Kenapa Kita Tidak Mau Mengaku Salah?

Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Ketika kita mengakuinya, kita baru bisa belajar dari kesalahan tersebut dan memperbaikinya.

Kali ini saya akan membahas buku Mistakes Were Made (But Not by Me) karya Carol Tavris dan Elliot Aronson. Buku ini membahas soal kenapa orang tidak mau bertanggung jawab atas perbuatan yang mereka lakukan? Kenapa kita kesulitan mengakui ketika kita salah? Kenapa kita bisa bilang kalau orang lain adalah seorang hipokrit tapi tidak melihat hal yang sama juga terjadi dengan diri kita? Carol akan membahas alasan kenapa kita melakukan pembenaran atas apa yang kita lakukan, bahkan ketika kita salah. Perilaku ini kita lakukan untuk menjaga perasaan harga diri dan keyakinan kalau kita adalah orang yang pintar, bermoral, dan benar. Padahal sebenarnya, Ini adalah cara kita menipu diri kita sendiri. Carol telah melakukan penelitian bertahun-tahun untuk mengetahui bagaimana kita menipu diri kita sendiri, kerugian yang muncul, dan bagaimana cara mengatasinya.

Saya merangkumnya menjadi tiga hal penting dari buku ini:

Kenapa kita membenarkan kesalahan sendiri?
Sumber foto: personalexcellence.co

Kenapa kita membenarkan kesalahan sendiri?

Setiap orang pada dasarnya pasti pernah melakukan kesalahan, entah itu disengaja maupun tidak. Namun, ketika kita melakukan kesalahan, kebanyakan orang punya kecenderungan untuk melakukan pembelaan diri sebagai cara untuk membenarkan kesalahan yang dilakukan. Ternyata, pembenaran ini terjadi karena kita ingin mengurangi perasaan disonansi kognitif. Ini adalah sebuah perasaan di mana kita punya dua pemikiran yang bertentangan di dalam pikiran kita. Sederhananya seperti ini, kamu ingin mulai pola makan yang sehat, tapi kamu masih nyemil gorengan setiap saat. Nah, dua pemikiran ini kan bertentangan, bukannya kita menyadari kalau perilaku kita ini tidak sesuai, tapi kita malah memberikan pembenaran. Misalnya dengan bilang, ah tidak apa-apa, kan cuma sebiji gorengan aja. Pembenaran ini membuat kita merasa kalau kita mengambil keputusan yang tepat dengan makan gorengan, padahal tentu saja pilihan kita tidak sesuai. Dari pembenaran ini, kita pasti akan mencari banyak bukti-bukti pendukung kalau nyemil gorengan sedikit itu tidak masalah. 

Ada hal menarik soal pembenaran diri. Jika kita menemukan informasi yang mendukung pemikiran kita, maka kita akan mengambil informasi itu sebagai dasar dari argumen pembenaran kita. Tapi, sebaliknya, kalau kita mendapatkan informasi yang berbeda, kita malah melihat argumen itu sebagai informasi yang tidak benar. Bahkan, tidak jarang juga kita malah memberikan kritik dan menganggap informasi itu adalah hal yang hoaks. Inilah yang disebut sebagai bias konfirmasi. Sebagai contoh, pada tahun 1980an di Amerika Serikat, banyak orang panik karena mereka yakin kalau ada praktek ilmu hitam di kalangan petinggi pemerintahan dan menculik anak kecil sebagai bagian dari ritualnya. Ketika FBI melakukan investigasi, FBI tidak menemukan bukti apapun. Tapi, hasil penyelidikan FBI malah dibantah oleh masyarakat dan mereka menganggap praktek ilmu hitam ini sangat rapi dan tersembunyi sehingga tidak terdeteksi. Hal yang sama juga bisa kamu terapkan untuk menghindari bias konfirmasi di awal. Misalnya seperti ini, ketika kamu butuh masukan soal barang apa yang ingin kamu beli, jangan tanya kepada orang yang sudah beli. Mungkin hal ini terdengar aneh. Bukannya dengan mendapatkan testimoni dari orang yang sudah beli, kita jadi tahu kualitas barang tersebut? Ternyata, hal ini berlaku sebaliknya. Orang yang sudah beli sebuah barang cenderung akan mengalami bias konfirmasi. Sederhananya seperti ini, ketika kita tanya mana yang lebih bagus, Apple atau Samsung? Jawaban yang kita dapat pasti berbeda tergantung dari kepada siapa pertanyaaan ini kita tanyakan. Jika kita tanya kepada pengguna Apple selama bertahun-tahun, tentu saja Apple adalah produk terbaik. Hal yang sama jika kita tanyakan kepada pengguna Samsung, pasti Samsung adalah produk terbaik. Cara paling obyektif adalah tanyakan produk mana yang terbaik kepada orang yang belum pernah beli dan masih dalam proses mencari informasi produk mana yang terbaik. 

