Kisah Pendiri Blue Bird, Mutiara Djokosoetono

Di tengah kesulitan hidup, kita harus terus berjuang dan tidak menyerah. Semua kerja keras kita niscaya akan terbayar lunas di masa depan.

Kali ini saya akan membahas kisah inspiratif dari almarhum Mutiara Fatimah Djokosoetono yang merupakan seorang ibu tangguh sekaligus pendiri dari taksi Blue Bird.

Mutiara Fatimah Djokosoetono lahir di Malang pada tahun 1921. Mutiara berasal dari keluarga yang berada, namun sayangnya, ketika dia berumur lima tahun, usaha keluarganya bangkrut. Sejak saat itu, kehidupannya berubah drastis. Di masa sulit tersebut ada sebuah kisah yang selalu menyemangatinya dalam menjalani hidup yaitu The Bird of Happiness yang diilustrasikan sebagai burung berwarna biru pembawa kebahagiaan. Ini merupakan kisah seorang gadis kecil yang miskin dan hidup dalam penderitaan. Namun, dalam mimpinya, dia diperintahkan untuk mencari seekor burung biru. Hingga pada akhirnya, gadis tersebut menemukan burung biru dan hidup bahagia. Kisah ini selalu mengingatkan Mutiara untuk terus berjuang dan tidak menyerah untuk mengejar mimpi. Ketika dewasa, Mutiara merantau ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Di sana dia bertemu dengan almarhum Djokosoetono dan akhirnya mereka menikah. Suaminya merupakan dekan Fakultas Hukum Universitas Indonesia sekaligus perintis dari pembangunan Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) dan Akademi Hukum Militer (AHM). Walaupun suaminya punya jabatan terhormat, hidup mereka sekeluarga jauh dari gelimpang harta. Untuk menyokong perekonomian keluarga, Mutiara yang akrab dipanggil sebagai Bu Djoko berjualan batik door to door. Usaha ini dijalani oleh Bu Djoko tanpa rasa gengsi atau malu direndahkan oleh ibu pejabat yang lain. Semua ini murni dilakukan oleh Bu Djoko demi membantu suaminya mencari nafkah. 

Sumber foto: livehappy.com

Awalnya, penjualan batiknya cukup sukses dan ramai. Namun, lama kelamaan penjualan batiknya menurun karena saat itu sedang terjadi resesi. Hal ini membuat Bu Djoko harus mencari peluang usaha yang lain. Hingga akhirnya, Bu Djoko berjualan telur. Saat itu, telur belum menjadi makanan populer seperti sekarang. Telur merupakan makanan eksklusif yang hanya dimakan oleh orang menengah ke atas. Bu Djoko lalu menyalurkan telur ke pengusaha katering, hotel, hingga kaki lima. Usahanya yang laris membuat Bu Djoko bisa membeli bemo murah dari Departemen Perindustrian. Bemo itu kemudian digunakan sebagai alat transportasi mengangkat telur di pagi hari dan menjadi transportasi umum di sore hari. Anak laki-lakinya yang sulung menjadi supir bemo dan anak laki-lakinya yang bungsu menjadi kernet. Di tengah itu semua, ada kabar buruk menyelimuti keluarga mereka. Pada tahun 1965, suaminya meninggal karena penyakit yang dideritanya. Bu Djoko harus menjadi tulang punggung ekonomi keluarga dan membiayai pendidikan ketiga anaknya, Chandra Suharto, Mintarsih Lestiani dan Purnomo Prawiro. Chandra dan Mintarsih masih kuliah, sedangkan Purnomo berada di bangku SMA. 

Atas jasa suaminya semasa hidup, Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) dan Akademi Hukum Militer (AHM) menghadiahi dua mobil bekas yaitu sedan Opel dan Mercedes. Mendapatkan dua hadiah tersebut membuat Bu Djoko berpikir keras. Hingga akhirnya, tercetus sebuah ide untuk mengubah dua mobil tersebut menjadi taksi. Jadi selain berjualan telur, Bu Djoko juga akan menjalani bisnis taksi gelap. Maklum saja, pada masa itu, belum ada izin resmi untuk angkutan taksi. Selain merekrut supir, kedua anak laki-lakinya yaitu Chandra dan Purnomo juga ikut menyupir. Taksi gelap ini akan bergerak setelah ada order lewat telepon ke rumah mereka. Semua yang ada di rumah harus siap menjadi operator telepon. Usaha taksi gelapnya pun seringkali dikenal sebagai Chandra Taksi, hal ini disebabkan karena seringnya Chandra ditugaskan untuk menerima telepon dari pelanggan. Dari situ usahanya semakin besar dan ramai.

