larry page, Kisah Pendiri Google dan Asal Mula Google

Ide berasal dari sebuah mimpi hingga akhirnya mampu menjadi kenyataan. Namun, yang paling penting ide tersebut harus bisa bermanfaat bagi banyak orang agar bisa berkembang.

Kali ini saya akan membahas kisah inspiratif dari Larry Page yang merupakan Co-Founder dari Google.

Larry Page lahir pada tahun 1973 di Michigan, Amerika Serikat. Ayahnya merupakan profesor di Michigan University dan memiliki gelar Ph. D dalam bidang sains komputer. Sedangkan ibunya merupakan instruktur dari computer programming. Dibesarkan dalam keluarga yang fasih dalam teknologi membuat Larry kecil sudah rajin membaca buku. Dia banyak menghabiskan waktu untuk membaca buku dan majalah soal sains dan teknologi. Suatu hari, ketika usianya 12 tahun, Larry membaca biografi dari Nikola Tesla dan menangis. Sebagai gambaran, Nikola Tesla adalah seorang penemu dari berbagai penemuan besar di dunia. Namun sayangnya, Tesla tidak pandai dalam berbisnis, sehingga akhirnya dia meninggal dengan kondisi keuangan yang berantakan. Padahal, banyak ide gila Tesla melampaui zamannya pada masa itu misalnya teknologi wireless communication. Berbeda nasibnya dengan Thomas Alfa Edison yang merupakan penemu juga namun mahir berbisnis. Edison memiliki ribuan hak paten dan memiliki kondisi keuangan yang jauh lebih baik. Membaca kisah Tesla mengajarkan Larry kalau punya ide soal masa depan saja tidak cukup, namun ide tersebut harus bisa dijual atau dibuat komersil. Jika dia ingin menjadi penemu yang sukses, maka Larry harus bisa mendirikan perusahaan yang sukses juga. 

Sumber foto: sueatkinsparentingcoach.com

Cerita terbentuknya Google adalah cerita bagaimana Larry mengikuti mimpinya, atau lebih tepatnya adalah cerita bagaimana mewujudkan sesuatu yang awalnya hanya mimpi menjadi kenyataan. Pada usianya 23 tahun, Larry tiba-tiba terbangun di tengah malam karena sebuah mimpi besar. Ketika dia terbangun, Larry langsung berpikir bagaimana jika kita bisa mendownload seluruh website dan hanya menyisakan alamat link-nya saja? Dia langsung mengambil pena dan menuliskan beberapa detailnya. Larry tidak menunggu hingga besok pagi baru mulai menuliskan mimpinya, dia sadar, mungkin saja ketika dia terbangun di pagi hari, dia sudah lupa apa mimpinya. Ide ini membuat Larry sangat bersemangat dan mulai berpikir bagaimana mewujudkan mimpinya. Awalnya, dia tidak punya bayangan dalam membuat mesin pencarian, ide itu bahkan tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Tapi, sesuatu yang ditulis oleh Larry pada malam itu menjadi dasar dari algoritma Google dan dia menyebutnya sebagai PageRank yang merupakan cara memberikan peringkat pada halaman website berdasarkan relevansi pencarian. 

Pada tahun 1995, Larry Page bertemu dengan Sergey Brin di Stanford University. Mereka berdua merupakan mahasiswa di program pasca sarjana komputer sains. Ide awal Google berasal dari Larry kemudian disempurnakan oleh Sergey dan akhirnya siap diluncurkan melalui jaringan Stanford pada tahun 1996. Awalnya, website mereka diberi nama BackRub. Hal ini disebabkan BackRub bekerja dengan menganalisa back link sebuah website untuk mengetahui seberapa pentingnya website tersebut dan relevansinya. Namun, dua tahun kemudian, Larry berpikir kalau nama BackRub kurang bagus. Mereka berdiskusi untuk mencari nama baru bagi BackRub. Hingga akhirnya muncul sebuah ide “googolplex”. Larry lalu menyingkatnya menjadi “googol” yang berarti angka 1 kemudian diikuti oleh 100 angka 0, sedangkan googolplex berarti angka 1 yang diikuti oleh googol angka 0. Ketika mereka mengecek apakah domain tersebut masih ada atau tidak, timnya tidak sengaja mengetik google.com bukannya googol.com. Kesalahan penulisan ini malah disukai oleh Larry dan akhirnya mereka memutuskan untuk mengganti nama BackRub menjadi Google. Bagi kebanyakan perusahaan teknologi, nama co-founder seakan hilang ditelan bumi, contohnya seperti Facebook dan Apple. Namun hal ini tidak terjadi di Google. Sergey mengisi bagian ekstrovert yang kurang dimiliki oleh Larry. Sergey merupakan ahli di bidang strategi, branding, dan mengembangkan hubungan antara Google dengan perusahaan lain.  

