Strategi Kopi Kenangan Punya Ratusan Gerai dalam Tiga Tahun

Bisnis zaman sekarang harus memiliki perpaduan antara cara konvensional dan digital. Apabila perusahaan tidak berani berinvestasi dalam teknologi, jangan kaget kalau suatu hari menjadi tidak relevan.

Kali ini saya tidak membahas buku, tapi membahas soal kisah inspiratif dari Edward Tirtanata, CEO dan Co-founder dari Kopi Kenangan. 

Edward Tirtanata lahir di Bandung pada tahun 1988. Edward mengakui ketika zaman sekolah dulu, dia merupakan anak yang malas belajar dan banyak menghabiskan waktu untuk main game. Namun, ada titik balik ketika Edward kuliah di Amerika Serikat. Pada tahun 2008, ibunya menelpon Edward dan memberitahu dia kalau bisnis keluarganya sedang dalam masa sulit. Kabar ini membuat Edward berpikir kembali soal masa depannya. Sebagai informasi, keluarga Edward merupakan pengusaha batu bara dan saat itu, harga batu bara sedang jatuh dan ini menjadi wake up call bagi Edward. Dia yang awalnya malas-malasan kuliah berubah menjadi rajin belajar. Kerja kerasnya pun berbuah manis. Selama dua tahun, dari GPA-nya dua koma sekian kemudian dia berhasil lulus dengan predikat magna cum laude. Pada tahun 2010, setelah lulus kuliah, dia langsung kembali ke Indonesia untuk bekerja di perusahaan keluarganya. Namun setahun kemudian, harga batu bara kembali jatuh. Ini adalah krisis kedua bagi keluarga Edward. Bahkan saat itu, ayahnya terpaksa harus menjual rumah dan kantornya karena harus membayar hutang ke bank. Kejadian ini sangat membekas dalam benak Edward. Dia lalu bertekad apabila ingin bisnis ke depannya, dia tidak ingin berbisnis produk yang harganya ditentukan oleh pasar. Hal inilah yang membuat Edward memutuskan untuk masuk ke bisnis consumer goods. 

Sumber foto: azom.com

Kemudian pada tahun 2015, Edward membuka Lewis and Carroll, sebuah cafe yang menyajikan berbagai jenis teh dari bahan berkualitas. Ide ini muncul karena banyak cafe saat itu fokus menjual kopi, sebagai diferensiasi, Edward membuka cafe yang fokus menjual teh. Namun, ketika bisnisnya mau di-scale up ke kota lain, dia mengalami kesulitan karena peminat teh dengan konsep cukup premium sulit diterima. Dari situ, Edward mulai berpikir keras dan akhirnya menciptakan Kopi Kenangan bersama partner-nya, outlet yang menjual kopi dengan harga terjangkau. Ide awal dalam membuat Kopi Kenangan berasal dari kebiasaan Edward yang memang rutin mengkonsumsi kopi setiap hari. Dia mengamati kalau misalnya konsumen membeli kopi seharga 40 ribu setiap hari, artinya selama sebulan, mereka menghabiskan 1.2 juta rupiah. Ini setara dengan hampir 1/2 dari upah minimum yang ada di Jakarta pada masa itu. Tentu saja, dengan harga yang cukup tinggi, tidak mungkin konsumen minum kopi tersebut setiap hari, padahal kebutuhan orang untuk minum kopi sudah menjadi rutinitas. Pengamatan inilah yang membuat Kopi Kenangan memilih strategi harga yang berbeda dengan outlet kopi lainnya pada masa itu. Edward memposisikan Kopi Kenangan sebagai kopi yang terjangkau dan mengambil ceruk pasar antara kopi mahal yang dijual gerai ritel internasional atau kafe premium dengan kopi instan yang disajikan di warung kopi. Walaupun mengambil strategi harga terjangkau, Edward tidak menurunkan kualitasnya, dia malah membuat kualitas yang sama dengan gerai kopi mahal, tapi menjualnya dengan harga yang terjangkau. Sebagai contoh, pada masa itu, kalau menjual kopi murah, pasti susu yang digunakan juga murah. Namun, Kopi Kenangan mengambil strategi yang berbeda, dia malah menggunakan susu yang sama seperti yang dipakai oleh gerai kopi mahal, bahkan merek susunya itu sengaja dipajang untuk menarik pelanggan. Strategi ini dia ambil karena dalam bisnis sejatinya kamu harus memilih dari dua hal, pertama, jumlah penjualan banyak tapi margin keuntungan tipis atau yang kedua, jumlah penjualan sedikit tapi margin keuntungannya besar. Edward memilih strategi yang pertama. 

