Basrizal Koto, Pengusaha Tajir Asal Padang dulunya Kernet

Ketika kamu memulai untuk mewujudkan sebuah ide, tandanya kamu sudah 50% sukses. Apalagi ditambah kerja keras dan pintar memanfaatkan peluang, maka hal itu akan membantu kamu mengubah nasib.

Kali ini saya akan membahas kisah inspiratif dari Basrizal Koto, pengusaha sukses yang berasal dari Sumatera Barat. Basrizal Koto yang akrab dipanggil Basko merupakan pengusaha yang bergerak di bidang percetakan, media, peternakan, hotel, properti, bahkan pertambangan. 

Basko lahir di Pariaman, Padang pada tahun 1959. Dia berasal dari keluarga yang sederhana dan menjalani hidup yang tidak mudah. Ayahnya merupakan buruh tani yang sehari-hari mengolah gabah. Kondisi ini membuat mereka sekeluarga hanya makan satu kali dalam sehari. Pernah ketika kecil, ibunya terpaksa harus meminjam beras ke tetangga untuk memberikan makan anaknya. Tanpa disengaja, Basko mendengar sendiri ibunya dihina oleh tetangga ketika meminjam beras. Tetangga tersebut bilang ke ibunya untuk makan batu saja karena ibunya belum bisa membayar utang beras sebelumnya. Kejadian ini membuat dia sangat sedih dan bertekad ingin memperbaiki keadaan ekonomi keluarganya. Walaupun begitu, Basko tidak dendam dengan tetangganya. Dia malah punya niat untuk menaikkan haji tetangganya ketika sudah kaya. Hinaan dari tetangganya tersebut menjadikan motivasi bagi Basko untuk meraih kesuksesan. Hingga suatu hari, ketika Basko duduk di kelas 5 SD, dia memohon restu kepada ibunya untuk merantau ke Riau, Pekanbaru. Motivasinya saat itu adalah ingin hidup yang lebih baik. Sebelum dia merantau, ibunya berpesan kepada Basko untuk menerapkan tiga hal dalam hidupnya. Pandai berkomunikasi, manfaatkan peluang dan kesempatan, serta bekerja dengan komitmen yang tinggi. Dengan berat hati, ibunya merelakan Basko untuk merantau. Dia pun bertekad kalau tidak akan pulang sebelum bisa mendapatkan seliter beras. Keterbatasan pendidikan memaksa Basko untuk bekerja lebih keras daripada orang lain hingga akhirnya bisa meraih kesuksesan dalam hidup. Bagi Basko, kemiskinan tidak perlu diratapi, tapi harus dilawan dengan tekad yang kuat, kerja keras, dan keinginan untuk mengubah nasib. Pekerjaan pertama dia di Riau yaitu menjadi kernet. Setiap pagi setelah subuh, dia pergi ke terminal untuk menawarkan diri menjadi kernet. Berkat kepandaiannya berkomunikasi, dia berhasil diterima sebagai kernet dari supir oplet. Saat itu, dia bekerja dari pagi hingga malam untuk bisa bertahan hidup. 

Sumber foto: popsugar.com.au

Dalam berusaha, Basko selalu punya prinsip untuk memberikan nilai tambah. Dia bercerita ketika dulu berjualan petai. Waktu itu, dia melihat si pedagang menaruh petai di sepeda dan pembelinya berebut. Dampaknya, sisa petai yang tidak terjual malah rusak dan tidak bisa dijual lagi. Basko punya akal. Dia menyortir petai yang bagus dan kurang bagus. Setelah itu, Basko mengikat petainya menjadi 1 ikat yang berisi 10 tangkai petai. Dengan cara ini, petai yang dijajakan bisa dijual semua dan tidak rusak ketika dipilih oleh pembeli. Bukan hanya itu, Basko menyimpan petai yang bagus untuk dijual ke rumah makan Padang dan sisanya dijual ke pembeli di pasar. Nilai tambah ini membuat dirinya sukses menjadi pedagang petai. Basko punya analogi soal nilai tambah. Satu gelas kopi di pinggir jalan dan di hotel berbintang harganya berbeda jauh. Satu gelas kopi yang isinya satu sendok kopi, satu sendok gula, dan air panas memiliki nilai yang jauh lebih tinggi apabila disajikan di hotel berbintang. Bedanya adalah, ketika dijual di pinggir jalan dikemas dalam plastik bening, sedangkan di hotel berbintang kopi tersebut disajikan di gelas dengan suasana yang nyaman, harganya naik berkali kali lipat. Bagi Basko, semua hal ini dia pelajari dari alam karena setelah tidak sekolah lagi, alam menjadi gurunya. Ketika ada pemikiran, kenapa kita tidak buat seperti ini? Kenapa kita tidak buat lebih baik? Basko langsung menjalankan idenya. Jadi, ide tersebut tidak berhenti di pikiran saja, tapi diwujudkan menjadi kenyataan. Menurut Basko, ketika kita sudah memulai untuk mewujudkan ide menjadi kenyataan artinya kita sudah sukses 50%. Kalau kita hanya berencana saja tapi tidak ada aksi nyatanya, sama saja artinya kalau kita sudah gagal. 

