Apakah Bekerja Harus Sesuai Passion?

Kita tidak mencintai sebuah pekerjaan sebelum kita menjalani pekerjaan tersebut dengan tekun. Ketika kita menjadi ahli dalam sebuah bidang, maka akan timbul kecintaan atas apa yang kita lakukan.

Kali ini saya akan membahas buku So Good They Can’t Ignore You karya Cal Newport. Buku ini membahas soal kenapa keahlian lebih penting daripada passion dalam perjalanan mencari hal yang kamu sukai. Kita sering disuguhi oleh kalimat “follow your passion”. Namun, apakah kamu sudah tahu apa passionmu? Apa yang kamu sukai? Sayangnya, tidak semua orang punya kesempatan mengetahui apa yang mereka sukai dari awal. Kebanyakan orang punya cara yang berbeda dalam mengetahui apa yang mereka sukai. Apakah ini hal yang salah? Tentu saja tidak. Walaupun begitu, banyak orang sedih dan frustasi terhadap hidup yang mereka jalani sekarang. Mereka bingung apa yang harus mereka lakukan dalam hidup? Apa passion hidup mereka? Bagi Cal, passion hanya muncul setelah kamu bekerja keras dalam melakukan suatu hal hingga akhirnya kamu menjadi ahli di bidang tersebut, bukan sebaliknya. Dengan kata lain, apa yang kamu lakukan sekarang tidak lebih penting daripada bagaimana kamu melakukannya. 

Saya merangkumnya menjadi tiga hal penting dari buku ini:

Mencintai apa yang kita lakukan
Sumber foto: medium.com

Mencintai apa yang kita lakukan

Kita sering mendengar kalau kebahagiaan dalam bekerja berasal dari mengetahui dulu apa passion kita, kemudian mencari pekerjaan yang sesuai dengan passion kita. Atau kalimat umumnya dikenal dengan follow your passion. Tapi, Cal punya pandangan berbeda soal kalimat tersebut. Bagi dia, kalimat follow your passion merupakan saran yang buruk. Cal lalu menjelaskan soal pidato Steve Jobs yang inspiratif soal mencintai apa yang kamu lakukan ketika mencari sebuah pekerjaan. Tapi, jika kamu melihat perjalanan hidup Steve, dia tidak sepenuhnya mengikuti passion. Hidup yang Steve jalani punya lika likunya sendiri, mulai dari drop out di Reed College hingga pergi ke India untuk mencari makna hidup. Sama halnya dengan hidup kebanyakan orang, hidup mereka juga penuh lika liku dan tidak secara linear mengikuti passion. Pemikiran follow your passion menjadi berbahaya ketika kamu mengkaitkan hal ini dengan kebahagiaan. Kamu merasa kalau passion adalah resep utama dalam kebahagiaan kerja. Berdasarkan survey kepuasan kerja di Amerika Serikat, hanya 45% orang yang puas dengan pekerjaan mereka. Angka ini turun jauh dari sebelumnya di angka 61% pada tahun 1987. Jika seseorang menggunakan passion sebagai tolak ukur kebahagiaan kerjanya, maka pada akhirnya orang tersebut punya harapan yang tidak realistis dalam karir yang mereka jalani. Hingga akhirnya, mereka terus menerus pindah kerja dan selalu saja tidak pernah merasa puas dalam bekerja. Daripada follow your passion, Cal punya pandangan kalau kita harus punya craftsman mindset, artinya kita harus fokus dalam mengasah keahlian kita karena inilah yang akhirnya memberikan hasil yang bermanfaat di masa depan. 

Suatu hari, Cal berada di persimpangan dan harus memilih dari tiga pilihan karir yang berbeda. Pekerjaan di Microsoft, menjadi profesor di Georgetown University, atau karir sebagai penulis full time. Kebanyakan orang pasti merasa galau dan bingung harus pilih yang mana. Kegalauan ini terjadi karena mereka memiliki ketakutan kalau mereka membuat pilihan yang salah. Tapi, Cal berbeda. Cal tidak percaya kalau setiap orang hanya punya satu passion untuk dijalani. Cal percaya kecintaan kamu atas pekerjaan yang kamu lakukan kebanyakan berasal dari keahlian dan pengalaman. Cal sadar kalau apapun pilihan dia dari ketiga jalur karir itu pasti berat di awal, tapi di sepanjang perjalanan ketika dia bekerja keras dan akhirnya menjadi seorang yang ahli, maka pada akhirnya dia bisa mencintai apa yang dia kerjakan. Jadi, apa yang akhirnya Cal lakukan? Dia kemudian memilih lokasi mana yang terbaik dan bisa tinggal dekat dengan pacarnya yaitu sebagai profesor. 

