Kisah Pengusaha Miliarder Muda Thailand, Pendiri Tao Kae Noi

Kita harus jeli melihat peluang dan mengubah masalah menjadi kesempatan. Mindset ini akan membantu kita dalam meraih kesuksesan.

Kali ini saya akan membahas kisah inspiratif dari Itthipat Peeradechapan atau dikenal dengan nama Tob. Dia adalah pemilik dari bisnis snack rumput laut dengan merek Tao Kae Noi. Sebagai informasi, cemilan Tao Kae Noi merupakan cemilan yang sangat sukses karena menguasai 2/3 pasar cemilan di Thailand dan telah diekspor ke lebih dari 37 negara, termasuk Amerika Serikat, Inggris, dan China.

Tob merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Ketika usianya 16 tahun, Tob seperti anak remaja pada umumnya yang kecanduan main game. Saat itu, dia bahkan bisa menjadi salah satu pemain terbaik di game online bernama Everquest. Saking jagonya, Tob mampu mendapatkan penghasilan 10,000 USD setiap bulannya dari hasil berjualan item game. Walaupun begitu, Tob sering diremehkan oleh gurunya di sekolah karena dia hanya main game saja. Nilainya di sekolah juga tidak bagus karena dia sibuk berlatih untuk turnamen game daripada sekolah. Kemudian, ketika dia berumur 17 tahun, Tob melanjutkan kuliah di University Chamber of Commerce di Thailand. Namun sayangnya, di waktu yang sama, bisnis konstruksi keluarganya terkena dampak krisis pada tahun 1997 hingga bangkrut dan bahkan berhutang lebih dari 10 juta USD. Kejadian ini merupakan titik balik bagi hidup Tob. Saat itu, dia memutuskan untuk berhenti kuliah dan membantu ekonomi keluarga. Tob juga menjual karakter game onlinenya sehingga dia punya uang yang cukup untuk mulai berbisnis. Dari situ, Tob mulai berjualan apa saja. Mulai dari coba menjual makanan dan kopi di depan kampus hingga menjual CD game bajakan, namun semua usahanya tidak ada yang berhasil. Kegagalannya ini membuat dia kehilangan banyak uang dari hasil jual karakter game-nya. 

Sumber foto: parents.com

Suatu hari, Tob berkeliling Chinatown di Bangkok. Dia melihat banyak orang ternyata suka dengan kastanye goreng gula. Pada saat itu, cemilan tersebut hanya tersedia di Chinatown saja. Tob pun kemudian punya ide, bagaimana kalau menjual cemilan ini di mall? Gerai pertamanya terletak di dalam food court. Awalnya, penjualan cemilannya sangat sedikit hingga Tob sempat terpikir untuk menutup bisnisnya saja dan menjadi pegawai di gerai McD seberang tokonya. Namun, ketika hampir menyerah, dia kemudian memindahkan lokasi dagangannya ke dekat kasir. Ternyata perubahan lokasi ini berdampak sangat besar. Omzetnya langsung meroket. Ini adalah pelajaran berharga bagi Tob, kalau berbisnis cemilan yang paling utama adalah lokasi, lokasi, dan lokasi. Ternyata idenya sukses berat. Dalam setahun setengah, dia berhasil membuka 30 gerai di jaringan hypermarket terbesar di Thailand yaitu TESCO dan Carrefour. Saat itu, Tob berumur 18 tahun dan mempekerjakan hampir 50 orang. Namun sayangnya, CEO baru dari TESCO Lotus menolak gerai yang menjual kastanye goreng gula karena aromanya yang menyebar ke seluruh area dan mengotori plafon hypermarket. Keputusan ini sangat berpengaruh bagi Tob, karena lebih dari 25 gerai yang dia miliki terletak di TESCO. Akhirnya, Tob memutuskan untuk menggoreng kastanye-nya di luar mall-nya dan kemudian mengirimnya ke gerai mereka. Dampaknya ternyata signifikan. Penjualan kastanye-nya turun hingga 50 persen. Konsumen yang awalnya mendapatkan kastanye yang masih panas karena digoreng di tempat, sekarang malah mendapat makanan dingin. Selain itu, aroma kastanye yang digoreng tidak lagi menyebar kemana-mana, sehingga konsumen jadi tidak tertarik untuk membeli. Kejadian ini membuat Tob harus berpikir keras. 

Suatu hari, pacar Tob membawakannya paket cemilan tradisional rumput laut dari kampusnya. Bagi Tob, hal ini seperti cinta pada pandangan pertama. Tob lalu meminta pacarnya untuk membeli satu lagi untuk ibunya. Kemudian, ibunya suka dan memberikannya kepada bibinya. Hingga suatu hari, Tob tidak bisa lagi mendapat pasokan cemilan itu karena saking lakunya. Dia punya intuisi kalau cemilan rumput laut memiliki peluang yang sangat besar dan ternyata sudah populer di kalangan anak muda namun belum ada merek cemilan rumput laut besar di Thailand. Tob dan ibunya lalu mencoba menggoreng rumput laut sendiri dan ternyata sangat sulit. Tidak terhitung lagi berapa banyak rumput laut yang gagal digoreng dan Tob harus mencoba setiap rumput laut itu satu per satu. Maklum saja, saat itu, pembuatannya masih sangat sederhana. Kerja keras Tob pun akhirnya terbayarkan. Dia berhasil menciptakan cemilan rumput goreng laut yang enak. Tob pun lalu memberi nama bisnisnya Tao Kae Noi karena dulu ayahnya sering meledek dia sebagai bos kecil karena sikapnya yang bossy. Setelah beberapa bulan, Tob menyadari kalau penjualan rumput laut goreng melampaui penjualan kastanye-nya dan menjadi produk paling laris. Ini merupakan awal dari terobosan besar bagi bisnis Tob. Sebagai informasi, saat itu usianya baru 19 tahun. 