Sumber foto: medium.com

Kemudian pada tahun 1999, Google bertumbuh sangat cepat. Kondisi ini membuat Google harus berinvestasi di server dan juga merekrut karyawan baru. Tentu saja, konsekuensinya Google butuh dana segar, maklum saja saat itu Google belum menghasilkan uang. Ketika mereka berkeliling mencari investor baru, Larry punya syarat kalau mereka boleh berinvestasi asalkan Larry dan Sergey masih memiliki hak suara terbanyak. Awalnya, banyak investor yang menertawakan proposal dari mereka. Bagi para investor pada masa itu, ide dari Larry tidak masuk akal. Namun, ketika Google semakin besar, para investor itu mulai serius menanggapi idenya. Dua investor besar yaitu Kleiner Perkins dan Sequoia Capital pun setuju, tapi mereka juga punya syarat. Google harus punya CEO baru dan Larry harus mundur dari jabatannya sebagai CEO karena dianggap Google butuh supervisi dari CEO kelas dunia. Ini merupakan dilema bagi Larry. Di satu sisi, Larry butuh dana segar dari investor, tapi di sisi lain, dia juga tidak rela untuk melepaskan jabatan CEO karena sifat dasarnya yang suka mengontrol semuanya sendiri. Namun, pada akhirnya, Larry memutuskan untuk menyetujui syarat dari investor tersebut dan merekrut CEO baru. 

Ternyata di balik drama ini, para investor memang melihat Larry belum cukup pengalaman dan Google membutuhkan nahkoda lain yang bisa membawanya ke tingkatan yang lebih besar lagi. Ada sebuah cerita yang cukup menarik. Pada tahun 2001, Larry pernah memecat semua project manager di Google karena dia merasa kalau engineer tidak boleh disupervisi oleh orang yang tidak mengerti hal teknis. Tentu saja, ini merupakan keputusan yang gegabah. Tidak lama kemudian, muncul masalah baru yang berujung banyak proyek yang berantakan. Kisah Larry yang dipaksa mundur dari jabatannya, sama seperti kisah dari Steve Jobs yang dipecat dari perusahaannya sendiri. Namun, kejadian ini ternyata mampu mendewasakan Steve Jobs dan juga Larry. Ketika dipecat dari Apple, Steve belajar untuk menjadi lebih rendah hati dan mampu menjadi pemimpin yang lebih kompeten. Sama halnya dengan Larry, kejadian ini membuat dia lebih dewasa dan lebih menyadari kekuatan dan kelemahannya. Seperti kisah Steve, Larry pun akhirnya mampu membuktikan dirinya dan kembali lagi menjadi CEO Google dengan semangat dan ambisi yang baru. Google terus bertumbuh dan pada akhirnya tahun 2019, dia memutuskan sudah saatnya untuk mempercayakan Google kepada orang lain. 

Sumber foto: motivait.net

Dari kisah Google, ada beberapa pelajaran menarik. Pertama, mimpi itu perlu aksi nyata. Banyak orang punya banyak ide, namun hanya sedikit yang bisa mewujudkannya. Hal inilah yang dilakukan oleh Larry. Dia menghabiskan waktu di tengah malam untuk menuliskan ide yang muncul saat dia bermimpi. Dan tidak berhenti sampai di situ, dia juga terus bekerja keras mengembangkannya hingga akhirnya Google diluncurkan. Kedua, penemu sukses harus juga punya perusahaan yang sukses. Belajar dari kisah Nikolas Tesla, Larry harus mampu membuat perusahaan yang sukses dulu apabila dia ingin sukses menjadi inventor. Karena pada akhirnya, apabila ide kamu tidak bisa dikomersilkan, maka akan sangat sulit ide tersebut untuk bisa berkembang dan bermanfaat bagi dunia. Ketiga, penolakan mendewasakan dirimu. Ketika Larry dipaksa untuk mundur menjadi CEO dari Google, tentu saja itu keputusan yang berat. Namun, pengalaman ini membantu Larry di masa depan. Jika dia tidak dipaksa mundur, belum tentu Google bisa sebesar sekarang. Pada masa itu, Google butuh pemimpin yang berpengalaman dan Larry belum siap. Ketika dia mundur dari jabatan CEO, Larry belajar untuk mengenal dirinya lebih baik lagi. Hingga akhirnya, dia siap untuk menjadi CEO Google di masa depan. 

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.