Kisah Sukses Ferry Unardi Mendirikan Traveloka

Ketika kita fokus membangun layanan terbaik, maka konsumen akan datang sendiri. Inilah yang membuat sebuah Perusahaan bisa lebih unggul daripada pesaingnya.

Kali ini saya akan membahas kisah inspiratif dari Ferry Unardi, CEO dan Co-Founder dari Traveloka. Ferry tidak melihat dirinya sebagai seorang pengusaha, malah dia lebih memilih menjadi seorang engineer. Ferry bersama dua co-founder lainnya mendirikan Traveloka dari nol. Hingga akhirnya Traveloka berhasil menjadi salah satu startup unicorn di Indonesia.

Ferry Unardi lahir di Padang pada tahun 1988. Setelah lulus SMA, dia lalu melanjutkan pendidikan di Purdue University jurusan Computer Science and Engineering. Ferry lalu bekerja di Microsoft sebagai software engineer selama tiga tahun. Bekerja di Microsoft membuat Ferry sadar kalau dia mungkin tidak akan menjadi engineer terhebat. Padahal sedari remaja, Ferry merupakan anak yang sangat mencintai dunia IT dan melihat dirinya merupakan seorang engineer. Namun, semua ini berubah. Inilah yang membuat Ferry mulai berpikir peluang yang lain yaitu menjadi pengusaha. Ferry lalu menghabiskan enam bulan di China untuk belajar bahasa mandarin di sana. Saat di China, Ferry menyadari kalau industri internet di China jauh lebih siap dibandingkan di Indonesia. Dia sangat kagum pada beberapa perusahaan internet dari China seperti Alibaba, Taobao, Ctrip, dan Qunar. Pengalaman ini membentuk pola pikir Ferry dan membantunya dalam mengembangkan Traveloka di masa depan. 

Sumber foto: gocertify.com

Ketika Ferry tinggal di Amerika Serikat, dia merupakan mahasiswa di Boston, karyawan Microsoft di Seattle, dan pengguna pesawat rutin untuk pulang ke Padang. Dunia penerbangan merupakan sesuatu yang tidak terpisahkan bagi Ferry, cuma pada masa itu dia menemukan kesulitan dalam memesan tiket pesawat untuk pulang ke Padang. Ferry menceritakan pengalamannya. Dulu ketika dia mau pulang dari Indianapolis ke Padang. Maka, dia harus ke Jakarta dulu, karena tidak ada penerbangan langsung dari Indianapolis ke Padang. Baru sehabis itu, dari Jakarta dia membeli tiket ke Padang secara offline. Pengalamannya diperburuk karena saat itu infrastruktur untuk pemesanan tiket online belum sebagus sekarang, bahkan tidak jarang sistemnya sering offline ketika mau transaksi. Kondisi ini membekas dalam diri Ferry. Hingga suatu hari, dia memutuskan untuk menciptakan perusahaan pemesanan tiket online yang nyaman dan bisa diandalkan. Waktu itu Ferry berpikir, karena dia merupakan seorang engineer, pasti dia akan mampu menciptakan sesuatu. Namun, karena dia tidak tahu bagaimana caranya mendirikan dan menjalankan sebuah perusahaan, Ferry lalu mendaftar program Master di Harvard Business School. Rencana awalnya agar dia bisa belajar banyak hal selama di sana dan menjadi bekal dalam membangun perusahaannya. Namun, baru setahun di sana, ada perubahan rencana besar. Ferry memutuskan untuk drop out dari Harvard Business School agar bisa fokus membangun Traveloka. Itu merupakan keputusan yang sulit dan berat bagi Ferry. Tidak jarang juga, keputusannya banyak dipertanyakan oleh lingkungan sekitarnya. Namun, dia ingat saat itu bilang, kalau umurnya baru 23 tahun, dia dan partnernya masih cukup muda untuk melakukan kesalahan. Saat itu, industri pemesanan tiket secara online mulai populer di Indonesia. Salah satu saingannya yaitu Tiket.com mendapatkan pendanaan pertama mereka sedangkan Traveloka baru memulai. Walaupun begitu, ternyata ini merupakan salah satu keputusan terbaik yang diambil oleh Ferry karena kalau tidak, dia mungkin akan kehilangan kesempatan. Wajar saja, saat itu, kebutuhan masyarakat untuk bepergian melalui pesawat makin meningkat, ditambah lagi sudah mulai terbentuk kebiasaan masyarakat untuk mencari tiket murah. Walaupun begitu, belum ada infrastruktur yang kuat untuk menjalankan penjualan tiket pesawat secara online. Ini adalah peluang yang besar.