Sumber foto: bluebirdgroup.com

Pada tahun 1970-an, Gubernur DKI Jakarta pada masa itu mengumumkan kalau Jakarta akan memberlakukan izin resmi bagi angkutan taksi. Hal ini tentu saja kabar yang gembira. Bu Djoko lalu segera mengurus izinnya ke DLLAJR, namun sayangnya permintaan dia ditolak. DLLAJR beralasan kalau bisnis Bu Djoko terlalu kecil karena syaratnya pada masa itu adalah harus memiliki armada minimal 100 taksi, sedangkan Bu Djoko hanya memiliki 60 unit. Hal ini tidak mengecilkan semangat Bu Djoko. Dia kembali memutar otak dengan keras. Hingga suatu hari, Bu Djoko bertemu dengan mantan murid suaminya yang bekerja di Bank Bumi Daya dan memberikan kartu nama. Dari sebuah kartu nama tersebut, akhirnya Bu Djoko berhasil mendapatkan pinjaman ke bank untuk menambah jumlah armadanya. Hingga akhirnya, izin taksinya pun turun. Ini merupakan momen yang sangat membahagiakan, akhirnya usaha taksi yang dimiliki oleh Bu Djoko diakui dan resmi dalam hal legalitasnya. Hingga tiba saatnya untuk memberikan sebuah nama untuk bisnisnya tersebut. Bu Djoko pun berdiskusi dengan anak-anaknya. Hingga akhirnya, Bu Djoko memberikan nama usahanya sebagai “Blue Bird” yang berarti Burung Biru. Nama ini berasal dari sebuah dongeng di Eropa yang pernah didengar kisahnya saat Bu Djoko tinggal di Belanda. Dongeng tersebut memiliki pesan kalau semua keinginan dapat dicapai melalui kerja keras dan kejujuran.

Dalam menjalankan bisnis, Bu Djoko sangat menekankan pentingnya kejujuran. Ada sebuah kisah yang menarik soal kejujuran. Suatu hari ketika sehabis menarik taksi hingga tengah malam, Purnomo memberitahu ibunya kalau ada dompet yang tertinggal. Ibunya langsung meminta Purnomo mengembalikan dompetnya saat itu juga. Awalnya Purnomo menolak karena sudah sangat larut malam dan badannya sudah capek habis seharian bekerja. Purnomo bilang kalau besok pagi dia akan mengantarnya ke rumah penumpang tersebut. Bu Djoko tetap pada pendiriannya dan meminta Purnomo untuk mengembalikan dompet tersebut malam itu juga. Bu Djoko berargumen, coba bayangkan hal tersebut terjadi pada dirimu, sehabis menerima gaji, terus ternyata dompet yang berisi uang tersebut tertinggal di taksi. Pasti kamu gelisah, sedih, panik, dan bingung. Makanya, lebih baik kembalikan malam ini juga, agar penumpang tersebut tenang. Mendengar hal tersebut, akhirnya Purnomo memacu kembali taksinya dan kembali ke rumah penumpang tersebut untuk mengembalikan dompet yang tertinggal. Ini adalah contoh kejujuran yang selalu dijunjung tinggi oleh Bu Djoko dan menjadi salah satu nilai yang dipegang erat oleh Blue Bird.

Sumber foto: industri.kontan.co.id

Nilai lain yang selalu dianut oleh Bu Djoko adalah soal memberikan layanan terbaik. Bu Djoko dikenal sebagai sosok yang turun langsung untuk menyeleksi sendiri pengemudi Blue Bird, memberikan arahan, dan melakukan test drive keliling Jakarta. Bukan cuma pelayanan terbaik melalui supirnya, tapi sejak resmi meluncur, Blue Bird juga merupakan taksi pertama yang menggunakan sistem argometer artinya konsumen membayar berdasarkan harga per km, bukan berdasarkan kesepakatan antara supir dan penumpang. Perhitungan tarif ini awalnya menjadi momok dan mimpi di siang bolong, namun semua itu tidak terbukti. Maklum saja, para pelanggan awalnya takut tarif yang mereka bayar di akhir perjalanan malah terlalu tinggi. Namun, semua hal itu tidak terbukti. Ternyata sistem ini merupakan hal yang lebih adil antara supir dan penumpang, sehingga penumpang lebih memilih taksi Blue Bird dibandingkan dengan taksi lainnya. 

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.