Sudhamek AWS, Bos Garudafood yang Pintar Bolak Balik Pikiran

Orang pintar akan kalah dengan orang rajin. Ketika kita bersedia membantu dan mengerjakan banyak hal, maka hal ini akan membantu kita di masa depan.

Kali ini saya akan membahas kisah inspiratif dari Sudhamek AWS, Presiden Komisaris dari Garudafood.

Sudhamek AWS lahir pada tahun 1956 di Rembang, Jawa Tengah. Dia merupakan anak bungsu dari 11 bersaudara. Ada makna yang dalam dari nama yang dia miliki, Sudhamek Agoeng Waspodo Soenjoto. Su artinya baik, Dhamek artinya menjalani ajaran agama. Jadi, Sudhamek itu artinya menjalani ajaran agama dengan baik. Apabila dia menjalankan ajaran agama dengan baik, maka dia akan menjadi Agoeng, menjadi orang yang berhasil. Tetapi, apabila sesudah menjadi orang yang berhasil tidak ada kewaspadaan atau Waspodo, maka bisa kesandung. Dan yang terakhir adalah Soenjoto yang merupakan pencapaian tertinggi dalam perjalanan spiritual. Jadi, rangkaian nama Sudhamek AWS berarti apabila dia menjalankan ajaran agama dengan baik, kemudian menjadi sukses, namun tidak boleh lupa diri dan terus waspada, maka tujuan akhirnya adalah mencapai pencerahan. Sudhamek bersyukur sekali dengan nama yang diberikan oleh ayahnya dan hal ini menjadi peta jalan bagi Sudhamek dalam menjalani hidup. 

Sudhamek bercerita kalau sejak kecil, dia sering dihina atau diejek. Di dalam keluarga, karena merupakan anak bungsu, dia sering di-bully oleh saudara-saudaranya. Sudhamek masih ingat, dulu kakaknya pernah bilang kalau dia bukan anak kandung ayah ibunya dan ditemukan di pinggir jalan. Ketika mendengar hal itu, Sudhamek sangat sedih dan kemudian menangis. Ibunya langsung marah kepada anak-anaknya yang sudah besar dan membela Sudhamek. Bagi dia, kejadian ini sangat membekas dan menimbulkan luka batin. Maklum saja, Sudhamek merupakan orang yang memiliki perasaan yang sensitif. Kejadian bully itu juga berlanjut ketika dia masuk SMA. Saat itu, Sudhamek bersekolah di salah satu sekolah terbaik di Semarang. Teman-temannya memiliki persepsi kalau Sudhamek merupakan anak yang berasal dari desa. Makanya, dulu dia dijuluki kampso, anak kampung atau desa. Bukan hanya itu, karena punya nama yang unik, namanya sering dijadikan bahan olok-olok teman sekelasnya. Pada masa itu, Sudhamek merasa nama yang dia miliki merupakan sebuah hukuman, karena nama itulah yang membuat dia sering di-bully. Ada kejadian lain yang cukup membekas bagi Sudhamek. Suatu hari, dia punya teman yang cukup dekat dan tinggal di satu kost yang sama. Temannya berasal dari keluarga yang sangat mampu. Ketika dia main dengan temannya, kakak temannya bilang, jangan bergaul dengan orang miskin. Sudhamek marah sekali dan hampir bertengkar dengan kakak temannya. Namun, tanpa dia sadari, ketika pulang ke rumah, dia menceritakan hal tersebut kepada ibunya. Mendengar hal itu, ibunya terpukul sekali dan menangis karena mendengar anaknya diremehkan oleh orang lain. Kejadian ini sangat membekas dalam batin Sudhamek.

Sumber foto: greatschools.org

Pengalaman masa kecil yang penuh dengan bully membuat Sudhamek punya dorongan untuk melawan. Ketika masih muda, cara melawannya adalah dengan bertengkar. Namun, seiring beranjak dewasa, dia memilih cara lain. Dorongan ini menjadi motivasi bagi Sudhamek untuk membuktikan kalau dia bisa jadi orang yang sukses. Pernah ada suatu kejadian saat awal membangun bisnis. Suatu hari, perwakilan dari TV swasta pernah meremehkan bisnis kacang. Waktu dia ingin beriklan pertama kali pada tahun 1994, materi iklannya ditolak. Perwakilan TV swasta itu berargumen kalau dia menerima iklan dari produk kacang, maka rating TV-nya bisa turun. Padahal waktu itu dia bayar sesuai tarif iklannya, tapi tetap saja mereka tidak mau. Hal ini karena persepsi orang kalau kacang itu merupakan sesuatu yang diremehkan, misalnya orang itu kacangan dan sebagainya. Kejadian ini menimbulkan kemarahan dalam diri Sudhamek. Namun, kemarahan ini disalurkan ke hal yang positif menjadi sebuah dorongan motivasi hingga akhirnya dia mampu membuktikan saat bisnis kacang Garuda-nya mencapai omzet 200 milyar. Saat itu, omzet segitu merupakan angka yang besar. Momen itu merupakan salah satu momen yang membahagiakan, akhirnya Sudhamek bisa membuktikan kalau bisnis kacang bukan lagi bisnis kacangan. Semua kejadian ini membentuk Sudhamek menjadi seperti sekarang. Walaupun memiliki masa kecil yang suka di-bully, dia tidak menaruh dendam pada orang yang meremehkan atau mem-bully-nya. Sudhamek percaya kalau semua hal yang terjadi merupakan bagian dari sebab akibat. Dia bisa menjadi seperti sekarang karena masa kecil-nya di-bully sehingga ada dorongan besar yang membantunya untuk meraih kesuksesan. Sebaliknya, Sudhamek malah merasa berterima kasih atas semua kejadian tersebut, namun tentu saja kejadian pahit ini sulit untuk dilupakan. 

