Ciri – Ciri Pemimpin yang Baik

Perjalanan menjadi pemimpin yang baik memang tidak mudah, tapi bisa dipelajari. Seseorang menjadi pemimpin bukan karena jabatan yang diberikan, tapi karena pengaruh yang dia ciptakan bagi lingkungannya.

Kali ini saya akan membahas buku Developing the Leader Within You karya John C. Maxwell. Buku ini membahas soal bagaimana mengembangkan potensi diri menjadi seorang leader. John memulai bukunya dengan memberikan arti leadership yang sesungguhnya. Leadership itu bukan soal manajemen tapi soal pengaruh. Kenapa begitu? Karena tidak peduli seberapa hebat kamu mengatur orang lain, usaha kamu tidak akan berhasil jika orang tersebut tidak mendengarkan atau mengikuti kamu. Menariknya lagi, leadership itu bisa dipelajari dan bukan merupakan bakat. Cuma memang ketika di sekolah atau di universitas, kita tidak belajar bagaimana menjadi leader panutan, dan bahkan di tempat kerja, tidak semua orang bisa bertemu dengan leader yang hebat. Makanya, kita pikir orang terlahir dengan bakat memimpin, karena jumlahnya yang sedikit. Padahal, untuk jadi pemimpin, kamu perlu mempelajari karakter yang membuat kamu menjadi pemimpin yang sesungguhnya.

Saya merangkumnya menjadi tiga hal penting dari buku ini:

5 Level Kepemimpinan
Sumber foto: benefitsbridge.unitedconcordia.com

5 Level Kepemimpinan

Dalam hidup, kita pasti pernah menjadi seorang pemimpin. Entah itu karena pekerjaan, menjadi koordinator acara sosial, atau bahkan menjadi orang tua. Tapi, apakah kamu pernah tahu bagaimana perkembangan kamu dalam memimpin seseorang? Setiap orang pasti ingin menjadi pemimpin yang hebat, tapi harus dimulai dulu, kita ada di mana. Jika kita sudah tahu kemampuan memimpin yang kita miliki sekarang, maka kita bisa membuat rencana bagaimana untuk meningkatkan kemampuan kita sebagai pemimpin. Dari awal, John sudah menekankan kalau menjadi pemimpin itu adalah soal pengaruh. John membaginya menjadi 5 tingkat kepemimpinan. Level 1 adalah position. Ini adalah keadaan di mana kamu menjadi pemimpin karena kamu menduduki jabatan tertentu. Di posisi ini, kamu tidak perlu karakter khusus untuk jadi seorang pemimpin. Karyawan pasti mengikuti kamu karena itu adalah sebuah keharusan. Bagaimana caranya kamu tahu kalau kamu ada di level 1? Sederhananya, apakah kamu bisa jadi koordinator acara sosial? Kegiatan sosial berbeda dengan perusahaan, orang lain tidak akan mengikuti kamu karena kamu ketua, tapi mereka memilih untuk mengikuti kamu. Ini adalah level awal ketika setiap orang mulai jadi pemimpin. Level 2 adalah permission. Mereka akan mengikuti kamu berdasarkan hubungan. Mereka menjadikan kamu sebagai pemimpin karena mereka membiarkan diri mereka untuk dipimpin. Untuk sampai ke tahap ini, kamu harus kenal siapa anggota tim kamu hingga akhirnya akan timbul kepercayaan antara mereka dan kamu. Level 3 adalah production. Pemimpin yang hebat tahu bagaimana caranya memotivasi tim-nya untuk mengerjakan sebuah tugas dengan sebaik-baiknya. Di level ini, pemimpin tersebut mendapatkan pengaruhnya karena dia duluan menunjukkan hasil kerjanya. Hasilnya, pemimpin tersebut akan mendapatkan kredibilitas dan pengaruh. Level 4 adalah people development. Ini adalah kondisi di mana seorang pemimpin berhasil mendidik seorang menjadi seorang pemimpin. Mereka akan mengikuti pemimpin tersebut atas jasanya yang telah membantu mereka menjadi pemimpin juga. Untuk sampai di tahap ini, seorang pemimpin harus bersedia menyediakan waktunya untuk melakukan mentoring dan membimbing karyawan yang potensial menjadi pemimpin masa depan. Level 5 adalah personhood. Ini merupakan level tertinggi dari seorang pemimpin. Mereka mengikuti pemimpin karena sosok pemimpin tersebut. Dengan kata lain, pemimpin level 5 adalah pemimpin yang punya reputasi baik hingga akhirnya mampu memiliki pengaruh yang kuat. Perlu dipahami, semua level ini dari level 1 hingga level 5 bukan berarti ketika naik level kamu menghilangkan level sebelumnya, tapi ini merupakan keahlian yang ditambah. Sebagai contoh, walaupun level 3 kamu merupakan pemimpin yang pekerja keras, tapi kamu juga harus memiliki hubungan yang baik dengan tim yang kamu pimpin agar mampu menciptakan kepercayaan.

