Bagaimana Cara Memaafkan orang lain?

Ketika kita belajar untuk memaafkan, maka kita memberikan diri kita kesempatan untuk pulih, memiliki harapan baru, dan segala kemungkinan di masa depan. Perjalanan ini membutuhkan proses dan waktu hingga akhirnya kita mampu menerima seutuhnya.

Kali ini saya akan membahas buku The Gift of Forgiveness karya Katherine Schwarzenegger Pratt. Buku ini membahas tentang kisah dari berbagai orang yang berhasil melewati kejadian yang boleh dibilang sulit dimaafkan. Katherine membahas salah satu tantangan terberat dalam hidup yaitu belajar untuk memaafkan. Dia bukan hanya menulis kisah orang lain, tapi Katherine juga merefleksikan tantangan hidupnya sendiri dan jalan menuju pemberian maaf dalam hidup. Melalui kisah yang ada di dalam buku ini, kita bisa belajar dari orang yang sedang berjuang, kesulitan, atau berhasil memaafkan kejadian yang kelihatannya sulit untuk dimaafkan. Beberapa kisah menarik dari buku ini misalnya seseorang yang memaafkan pemerkosanya, seseorang yang memaafkan pembunuh istri anaknya, dan tentu saja perjalanan Katherine dalam memberikan maaf dalam di hidupnya.

Saya merangkumnya menjadi tiga hal penting dari buku ini:

Memaafkan itu tidak mudah
Sumber foto: experiencelife.com

Memaafkan itu tidak mudah

Memaafkan adalah sebuah aksi nyata yang membebaskan si peminta maaf dan si pemberi maaf. Bagi, si pemberi maaf, rasa kesal dan amarah yang selalu menyelimuti dirinya perlahan mulai hilang. Banyak orang merasa kalau ketika orang lain mengaku salah, maka kita harus memaafkan. Namun, kenyataannya tidak semudah itu. Memaafkan butuh proses dan tidak bisa diburu-buru. Setiap orang punya waktunya sendiri untuk bisa memaafkan, ada yang butuh waktu instan, sehari, seminggu, sebulan, atau bahkan bertahun-tahun. Ada sebuah kisah dari Deborah Copaken. Suatu hari, pemerkosanya meminta maaf dengan rasa bersalah melalui telepon kepada Deborah atas perbuatannya 30 tahun yang lalu. Ketika mendengar hal itu, dia seakan kembali lagi ke umur 22 tahun dan melepas semua perasaan sakit yang selalu menghantuinya setiap malam. Inilah yang dinamakan memaafkan itu adalah sebuah proses dan bagi Deborah, dia butuh waktu 30 tahun untuk bisa memaafkan. Proses ini baru bisa terjadi saat kamu siap.

Ada alasan lain kenapa proses memaafkan tidak bisa diburu-buru. Ketika kita mempercepat proses memaafkan, kita mungkin akan kehilangan masalah penting yang harus diselesaikan. Ini adalah keadaan yang tidak sehat. Ketika orang lain meminta maaf, tentu saja tujuan utamanya bukan hanya memberikan maaf, tapi juga berbicara soal masalah utamanya. Hal ini butuh kejujuran, keberanian, dan refleksi diri. Ada sebuah kisah dari Christy. Dia menjalani babak baru dalam pernikahannya, setelah pasangannya ketahuan selingkuh. Christy yang lahir dalam keluarga broken home membuat dia sadar atas kesulitan yang mungkin dihadapi anaknya di masa depan. Bagi Christy, hadiah berupa pemberian maaf ibarat sebuah hadiah besar yang dibungkus dengan pita yang cantik. Ketika kamu mampu memberikan orang lain sebuah hadiah yang bagus tanpa mengharapkan apapun, maka itu tandanya kamu telah memberikan hadiah sebuah pemberian maaf. Setelah tiga bulan, akhirnya Christy baru benar-benar memaafkan pasangannya. Kejadian ini membuat Christy dan pasangannya menjadi lebih terbuka dan jujur satu sama lain. Pilihan Christy untuk memaafkan memberikan kesempatan bagi mereka untuk memperkuat kembali hubungan yang mereka miliki, yang mungkin bagi sebagian orang memilih untuk menyudahinya.