Sumber foto: freepik.com

Traveloka baru berdiri sejak tahun 2012. Saat awal didirikan, Traveloka merupakan mesin pencarian yang membandingkan harga tiket pesawat yang datanya diambil dari website lain. Namun ternyata, permintaan pasar tidak hanya itu, mereka juga menginginkan adanya transaksi di website Traveloka. Hal ini didorong karena konsumen sudah sangat tidak puas pada layanan pemesanan tiket online yang buruk. Saat itu, Traveloka juga mendapat masukan dari konsumen kalau setelah mendapatkan informasi perbandingan tiket pesawat dari Traveloka, namun mereka kesulitan saat melakukan transaksi di tempat lain. Ferry melihatnya sebagai sebuah peluang, dia sadar jika Traveloka hanya sebagai travel metasearch saja, maka dia tidak menyelesaikan masalah utama dari konsumen yaitu pembelian tiket pesawat. Oleh karena itu, Ferry mencoba berpikir lebih keras dan mengambil sebuah keputusan yang besar. Pada tahun 2012, Traveloka mengumumkan kalau mereka mendapatkan pendanaan pertama mereka dari East Ventures. Berkat hubungan baik antara Ferry dan Wilson yang merupakan co-founder dari East Ventures, Ferry berhasil menyakinkan East Ventures untuk menjadi investor pertama mereka. Kemudian pada pertengahan tahun 2013, Traveloka merubah strategi bisnisnya dari travel metasearch menjadi website e-commerce yang melayani pemesanan tiket. Ini merupakan tantangan yang cukup berat bagi Traveloka. Maklum saja, waktu itu mereka hanya berisi 8 hingga 10 orang developer, namun karena perubahan ini mereka harus merekrut karyawan dalam jumlah yang banyak. Perubahan ini juga merubah struktur organisasi di Traveloka. Jika hanya di travel metasearch, Ferry hanya butuh 8 hingga 10 orang dan fokus hanya di sisi teknologi, namun ketika menjadi website e-commerce, maka Traveloka harus punya banyak divisi pendukung yang lain mulai dari layanan konsumen, bagian transaksi konsumen, keuangan, dan sebagainya. Selain itu, resiko bisnis Traveloka juga meningkat karena mereka juga melayani transaksi pembelian tiket pesawat, bukan hanya sebagai website agregator pembanding harga. Walaupun begitu, ini merupakan keputusan yang tepat, karena dengan menjadi website e-commerce penjualan tiket, maka Traveloka mampu menjaga kualitas layanan konsumen mulai dari mencari harga tiket yang mereka inginkan hingga melakukan pembelian. 

Di beberapa tahun awal Traveloka berdiri, Ferry mengaku memiliki waktu tidur yang sangat sedikit. Maklum saja, sebagai startup yang baru merintis banyak hal yang harus dikerjakan dalam waktu yang cepat. Tantangan bisnis lain yang mereka hadapi yaitu pada tahun awal Traveloka berdiri, mereka sangat sulit untuk bekerja sama dengan maskapai penerbangan. Jadi, setiap ada transaksi di websitenya, Traveloka kemudian membeli tiketnya dari pihak ketiga, bukan dari maskapainya langsung. Skema bisnis ini yang membuat Traveloka kesulitan untuk mendapatkan keuntungan. Namun, hal ini tidak membuat Ferry menyerah. Dia yakin ketika jumlah kunjungan ke website Traveloka tinggi, maka maskapai penerbangan pasti mau bekerja sama. Dan benar saja, maskapai penerbangan yang dulu menolak Traveloka, sekarang mulai memperhitungkan Traveloka sebagai rekan bisnis mereka. Dari kerjasama tersebut, Traveloka kemudian mendapatkan komisi 5% dari setiap penjualan tiket pesawat. Hingga sekarang, rekan dari Traveloka juga beraneka ragam dan jumlahnya sangat banyak. Traveloka bekerjasama dengan lebih dari 100 maskapai penerbangan, 450,000 hotel, lebih dari 400 perusahaan rental mobil di Indonesia, dan lebih dari 4,000 penyedia layanan aktivitas dan atraksi hiburan. 

Ada pelajaran menarik dari kisah sukses Ferry dalam membangun Traveloka. Dia sadar kalau dia bukan pemain pertama di bisnis online travel agent, apalagi skema bisnis travel agent bukanlah barang baru, ini merupakan skema bisnis yang sudah ada sebelumnya. Namun, yang membuat Traveloka berbeda adalah karena Ferry fokus ke beberapa hal kecil penting namun sangat bermanfaat dalam membuat sebuah layanan yang hebat. Selama membangun Traveloka, Ferry belajar satu hal yang penting kalau kita membangun pelayanan yang baik bagi konsumen, maka mereka akan datang. Maka fokus utama dari Ferry adalah membangun Traveloka agar mampu dicintai oleh pelanggannya, mulai dari produknya, layanannya, hingga pengalaman konsumen ketika menggunakan Traveloka. Sekarang, Traveloka pun telah berkembang, bukan hanya sebagai penjual tiket penerbangan, namun juga sudah berkembang pada bidang travel dan lifestyle. Perkembangan yang sangat pesat membuat Traveloka mampu menjadi aplikasi travel terbesar di Asia Tenggara. 

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.