Keahlian menghasilkan kepuasan kerja
Sumber foto: cmo.com.au

Keahlian menghasilkan kepuasan kerja

Apa yang membuat seseorang puas dalam bekerja? Berdasarkan teori determinasi diri, motivasi dalam diri yang suka kita hubungkan dengan passion dan kepuasan dalam bekerja, biasanya berasal dari tiga hal, autonomy, competence, dan relatedness. Autonomy artinya kamu punya kontrol atas waktu yang kamu jalani, jadi apa yang kamu lakukan punya dampak yang besar. Competence artinya perasaan kalau kamu ahli dalam hal yang kamu lakukan. Relatedness artinya kamu merasa punya ikatan dengan orang lain. Mereka menghargai apa yang kamu lakukan dan lebih jauh lagi kamu bekerja dengan orang yang kamu sukai. Ada sebuah penelitian yang menarik soal asisten administrasi universitas. Tentu saja, ini bukan pekerjaan yang diimpikan oleh banyak orang. Tapi, psikolog dari studi ini bernama Amy Wrzesniewski menemukan kalau prediksi terkuat yang membuat seorang asisten merasa kalau pekerjaannya adalah panggilan jiwa berdasarkan masa kerjanya. Semakin lama masa kerjanya, maka semakin asisten itu mencintai pekerjaannya. Ketika kamu menjadi semakin ahli atas apa yang kamu lakukan, maka tidak hanya kamu merasakan kebanggaan atas prestasi yang kamu raih, tapi juga diberikan hadiah berupa tanggung jawab yang lebih besar. 

Cal memperkenalkan dua tipe mindset, passion mindset dan craftsman mindset. Passion mindset biasanya berbicara soal “apa yang saya inginkan?” Hal ini membuat orang untuk menjalani sebuah pencarian untuk mencari pekerjaan yang cocok bagi mereka. Apabila apa yang mereka jalani sekarang tidak sesuai dengan apa yang mereka inginkan, pasti mereka tidak bahagia. Cara pandang kedua adalah craftsman mindset. Ini adalah pola pikir kalau apapun bidang yang kamu pilih, jika kamu ingin sukses yang terpenting adalah kualitas. Sederhananya seperti yang pernah disampaikan oleh komedian bernama Steve Martin ketika ditanya apa rahasia sukses di televisi? Steve bilang, jadilah seorang yang hebat sampai mereka tidak bisa cuekin kamu. Hal ini berarti kamu fokus pada apa yang kamu lakukan, memperbaiki kualitas, hingga mampu menghasilkan karya terbaik, tanpa selalu bertanya-tanya, apakah ini panggilan jiwa saya atau bukan? 

Keahlian untuk sukses
Sumber foto: toggl.com

Keahlian untuk sukses

Jika kita sudah berpindah dari passion mindset ke craftsman mindset, hal ini akan mendorong kita untuk mengasah kemampuan yang spesialis. Tentu saja ini adalah hal yang bagus. Di bursa kerja, selalu ada permintaan dan penawaran. Bagi pekerjaan yang spesialis, tentu saja persaingannya semakin sedikit dan inilah nilai tambah yang bisa kamu berikan sehingga kamu lebih unggul daripada orang lain. Kemampuan kompetitif inilah yang disebut Cal sebagai career capital. Contohnya seperti ini, Laura adalah seorang akuntan yang berhenti dan membuka studio yoganya sendiri. Awalnya, bisnis tersebut sukses, namun ketika terjadi krisis keuangan, bisnisnya bangkrut. Setelah dianalisa, hal ini terjadi karena Laura tidak memiliki kemampuan yang mumpuni saat menjalankan bisnis. Kisah lainnya adalah Alex yang merupakan penulis naskah di televisi. Bagi Alex menulis bukan sebagai passion, tapi sesuatu yang perlu dia kerjakan dengan baik. Ketika Alex berlatih terus menerus hingga akhirnya dia mampu menghasilkan karya yang berbeda sehingga kemampuannya lebih unggul daripada rekannya yang lain.

Kamu juga harus pahami, dalam bursa kerja, ada dua jenis career capital yang harus kamu tekuni, winners take all atau auction. Winners take all adalah tipe pekerjaan yang butuh spesialisasi khusus dan kamu harus menjadi yang terbaik untuk bisa sukses. Contoh dari tipe pekerjaan ini adalah atlet, musisi, penulis, dan sebagainya. Kedua adalah auction. Permintaan soal orang untuk bekerja di bidang ini tidak terlalu terstruktur dan kamu perlu memiliki keahlian yang beragam, contohnya seperti menjadi marketer, ada beberapa keahlian yang harus kamu miliki agar bisa sukses. Namun, apapun yang kamu pilih, ketika kamu bekerja keras dan berlatih terus menerus di pekerjaan yang kamu jalani, pada akhirnya akan tumbuh kecintaan atas apa yang kamu lakukan.

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.