Cara Menjadi Orang yang Konsisten Setiap Saat

Checklist dapat membantu kita untuk mengurangi tingkat kesalahan dalam mengerjakan masalah yang kompleks. Metode sederhana ini punya pengaruh yang besar dan menghindarkan kita dari bencana besar di masa depan.

Kali ini saya akan membahas buku The Checklist Manifesto karya Atul Gwande. Buku ini membahas bagaimana sebuah ide sederhana yaitu sebuah checklist mampu menghindarkan kita dari sebuah bencana yang besar. Di era modern, ilmu pengetahuan semakin maju dan informasi yang kita miliki juga semakin banyak. Namun, dalam memecahkan masalah yang kompleks, seringkali kita tidak bisa memberikan hasil yang konsisten, akurat, dan aman setiap saat. Walaupun kita telah memiliki pengalaman kerja yang panjang, tetap saja masih ada hal yang error. Atul memperkenalkan sebuah metode dengan sebuah checklist. Pekerjaannya sebagai ahli bedah mengharuskan Atul bekerja dengan cermat dan aman setiap saat karena resikonya adalah keselamatan pasien. Melalui langkah sederhana yaitu dengan menggunakan checklist, maka pelayanan dalam kesehatan mampu memberikan hasil yang akurat dan menjadi standar pelayanan dalam dunia modern.

Saya merangkumnya menjadi tiga hal penting dari buku ini:

Kenapa perlu checklist?
Sumber foto: natracare.com

Kenapa perlu checklist?

Jika kamu terkena serangan jantung pada tahun 1950-an, maka kamu hanya diberikan obat penahan sakit dan diminta untuk istirahat di rumah. Pada saat itu, tentu saja kemajuan ilmu kedokteran belum seperti sekarang. 60 tahun kemudian, kita sudah menemukan berbagai cara untuk menangani serangan jantung, mulai dari pengobatan tekanan darah, kateterisasi jantung, hingga operasi jantung. Bukan hanya itu, kita juga tahu bagaimana mencegah serangan jantung mulai dari obat untuk pencegah kolesterol hingga olahraga rutin. Namun, semakin kompleks sebuah pengetahuan, tentu saja tidak ada satupun yang sanggup memahaminya dan mengerjakannya tanpa salah. Itulah alasan kenapa checklist bukan hanya dibutuhkan tapi merupakan penentu sebuah keberhasilan. Atul menjelaskan ada dua alasan kenapa seseorang gagal. Pertama adalah ketidaktahuan, kita hanya mengetahui sebagian informasi dari tugas yang kita lakukan. Misalnya, kita tidak tahu cara membangun gedung pencakar langit, badai salju yang tidak bisa diprekdisi, hingga serangan jantung yang bisa kita cegah. Kedua adalah kurangnya keahlian. Hal ini terjadi karena kita gagal mempraktekkan pengetahuan yang kita miliki. Misalnya, bangunan pencakar langit yang dibuat tidak sesuai prosedur dan roboh, badai salju yang tanda-tandanya tidak diketahui oleh ahli cuaca, hingga luka tusuk dari senjata yang lupa ditanyakan oleh dokter. Tingkat kesalahan paling besar umumnya terjadi bukan karena ketidaktahuan, tapi karena kurangnya keahlian. Dalam prakteknya, ketidaktahuan bisa diperbaiki dengan pertanyaan,”Apa yang harus saya lakukan?” Sedangkan, kurangnya keahlian bisa diperbaiki dengan pertanyaan,”Bagaimana saya melakukannya?” Checklist adalah metode sederhana yang mampu menjawab dua permasalahan tersebut.

Checklist bukan hanya berguna bagi pilot atau dokter, tapi juga bisa digunakan untuk menyelesaikan sebuah masalah yang kompleks. Sebagai contoh, seorang investor menggunakan checklist untuk menentukan saham mana yang akan dia beli. Sistem inilah yang membuat investor tersebut mampu menghasilkan keuntungan yang lebih baik daripada orang lain. Dia dan timnya mampu menganalisa saham dari sebuah perusahaan dengan cepat berkat bantuan dari checklist. Contoh lain dari seorang koki bernama Jody Adams dari Rialto Restaurant di Boston, Amerika Serikat. Checklist membantu Jody dalam memastikan konsistensi dari resepnya dan konsumen khusus mendapatkan menu yang mereka inginkan. 