Ibu memiliki peran yang sangat besar bagi pribadi Sudhamek. Ada beberapa nasehatnya yang masih menjadi pegangan hidup Sudhamek hingga sekarang. Pertama, kantongin ilmu itu tidak ganjel. Beda kalau kamu kantongin barang lain, pasti terasa ada yang mengganjal, tapi kalau ilmu tidak. Artinya, jika kamu baca buku sebanyak apapun, tidak merasa ada yang ganjel atau beban. Kalimat inilah yang mendorong Sudhamek menjadi pembelajar seumur hidup. Kedua, menjadi visioner. Suatu hari, ibunya melihat anak perempuannya belajar menyulam. Melihat hal tersebut, ibunya bilang kok anak perempuan zaman sekarang masih menyulam, sana belajar bahasa inggris. Ibunya tahu kalau bahasa Inggris di masa depan sangat penting hingga sekarang menjadi bahasa yang ibaratnya wajib dikuasai ketika kamu bekerja. Sudhamek bercerita ketika awal dia bekerja sebagai karyawan dulu, orang yang bisa bahasa inggris gajinya bisa dua kali lipat pada masa itu. Ketiga, orang hidup harus rendah hatinya. Ini merupakan sifat yang harus dimiliki agar kita disukai oleh orang lain. Keempat, orang hidup harus pintar bolak balik pikiran. Kita harus bisa memaknai sebuah kejadian dengan cara yang berbeda. Sudhamek mengibaratkan, ketika ada stimulus, maka akan masuk ke dalam free will kita, nah free will ini yang akan menentukan apa respon kita. Jangan sampai, ketika ada stimulus, langsung respons tanpa dicermati dulu apa yang sebaiknya kita lakukan. Banyak orang tidak mengira kalau sebenarnya perjalanan hidup Sudhamek sangat keras sekali. Kalau dia tidak bisa bolak balik pikiran, mungkin dia bisa jadi gila karena tekanan hidup yang cukup berat. 

Sumber foto: happiermindjournal.com

Dalam bekerja, Sudhamek punya prinsip kalau orang pintar kalah dengan orang rajin. Ketika kita memiliki kemauan keras dan persistensi yang tinggi, maka kita bisa mencapai apa yang kita inginkan dalam hidup. Prinsip hidup ini yang selalu dia pegang hingga akhirnya merek kacang Garuda bisa menjadi salah satu merek kacang terbesar di Indonesia. Prinsip lain adalah jadilah orang yang ringan tangan. Sudhamek tidak pernah perhitungan dalam bekerja. Bahkan, saat masih jadi karyawan, departemen dia sering dianggap sebagai tong sampah, jika ada kerjaan yang tidak selesai, maka dilempar ke tempat dia dan pasti hasilnya bagus. Namun, semua hal ini diterima dengan senang hati dan bekerja dengan sebaik-baiknya. Karakter yang dimiliki oleh Sudhamek menjadi inspirasi bagi anak buahnya untuk bekerja sebaik dirinya. Hal inilah yang membuat karir Sudhamek di Gudang Garam bersinar. Dalam delapan tahun, dia berhasil menjadi Presiden Direktur di PT Trias Santosa Tbk, yang merupakan anak perusahaan PT. Gudang Garam Tbk. Karakternya yang ringan tangan juga membuat dia jadi belajar banyak hal dan berpengaruh besar bagi perkembangan pribadinya. Bagi Sudhamek, ketika seseorang mengembangkan kompetensi biasanya menggunakan T-Shape management. Awalnya kita fokus pada keahlian yang kita miliki, namun kita juga harus bisa memperlebar kompetensi di luar dari spesialisasi yang kita pahami. Sederhananya, dari spesialis kemudian menjadi generalis. Disitulah kebijaksanaan berkembang, karena kita melihat sesuatu bukan hanya dari sudut pandang kita saja, tapi ketika kita belajar berbagai ilmu, maka kita juga bisa melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda. 

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.