Sumber foto: pe-insights.com

Kemudian pada tahun 2017, gerai Kopi Kenangan dibuka pertama kali di sebuah gedung di daerah Kuningan, Jakarta Selatan. Bermodalkan 150 juta rupiah hasil patungan dengan rekannya, gerai Edward saat itu harus bersaing dengan tiga gerai kopi lainnya yang sudah lebih dulu ada di gedung tersebut. Walaupun begitu, strategi Kopi Kenangan yang berbeda ternyata membuahkan hasil. Di hari pertamanya, Kopi Kenangan berhasil menjual 700 gelas dan dalam waktu tiga bulan, Edward sudah berhasil balik modal. Dari situ, Kopi Kenangan terus bertumbuh hingga akhirnya sekarang sudah memiliki lebih dari 300 gerai dan menjual jutaan cangkir Kenangan setiap bulannya. Menariknya lagi, walaupun dia berbisnis kopi dan teh, Edward mengakui kalau dirinya bukan expert di bidang tersebut. Bagi dia, dalam berbisnis itu yang penting adalah menjadi generalis atau istilahnya jack-of-all-trade dan ahli dalam mengatur keuangan. Kamu harus tahu bidang apa yang kamu pahami dan jadilah ahli di sana. Edward sendiri memilih untuk menjadi ahli dalam mengatur keuangan, sedangkan area lainnya kemudian dilengkapi dengan partner atau karyawan profesional yang dia rekrut.

Selain strategi harga yang berbeda, Kopi Kenangan juga punya diferensiasi yang unik dari sisi teknologi. Perusahaan yang dibangun oleh Edward bukanlah gerai kopi konvensional, tapi merupakan sebuah startup yang menjual kopi. Keunikan inilah yang membuat Kopi Kenangan berhasil mendapat suntikan dana ratusan miliar dari berbagai investor mancanegara. Sebagai informasi, Kopi Kenangan berinvestasi yang cukup besar di bidang teknologi dan memiliki engineering team sendiri di Beijing, China. Kopi Kenangan juga aktif mempromosikan aplikasinya agar konsumen dapat membeli kopi tanpa antri, hanya perlu pesan di aplikasi. Ada yang berbeda dari cara Kopi Kenangan berekspansi. Jika zaman dulu apabila mau buka toko baru, maka menggunakan jasa orang untuk survey dan menghitung trafik yang ada di wilayah tersebut secara manual. Kopi Kenangan melakukan cara yang berbeda, dia menggunakan sebuah heat map dari data konsumen mereka yang berisi wilayah tempat mereka memesan kopi. Data ini kemudian menjadi dasar Kopi Kenangan melakukan ekspansi dengan membuka gerai di wilayah heat map yang paling tinggi, artinya gerai yang sedekat mungkin dengan konsumen mereka. Maklum saja, mayoritas penjualan Kopi Kenangan berasal dari delivery, jadi semakin dekat dengan konsumen, maka akan semakin murah ongkos kirimnya. 

Sumber foto: perfectdailygrind.com

Walaupun sudah punya ratusan cabang, Edward masih merasa kalau dirinya belum sukses karena ada visi yang lebih besar yaitu ingin menjadikan Kopi Kenangan sebagai merek kopi Indonesia yang mendunia dengan puluhan ribu cabang. Edward juga selalu menekankan kepada timnya kalau Kopi Kenangan belum sukses dan harus selalu punya Day One Mentality, artinya perusahaan tersebut harus tetap waspada dan selalu berinovasi. Nilai yang dianut oleh Edward berasal dari inspirasinya yaitu Jeff Bezos. Bagi Jeff, perusahaan yang punya Day Two Mentality akan gagal artinya mereka merasa perusahaannya sudah sukses, tanpa sadar perusahaan tersebut menjadi lengah dan kalah dengan kompetitor lainnya. Inilah yang berusaha dihindari oleh Edward dalam membangun Kopi Kenangan. Perusahaan yang dia pimpin harus selalu berinovasi dan tidak cepat puas. Dalam bisnis tentu saja, kita akan mengalami naik turunnya. Seperti yang terjadi sekarang, kondisi pandemi COVID-19 memiliki dampak yang berat pada bisnis F&B. Melihat hal tersebut, Edward mengambil langkah yang berani. Dia menerapkan one cup, one customer, one rupiah; artinya Edward hanya mengambil gaji 1 rupiah dari omzet Kopi Kenangan dari bulan Maret 2020 ingga pandemi berakhir. Komitmen ini dilakukan Edward untuk memastikan tidak ada PHK kepada ribuan barista dan karyawan tetapnya. Bagi dia, pelanggan dan karyawan merupakan dua prioritas utama yang mendukung keberhasilan Kopi Kenangan hingga sekarang.

Untuk video animasinya, bisa ditonton di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.