Membuat Checklist yang efektif
Sumber foto: entrepreneurhandbook.co.uk

Membuat Checklist yang efektif

Dalam membuat checklist, tujuannya bukan menuliskan panduan secara detail, tapi fokus pada beberapa hal penting yang kamu atau tim kamu harus lengkapi agar tugas yang kamu lakukan sesuai prosedur. Contoh sederhananya adalah salah satu item di dalam checklist adalah dokter harus mengidentifikasikan alergi dari seorang pasien sebelum dioperasi. Ini adalah hal yang kelihatannya sepele, tapi apabila tidak dilakukan bisa menjadi sesuatu yang berbahaya di masa depan. Selain itu, jangan lupa juga masukkan beberapa poin penting yang suka terlupakan. Berdasarkan penjelasan dari Daniel Boorman yang merupakan pilot veteran yang merancang checklist pesawat untuk Boeing, dia bilang idealnya kamu butuh lima hingga sembilan item checklist agar membuatnya efektif. Bukan hanya jumlah itemnya, kamu juga harus memperkirakan waktu yang dibutuhkan Hal ini disebabkan, kebanyakan orang menjadi mudah tidak fokus jika mereka melihat daftar yang panjang. Ada tips lain ketika membuat checklist, pisahkan checklist menjadi dua bagian besar, read-do dan do-confirm. Untuk checklist read-do artinya kamu membaca dulu langkah demi langkahnya, baru kamu lakukan. Sedangkan, checklist kedua yaitu do-confirm artinya kamu harus mengerjakannya baru kemudian kamu mengkonfirmasi kalau sudah selesai. 

Sebuah checklist yang efektif ternyata memiliki pengaruh yang luar biasa. Atul direkrut WHO untuk berpartisipasi dalam sebuah komite untuk memperbaiki hasil pasien ketika keluar dari rumah sakit di negara berkembang. Pada tahun 2007, mereka mulai meramu strategi apa yang efektif, hingga akhirnya mereka sepakat untuk membuat sebuah standar kesehatan. Namun, walaupun begitu, strategi ini sudah pernah dijalankan sebelumnya dan gagal. Hingga akhirnya, setelah dicoba beberapa kali, Atul belajar kalau ada beberapa poin yang membuat sebuah checklist menjadi efektif, misalnya harus menggunakan bahasa yang mudah dipahami, hanya berisi lima hingga sembilan item, menggunakan jargon profesional, dan dibatasi hanya satu halaman. Checklist sederhana ini ternyata menjadi rujukan bagi lebih dari 20 negara dan bahkan dinobatkan sebagai penemuan klinis terbesar selama tiga puluh tahun.

Masalah kompleks harus diselesaikan dalam tim
Sumber foto: empoweringfutures.org

Masalah kompleks harus diselesaikan dalam tim

Kita terbiasa melihat cerita superhero bagaimana satu orang mampu menyelesaikan suatu masalah yang kompleks. Tapi tentu saja, kenyataannya sangat berbeda. Dalam situasi yang kompleks dan berbahaya, kemampuan individu tidak cukup, kemampuan sebuah tim yang lebih penting. Contohnya seperti ini, ada masanya ketika mendirikan bangunan hanya dikerjakan oleh para ahli bangunan yang menjalankan proyek tersebut. Namun, di era sekarang, sebuah proyek konstruksi memerlukan interaksi antara tim kecil yang berbeda mulai dari mekanik, tukang batu, waterproofing, hingga pengendali hama. Bukan hanya dalam bidang konstruksi, di area lain, kita juga mengalami situasi yang sama. Pada tahun 2009, sebuah pesawat jatuh di sungai Hudson namun tanpa adanya korban jiwa. Media massa lalu memuji Chesley B. Sullenberger yang merupakan kapten pesawat yang jatuh sebagai Captain America dalam dunia nyata, seorang pahlawan yang menyelamatkan nyawa ratusan orang. Walaupun begitu, Chesley selalu menekankan kalau semua itu berkat kerja kelompok dan tentu saja benar, ketika laporan menyeluruh terkait jatuhnya pesawat tersebut, terlihat jelas kekompakan tim pesawat tersebut yang mampu menghindarkan pesawat dari musibah yang mungkin akan menelan ratusan nyawa.

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.