Sumber foto: innovationmanagement.se

Prinsip Basko yang lain adalah kita harus berpikir sebelum orang lain berpikir. Basko bercerita ketika dia membuka toko jahit di Simpang Haru, Padang. Walaupun sudah punya modal dari usaha sebelumnya, namun ketika merantau ke Padang dari Pekanbaru, Basko memulai lagi dari nol. Modalnya saat itu hanya cukup untuk sewa toko selama setahun dan membeli sedikit bahan jahit. Pada zaman dulu, toko jahit selalu memajang kain di tokonya. Penampakan ini sangat berbeda dengan toko Basko. Saat itu, karena tidak ada modal, maka dia tidak memajang kain di depan toko. Namun, hal ini tidak membuat Basko rendah diri. Hal ini jadi motivasi dan dia bertekad untuk menjadi salah satu tukang jahit paling besar di sana. Suatu pagi, Basko pergi ke pasar raya Padang untuk bertemu dengan pedagang kain. Di sana dia memperkenalkan diri sebagai tukang jahit dan butuh sampel kain. Permintaanya langsung disetujui oleh pedagang kain. Maklum saja, pada saat itu, tidak ada tukang jahit yang minta sampel kain. Kemudian, Basko langsung memajang sampel kain itu di atas meja. Ini baru salah satu inovasi yang dilakukan oleh Basko. Langkah selanjutnya yaitu mencari pelanggan. Di depan gedung tokonya, ada dua kluster pelanggan potensial yaitu perumahan Bank Indonesia dan mess OJK. Ini bukan hal yang kebetulan. Sebelum Basko memutuskan untuk menyewa toko di Simpang Haru, dia sudah meneliti dulu kalau lokasi tersebut sangat strategis karena ada dua kluster pelanggan potensial. Basko lalu mendatangi dua klaster tersebut dan berjualan door to door. Ini merupakan hal yang pertama kali pada masa itu, tidak ada tukang jahit yang mendatangi rumah pelanggan, mereka hanya menunggu di tokonya saja. Ketika berkeliling dari satu rumah ke rumah lainnya, para pelanggan potensial lalu diarahkan ke tokonya. Saat mereka sampai di sana, awalnya mereka kaget karena toko Basko berbeda karena tidak ada kain berjajar yang dipajang. Namun, Basko menjawab kalau semua kainnya ditaruh di toko maka akan penuh. Untuk menarik pelanggan, Basko punya strategi tersendiri. Dia bilang ke pelanggannya kalau jahit baju di tempatnya sangat istimewa yaitu kalau tidak bagus, mereka tidak usah bayar. Mendengar hal tersebut, pelanggannya langsung senang dan memesan banyak baju di tempat Basko. Itu adalah cara dia mendapatkan pelanggan pertamanya. Karena hasil jahitannya yang bagus, Basko mengaku tidak ada baju yang retur. Dari situ, reputasi Basko sebagai penjahit terus menanjak dan mengundang banyak pelanggan datang ke tokonya. 

Sumber foto: ravisehgal.com

Kesuksesan sebagai penjahit tidak membuat Basko berpuas diri. Dia masih punya mimpi yang lebih besar lagi. Dari situ, Basko melakoni bisnis yang beraneka ragam, mulai dari jual beli motor bekas, jual beli mobil bekas, aksesoris mobil, showroom, properti, dan sebagainya. Pada tahun 1990-an, Basko sempat diundang oleh Gubernur Sumatera Barat pada masa itu untuk membangun kampung halamannya. Undangan inilah yang membuat dia untuk berinvestasi dan membuka banyak lapangan pekerjaan di Padang. Hingga akhirnya, jumlah perusahaan yang dia kelola mencapai 15 perusahaan. Makanya tidak heran kalau Basko bisa disebut sebagai crazy rich Pariaman. 

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.