk mempelajari saham yang ingin dia beli, Peter mendatangi langsung perusahaan tersebut, berbicara dengan petinggi perusahaannya, dan berdiskusi soal rencana dan prospek dari perusahaan tersebut. Ini adalah rahasianya. Dari sini kita belajar bahwa tidak ada jalan mudah untuk menjadi sukses, apalagi mempertahankannya. Dengan menganalisa sendiri saham yang akan dipilih, Peter jadi bisa menjelaskan alasan di balik saham yang dia pilih. Perlu dipahami, nama besar sebuah perusahaan tidak selalu berbanding lurus dengan laporan keuangannya. Ada perusahaan yang besar dan terlihat keren, tapi ketika dilihat laporan keuangannya ternyata mengalami kerugian bertahun-tahun. Inilah kenapa Peter selalu menekankan kita untuk melakukan analisa saham yang ingin kita beli.

Strategi Sukses Investasi 
Sumber foto: smartasset.com

Strategi Sukses Investasi 

Bagi kamu yang lebih konservatif. Mungkin punya pandangan kalau lebih baik menaruh uang di obligasi daripada di saham karena beresiko dan tidak ada jaminan tiap bulan mendapatkan imbal hasil. Namun perlu diingat, di akhir periode obligasinya selesai, kamu hanya mendapatkan uang yang sama seperti awal yang kamu setorkan. Sedangkan, saham dari perusahaan yang baik akan memberikan kamu dividen setiap tahun dan juga punya potensi mengalami kenaikan valuasi harga sahamnya setiap tahun. Ini alasan kenapa Peter menyarankan untuk menaruh uang yang lebih banyak di saham daripada di obligasi. Ingat, disclaimer on ya.  

Sama halnya dengan berita di media massa. Ketika banyak orang takut saat mendengar berita buruk, Peter punya pandangan berbeda. Bagi dia, ini adalah kesempatan untuk membeli saham yang undervalue. Sebagai informasi, saham undervalue adalah saham yang dianggap murah karena punya potensi untuk naik di masa depan. Seringkali, berita utama dan sentimen pasar membuat takut investor dan kemudian mereka jadi panik. Di sisi lain, Peter melihatnya sebagai sebuah kesempatan untuk masuk dan membeli saham tersebut karena sedang diskon. Namun, bukan sembarang perusahaan yang dipilih, tapi Peter menyarankan perusahaan terbaik di industri tersebut. Nantinya, ketika siklusnya sudah kembali naik, maka perusahaan tersebut akan mendapatkan manfaat yang paling besar. Ini adalah salah satu strategi investasi dari Peter. Dia mencari perusahaan yang secara industrinya memiliki karakter siklus tertentu. Ketika berhasil mempelajarinya, maka ini adalah tipe perusahaan yang mendapatkan keuntungan besar bagi dirinya di masa depan. 

Menjelaskan saham dengan krayon
Sumber foto: freepik.com

Menjelaskan saham dengan krayon

Peter berkali-kali menekankan kalau kita harus membeli saham yang kita pahami sepenuhnya. Cara sederhananya yaitu kita harus bisa mengilustrasikan bisnis perusahaan tersebut dengan sebuah krayon. Ketika kita berinvestasi dengan uang yang kita kumpulkan dengan hasil keringat dan jerih payah, tentunya kita tidak boleh sembarangan. Contohnya seperti ini, Hershey yang menjual coklat dalam berbagai ukuran, Phillips Morris International yang memproduksi rokok, McDonalds yang menjual makanan cepat saji, dan sebagainya. Ini harus menjadi salah satu komponen utama ketika kamu menentukan saham mana yang akan kamu investasikan. Poin lain yang penting adalah kamu harus memiliki kesabaran. Dalam jangka pendek, mungkin tidak akan terlalu kelihatan. Namun, dalam jangka waktu yang panjang pasti terlihat korelasi antara perusahaan yang baik dengan harga sahamnya. Contohnya adalah Wal-Mart. Ketika berusia 10 tahun, market share Wal-Mart hanya 15%. Namun, 30 tahun kemudian, Wal-Mart berhasil berekspansi dari 15% menjadi hampir 100% dan harga sahamnya meningkat 50 kali lipat. Jika kamu menganalisa 10 perusahaan, kamu akan menemukan satu perusahaan seperti harta karun yang tersembunyi. Jika kamu menganalisa 50 perusahaan, maka kamu akan menemukan lima perusahaan. Intinya, akan selalu ada kesempatan yang kadang tidak dilihat oleh banyak investor. Itulah tugas kamu untuk menganalisa dan mencari perusahaan tersebut.

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.