Sumber foto: fortune.com

Tidak berhenti sampai disana, Tob mulai berpikir lebih besar. Dia sadar kalau ingin jadi pemain besar, Tob tidak bisa sendiri, dia harus punya jaringan distribusi yang kuat. Tob lalu memutuskan untuk mendekati 7-Eleven. Awalnya, manajemen 7-Eleven menolak Tob karena kemasan dari cemilan rumput lautnya sangat jelek, hanya menggunakan kemasan plastik dan stiker. Penolakan ini tidak membuat Tob menyerah. Dia lalu menghabiskan berbulan-bulan untuk memperbaiki desain kemasannya. Hingga akhirnya, manajemen 7-Eleven puas dan berniat untuk mengunjungi pabriknya untuk memastikan kualitas dari produknya. Apabila Tob lulus inspeksi, maka produknya bisa didistribusikan di 3,000 jaringan gerai 7-Eleven yang tersebar di Thailand pada masa itu. Ini berita baik sekaligus tantangan yang cukup sulit. Maklum saja, waktu itu Tob hanya punya enam karyawan yang bekerja di bagian dapur dan tidak mungkin bisa memenuhi kuota produksinya. Dia lalu menjual bisnis kastanyenya agar bisa mendanai pabrik cemilan rumput laut dan merekrut karyawan baru. Tob pun lulus dari inspeksi dan pesanan pertamanya dari 7-Eleven sebanyak 72,000 bungkus yang harus dikirim dalam waktu 45 hari. 

Tantangan berikutnya yang muncul adalah aturan dari 7-Eleven kalau barang Tob harus terjual minimal 30 bungkus per cabang setiap bulan. Kalau tidak berhasil mencapainya, maka produknya terancam akan dikeluarkan dari 7-Eleven. Pada waktu awal produknya masuk di rak 7-Eleven, mereka menaruh Tao Kae Noi di rak bawah sehingga sulit dilihat. Hal inilah kemudian yang membuat penjualannya sangat lambat. Belajar dari pengalaman sebelumnya, Tob lalu membujuk manajer tokonya untuk memindahkan sebagian produknya ke dekat kasir. Ini merupakan strategi yang aktif dan penjualannya langsung meroket. Hingga akhirnya, Tao Kae Noi berhasil mendominasi 2/3 pasar cemilan rumput laut di Thailand. Namun, hal ini tidak membuat Tob puas. Dia masih punya mimpi yang lebih besar lagi. Tob ingin Tao Kae Noi menjadi merek global. Pada usia 26 tahun, Tao Kae Noi telah tersedia di 19 negara termasuk Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan Australia. Di umurnya yang masih muda, Tob berhasil menjadi miliarder termuda di Thailand.

Sumber foto: freepik.com

Ada beberapa pelajaran menarik dari kisah sukses Tob. Pertama, usia bukan penghalang. Usia tidak pernah menjadi penghalang bagi seseorang untuk sukses. Kehidupan memaksa Tob harus bekerja keras untuk mendapatkan kehidupan yang layak dan membantu ekonomi keluarga. Bahkan, Tob pernah bilang ketika dia sukses kalau umurnya 32 tahun tapi dia merasa pengalamannya seperti orang yang berumur 50 tahun. Kedua, jeli melihat peluang. Ini merupakan pelajaran yang berharga dari kisah Tob. Dia berjualan kastanye karena dia melihat produk tersebut sangat laku di Chinatown, tapi tidak tersebar luas. Inilah yang membuat dia berhasil membuka gerai cemilan kastanye di pusat perbelanjaan. Sama halnya ketika dia memutuskan untuk berjualan cemilan rumput laut. Tob melihat peluang kalau produk ini bisa laku keras karena rasanya yang enak dan pasokannya yang masih sedikit. Ketiga, jangan pernah menyerah. Mungkin bagi sebagian orang ini klise, tapi ini merupakan resep yang selalu ada di setiap kisah sukses. Walaupun awalnya ditolak berkali-kali oleh 7-Eleven, Tob tidak menyerah dan terus memperbaiki produknya sehingga bisa diterima. Namun, setelah diterima, tantangannya belum selesai, dia harus memenuhi target produksi dari 7-Eleven dan memastikan produknya bisa terjual secara konsisten setiap bulan di setiap gerai 7-Eleven. Ini merupakan tantangan yang cukup berat bagi Tob. Namun, kerja keras dan semangat pantang menyerahnya mampu mengantar Tob menjadi salah satu miliarder muda di Thailand.

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.