Kebanggaan dan Prasangka
Sumber foto: bizjournals.com

Kebanggaan dan Prasangka

Selain bias konfirmasi, otak kita punya kebiasaan membenarkan diri dan menganggap pandangan kita adalah pandangan yang paling akurat, benar, dan objektif. Ketika kita merasa kalau kita melihat sesuatu dengan objektif dan benar, kita jadi merasa aneh kalau ada orang lain yang punya pandangan berbeda. Psikolog menyebut hal ini sebagai naive realism. Bagi saya, informasi ini cukup menarik. Contoh sederhana adalah prediksi ahli. Ratusan studi menunjukkan kalau prediksi ahli dan kenyataan, hasilnya tidak selalu tepat dan bahkan keakuratan prediksinya tidak lebih baik daripada hukum probabilitas. Tapi, ketika seorang ahli memberikan prediksi yang salah, identitas profesionalnya pasti tercoreng. Itulah sebabnya, walaupun salah, seorang ahli masih berusaha memberikan justifikasi dan menganggap prediksinya yang meleset karena banyak faktor di luar kendali dirinya. Sama halnya juga dengan prasangka. Ketika seseorang sudah punya prasangka terhadap suatu hal entah itu terhadap golongan atau ideologi politik tertentu, sangat sulit untuk mengubahnya. Walaupun, banyak bukti yang memberikan fakta kalau sangkaan mereka itu keliru. Otak mereka langsung membuat sebuah pertahanan untuk melakukan justifikasi dan mencari fakta lain yang mendukung argumen mereka dan menganggap fakta yang tidak sesuai adalah sesuatu yang tidak objektif atau lebih parahnya dianggap sebagai hoaks. Tapi, tentu saja, setiap kebenaran punya dua sisi. Namun, kita tidak akan bisa melihat ini jika kita terlalu melekat pada salah satu sisi.

Cara mengurangi rasa pembenaran diri
Sumber foto: psychologytoday.com

Cara mengurangi rasa pembenaran diri

Apakah ada cara untuk menghindari pembenaran diri ketika kita salah? Kita bisa melakukan langkah kecil sederhana. Langkah awalnya bisa dimulai dengan mengakui kesalahan yang kita buat. Pengakuan ini bisa mencegah kita untuk mengakibatkan masalah yang lebih besar lagi ketika kesalahannya sudah bertumpuk. Analoginya seperti ini, jika kamu mengakui kesalahan ketika masih sebesar benih, maka hal itu akan lebih mudah diperbaiki daripada kamu menunggunya hingga sebesar pohon dengan akar yang sudah menjalar kemana-mana. Dengan mengakui kesalahan, artinya kita juga menyadari kalau apa yang kita pikir benar, belum berarti 100% benar. Karena tentu saja, hidup adalah hal yang kompleks dan ada kemungkinan apa yang menurut kita benar, tapi belum tentu benar bagi orang lain. Hal lain yang tidak kalah penting. Ketika kamu membuat kesalahan, ini bukan pertanda kalau kamu bodoh. Tentu saja, hal ini tidak mudah. Kita pasti tidak ingin terlihat bodoh, apalagi jika kita adalah seorang ahli dalam sebuah bidang. Walaupun begitu, tentu saja, kamu harus pahami kalau latihan dan edukasi bertahun-tahun tidak akan meningkatkan akurasi atas prediksi yang kamu lakukan, tapi hal ini hanya menambah kepercayaan diri kamu atas prediksi yang akan kamu buat. Perlu kamu sadari kalau siapapun tidak ada yang bisa memberikan prediksi yang akurat 100%. Selain mengakui kesalahan, satu saran yang cukup penting adalah memisahkan sebuah perilaku dengan identitas. Sebagai contoh, misalnya kamu sedang ngantuk dan tanpa sadar kamu menabrak seseorang. Tentu saja, tidak adil apabila orang memberikan label kepada kamu sebagai orang yang ceroboh. Satu kejadian buruk tidak bisa memberikan gambaran yang utuh terhadap karakter seseorang. Ketika kita bisa belajar memisahkan antara apa yang kita kerjakan dan identitas diri, kita akan lebih mudah mengakui kesalahan. Sama halnya ketika seorang ahli membuat prediksi dan salah. Dia tidak akan berusaha untuk mencari pembenaran, dia mengakuinya dan memperbaikinya. 

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.