Pemimpin harus tahu prioritas
Sumber foto: fairteamwork.com

Pemimpin harus tahu prioritas

Seorang pemimpin harus bisa membuat prioritas. Mungkin ini kedengarannya sepele, tapi tidak semua orang paham maksudnya. Jika kita bicara soal prioritas, pasti kita akan berkutat pada dua kata yaitu efisiensi dan efektivitas. Bagi John, efisiensi adalah fondasi untuk bertahan hidup, sedangkan efektivitas adalah fondasi dari kesuksesan. Sederhananya, efisiensi adalah melakukan sesuatu dengan benar, sedangkan efektivitas adalah melakukan hal yang benar. Semakin tinggi kita menjadi seorang pemimpin, kita pasti akan mengalami dilema ini ketika harus mengambil keputusan, apakah harus mengambil keputusan yang efisien atau efektif? Atau bahkan kita malah memilih keduanya. Tentu saja ini bukan pilihan yang baik. Setiap pemimpin harus belajar untuk bilang tidak dan bilang iya pada hal yang benar-benar penting. Apalagi ketika fungsi kamu sebagai pemimpin semakin besar, maka akan semakin banyak tanggung jawab yang ada di pundakmu. Kamu harus tahu bagaimana caranya menyusun prioritas. Hal mana yang penting dan hal mana yang mendesak. Kalau secara pribadi, kita gagal menentukan prioritas, maka hal ini juga berbahaya bagi perusahaan, karena nantinya akan berdampak pada energi, waktu, dan karyawan yang dibutuhkan dalam mengerjakan sebuah proyek.

Pemimpin harus punya integritas
Sumber foto: entrepreneur.com

Pemimpin harus punya integritas

Resep penting lain untuk jadi seorang pemimpin adalah integritas. Tanpa hal tersebut, maka akan sangat sulit membuat orang lain untuk mengikuti kamu. Sederhananya, integritas itu adalah walk the talk, kamu melakukan sesuai dengan apa yang kamu ucapkan. Perilaku kamu pada akhirnya akan menginspirasi orang lain untuk mempercayai dan mengikuti kamu. Sebagai contoh, sebuah riset dari Stanford University bilang kalau 89% orang belajar melalui visual. Artinya, ketika tim kamu mendengar ucapan kamu kalau fokus dari perusahaan adalah untuk memberikan solusi bagi konsumen dan mereka melihatnya dari cara kerja kamu, maka mereka juga akan melakukan hal yang sama. Poin penting lain dari integritas bukan hanya melakukan apa yang diucapkan, tapi juga soal melakukannya secara konsisten. Contoh sederhananya seperti ini, kamu mau tim kamu gak boleh datang ke kantor lebih telat dari jam 9 pagi. Tapi, setiap hari kamu selalu datang jam 9 lewat karena berpikir kamu adalah bos jadi kamu punya waktu yang lebih fleksibel. Hal ini tentu saja membuat integritas kamu di mata karyawan sangat lemah. Pertanyaannya seperti ini, apakah kamu mau mendengarkan nasehat atau saran dari orang yang kamu tidak percayai? Tentu saja tidak kan. Ini adalah contoh sederhana yang harus diresapi apabila kamu ingin menjadi seorang pemimpin. Integritas adalah modal awal untuk membangun sebuah reputasi. Kalau kamu masih ingat di 5 level leadership, integritas itu ada di level 3 dan merupakan fondasi awal agar kamu bisa naik ke level 5 di mana seseorang akan mengikuti kamu karena reputasi yang kamu miliki. Mungkin satu hal yang harus dipahami soal integritas adalah kalau integritas bukanlah sebuah citra seseorang. Misalnya, Si A adalah orang yang jujur. Kejujuran dari Si A bukanlah sebuah citra semata, tapi merupakan reputasi yang dibangun selama bertahun-tahun dan dijalankannya tidak peduli dalam hubungan pribadi ataupun hubungan bisnis. Orang yang memiliki integritas yang baik biasanya memiliki karakter yang sama seperti reputasinya.

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.