Memaafkan bukan tindakan lemah
Sumber foto: news.continuingstudies.wisc.edu

Memaafkan bukan tindakan lemah

Memaafkan bukan berarti kamu membiarkan orang lain menyakiti kamu. Ini adalah sebuah aksi nyata kalau kamu punya kendali dan membebaskanmu dari masa lalu. Ada kisah dari seseorang bernama Chris Williams. Dia memaafkan seorang anak remaja dalam kondisi mabuk yang menabrak istrinya yang hamil dan dua anak mereka. Perjalanan Chris untuk memaafkan sungguh tidak mudah. Dia bilang ke dirinya sendiri kalau dia mencoba untuk memaafkan selama 5 menit dan 5 menit lagi terus menerus. Lama kelamaan, latihan ini membuat Chris jadi bisa melepaskan. Ketika dia merasa sedih dan marah, dia tidak ingin menyalurkannya ke si penabrak, karena hal itu malah berbalik menyakiti dirinya sendiri. Chris berjuang untuk melewati semua emosi tersebut. Dia sadar kalau perjuangan ini tidak dia alami sendiri, tapi juga bagi si penabrak. Mereka berdua memikul bebannya masing-masing. Chris memikul kesedihan karena kehilangan istri dan anaknya. Sedangkan, si penabrak memikul rasa bersalah karena membunuh orang lain. 

Ketika kita sadar memaafkan bukan tindakan lemah, meminta maaf juga bukan hal yang mudah. Meminta maaf juga bukan merupakan tanda kalau kamu lemah. Ada kisah dari Sebastian Escobar yang merupakan anak dari bandar narkoba besar di Kolombia. Walaupun ayahnya merupakan seorang bandar narkoba besar, Sebastian tidak ingin mengikuti jejak ayahnya. Pada tahun 1993, ayahnya meninggal. Ada beberapa versi. Versi resminya karena dari baku tembak dengan polisi setempat. Versi Sebastian adalah ayahnya bunuh diri agar tidak ditangkap. Karena ayahnya sadar, kalau dia tidak meninggal, maka keluarganya yang akan menjadi sasaran. Walaupun Sebastian tidak ikut dalam bisnis ilegal ayahnya, tapi dia merasa punya beban moral. Sebagai langkah untuk menebus dosa ayahnya, Sebastian mendatangi setiap korban atas bisnis ayahnya dan meminta maaf. Ketika awal Sebastian memutuskan hal ini, tentu saja ada pro dan kontra dari temannya. Bahkan, temannya sempat bilang kalau korban dari ayahnya tidak mungkin memaafkan ayahnya. Walaupun begitu, Sebastian tidak gentar. Dia tetap mencobanya, dia sadar kalau ketika kamu meminta maaf, kamu tidak perlu berharap jawabannya. Sebastian juga menghargai keputusan dari setiap korban ayahnya, entah mereka memaafkannya atau tidak.

Memaafkan untuk ketenangan diri
Sumber foto: originsrecovery.com

Memaafkan untuk ketenangan diri

Memaafkan ternyata merupakan hal yang kompleks. Apakah kita harus memberikan maaf bagi orang yang bahkan tidak meminta maaf, tidak menyesal, atau tidak sadar kalau yang mereka lakukan salah? Katherine berpendapat iya. Ada sebuah kisah yang bisa menjadi sebuah pelajaran bagi kita. Pada Juni 2002, ketika Elizabeth berumur 14 tahun, dia diculik dari tempat tidurnya. Selanjutnya, sembilan bulan kemudian, Elizabeth diikat, diperkosa setiap hari, dan diancam kalau si penculik akan membunuh keluarganya apabila Elizabeth kabur. Hampir setahun kemudian, dia berhasil diselamatkan oleh polisi dan kembali ke keluarganya. Tentu saja kejadian ini memberikan trauma dan kemarahan luar biasa dalam diri Elizabeth. Namun, tidak lama kemudian, dia memutuskan untuk memaafkan penculiknya atas semua kejadian buruk yang mereka lakukan pada dirinya. Elizabeth bergerak maju dengan hidupnya dan menyadari perasaan yang muncul. Apabila muncul perasaan kesal dan marah, dia menyadarinya dan melepasnya. Elizabeth sadar kalau menjadi marah kepada penculiknya tidak akan mengubah apapun. Hal ini malah membuat dia terperangkap dalam siklus trauma dan kemarahan. Bagi Elizabeth, memendam rasa marah artinya dia mengijinkan kalau dirinya tidak akan pernah merasa bahagia seutuhnya. Ibaratnya, menyimpan kemarahan itu sama seperti kita membiarkan sebuah luka tidak diobati, akibatnya luka tersebut tidak akan pernah sembuh. Elizabeth berpendapat kalau memaafkan bukan berarti harus terjadi dua arah, si peminta maaf dan si pemberi maaf. Memaafkan adalah hal yang sangat personal sekali dan kamu tidak butuh dua orang untuk bisa memaafkan. Elizabeth bilang ketika kejadian buruk itu muncul di pikirannya, dia merasa kalau dirinya akan terjebak dalam kemarahan dan kesedihan yang tiada akhir. Dari situ, Elizabeth belajar untuk menerima dan berusaha untuk melepaskan perasaan tersebut agar dia bisa melangkah maju dalam hidupnya. 

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.